LOGIN"Terima kasih," ucap Rose sekilas.
"Sudah lama juga saya bermimpi bisa bekerja sama dengan Anda. Saya akan mengangkat karir model Anda lagi seperti dulu. Bahkan lebih tinggi dari sebelumnya. Jika Anda tertarik, Anda bisa datang mencari saya." jelas Ethan. Rose menatap pria itu, tapi karena tatapannya terlalu menusuk, ia langsung mengalihkan pandangan. "Aku... Sudah lama meninggalkan dunia itu." "Sayang sekali..." gumam Ethan, "Begini saja. Anda bisa memikirkannya baik-baik. Saya akan menggelar pameran dalam waktu dekat, dan saya ingin bekerja sama dengan Anda di pameran tersebut. Judulnya... 'wajah di balik topeng'." Ethan kembali memberikan sebuah kertas. Kali ini undangan acara pameran yang ia maksud. Rose menelan ludah. Ia merasa tema acara itu sangat sesuai dengan kehidupannya. "Entah mengapa, saya merasa Anda sangat cocok untuk menjadi model saya dalam acara ini. Saya yakin Anda juga merasakannya," tambah Ethan seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan Rose. Rose ingin berbicara, entah menolak atau menerima tawaran tersebut, tapi Noah tiba-tiba muncul di pintu teras. “Rose,” panggilnya lembut namun mengandung peringatan. “Aku mencarimu.” Rose menoleh pelan, matanya kembali berubah dingin. “Aku butuh udara segar. Apa itu masalah?” Noah menatap Ethan sekilas, pandangan khas pria berkuasa yang menilai seseorang dari penampilan. “Kau fotografer?” Ethan mengangguk sopan. “Ya, Tuan Ferdinand. Ethan Knoxx, dari Society Vision.” “Baik. Pekerjaan sudah selesai?” “Sudah hampir, Tuan.” “Kalau begitu, pastikan tidak ada foto yang tidak pantas dipublikasikan,” suara Noah datar, tapi mengandung perintah. Ethan menahan diri untuk tidak membalas. “Tentu.” Noah kemudian menoleh ke Rose. “Kita harus kembali. Tamu sudah menunggu.” Rose menatap suaminya lama, lalu menatap Ethan sekilas. Tatapan mereka bertemu sekali lagi. Singkat, tapi kali ini lebih dalam. Ada sesuatu yang tidak terucap di antara mereka. Sebuah janji samar bahwa pertemuan ini belum berakhir. Rose melangkah pergi bersama Noah, namun hatinya tertinggal di teras hotel, bersama pria berjaket denim yang memotret dunia tanpa topeng. Dan di malam yang dipenuhi kebohongan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rose merasa benar-benar terlihat. *** Lampu-lampu hotel masih berkilauan saat malam semakin larut. Musik berganti menjadi nada yang lebih lembut, dan para tamu yang tersisa terlihat setengah mabuk oleh tawa, anggur, dan kesan kemewahan. Namun bagi Rose, semuanya terasa seperti kabut yang tebal, pengap, dan penuh kepalsuan. Sudah lebih dari tiga jam ia tersenyum, menjawab ucapan selamat, dan berfoto dengan wajah bahagia yang sudah tak ia kenali sendiri. Pipinya pegal dan hatinya terasa perih. Setiap kali Noah menoleh, ia tetap tersenyum. Tapi di balik senyum itu, Rose hanya ingin berteriak. Ia ingin pulang. Ia ingin lepas dari sorot lampu, dari kamera, dari dunia yang menuntutnya menjadi sempurna padahal jiwanya nyaris runtuh. Rose meneguk sisa air mineral di gelasnya dan berbisik pelan, “Aku ingin pulang, Noah.” Noah masih sibuk berbicara dengan dua pria dari dewan direksi Hamilton Group. Ia menoleh sekilas tanpa benar-benar memperhatikan. “Sebentar lagi, sayang. Mereka datang jauh-jauh hanya untuk membicarakan proyek baru. Aku tak bisa meninggalkan mereka begitu saja.” “Tapi ini sudah larut,” suara Rose bergetar tapi tegas. “Aku lelah.” Noah menarik napas pendek, menekan rahangnya agar tak menunjukkan kesal di depan orang lain. Ia berbalik, menepuk bahu salah satu