Share

Bab 7

Author: Elyo_Caster
last update publish date: 2026-10-26 21:55:25

Sepasang mata terbuka perlahan. Hans mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang masuk melalui jendela.

"Sayang?"

Tangannya bergerak ke sisi lain ranjang. Jemarinya meraba seprai yang kusut, mencari tangan yang biasa menggenggamnya setiap pagi.

Kosong.

Hans menggeser tubuhnya mendekat. Telapak tangannya menyusuri bantal di sebelahnya, lalu berhenti pada cekungan kecil yang tertinggal di sana.

"Eve tidak ada di sini," gumamnya. "Eve di luar."

Ia menyingkap selimut dan berusaha bangkit. Satu tangannya menekan kasur, sementara tangan lainnya meraih sisi ranjang. Namun, tubuhnya kembali terjatuh ke bantal.

Hans memejamkan mata. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dadanya.

Untuk kedua kalinya, ia mencoba bangun.

Gagal.

Jemarinya mencengkeram seprai hingga kusut di antara genggamannya. Ia menunduk, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajah.

"Aku kalah."

Suaranya terdengar begitu kecil di dalam kamar yang sunyi.

Hans mengangkat kepala. Pandangannya berhenti pada jendela yang terbuka. Tirai putih bergerak pelan diterpa angin, sementara sinar matahari jatuh di lantai tanpa terhalang apa pun.

"Aku tidak sanggup tanpa kamu, Sayang."

Air mata mengalir melewati pipinya. Ia tidak mengusapnya. Sebaliknya, Hans kembali membaringkan tubuh dan menutup mata, seolah hanya dengan cara itu ia bisa menemukan Eve.

Di balik kelopak matanya, wajah sang istri perlahan muncul.

Senyum yang selalu membuat sudut bibirnya ikut terangkat. Mata yang menatapnya dengan penuh kasih. Kulit cokelat yang tampak hangat setiap kali tersentuh cahaya matahari.

Hans menarik napas panjang.

Untuk sesaat, ia lupa bahwa dirinya sedang sendirian.

Suara Eve terdengar begitu dekat, membawa Hans kembali pada sebuah pagi yang pernah mereka lalui bersama.

"Sayang, hari ini mau makan apa? Aku akan memasak."

Eve duduk di tepi ranjang dengan rambut yang sudah terikat.

Hans mengulurkan tangan, menarik Eve mendekat, lalu meraih pinggangnya.

"Sayang, tidak perlu memasak. Kita punya banyak orang yang akan memasak untuk kita. Jadi, kemarilah dan duduk di pangkuanku."

Eve mengerucutkan bibir. Tangannya bertumpu pada dada Hans, berusaha menjaga jarak di antara mereka.

"Kamu tidak suka masakanku, ya?"

Hans mengangkat alis. Ia memperhatikan wajah Eve yang mulai murung, lalu tertawa kecil.

"Siapa yang bilang begitu? Aku sangat suka apa pun darimu, tetapi lihat ini."

Ia meraih tangan Eve dan mengangkat jari telunjuknya.

Perban kecil melingkari ujung jari itu.

Hans mengusap bagian kulit di sekitar perban dengan ibu jarinya. Senyumnya memudar saat melihat luka kecil yang tersembunyi di baliknya.

"Tanganmu terluka. Aku tidak suka, Sayang."

Eve mengikuti arah pandang Hans. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi genggaman suaminya justru mengerat sedikit.

"Hanya luka kecil."

"Tetap saja luka."

Hans mengembuskan napas, kemudian meletakkan tangan Eve di atas telapak tangannya. Ia mengecupnya pelan sebelum mengangkat wajah.

"Kenapa istriku sangat cantik, bahkan saat ia murung seperti ini?"

Eve terdiam.

Pipinya memerah. Ia buru-buru menunduk, kemudian menyembunyikan wajah di pundak Hans.

"Jangan tertawa, ya."

Hans menahan senyumnya. Tangannya bergerak mengusap punggung Eve perlahan.

"Iya, aku tidak akan tertawa."

Namun, bahunya masih bergetar menahan tawa.

