เข้าสู่ระบบPada hari pernikahan, Diego menerima telepon dan buru-buru meninggalkan pesta nikah. Nenek murka hingga memuntahkan darah. Semua orang mengabaikanku, tidak ada yang membantu. Ketika nenekku tiba di rumah sakit, dokter mengatakan dia tidak bisa diselamatkan lagi. Saat aku berdiri di kamar mayat, Diego meneleponku. "Cherish, cepat datang ke rumah sakit. Zoey terluka dan butuh transfusi darah!" "Diego, hubungan kita sudah berakhir." Aku langsung mematikan ponsel dan meninggalkan semuanya. Diego berlutut di tengah hujan demi memohon kepadaku. Dia bilang, asalkan aku bersedia kembali dengannya, dia akan memberiku apa pun, termasuk nyawanya.
ดูเพิ่มเติมRhea's POV
The door slammed before I could drop my bags, and then a hand was around my throat, pinning me against the wood. Not choking, just holding, but the message was clear enough.
"Look at me."
Killian.
I hadn't seen him in four years, but I'd know that voice anywhere, cold and controlled like he was always measuring his words before letting them out. I looked up and felt my stomach drop because he'd changed, his hair buzzed on the sides with a black tattoo crawling up his neck, something that looked like wolf's teeth or worse. But it was his eyes that stopped me cold, grey like I remembered but threaded with gold now, vibrant and unnatural.
Alpha eyes.
"Get off me," I said, though my voice came out smaller than I wanted.
"The funeral was three hours ago." His face was close enough that I could smell him, gin and rain and something wild I couldn't name. "You're late."
"I didn't want to come at all."
"And yet here you are." His nose brushed my neck, and he inhaled, slow and deliberate, and I felt my pulse spike under his attention. "You smell like the city, like humans."
I shoved at his chest, but he didn't move an inch. "I am human, remember?"
"Where are the others?" I tried again, hating how breathless I sounded.
"Malachi's dealing with your father's mess and Rodger's busy, but I'm the one you should be worried about." His hand tightened just slightly around my throat, and I swallowed hard against his palm.
"I'm not scared of you anymore," I said, and the lie tasted bitter on my tongue.
Killian laughed, dry and humorless, then released my throat only to grab my wrist and yank me toward the stairs. I stumbled after him because I didn't have a choice, my bag falling somewhere behind me.
"Stop, you're hurting me!"
"You don't know what hurt is yet." He didn't slow down, dragging me up the stairs like I weighed nothing. "Do you have any idea what your father did, the silver he stole from the Pack, the treaties he broke?"
"That's not my problem, I haven't talked to him in years!"
"He signed contracts with your name on them, Rhea."
That stopped me, or would have if Killian hadn't kept pulling me forward. We were at the top of the stairs now, and the hallway stretched out ahead of us, portraits lining the walls like dead wolves in human skin were staring down in judgment.
"What contracts?" My voice came out smaller than I meant it to.
Killian turned, and something in his expression shifted, got colder and sharper. "The Lycan Debt, a life for a life, a bride for a Pack. Your father's dead and can't pay, so the Council ruled and now you belong to us."
Belong. The word hit me like a slap, and I opened my mouth to argue, to scream, to do something, but then another voice cut through the air.
"In this house, the moon is the only law."
I looked up and saw Rodger leaning in a doorway down the hall, swirling something amber in a glass. He looked like he'd just rolled out of bed with his golden hair messy and his shirt half-unbuttoned, that lazy smirk I remembered from childhood, except now it had teeth.
"Hey, little step-sis." His eyes dragged down my body, slow and obvious. "You grew up, and I like it, though you'll look better in the cage."
"Rodger, shut up," Killian snapped.
"Make me, Alpha." Rodger didn't look away from me, and his smile widened. "She's ours now, isn't she, to share?"
The blood drained from my face, and I felt cold all over. "Share? I'm your sister!"
"Step-sister," Killian corrected, his grip on my wrist turning bruising. "No blood between us, which makes this so much easier."
He dragged me down the hall toward the North Tower, that iron-reinforced door I'd been forbidden to go near as a child, and my heart slammed against my ribs. I tried to dig my heels in, but it didn't matter; he was too strong, and I was too human.
