แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Elyo_Caster
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-02 17:50:55

Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot.

Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry.

Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya.

Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya.

"Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku."

Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya.

---

Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan.

Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang masih berontak di dalam pikirannya. Dia tidak mau ditarik paksa oleh adiknya, Theo, ke rumah orang tua mereka, meninggalkan Eve sendiri di rumah.

Hans berusaha untuk tidak sering menangis hingga pingsan seperti sebelumnya.

Suara mobil terparkir di depan rumah bisa Hans dengar. Derap langkah kaki yang cepat mengalihkan perhatian Hans.

Hans bisa melihat Theo dengan mata sayu. Tubuhnya bergetar.

"Kak," ucap Theo pelan.

Hans berdiri dengan wajah bingung dan bertanya, "Ada apa, Theo? Kenapa tubuhmu bergetar seperti ini?"

Mulut Theo kaku. Dia tak bisa melihat Hans semakin hancur jika harus mendengar kabar kepergian Nenek.

"Theo, beritahu aku! Ada apa, Theo?"

"Kak, Nenek sudah pergi."

Hans tak bergeming. Matanya yang sudah lembap semakin basah. Matanya kosong, tampak seperti mayat hidup.

"Kak," Theo kembali memanggil kakaknya. Dia tahu ini pasti terjadi. Kejiwaan Hans akan semakin rusak dengan musibah yang tak henti menimpa keluarga mereka.

Theo memeluk kakaknya, mencoba menenangkan, meski Theo pun sedang mengalami rasa hancur yang sama.

Di dalam mobil Mercy hitam, Hans bersandar pada kaca mobil. Ingatan masa kecilnya menyeruak ke dalam pikirannya.

Hans mengingat dengan jelas hari ketika ibunya, Thalia, meninggal saat umur Hans masih 10 tahun.

Hari itu Hans sedang libur sekolah bersama adiknya di musim panas. Di rumah mereka, Hans mengetahui bahwa ibunya meninggal akibat kecelakaan tunggal.

Berhari-hari Ayah tidak menyentuh makanan, tidak berbicara kepada siapa pun kecuali membicarakan istrinya.

Masih terekam jelas suara adu mulut antara ayahnya dan juga neneknya.

"Mama, aku akan tetap melakukannya! Aku ingin Thalia kembali!"

"Henry, kamu tidak bisa melakukan perbuatan ilegal seperti itu. Berbahaya! Apa kamu mau mati sama seperti ayahmu!? Aku tidak bisa kehilangan apa pun lagi di hidupku!"

Kejadian pahit 23 tahun lalu masih terasa segar di ingatan Hans hingga kini.

Akhirnya Hans dan Theo tiba di rumah masa kecil mereka. Hans kembali ke rumah ini setelah 10 tahun lalu memutuskan tinggal di rumahnya sendiri.

Rumah sudah ramai dengan banyak kolega dan kerabat. Bunga belasungkawa yang ditujukan kepada keluarga besar Nichole K., yaitu nama kakek Hans, berjejer.

Theo dan Hans berlari ke arah peti mati Nenek yang masih terbuka. Menatap tubuh kaku Nenek membuat Hans dan Theo tak dapat menahan air mata.

"Nenek, ini Hans, Nek. Nek, bangun. Lihat, Theo juga di sini. Kenapa Nenek pergi? Nenek juga tidak mencintaiku?"

Hans memeluk tubuh dingin Nenek.

Hans mengecup pelan pipi Nenek. Di akhir pertemuan mereka, Hans bahkan tak mengantar Neneknya ke mobil seperti biasanya. Ketika dia mengunjungi Nenek di rumah masa kecilnya, ternyata itu untuk terakhir kalinya.

Nenek dikebumikan di kuburan khusus keluarga Nichole K.

Di rumah Nenek mulai terasa sepi. Sudah tidak ada kolega, kerabat, dan yang paling sunyi, sudah tidak ada Nenek.

Hans berdiam diri di tepi kasur, memeluk album foto keluarganya yang menjadi saksi bisu kepergian Nenek.

Theo yang sejak tadi mencari sang kakak menemukan Hans dengan tatapan tak bernyawa. Tubuhnya bergetar memeluk album foto.

Dengan suara yang parau Hans berbicara, "Theo, bagaimana hidupku ke depannya? Aku kehilangan Eve dan Nenek."

"Kakak, aku berjanji akan membantumu untuk terus hidup bahagia."

Hans tertawa mengejek. Bagi Hans, hidupnya sudah tidak ada semenjak Eve meninggal, ditambah sekarang Nenek pun pergi.

"Bagaimana caranya? Apakah kamu bisa menghidupkan Eve dan Nenek kembali?"

Theo terdiam sesaat, menatap sekilas ke arah rak buku di pojok kamar. Theo melangkah maju menemui jendela yang sejak tadi terbuka.

"Aku akan membawamu bertemu kembali dengan Kak Eve, tetapi biarkan Nenek bahagia bersama Ayah dan Ibu di sana."

