เข้าสู่ระบบDenting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku.
Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo memberi isyarat kepada Anton untuk tetap di posisinya. “Baik, tunggu arahan, baru kalian bergerak setelah itu.” Suara panggilan terputus. “Tuan Theo, para penjaga baru memberi info. Ada cahaya dari senter di dekat area hutan, dan gerbang pembatas masih tertutup, tetapi slot pintunya terbuka.” “Biarkan dulu, Anton. Buat seolah-olah tidak ada yang tahu apa yang terjadi, dan kita lihat sejauh mana keberanian mereka.” Anton memahami perintah tuannya dan segera memberikan informasi kepada para penjaga lain. Seseorang muncul berjalan mengendap-endap keluar dari hutan, melompati dinding batu rendah yang menjadi pembatas. “Ini dia.” Anton yang berdiri di dekat balkon dapat melihat juga seseorang yang begitu berani, atau mungkin bodoh, masuk ke kawasan ini. “Persiapkan para anjing menuju ke arahnya. Sudah lama mereka tidak berlatih.” Tidak butuh waktu lama, suara gonggongan anjing berlari ke arah orang asing itu. Suara teriakan wanita terdengar nyaring di bawah sana. Theo melihat wanita itu berlari dengan begitu cepat ke sisi lain rumah. Suara gonggongan anjing dan teriakan wanita itu terdengar begitu dekat dengan kamar Hans. Theo yang melihat arah wanita itu segera keluar kamar menuju kamar sang kakak, yang kini terduduk di kasur dengan wajah terkejut. “Theo, ada apa di luar? Ada suara wanita? Kenapa suara anjing menggonggong keras?” “Kakak, tenanglah. Tidak ada apa-apa. Istirahatlah.” “Tidak, Theo. Aku harus memastikan Eve. Jangan sampai dia terganggu di luar sana. Eve tidak suka suara keras.” Hans baru saja membuka jendela, namun Theo lebih cepat mengarahkan alat penyetrum yang sejak tadi dibawanya. Sengatan listrik membuat tubuh Hans seketika lemas dan jatuh tak sadarkan diri. “Kakak, maaf. Mohon sabar sebentar lagi. Aku akan kembalikan Kakak ipar kepadamu.” Jendela yang terbuka setengah membuat Theo dapat melihat makam Eve yang tadi sore baru ditaburi bunga sudah rusak. Geretakan gigi Theo terdengar nyaring. Berani sekali orang ini. “Anton, tarik semua anjing kembali. Biarkan wanita itu pergi. Dia pasti akan kembali untuk menebus ini nanti.” “Satu lagi, perbaiki makam Eve. Aku tidak mau Kakak semakin drop jika melihat itu.” Theo melangkah menuju ruang utama, batang rokok baru sudah terselip di sela bibirnya. Anton memantik korek untuk Theo. Asap rokok bertebaran di ruang utama. “Bawa alat penjaga rusak itu kemari.” Para penjaga segera keluar rumah, mencari orang yang Tuannya minta. Tidak butuh waktu lama, beberapa penjaga kembali bersama orang yang diminta. Dengan kasar, mereka melempar tubuh pria itu hingga tersungkur di bawah kaki Tuannya. “Tuan, maafkan saya. Saya tidak berbuat salah apa pun.” Theo masih terdiam. Ia masih sibuk dengan rokok yang ia hisap. Setelah menghabiskan setengah rokok, wajahnya kini menatap ke bawah. “Berlutut seperti anjing.” Penjaga itu segera mengubah posisinya. “Siapa namamu?” “Saya Joe, Tuan.” “Siapa namamu?” “Saya budak Tuan Theo dan Tuan Hans.” Wajah Theo berubah senang. Sudah lama dia tidak melakukan permainan budak dan tuan setelah terakhir kali saat masih di bangku sekolah. “Jenis anjing apa ini? Kenapa lidahnya tidak dijulurkan?” Joe yang takut segera membuka mulutnya dan menjulurkan lidah dengan suara khas anjing. Tangan Theo yang memegang rokok sejak tadi kini membawa bara api itu, menekan lidah Joe dengan kuat. “Anton, bakarkan aku beberapa rokok lagi. Aku ingin mencoba asbak baruku.” Puas bermain dengan Joe, Theo kembali ke kamarnya. Membersihkan seluruh tubuhnya dengan air hangat yang mengalir. Dengan tubuh yang dibalut baju mandi, Theo membuat panggilan dari telepon miliknya. “Halo, Tuan Raj. Aku sepakat untuk perjanjian kita. Siapkan saja waktu dua bulan lagi untuk bertemu dengan karyaku.” Sambungan berakhir sepihak tanpa sempat ada respons lain. Theo membawa wine miliknya, menyetel lagu “My Way”. Jari-jemarinya bergerak mengikuti irama, kebiasaan kecil yang selalu ada. Matahari bersinar di pagi hari. Pintu toko kaset terbuka dari arah luar. “Halo, selamat datang.” Seorang kasir wanita menyapa. Dari arah pintu, Joe berjalan cepat. “Aku butuh barang itu lagi,” ucap Joe susah payah, suaranya terbata seperti orang yang menahan sakit. Kasir itu melihat sekeliling. Beruntung, ini masih pagi dan tidak ada orang lain selain mereka berdua. “Apa kau gila? Keluar dari sini dan tunggu aku di luar.” Joe menurut