koleganya, lalu mendekat ke Rose. “Kalau begitu, kau pulang duluan saja. Aku akan menyusul setelah selesai.” Rose menatapnya lama. “Sendirian?” Noah tersenyum palsu. “Aku tidak ingin kau menunggu terlalu lama. Aku akan menyusul, aku janji.” Janji. Kata yang sudah kehilangan maknanya dalam hati Rose. Rose pun menunduk, lalu berkata pelan, “Baik. Nikmati saja pestanya.” Nada suaranya datar, tapi dinginnya cukup untuk membuat Noah mengerjap sesaat. Namun ia tidak menahan Rose. Tidak malam ini. Rose mengambil clutch kecilnya, berpamitan dengan beberapa tamu yang memperhatikannya, dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah tenang. Tapi setiap langkah itu terasa berat, seperti berjalan di atas pecahan kaca. Apalagi saat Rose mengedarkan pandangan, ia menangkap sosok Giselle di meja lain. Wanita itu sedang duduk dengan tatapan tersirat yang ditujukan pada Noah, suaminya. Rose mendengus, tiba-tiba merasa jijik melihat mereka berdua. Dan dia sedang tak mau meributkan soal itu. Tidak malam ini. Begitu melewati pintu kaca besar hotel, udara malam langsung menyambut dengan aroma tanah basah. Langit tampak gelap pekat, dan butiran air mulai jatuh satu per satu. Dalam hitungan detik, hujan turun dengan deras, menimpa trotoar dan memantulkan cahaya lampu kota. Rose berhenti di bawah kanopi pintu masuk, menatap air yang mengguyur dengan tatapan kosong. Supir pribadinya sudah menunggu di depan. “Nyonya Rose!” pria itu segera berlari kecil membuka payung dan membukakan pintu mobil. Rose melangkah cepat di bawah payung, tapi angin malam membuat hujan menyelinap dari sisi kanan. Setetes, dua tetes, lalu semakin banyak. Saat ia masuk ke mobil, bagian bawah gaunnya sudah basah. Ujung kain sutra mahal itu menempel di kulitnya, dingin dan berat. Pintu mobil tertutup. Dunia di luar berubah menjadi kabur di balik kaca berembun. Rose duduk diam. Ia memandangi hujan yang menetes di jendela, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca yang bergetar. Wajah seorang perempuan yang berusaha kuat, padahal kenyataannya sangat lelah. Ia menyandarkan kepala di kursi kulit mobil dan menutup mata. Suara hujan menggantikan musik gala yang tadi memenuhi telinganya. Dan entah mengapa, suara itu terasa lebih jujur di telinganya. “Madam, kita langsung ke rumah?” tanya sopir dari balik kemudi. Rose membuka mata perlahan. “Ya. Langsung pulang.” Mobil mulai bergerak, meninggalkan gemerlap hotel yang kini hanya tampak sebagai bayangan di kaca spion. Namun pikirannya tidak ikut pergi. Ia masih tertinggal di balkon itu. Diantara bayangan Noah dan Giselle dan di antara ciuman yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Setiap tetes hujan di kaca seolah mengulang kembali adegan itu, menciptakan gema yang tak bisa ia hentikan. Rose menatap gaunnya yang kini sebagian lembap. Warna merah anggur yang dulu ia pilih dengan penuh semangat kini tampak gelap, seperti darah yang mengering. Ia mengelus kainnya pelan, lalu tersenyum pahit. “Lucu,” bisiknya lirih. “Bahkan hujan pun tahu kapan harus turun.” Ia menatap keluar jendela lagi. Jalanan kota berkilau oleh genangan air dan lampu-lampu. Mobil-mobil berlalu, orang-orang berlari mencari teduh, sementara dirinya hanya duduk di dalam mobil mewah. Sendirian dalam kesepian yang berlapis kemewahan. Di matanya, pesta itu kini tampak seperti mimpi buruk yang dibungkus glitter. Semua tepuk tangan, semua kamera, semua tawa palsu… Semua hanya topeng. Dan topeng itu, perlahan, mulai retak. Rose menggenggam tangan kirinya yang dingin. Hujan menetes