LOGINAdit bersihkeras membawa Nayla ke apartemennya. Dia tidak yakin meninggalkan Nayla sendirian di rumah itu dengan kondisi emosionalnya saat ini. Nayla akhirnya menurut, mungkin Adit bisa menenangkan perasaannya yang sedang hancur berkeping-keping. Adit membawakan segelas teh hangat untuk Nayla yang duduk di ruang tamu dengan wajah sembab."Makasih, Mas," ucap Nayla sambil menerima gelas hangat itu. Tidak lama kemudian terdengar suara bel, seorang pria pengantar makanan menyodorkan sebuah kantong pada Adit."Kita makan dulu ya," kata Adit sambil menyiapkan makanan yang dipesannya. Mereka berdua hanya makan bersama, tidak ada kata-kata yang terucap. Adit tahu tidak perlu membahasnya sekarang. Lebih penting untuk mengisi energi dan menenangkan diri terlebih dahulu. Selesai makan, Nayla merasa lebih baik. Hatinya lebih tenang dan emosinya mereda. Melihat wajah Nayla yang sudah lebih segar, Adit akhirnya meminta Nayla untuk mencerita semua kejadian itu."Aku memang kaget pas tahu soal Pa
"Apa kita harus tetap diam soal ini, Om? Aku merasa ada yang mengganjal tiap kali bersama Nayla karena menutupi ini semua dari dia." Siang itu Nugie mampir ke rumah Iwan setelah memastikan Nayla sudah berangkat kerja. Pikirannya masih terus terganggu dengan masalah Ayahnya Nayla. "Sejujurnya tidak adik untuk Nayla, dia berhak untuk tahu," jawab Iwan. "Tapi apa kita semua udah siap dengan reaksinya?" tanya Nugie lagi dengan wajah khawatir. "Tante belum siap, Gie," Ina yang terlihat paling takut jika sudah membahas masalah ini. Dia takut Nayla marah dan meninggalkan mereka. "Tahu soal apa?" tiba-tiba Nayla sudah berdiri di dekat pintu masuk dan kaget dengan pembicaraan yang dia dengar. Ketiga orang di ruang tamu itu pun tidak kalah panik saat melihat Nayla. "Nay? Kamu kok disini?" tanya Nugie dengan wajah panik. "Agenda aku ketinggalan. Kamu sendiri ngapain disini? Kenapa gak bilang aku kalau mau kesini?" "Aku.." Nugie berusaha untuk mencari alasan yang tepat. "Apa yang k
Nayla terlihat sangat ceria akhirnya bisa kembali ke kantor. Dia menyapa hampir semua orang yang berpapasan dengannya, seolah-olah sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Tidak lupa semua tim diberikan oleh-oleh. Nayla sudah jauh berbeda dari Nayla yang pertama kali menginjakkan kaki di Elevation."Asik! Nay, lo sering-sering deh jalan-jalan. Biar gue dapet oleh-oleh terus," goda Willy."Ada-ada aja lo, Wil!" tawa Nayla pun lepas."Kak Nay, mana buat aku?" tagih Widya begitu melihat Nayla."Dateng-dateng langsung minta oleh-oleh kamu, Wid. Nih." Nayla menyodorkan sebuah bingkisan yang khusus dia beli untuk Widya. "Makasih Kakakku yang paling cantik dan bawel," goda Widya.Nayla cuma geleng-geleng melihat kelakuan Widya. "Wid, Mas Adit kemana? Tumben belum kelihatan."Widya mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu menahu kemana Adit pergi. "Beberapa hari ini Mas Adit banyak meeting keluar, kayaknya lagi ada urusan soal iklan," jelas Widya sambil sibuk memfoto oleh-oleh dari Nayla, ag
Keesokan paginya, setelah sarapan mereka langsung naik shinkansen menuju Osaka. Nayla tidak seceria biasanya pagi itu, wajahnya terlihat agak lesu. "Kamu kenapa, Nay?" tanya Nugie dengan nada khawatir. "Gpp, Gie. Mungkin agak capek aja," jawab Nayla yang menghindari pembicaraan lebih lanjut. Suasana hatinya memang memburuk sejak kejadian semalam. Tapi dia tidak mau merusak sisa liburannya dengan Nugie yang tinggal beberapa hari lagi. Dia memutuskan untuk mengendalikan perasaannya, membuang jauh pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. "Istirahat aja dulu, Nay. Lumayan ada satu jam lebih," ucap Nugie dengan lembut. "Gak mau, Gie. Aku mau lihat pemandangannya, dan nikmatin pengalaman ini. Sayang banget kalau tidur," balas Nayla berusaha tersenyum, berusaha memulihkan suasana. Perjalanan satu jam itu pun terasa singkat, tidak terasa mereka sudah sampai di Osaka. Liburan mereka bersama yang sesungguhnya pun dimulai disana. Bagi mereka ini juga kesempatan untuk saling mengenal satu s
Pagi itu mereka hanya sempat sarapan bersama di hotel sebelum Nugie dijemput oleh mobil yang disiapkan untuknya. Begitu Nugie berangkat, Nayla pun bersiap-siap untuk membuat jadwalnya sendiri hari itu. Dia membuka kembali peta dan catatan yang diberikan Nugie kemarin, dan mulai memilih tempat mana yang akan dia kunjungi.Setelah lama memilih, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke daerah Ginza. Walaupun dia tidak suka belanja, tapi dia ingin menikmati daerah itu. Terlebih lagi letaknya dekat dengan Tsukiji Market, dimana dia bisa menikmati jajanan khas Jepang dan sushi.Nayla memang cukup ahli membaca peta transportasi, karena itu bukan hal baru untuknya. Sampai di Ginza, Nayla disuguhi toko-toko di sepanjang kiri dan kanan jalan, kebanyakan adalah toko barang branded dengan harga selangit, yang tentu saja langsung dilewati begitu saja oleh Nayla.Dia hanya sibuk menikmati daerah yang walaupun bukan hari libur tapi tetap saja ramai dengan orang-orang, baik turis maupun warga lokal. Ke
Hari yang ditunggu-tunggu Nugie dan Nayla akhirnya tiba. Setelah menempuh penerbangan kurang lebih enam jam, akhirnya mereka sampai di bandara Internasional Narita. Karena sudah beristirahat sepanjang perjalanan, keduanya tampak segar dan bersemangat saat menginjakkan kaki mereka di bandara itu. Selesai proses imigrasi dan pengambilan koper, mereka langsung menuju loket tiket untuk membeli tiket kereta yang akan mengantarkan mereka menuju pusat kota Tokyo. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam itu tidak terasa sama sekali, mereka sibuk menikmati pemandangan luar yang dihiasi salju. “Cakep banget ya, Gie," ujar Nayla dengan mata berbinar-binar. Nugie mengangguk setuju, matanya kemudian tidak bisa lepas menatap Nayla yang tampak cantik dengan wajah cerianya. Dia merasa keputusannya untuk menunda memberitahukan Nayla tentang Ayahnya adalah keputusan yang tepat. Satu setengah jam kemudian mereka pun turun dari kereta ketika sampai di stasiun yang mereka t







