共有

Bab 77

作者: Olivia Yoyet
last update 公開日: 2026-04-30 13:40:11
77

Sekelompok orang memasuki restoran yang lengang. Mereka berbincang sesaat dengan petugas, kemudian keempatnya berpencar guna mengambil menu makanan untuk sarapan, yang telah disiapkan di meja prasmanan.

Belasan menit berikutnya, kelompok kedua muncul dari pintu samping yang menghadap kolam renang. Mereka juga mengambil ransum, lalu menuju deretan meja di sisi kiri.

Kedua kelompok itu saling menatap sebelum sama-sama terdiam. Darren yang lebih dulu sadar, segera menyambangi kelompok Zhao Yìc
Olivia Yoyet

Kung fu naga bertelur. Buahahahaha

| 2
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 130

    130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 129

    129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 128

    128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 127

    127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 126

    126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 125

    125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 65

    65Sekelompok perempuan melangkah menyusuri ruangan luas, di terminal kedatangan dalam negeri. Mereka berhenti di tempat pengambilan bagasi selama belasan menit. Kemudian keempatnya mengayunkan tungkai keluar. Lilakanti yang jalan paling depan, segera menyambangi ketiga anaknya yang datang menjemp

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 64

    64Seorang pria berjaket denim biru, memerhatikan sekeliling. Dia meyakini jika itu adalah area di mana dirinya berpindah waktu. Meskipun Hutan Hong dan sekitarnya sudah berubah, tetapi beberapa bebatuan di sungai masih sama seperti dulu.Zhao Yìchen memandangi seberang sungai. Kuburan Niu sudah men

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 63

    63"Lepasin!" desis Elma sambil memelototi pria di hadapannya. "Aku nggak akan ngelepasin, sebelum kamu mengiakan permintaanku!" kukuh Banyu. "Aku lagi kerja! Ini juga nyuri waktu buat beli makanan!" "Ehm, kerja? Di mana?" "Bukan urusanmu!" "Cuma pengen tahu, El." "Enggak perlu!" Banyu terte

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 62

    62Sekelompok orang memasuki perpustakaan besar di Kota Guangdong. Mereka mendatangi petugas dan Xiong Huan menerangkan maksud kedatangan kelompoknya. Sang petugas mencari data di komputer, lalu mengarahkan mereka ke lantai dua, guna mencari literatur tentang Guangdong pada zaman Dinasti Qing. Da

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status