di kaca, membentuk garis-garis panjang seperti air mata. Ia pun mengembuskan napas berat. Malam ini, untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menahan perasaan itu. Ia membiarkan dirinya merasa hancur. Membiarkan gaun mahalnya basah. Membiarkan hatinya mengakui kebenaran yang selama ini ia tolak. Cinta mereka mungkin sudah mati, tapi Rose tahu… dirinya belum. Rose mengeluarkan kartu nama kecil dari clutchnya dan membacanya pelan. Noah Knoxx. Pria itu menarik perhatiannya. Bukan karena ketampanan atau penampilannya, melainkan ada sesuatu yang hangat dan jujur di dalam sana. Selain itu, tawarannya pada Rose benar-benar menggiurkan. Apakah ini adalah pertanda bahwa Rose harus kembali menjalani dunia modelnya? Apakah ini jalan yang diberikan agar Rose bisa terlepas dari belenggu sepi yang diciptakan Noah? Dan di tengah suara hujan yang tak berhenti, ada bisikan lembut di benaknya. Sebuah keinginan yang baru tumbuh, untuk tidak lagi menjadi bagian dari kepura-puraan dan kesepian yang selama ini ia jalani. ***Siang itu rumah kediaman Noah terasa sunyi namun tidak benar-benar tenang.Rose duduk di ruang santai dekat jendela besar dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Ia membaca tanpa benar-benar menyerap kata demi kata. Pikirannya melayang, terjebak di antara ingatan tentang Ethan, artikel anonim itu, pertengkaran tadi pagi, dan rasa hampa yang tak kunjung pergi.Dari kejauhan, terdengar suara pelayan berlalu-lalang di dapur. Bunyi peralatan makan beradu lembut, aroma sup yang baru dimasak menyebar tipis di udara. Semuanya tampak normal untuk kehidupan yang sedang runtuh pelan-pelan.Sementara di luar rumah, Cliff berdiri tegak seperti patung. Tubuh besarnya, jas hitam, dan tatapan waspada membuatnya lebih mirip penjaga penjara daripada pengawal. Sejak kejadian semalam, kehadirannya menjadi pengingat bisu bahwa Rose tidak lagi hidup dengan bebas.Rose membalik halaman buku, ketika pintu depan terbuka.Rose menoleh, sedikit terkejut. Tidak ada tamu yang biasanya datang tanpa pemberitahu
Pagi itu, ruang makan terasa terlalu besar untuk diisi oleh dua orang yang saling membenci dalam diam.Rose duduk di kursi makan, menatap piring di hadapannya tanpa selera. Roti panggang yang masih hangat mengeluarkan uap tipis, aroma kopi memenuhi udara, namun semua itu terasa hambar baginya.Noah masuk beberapa menit kemudian. Ia rapi, dingin, dan sepenuhnya terkendali. Seolah kejadian semalam hanyalah gangguan kecil yang tak layak diingat. Ia duduk di seberang Rose, membuka koran digital di tabletnya, lalu menuang kopi dengan gerakan tenang.Tak ada sapaan. Tak ada tatapan.Rose menahan napas. Setiap detik berlalu seperti tarikan pisau yang lambat. Ia tahu, jika ia diam saja, semuanya akan kembali seperti biasa. Penuh pengekangan, pengabaian, dan ketakutan yang dibungkus kemewahan. Ia tidak mau lagi hidup seperti itu.“Noah,” ucap Rose akhirnya. Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang baru di sana. Sebuah ketegasan yang selama ini terkubur.Noah tidak menoleh. Bahkan bersikap seolah