Eve mencubit pelan pinggang suaminya.

"Hans!"

"Iya, iya." Hans mengangkat kedua tangannya, menyerah. "Tidurlah. Hari masih sangat pagi. Biar aku temani kamu di sini."

Eve mengangkat wajah, menatapnya sebentar sebelum menggeser tubuhnya mendekat. Kepalanya bersandar di dada Hans, sementara tangannya melingkar di pinggang sang suami.

Hans meraih selimut dan menutupi tubuh mereka.

Beberapa menit berlalu. Napas Eve mulai teratur. Jemarinya yang semula mencengkeram baju Hans perlahan mengendur.

Hans menunduk, memperhatikan wajah istrinya yang terlelap.

Senyum kecil terbit di bibirnya.

Tangannya menyibak rambut yang menutupi dahi Eve, lalu berhenti di sana selama beberapa saat.

"Sayang," bisiknya.

Eve tidak menjawab.

Hans mengecup keningnya, kemudian menyandarkan kepala di bantal.

Ia berharap pagi itu berjalan lebih lama, tetapi kenyataan tidak sealu sama dengan harapan.

Hans membuka mata.

Senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang. Tangannya masih terulur ke sisi ranjang, seolah baru saja menggenggam tangan Eve.

Namun, jemarinya hanya menyentuh seprai kosong.

Hans menarik tangannya kembali.

Ia menatap telapak tangannya cukup lama sebelum mengepalkannya, lalu menyembunyikannya di bawah selimut.

Suara kendaraan dari luar semakin ramai. Cahaya matahari yang semula jatuh di dekat jendela kini bergeser ke ujung ranjang.

Hans tidak tahu sudah berapa lama ia berbaring di sana.

Ia hanya tahu bahwa dalam ingatannya, Eve masih hidup.

Dalam ingatannya, Eve masih bisa memanggilnya, mencubit pinggangnya, dan tertidur di dalam pelukannya.

Namun, setiap kali ia membuka mata, yang tersisa hanyalah kamar kosong.

Hans memalingkan wajah ke arah meja rias. Pandangannya kemudian bergeser ke gaun pengantin yang tergantung di dinding.

Bibirnya bergerak pelan.

"Bagaimana jika Eve benar-benar kembali seperti ucapan Theo?"

Ia terdiam. Jemarinya kembali meremas seprai.

"Jika dia kembali, apa aku akan membolehkannya keluar gerbang?"

Pertanyaan itu membuat Hans mengernyit. Ia menggeleng kecil, seolah tidak menyukai kemungkinan tersebut.

"Tidak. Aku tidak akan membiarkannya pergi lagi."

Ia menelan ludah.

"Jika dia kembali, apa dia akan berjanji untuk tetap hidup bersamaku?"

Hans menatap gaun pengantin itu tanpa berkedip.

"Jika dia kembali, apakah dia masih mau mencintaiku?"

Tidak ada yang menjawab.

Hans menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Matanya terpejam, tetapi pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu terdengar.

Hans tidak bergerak.

Tok! Tok! Tok!

"Kakak?"

Suara Theo terdengar dari balik pintu.

Hans tetap diam. Ia bahkan tidak menoleh ketika gagang pintu bergerak dan pintu terbuka perlahan.

Theo masuk membawa nampan berisi makanan. Ia menutup pintu menggunakan kaki, kemudian berjalan mendekati ranjang.

"Kak, ayo makan dan mandi dulu."

Hans tidak menjawab.

Theo meletakkan nampan di meja kecil. Ia memperhatikan kakaknya yang masih berbaring dengan wajah menghadap jendela.

"Kak?"

Theo duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh bahu Hans, menggoyangkannya pelan.

"Aku sudah bawakan makanan. Kakak belum makan sejak tadi."

Hans akhirnya bergerak. Ia menurunkan selimut dari wajahnya, kemudian berusaha bangkit.

Theo segera membantu, menopang punggung kakaknya hingga Hans bisa duduk bersandar pada kepala ranjang.

"Pelan-pelan, Kak."