"Kakak, tidurlah dulu di sini. Esok pagi kita pergi bertemu dengan Kak Eve."

Hans mengangguk setuju. Tubuhnya sudah lelah dan ingin waktu ini berlalu cepat sehingga ia bisa bertemu dengan Eve-nya.

Theo berlalu, membiarkan Hans tidur di kamar orang tua mereka. Ia memiliki ruang favoritnya sendiri di rumah ini, kamar kerja Ayah.

---

Di pagi hari, Theo kembali menyupiri kakaknya pulang. Sepanjang jalan tidak ada suara yang terdengar. Keduanya tenggelam oleh isi pikiran mereka.

Saat mereka akan sampai, Theo melihat mobil tua silver yang dikendarai oleh seseorang yang terasa pernah Theo jumpai. Namun, Theo tidak tahu siapa, di mana, dan kapan ia melihat wajah itu. Tapi Theo memilih mengabaikannya.

Baru saja masuk ke pekarangan rumah, Hans sudah melangkah ke makam, melakukan rutinitasnya.

Theo sungguh lelah. Dia baru saja kembali dari luar negeri dan harus merasakan kelelahan yang tak henti.

Theo hanya ingin tidur sejenak setelah semalam melakukan banyak hal.

Baru saja Theo terlelap, dirinya tersentak dari tidurnya ketika mendengar Hans berteriak dari kamar.

Di dalam kamar, Hans mengamuk. Ketika dia kembali ke kamar untuk menghirup aroma Eve di baju terakhir istrinya, Hans sadar ada seseorang yang berani masuk ke kamar.

"Kakak, ada apa? Kenapa berteriak?"

"Theo, ada orang masuk kamarku dan Eve. Lihat, fotoku dan Eve dibalik seperti ini."

Hans menunjuk ke arah nakas samping kasur. Benar saja, foto Hans dan Eve yang selalu tegak dan ditata rapi sekarang sudah jatuh terbalik.

"Aku sudah bilang tidak boleh ada satu pun orang masuk ke kamarku tanpa izinku!" teriak Hans. Matanya menyala, kedua tangannya terkepal kencang.

Hans takut aroma tubuh Eve menghilang. Hans takut arwah Eve tidak nyaman berada di kamar mereka jika ada orang lain berada di sana.

"Kakak, tenanglah dulu. Aku akan mencari pelakunya dan memberi balasan yang setimpal."

Theo membantu Hans bersandar pada dipan kasur, membiarkan Hans memeluk bingkai foto sembari sesegukan akibat menangis.

Segera setelah Theo keluar kamar, dia memanggil anak buahnya ke ruang tengah.

Theo memangku kakinya, mengisap sebatang rokok untuk menghilangkan penat. Tangan kirinya membelai tikus gerbil yang terlelap.

"Cek CCTV area rumah dan cari tahu siapa yang mengotak-atik hal yang tidak boleh disentuh."

"Baik, Tuan."

Siapa pun orang itu, Theo akan memberikan hukuman yang layak untuknya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kembalilah, Eve   Bab 6

    Denting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku. Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo mem

  • Kembalilah, Eve   Bab 5

    Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya. Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling. "Eve, kamu di mana?" Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan. "Eve di luar." "Eve di luar." "Eve di luar!" Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya. Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi. "Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar. Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kem

  • Kembalilah, Eve   Bab 4

    Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu. Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar. Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya. "Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo." Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik. "Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti." "Baik, Tuan Theo." "Bawa Gerbil kembali

  • Kembalilah, Eve   Bab 3

    Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot. Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry. Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya. Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya. "Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku." Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya. --- Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan. Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang

  • Kembalilah, Eve   Bab 2

    Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih. Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka. Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang. "Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka." "Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?" Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi. "Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana." Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu. Petugas mengambil walkie-t

  • Kembalilah, Eve   Bab 1

    Rintik hujan membasahi sebuah makam yang berada di halaman rumah seorang pria bernama Hans. Makam yang terpahat nama Eve, yang merupakan istri tercintanya. Makam semakin basah bersamaan dengan tubuh Hans yang masih mematung di samping makam kecil istrinya. "Sayang, aku pergi dulu ke dalam. Besok pagi—tidak, nanti malam aku ke sini lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku." Hans bangkit dari sana, berlalu masuk ke rumahnya dengan membawa sisa-sisa tanah makam di sekujur pakaiannya. *** "Jane, kamu mau ke mana lagi sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya. "Aku ada kerja paruh waktu seperti biasa." "Oh ya, tapi bukannya hari ini kau libur kerja paruh waktu? Jane, kau tidak menjual barang haram itu lagi, kan?" "Tentu saja tidak, Bu. Aku sudah bilang, kan, tidak akan menjual barang haram itu lagi." Jane yang kesal segera pergi meninggalkan ibunya seorang diri di meja makan. Jane membawa mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri jalanan. Asap rokok mengebul di dalam mobil seolah m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status