แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Elyo_Caster
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-02 17:50:35

Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih.

Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka.

Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya.

Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang.

"Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka."

"Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?"

Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi.

"Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana."

Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu.

Petugas mengambil walkie-talkie dari samping kiri celana hitamnya, kemudian berbicara dengan seorang rekan.

"Dari info rekan saya, tidak ada perhiasan apa pun yang tertinggal di dalam."

Wajah Jane memelas. Air mata palsu menambah kesan gelisah di wajahnya.

"Pak, tolong izinkan saya mengecek ke dalam. Gelang kaki itu sangat penting bagi saya. Gelang kaki peninggalan mendiang ayah saya."

"Maaf, tapi tidak bisa, dikarenakan ini area privat bagi para penghuni kompleks."

Jane tak habis ide. Tangannya ia katupkan dengan rapat, lututnya ia jatuhkan untuk memberi efek tarikan rasa kasihan dari penjaga.

"Pak, tolong, Pak. Saya sangat membutuhkan gelang kaki itu. Tolong, Pak."

Penjaga yang memiliki name tag bertuliskan Joe, yang melihat rasa putus asa dari balik wajah Jane, pun akhirnya memberi Jane izin masuk. Joe juga menemani Jane masuk melewati tiga rumah di dalam kompleks.

Jane baru sadar kalau rumah di sini memiliki bentuk yang sama, tetapi berbeda dengan rumah pria tampan. Rumah di sini juga terlihat kosong meski ada mobil di teras halaman.

Semakin masuk ke dalam, Jane bisa melihat lebih jelas rumah besar dengan makam di sisi samping halamannya.

"Saya beri kamu waktu 15 menit untuk mencari. Ketemu atau tidak, kamu harus segera keluar dari area ini."

Jane membalas singkat dan mulai berlagak mencari-cari di sekitar rerumputan di area rumah besar pria tampan. Jane melihat rumah ini kembali. Di sepanjang sisi rumah, disusun dinding batu yang tidak tinggi.

"Ah, apakah hari ini pria tampan itu tidak keluar? Oh, ayolah, aku ingin melihatnya sekejap," batin Jane.

Dewi Fortuna sepertinya ingin bekerja sama dengan Jane. Tak lama setelah perkataan Jane, sebuah mobil dari arah belakangnya masuk ke dalam area rumah.

Jantung Jane berdetak tak karuan. Sejak semalam dia bermimpi melihat pria tampan itu hingga membawanya ke tempat ini kembali.

Pintu mobil terbuka. Sepasang sepatu pantofel.

"Permisi, Nona. 15 menit sudah berlalu. Silakan keluar dari area ini."

Joe menepuk pundak Jane hingga wanita itu berbalik.

"Tapi saya belum menemukan barang itu." Jane berusaha meminta waktu, tetapi Jane sendiri tahu itu tidak akan berhasil.

Joe menarik paksa Jane karena dirinya pun takut jika terkena marah karena membiarkan orang asing berlama-lama di area ini.

Jane menyibir pelan. Wajahnya memerah kesal mengingat dia tak sempat melihat wajah tampan yang dia nantikan sejak semalam. Dia kembali pulang dengan tangan dan harapan kosong.

Setelah Jane pergi, di dalam rumah besar itu terlihat suasana yang begitu suram dan gelap.

Hari pemakaman telah berakhir kemarin, tetapi suasana mendung di luar menambah kesan pilu di dalam kediaman Hans.

"Aku tidak pernah mengizinkanmu pergi. Kembalilah dalam bentuk apa pun." Hans berbicara sendiri dengan kedua tangan memeluk bingkai foto Eve.

Bagi Hans, Eve adalah napas yang harus ada untuk membuat Hans hidup. Entah berapa lama Hans akan sanggup menahan napas di hidupnya setelah Eve pergi tanpa izinnya.

Di ujung sisi tempat tidur, Hans termenung menatap meja rias.

"Sayang, kenapa melamun? Bisakah kamu menarik ritsleting bajuku lebih atas lagi?"

Suara halus yang hanya bisa didengar oleh Hans. Suara yang menyeruak dari balik tirai pikirannya.

Bulir kehampaan menggores pipinya, menyisakan bekas yang rapuh. Di kamar yang sunyi, suara Eve terngiang setiap kali Hans memejamkan mata.

Hanya suara Eve yang Hans dengar di dalam isi kepalanya hingga suara ketukan di balik pintu membuyarkan lamunan Hans.

"Hans, ini Nenek. Bisakah kamu bukakan pintu ini?"

Hans berdiri tanpa suara. Tangan Hans sempat ragu untuk membuka, tetapi ketukan pintu kembali terdengar.

Hal pertama yang Hans lihat adalah wajah letih neneknya. Entah kenapa wajah nenek lebih layu dari biasanya.

"Hans, ada yang mau Nenek bicarakan, bisakah?"

Hans tak menjawab. Dia membiarkan pintu terbuka dan berlalu ke tepi ranjang.