Theo mengambil mangkuk dan sendok. Ia menyendok sedikit makanan, meniupnya sebentar, lalu menyodorkannya ke bibir Hans.

Hans membuka mulut dan menelan makanan itu.

Satu suapan.

Dua suapan.

Pada suapan berikutnya, Theo berhenti.

Pandangan kakaknya tidak pernah beralih dari gaun pengantin yang tergantung di dinding.

Theo mengikuti arah tatapan itu. Matanya berhenti pada gaun putih yang masih terbungkus rapi, dengan bagian ujung yang sedikit menguning dimakan waktu.

Ia teringat bagaimana kakaknya tersenyum ketika menceritakan hari pernikahannya. Bagaimana Hans berkali-kali mengatakan bahwa Eve adalah wanita paling cantik yang pernah ia lihat.

Kini, lelaki yang sama bahkan tidak sanggup mengalihkan pandangan dari pakaian yang ditinggalkan istrinya.

"Kak, makan sedikit lagi, ya?"

Theo menyodorkan sendok.

Hans menurut. Namun, ketika makanan itu masuk ke mulutnya, setetes air mata jatuh melewati pipinya.

Theo membeku.

Sendok di tangannya perlahan turun.

Hans tidak mengusap air mata itu. Ia tetap menatap gaun pengantin Eve, sementara bibirnya bergerak membentuk sesuatu yang nyaris tak terdengar.

Theo mendekatkan telinganya.

"Eve..."

Tenggorokan Theo terasa tercekat.

Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi mendesak keluar.

Namun, setetes air mata tetap jatuh ke punggung tangannya.

Theo buru-buru mengusapnya dengan lengan baju. Ia kembali mengangkat sendok, berusaha tersenyum di hadapan kakaknya.

"Ayo, Kak. Sedikit lagi."

Suaranya bergetar.

Hans menoleh sekilas. Tatapannya bertemu dengan mata Theo yang memerah.

Untuk sesaat, ia terdiam.

Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, pandangannya kembali tertuju pada gaun pengantin Eve.

Theo menunduk lagi.

Di kamar itu, hanya terdengar suara sendok yang beradu pelan dengan mangkuk dan isak tangis yang berusaha disembunyikan.

Dan di antara keduanya, nama Eve tetap menjadi sesuatu yang tidak sanggup mereka lepaskan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalilah, Eve   Bab 7

    Sepasang mata terbuka perlahan. Hans mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang masuk melalui jendela."Sayang?"Tangannya bergerak ke sisi lain ranjang. Jemarinya meraba seprai yang kusut, mencari tangan yang biasa menggenggamnya setiap pagi.Kosong.Hans menggeser tubuhnya mendekat. Telapak tangannya menyusuri bantal di sebelahnya, lalu berhenti pada cekungan kecil yang tertinggal di sana."Eve tidak ada di sini," gumamnya. "Eve di luar."Ia menyingkap selimut dan berusaha bangkit. Satu tangannya menekan kasur, sementara tangan lainnya meraih sisi ranjang. Namun, tubuhnya kembali terjatuh ke bantal.Hans memejamkan mata. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dadanya.Untuk kedua kalinya, ia mencoba bangun.Gagal.Jemarinya mencengkeram seprai hingga kusut di antara genggamannya. Ia menunduk, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajah."Aku kalah."Suaranya terdengar begitu kecil di dalam kamar yang sunyi.Hans

  • Kembalilah, Eve   Bab 6

    Denting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku. Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo mem

  • Kembalilah, Eve   Bab 5

    Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya. Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling. "Eve, kamu di mana?" Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan. "Eve di luar." "Eve di luar." "Eve di luar!" Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya. Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi. "Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar. Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kem

  • Kembalilah, Eve   Bab 4

    Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu. Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar. Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya. "Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo." Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik. "Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti." "Baik, Tuan Theo." "Bawa Gerbil kembali

  • Kembalilah, Eve   Bab 3

    Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot. Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry. Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya. Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya. "Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku." Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya. --- Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan. Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang

  • Kembalilah, Eve   Bab 2

    Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih. Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka. Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang. "Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka." "Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?" Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi. "Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana." Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu. Petugas mengambil walkie-t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status