"Killian, please," I begged, and I hated the sound of my own voice breaking. "Don't do this, I'll find the money, I'll work, I'll do anything."
He stopped at the door with his hand on the handle, and when he turned back, the anger was gone. What replaced it was worse, this empty cold certainty like he'd already made his decision and I was just catching up.
"Anything?"
"Yes."
He stepped in close and crowded me back against the stone wall, cold seeping through my shirt and into my skin. His thumb dragged across my bottom lip, slow and almost clinical, like he was inspecting me.
"The debt isn't money, Rhea, our bloodline is dying, and the Lycan genes are failing." His breath was hot against my mouth, and I couldn't look away from those gold-threaded eyes. "We need a catalyst, a human girl who can take an Alpha's mark without dying."
Oh god. Oh no.
"No," I breathed.
"Yes." His eyes flashed brighter, predatory and possessive. "You're going in that room, and tonight we find out which one of us you bond to."
"I'll hate you forever," I choked out, tears spilling over hot and humiliating. "I'll kill myself before I let you touch me."
"I'd like to see you try," he whispered, and then he kissed me.
Not a bite or a snarl but a kiss, deep and brutal and hungry, tasting like rage and something older that he'd been holding back for years. And the worst part, the absolute worst part, was that I kissed him back for just a second, just long enough for my traitorous body to forget what was happening and remember what it felt like when we were younger, and he didn't look at me like prey.
Killian pulled away, and the triumph in his eyes made me want to scream or cry or both. He opened the door and shoved me inside, and I caught myself on the edge of a bed covered in silk sheets. The room was lavish with candles everywhere, and a gown lay out like an offering, like they'd been planning this.
"Get dressed," he said from the doorway, his voice flat. "Moon rises in an hour and Malachi's already waiting."
The bolt slid home with a heavy click, and I was alone in the dark, the taste of my enemy still burning on my lips and the reality of what was about to happen sinking in like lead in my stomach.
Aku memicingkan mataku dan menyahut, "Diego, jangan mimpi. Kita nggak mungkin balikan. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku lebih memilih kita nggak pernah ketemu!"Tubuh Diego sontak terhuyung. "Kamu ... begitu membenciku?"Aku tersenyum dingin. "Benci? Kamu terlalu menilai tinggi diri sendiri. Kamu nggak pantas dicintai ataupun dibenci olehku. Di mataku, kamu bukan siapa-siapa! Kalau kamu berani menggangguku lagi, aku bakal lapor polisi!"Sejak hari itu, aku tidak pernah melihat Diego lagi. Kemudian, aku mendengar Diego mengalami kecelakaan setelah pergi dari rumahku. Cederanya sangat parah.Diego yang berbaring di ranjang rumah sakit terus memanggilku. Dia berharap aku datang untuk menjenguknya.Ibu Diego meneleponku, menyuruhku datang untuk melihat anaknya. Ketika nenekku muntah darah di pesta nikahku, ibu Diego sama sekali tidak peduli. Kini, dia malah memintaku datang? Aku pun menolaknya tanpa ragu sedikit pun.Adapun Zoey, Diego tidak mengampuninya begitu saja. Bukan hanya
Zoey dicekik hingga wajahnya memerah. Dia kesulitan bernapas. "Tolong ...."Ketika Zoey hampir kehabisan napas, Diego baru melepaskan tangannya dan berkata dengan galak, "Aku nggak akan membunuhmu. Aku akan membuat hidupmu menderita."Saat melihat pemandangan ini, aku tentu merasa puas karena dendamku terlampiaskan. Lagi pula, Zoey pantas mendapatkan semua ini. Ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.Aku memandang Lucas, lalu kita sama-sama meninggalkan bangsal. Di luar sana turun hujan deras. Aku memandang hujan. Ketika keluar dari rumah sakit setelah keguguran, langit juga turun hujan sederas ini.Lucas menyuruhku menunggu di depan. Dia akan mengambil mobil untuk menjemputku. Tidak lama setelah Lucas pergi, Diego mengejarku. "Cherish, jangan pergi."Diego menatapku dengan mata merahnya. "Aku bersalah padamu dan anak kita. Semua ini karena Zoey. Dia yang menipuku."Zoey memang patut disalahkan, tetapi Diego juga salah karena terlalu bodoh. Jika tidak, dia tidak mungkin dipermaink