"Aaarrgghh!!!" teriak Rose kesal sambil membuang bantal sofa ke lantai.Ia duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ingin menangis, berteriak, namun semua itu terasa sia-sia. Apapun yang ia lakukan, Noah takkan menarik keputusannya. Mulai besok dia akan diikuti oleh bodyguard yang membuatnya merasa seperti seorang tahanan.Ini gara-gara berita itu. Batin Rose. Ia sadar jika seseorang sudah menciduknya saat bersama Ethan dan menyebarkan gosip di media.Rose segera mengambil ponselnya dan mencari artikel yang dibaca oleh Noah. Tak butuh waktu lama hingga ia menemukan apa yang ia cari.Ini dia, Seorang Ikon Fashion, Istri CEO Terkenal Grup Ferdinand, Diduga Sedang Dekat dengan Fotografer Misterius?Rose membaca artikel itu dengan lengkap. Tidak ada tanggal dan tempat kejadian. Namanya pun tak disebutkan. Tapi siapapun tahu, istri CEO grup Ferdinand yang juga seorang model adalah dirinya. Olivia Rose.Dan yang menarik adalah... Siapa orang yang menyebarkan gosip itu? Dimana mereka
Makan malam itu berlangsung dalam sunyi yang menyesakkan.Meja panjang dengan hidangan mewah terasa seperti panggung sandiwara yang gagal. Rose duduk di satu sisi, punggungnya tegak namun bahunya tegang. Noah duduk di seberang, memotong makanannya dengan gerakan mekanis, tatapannya sesekali melayang. Bukan pada Rose, melainkan ke layar ponsel yang sejak tadi tak lepas dari genggamannya.Rose mencoba fokus pada piringnya. Ia tahu, sejak kepulangan Noah, udara di rumah itu berubah. Lebih berat dan dingin.Lalu ponsel Noah bergetar.Sekali. Dan sekali lagi.Noah berhenti makan. Rahangnya mengeras. Ia membaca sesuatu di layar, dan dalam hitungan detik, wajahnya berubah. Bukan terkejut. Bukan sedih. Melainkan Marah.Noah berdiri mendadak, kursinya bergeser kasar hingga menimbulkan bunyi memekakkan. Rose terlonjak kecil.“Ada apa?” tanya Rose, refleks.Noah tidak menjawab. Ia melempar ponselnya ke atas meja dalam keadaan layarnya menyala, menampilkan sebuah artikel singkat dari akun anonim.
Pagi itu, saat Rose terbangun di studio Ethan, ia masih merasakan hangatnya kebahagiaan yang belum sempat benar-benar mengendap. Ia bernapas pelan, mengharapkan Ethan masih ada di dekatnya. Namun yang ia temui hanya ranjang kosong di sampingnya, walaupun jejak Ethan masih terasa hangat disana. Mungkin Ethan sedang merapikan peralatan kamera, atau mungkin sedang membuatkan kopi dan sarapan. Tapi ruangan itu terasa terlalu sunyi, nyaris hampa.Rose bangun perlahan, meraih bajunya yang berserakan di lantai dan mulai berpakaian. Saat hendak mengambil tasnya, matanya menangkap sesuatu di bawah meja.Sebuah foto.Ia berlutut, meraihnya dengan hati-hati. Satu detik kemudian, pandangannya membeku.Itu foto dua orang pria. Satu asing bagi Rose, tapi pria lainnya sangat ia kenal.Noah.Lebih muda, dengan senyum yang hanya ia lihat dalam foto-foto lama. Pose tegap, latar tempat yang asing, tapi tatapan itu tidak salah lagi. Rose menggenggam foto itu lebih erat, dadanya mengencang.Bagaimana mung
Ethan menggulingkan tubuhnya, hingga sepenuhnya berada di atas Rose. Bibirnya terus melumat bibir Rose tanpa henti, tangannya bergerak ke tangan Rose. Menggenggamnya erat sebelum mengangkatnya ke atas.Rose terlentang dalam posisi tangan terangkat. Ia mendesah sambil memejamkan mata saat bibir Ethan bergerak turun ke leher dan dadanya.Dalam pose itu, ia tampak semakin sensual dan menggairahkan. Dadanya membulat sempurna. Ethan menelangkupnya dengan kedua tangan, lalu menghisapnya bergantian."Ssshhh... Ethan..." Rose mendesahkan nama itu dengan segenap perasaannya. Ethan terus bergerak, menciumi setiap inchi tubuh Rose. Tangannya mengikuti gerakan bibirnya, hingga akhirnya ia menyentuh titik sensitif Rose di bawah sana.Ethan membelai lembah basah itu dengan lembut. Menyentuhnya seakan itu adalah barang yang sangat berharga. Rose menggelinjang. Ia menggeliat saat jari Ethan masuk dan menyentuhnya semakin dalam."Ethan... Aaaarrgghh..."Ethan tersenyum melihat Rose menyebut namanya un