Nenek masuk ke kamar cucu tertuanya, memandang sekeliling ruangan yang dipenuhi wajah Eve dalam banyak bingkai. Baju terakhir yang Eve gunakan pun tergantung di dinding kamar, bersampingan dengan baju pengantin.

"Hans," panggil Nenek.

"Hans, jik—"

Suara petir berhamburan di udara, membuat ucapan Nenek terdengar samar, nyaris tak terdengar jika posisi mereka sedikit lebih jauh. Bisa dipastikan hanya Hans yang bisa mendengar kalimat Nenek.

Hans tertegun sejenak, menatap Nenek yang berdiri menghadap jendela. Raut lelah dengan mata yang kian sayu terpampang di wajah keriputnya.

Nenek masih memandang ke arah makam Eve di luar dan kembali berbicara.

"Hans, hidupku sudah tidak lama lagi. Sebentar lagi aku juga akan pergi menyusul putra sulungku. Berbahagialah dengan cara apa pun."

Nenek menatap cucunya sebentar sebelum berlalu pergi meninggalkan kesunyian di dalam kamar Hans, menyisakan Hans seorang diri.

Hans terdiam sejenak. Tubuhnya yang sejak tadi terduduk di sisi kasur melangkah ke arah jendela.

Hans bisa mendengar suara mobil Nenek pergi meninggalkan rumahnya dan rasa sepi kembali menghantam Hans dengan suara-suara di pikirannya.

"Hans..."

"Sayang..."

"Suamiku..."

Suara Eve bergemuruh kembali, bahkan semakin liar di benak Hans. Panggilan kecil istrinya begitu candu. Hans ingin lagi. Hans mau memeluk istrinya. Hans mau mencium dan mencintai Eve sepanjang waktu.

Rasa sakau akan tubuh Eve membuat pikiran Hans kacau. Dengan cepat Hans berlari ke arah makam Eve, tepat di bagian sisi lain dari rumah.

Hujan tak akan mampu menggoyahkan hasrat Hans untuk memeluk tubuh Eve yang mungkin mulai sedikit berubah.

"Eve, ini aku, sayang. Aku Hans, suamimu. Kamu pasti pengap di dalam sini, ya?"

Hans berbicara pada nisan yang basah karena hujan. Bunga di atas makam diacak asal.

Hans menyingkirkan setiap tanah lembap yang menutupi istrinya di bawah sana. Menggali lebih dalam lagi, mata merahnya menatap tajam tanah yang tak ada habisnya.

Air hujan di atas kepala Hans tiba-tiba hilang. Sebuah payung hitam menggantung di udara, menahan setiap tetesan air.

Hans tak sadar akan hal itu. Dirinya hanya terus-menerus mengeruk hingga sebuah tangan tan menyentuh pundak Hans.

"Kakak, berhentilah."

Suara tegas, tetapi tersimpan risau, membuat tubuh Hans melemah.

Hans menangis memeluk batu nisan Eve yang sudah kotor berlumur tanah. Penglihatan Hans mulai berbayang hingga akhirnya ia runtuh di atas makam Eve.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kembalilah, Eve   Bab 6

    Denting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku. Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo mem

  • Kembalilah, Eve   Bab 5

    Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya. Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling. "Eve, kamu di mana?" Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan. "Eve di luar." "Eve di luar." "Eve di luar!" Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya. Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi. "Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar. Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kem

  • Kembalilah, Eve   Bab 4

    Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu. Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar. Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya. "Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo." Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik. "Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti." "Baik, Tuan Theo." "Bawa Gerbil kembali

  • Kembalilah, Eve   Bab 3

    Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot. Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry. Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya. Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya. "Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku." Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya. --- Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan. Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang

  • Kembalilah, Eve   Bab 2

    Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih. Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka. Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang. "Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka." "Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?" Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi. "Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana." Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu. Petugas mengambil walkie-t

  • Kembalilah, Eve   Bab 1

    Rintik hujan membasahi sebuah makam yang berada di halaman rumah seorang pria bernama Hans. Makam yang terpahat nama Eve, yang merupakan istri tercintanya. Makam semakin basah bersamaan dengan tubuh Hans yang masih mematung di samping makam kecil istrinya. "Sayang, aku pergi dulu ke dalam. Besok pagi—tidak, nanti malam aku ke sini lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku." Hans bangkit dari sana, berlalu masuk ke rumahnya dengan membawa sisa-sisa tanah makam di sekujur pakaiannya. *** "Jane, kamu mau ke mana lagi sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya. "Aku ada kerja paruh waktu seperti biasa." "Oh ya, tapi bukannya hari ini kau libur kerja paruh waktu? Jane, kau tidak menjual barang haram itu lagi, kan?" "Tentu saja tidak, Bu. Aku sudah bilang, kan, tidak akan menjual barang haram itu lagi." Jane yang kesal segera pergi meninggalkan ibunya seorang diri di meja makan. Jane membawa mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri jalanan. Asap rokok mengebul di dalam mobil seolah m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status