cepat. Tanpa berbalik, ia menunggu kasir tersebut di luar pintu. Joe berjalan bolak-balik tanpa henti, tangannya bergetar hebat menunggu dengan was-was. Kasir itu khawatir, namun dia tidak bisa keluar sekarang. Joe harus menunggu hingga urusannya selesai. Waktu istirahat tiba. Kasir segera keluar menemui Joe, yang berdiri dengan masker dan topi miliknya. “Kita pindah ke tempat lain.” Kasir segera membawa Joe ke bagian gang sempit di dekat sana. Sesekali terdengar suara meringis selama ia berjalan. Tubuh Joe masih terus bergetar, seperti seorang yang sedang sakau. “Aku baru memberimu barang itu semalam. Kenapa kamu minta lagi?” “Aku, aku butuh barang.” “Ada apa dengan cara bicaramu? Apa kau menjadi tidak waras?” Joe menjambak rambutnya sendiri. Di mata kasir, Joe seperti tidak waras. Tinju kuat Joe arahkan ke dinding, matanya gusar, memerah menahan sesuatu. “Rumah, rumah Hans di sana.” Kasir tidak mengerti apa yang berusaha Joe beritahu. Melihat situasi yang tidak kondusif, kasir mencoba menenangkan Joe. “Hei, Joe, tenang. Aku tidak bisa mengerti. Bicara dengan tenang.” Joe tidak bisa lagi bicara. Ia memberi kode kepada kasir untuk mengambil kertas dan pena segera. Kasir segera berlari ke dalam dengan tergesa. Panggilan dari rekan kerjanya pun tidak ia gubris. Dengan kaki yang tertatih, ia kembali ke gang kecil tadi. “Ini kertas dan pena. Cepat tulis.” Joe menulis dengan keringat yang keluar dari balik-balik jarinya. Satu kalimat yang paling ditakutkan tertulis di sana.Denting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku. Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo mem
Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya. Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling. "Eve, kamu di mana?" Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan. "Eve di luar." "Eve di luar." "Eve di luar!" Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya. Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi. "Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar. Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kem
Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu. Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar. Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya. "Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo." Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik. "Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti." "Baik, Tuan Theo." "Bawa Gerbil kembali
Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot. Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry. Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya. Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya. "Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku." Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya. --- Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan. Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang
Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih. Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka. Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang. "Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka." "Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?" Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi. "Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana." Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu. Petugas mengambil walkie-t
Rintik hujan membasahi sebuah makam yang berada di halaman rumah seorang pria bernama Hans. Makam yang terpahat nama Eve, yang merupakan istri tercintanya. Makam semakin basah bersamaan dengan tubuh Hans yang masih mematung di samping makam kecil istrinya. "Sayang, aku pergi dulu ke dalam. Besok pagi—tidak, nanti malam aku ke sini lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku." Hans bangkit dari sana, berlalu masuk ke rumahnya dengan membawa sisa-sisa tanah makam di sekujur pakaiannya. *** "Jane, kamu mau ke mana lagi sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya. "Aku ada kerja paruh waktu seperti biasa." "Oh ya, tapi bukannya hari ini kau libur kerja paruh waktu? Jane, kau tidak menjual barang haram itu lagi, kan?" "Tentu saja tidak, Bu. Aku sudah bilang, kan, tidak akan menjual barang haram itu lagi." Jane yang kesal segera pergi meninggalkan ibunya seorang diri di meja makan. Jane membawa mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri jalanan. Asap rokok mengebul di dalam mobil seolah m