Aku menatap Diego dengan dingin. "Justru kamu yang nggak berhak. Kita sudah nggak punya hubungan apa pun."Diego mengernyit. "Jangan lupa, kita belum cerai. Kamu masih istriku."Ucapan Diego ini mengingatkanku bahwa kami masih belum mengurus perceraian kami."Diego, kalau kamu masih menolak untuk cerai, aku akan mengajukan gugatan terhadapmu." Usai melontarkan itu, aku masuk ke mobil Lucas.Keesokan hari, Diego mencariku di perusahaan dengan membawa Zoey."Cherish, penyakit Zoey parah kembali. Dia butuh darahmu. Ikut aku pulang." Usai berbicara, Diego menjulurkan tangan untuk meraih lenganku.Aku sontak mengernyit dan melawan. "Lepaskan aku."Lucas keluar dari ruangannya. Dia mengadang di depanku. "Diego, apa yang kamu lakukan?"Zoey melirik Lucas, lalu mulai menabur perselisihan. "Diego, aku nggak nyangka Cherish cepat sekali dapat pacar baru. Sia-sia kamu mencarinya selama ini."Aku menatap Zoey dan mencela, "Zoey, kamu buta ya? Kamu nggak bisa nilai sendiri kalau Pak Lucas bosku?"D
Setelah Diego pergi, aku mengurus prosedur keluar rumah sakit. Aku mencari pemakaman yang bersih untuk mengubur abu nenekku."Nenek, aku kangen sekali." Aku duduk di depan makam nenekku. Hingga malam hari, aku baru pergi.Tidak ada lagi orang yang kusayangi di kota ini. Aku berdiri di bandara, tidak tahu harus ke mana. Aku tidak punya rumah lagi karena nenekku telah tiada. Sepertinya, ke mana saja sama.Jadi, aku sembarangan membeli tiket pesawat dan pergi ke sebuah kota kecil. Aku menyewa kamar dan meletakkan foto nenekku di meja. Dengan begini, aku akan merasa dia terus menemaniku.Setiap hari, Diego menelepon dan mengirimiku pesan. Dia bertanya aku ke mana dan mengatakan dirinya hampir menggila karena tidak bisa menemukanku.Aku tidak meladeninya. Pada akhirnya, aku menukar nomor teleponku karena merasa terganggu.Setelah lebih tenang, aku mulai mencari pekerjaan. Hanya saja, gelar akademikku tidak tinggi dan pengalaman kerjaku juga sedikit. Banyak perusahaan besar yang menolakku.S
Diego menatapku dengan kesal. "Cherish, sudah berapa kali aku menjelaskannya kepadamu. Aku dan Zoey cuma teman baik. Kenapa kamu nggak ngerti sih? Kamu bukan cuma menindas Zoey, tapi juga ingin cerai dariku!"Dengan hati yang diselimuti keputusasaan, aku menggertakkan gigi dan memekik, "Diego, pokokn
Wajahku pucat pasi. Aku terus mundur, lalu berbalik dan berlari ke arah pintu keluar. Namun, sebelum keluar, pengawal sudah mengejarku dan menahanku. Semua perlawananku sia-sia. Aku dibawa ke mobil dan akhirnya tiba di rumah sakit.Aku menyerahkan hasil pemeriksaan kehamilan itu kepada dokter. "Hasi
Zoey tersenyum kepadaku dan berkata, "Cherish, aku sudah tanya master. Katanya, asalkan hamsterku mengadakan acara pemakaman di sini, dia bisa bereinkarnasi jadi manusia. Ini adalah perbuatan baik lho."Diego berujar dengan lembut, "Zoey, kamu memang baik hati. Tenang saja, hamstermu pasti bisa mera
Di kamar mayat, aku menatap jenazah nenekku. Air mataku lagi-lagi berderai.Di layar ponselku adalah notifikasi pesan dari Zoey. Wanita itu mengirimkanku video yang memperlihatkan Diego menggandeng tangannya. Keduanya bertatapan dengan mesra. Latar belakangnya adalah petasan yang indah.[ Aku bilang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น