author-banner
Elyo_Caster
Elyo_Caster
Author

Novel-novel oleh Elyo_Caster

Kembalilah, Eve

Kembalilah, Eve

“Aku tidak pernah mengizinkanmu pergi. Kembalilah dalam bentuk apa pun.” Hans kehilangan Eve, wanita yang menjadi seluruh hidupnya. Namun ketika kematian memisahkan mereka, Hans menolak menerima kenyataan. Ia hanya ingin satu hal, Eve kembali. Apa pun bentuknya dan berapapun harganya.
Baca
Chapter: Bab 6
Denting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku. Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo mem
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Bab 5
Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya. Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling. "Eve, kamu di mana?" Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan. "Eve di luar." "Eve di luar." "Eve di luar!" Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya. Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi. "Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar. Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kem
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Bab 4
Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu. Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar. Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya. "Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo." Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik. "Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti." "Baik, Tuan Theo." "Bawa Gerbil kembali
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Bab 3
Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot. Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry. Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya. Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya. "Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku." Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya. --- Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan. Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Bab 2
Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih. Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka. Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang. "Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka." "Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?" Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi. "Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana." Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu. Petugas mengambil walkie-t
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Bab 1
Rintik hujan membasahi sebuah makam yang berada di halaman rumah seorang pria bernama Hans. Makam yang terpahat nama Eve, yang merupakan istri tercintanya. Makam semakin basah bersamaan dengan tubuh Hans yang masih mematung di samping makam kecil istrinya. "Sayang, aku pergi dulu ke dalam. Besok pagi—tidak, nanti malam aku ke sini lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku." Hans bangkit dari sana, berlalu masuk ke rumahnya dengan membawa sisa-sisa tanah makam di sekujur pakaiannya. *** "Jane, kamu mau ke mana lagi sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya. "Aku ada kerja paruh waktu seperti biasa." "Oh ya, tapi bukannya hari ini kau libur kerja paruh waktu? Jane, kau tidak menjual barang haram itu lagi, kan?" "Tentu saja tidak, Bu. Aku sudah bilang, kan, tidak akan menjual barang haram itu lagi." Jane yang kesal segera pergi meninggalkan ibunya seorang diri di meja makan. Jane membawa mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri jalanan. Asap rokok mengebul di dalam mobil seolah m
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Anda juga akan menyukai
Perempuan Kopi
Perempuan Kopi
Romansa · Erlina P. Lestari
8.8K Dibaca
Melupa Rasa
Melupa Rasa
Romansa · Kier
8.8K Dibaca
Aku Diabaikan Saat Setia
Aku Diabaikan Saat Setia
Romansa · Hawa Hajari
8.7K Dibaca
Runaway Ex-Wife
Runaway Ex-Wife
Romansa · Anee_ta Author
8.7K Dibaca
My Bad Boss
My Bad Boss
Romansa · Relaxaaaid
8.7K Dibaca
Wanita Penghibur sang Presdir
Wanita Penghibur sang Presdir
Romansa · Jihan Fahrira
8.7K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status