Teilen

Bab 5

last update Veröffentlichungsdatum: 02.10.2026 17:51:34

Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya.

Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling.

"Eve, kamu di mana?"

Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan.

"Eve di luar."

"Eve di luar."

"Eve di luar!"

Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya.

Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi.

"Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar.

Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kemudian kembali normal.

"Eve, ini akhir pekan. Bagaimana kalau kita keluar? Kamu selalu meminta hal itu, kan? Aku akan kabulkan, tapi kamu harus tidur di dalam lagi."

"Eve, ada seseorang yang menyakiti aku. Ada orang gila yang menyentuh foto kamu. Aku akan menghukumnya. Apakah boleh, Eve? Tidak akan separah dulu. Aku akan sedikit baik."

Bibir Hans tak lelah berbicara seorang diri. Tidak ada satu pun yang bisa menebak ekspresi yang ada di wajah Hans. Rasanya begitu aneh saat melihatnya.

"Eve, dua bulan lagi adalah hari ulang tahun pernikahan kita. Aku sudah menyiapkan gaun cantik untukmu. Apa kamu mau melihatnya?"

Hans membawa kakinya masuk ke dalam rumah. Pintu ruang kerja dibuka dengan kuat.

Hans berjalan ke arah lemari kaca miliknya. Gaun berwarna merah muda polos yang menampilkan sisi bahu begitu menarik perhatian.

Pintu kaca terbuka. Hans memeluk gaun itu dan menghirup wangi parfum milik Eve yang selalu ia semprotkan setiap malam sebelum Eve pergi. Kakinya mulai tergesa menuruni anak tangga yang seolah menumpuk terlalu banyak.

Hans kembali ke tempat Eve tidur dengan gaun merah muda di pelukannya.

"Sayang, lihat. Aku membawakanmu gaun ini. Kamu akan pakai nanti di hari ulang tahun pernikahan kita, kan?"

Hans masih menyodorkan gaun ke arah nisan. Gaun yang semula berwarna merah muda utuh mulai tergores oleh warna tanah.

"Sayang, kita akan keluar pergi ke mana pun. Aku akan membawamu ke luar gerbang, tapi janji kamu harus kembali ke dalam."

Suara mobil dari arah gerbang mengalihkan pandangan Hans. Ia bisa melihat mobil adiknya telah kembali.

"Sayang, kamu akan memakai gaun ini. Aku akan memakaikannya untukmu."

Hans bisa melihat Theo mendekat ke arahnya. Setengah berlari, ia menghampiri adiknya.

"Theo, Eve akan pakai gaun ini, kan? Kamu akan mengembalikan Eve, kan? Iya, kan, Theo?"

Pundak Theo diguncang oleh Hans. Cengkeramannya pun cukup kuat hingga membuat Theo sedikit meringis.

"Kakak, tenanglah dulu. Jika kamu tidak bisa tenang untuk dua minggu ke depan, jangan salahkan aku jika Kak Eve tidak kembali."

Hans melepas cengkeramannya. Kepalanya tertunduk menatap tanah. Setelahnya, ia menatap gundukan tanah di belakangnya.

"Kakak, kamu harus membersihkan dirimu dan makan. Jangan sampai Kak Eve kecewa melihat penampilanmu."

"Gaun itu harus dibersihkan. Serahkan itu kepada mereka saja."

"Tidak, Theo. Aku akan membersihkannya sendiri."

Theo menarik napas berat. Dari tempat ia berdiri, Theo melihat Hans kembali memeluk nisan Eve sebelum masuk ke rumahnya.

"Ini harus segera selesai, atau Kakak akan semakin parah."

Theo menatap langit yang kian menggelap. Tidak ada perbincangan apa pun lagi. Hanya ada deru napas yang kian berat.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Kembalilah, Eve   Bab 6

    Denting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku. Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo mem

  • Kembalilah, Eve   Bab 5

    Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya. Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling. "Eve, kamu di mana?" Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan. "Eve di luar." "Eve di luar." "Eve di luar!" Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya. Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi. "Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar. Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kem

  • Kembalilah, Eve   Bab 4

    Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu. Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar. Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya. "Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo." Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik. "Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti." "Baik, Tuan Theo." "Bawa Gerbil kembali

  • Kembalilah, Eve   Bab 3

    Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot. Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry. Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya. Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya. "Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku." Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya. --- Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan. Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang

  • Kembalilah, Eve   Bab 2

    Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih. Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka. Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang. "Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka." "Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?" Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi. "Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana." Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu. Petugas mengambil walkie-t

  • Kembalilah, Eve   Bab 1

    Rintik hujan membasahi sebuah makam yang berada di halaman rumah seorang pria bernama Hans. Makam yang terpahat nama Eve, yang merupakan istri tercintanya. Makam semakin basah bersamaan dengan tubuh Hans yang masih mematung di samping makam kecil istrinya. "Sayang, aku pergi dulu ke dalam. Besok pagi—tidak, nanti malam aku ke sini lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku." Hans bangkit dari sana, berlalu masuk ke rumahnya dengan membawa sisa-sisa tanah makam di sekujur pakaiannya. *** "Jane, kamu mau ke mana lagi sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya. "Aku ada kerja paruh waktu seperti biasa." "Oh ya, tapi bukannya hari ini kau libur kerja paruh waktu? Jane, kau tidak menjual barang haram itu lagi, kan?" "Tentu saja tidak, Bu. Aku sudah bilang, kan, tidak akan menjual barang haram itu lagi." Jane yang kesal segera pergi meninggalkan ibunya seorang diri di meja makan. Jane membawa mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri jalanan. Asap rokok mengebul di dalam mobil seolah m

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status