แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Elyo_Caster
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-02 17:51:15

Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu.

Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar.

Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya.

"Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo."

Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik.

"Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti."

"Baik, Tuan Theo."

"Bawa Gerbil kembali ke kandangnya. Ada hal yang harus aku selesaikan. Pastikan Kakak makan dengan nyaman. Aku akan kembali besok pagi."

Theo berlalu pergi keluar rumah. Di dalam mobil, ia tersenyum ke arah penjaga gerbang. Sebuah senyuman yang paling dihindari oleh semua orang yang ada di kawasan rumah itu. Pertanda buruk pasti muncul.

Mobil melaju mengarah kembali ke tempat yang baru kemarin ia kunjungi, rumah Nenek.

Pintu gerbang terbuka lebar. Suara anjing menggonggong menyambut tuan mereka.

Theo masuk ke kamar orang tuanya. Mengambil bingkai foto di atas nakas, menatap dalam gambar keluarga yang ia cintai.

"Papa, Mama, Nenek, Kak Hans semakin parah. Aku tidak ingin sendiri."

Musik lagu My Way terputar di seluruh ruang, memberi sedikit ketenangan sesaat pada tubuh Theo.

Tangannya bergerak mengikuti irama musik. Suara tawa masa kecilnya mengalir di kepala. Di akhir lagu, Theo tenggelam masuk ke alam mimpi yang menyenangkan.

---

"Mama, Theo dan Kak Hans akan pergi ke taman bermain bersama Nenek."

Suara kecil Theo menarik perhatian Thalia yang tengah sibuk merajut sarung tangan.

"Senang sekali. Kapan kalian akan pergi?"

"Sore nanti. Apa Mama dan Papa mau ikut?"

Tubuh Theo kecil diangkat menuju pangkuan Thalia. Kecupan lembut di ujung pelipis membuat tawa kecil di mulut kecil Theo.

"Mama akan menunggu Theo dan Kak Hans di rumah. Sekarang istirahat dulu, ya. Masih terlalu pagi sekarang."

Theo mengangguk tanda setuju. Ia turun dengan hati-hati lalu memberi kecupan kecil di lutut Mamanya.

Thalia menaruh rajutan setengah jadinya di atas meja. Menatap ke arah luar jendela, pelukan hangat tersampir di bahunya.

"Kenapa istriku hanya berdiam saja di sini?"

"Henry, bagaimana dunia luar? Apakah menyenangkan?"

Pelukan yang semula intim perlahan mengendur dan terlepas. Di hadapan Thalia, Henry berlutut. Wajahnya yang tampan dengan bekas luka di bawah dagu mengadah ke wajah Thalia.

"Dunia luar tidak menyenangkan."

Hening menyelimuti mereka. Suara jam bergerak lamban, seolah memberi mereka ruang waktu untuk bersandar sejenak.

"Lalu apa yang menyenangkan?"

"Rumah ini dan seluruh kehangatannya."

Thalia mengusap lembut wajah suaminya, menatap dengan lekat dan mencari tahu apa yang ia pikirkan belakangan ini.

"Kenapa kamu tidak mau menyerah?"

Henry tidak menjawab. Ia bangun dari posisinya dan dengan lembut mendorong kursi roda Thalia menuju ruang kamar mereka. Menggendong tubuh kurus Thalia ke atas kasur. Kain selimut hangat menutupi sebagian tubuh Thalia.

"Istirahatlah. Aku akan kembali nanti malam. Jangan bicarakan soal kata menyerah. Aku tidak sudi mendengarnya. Aku mencintaimu, bahkan dalam keadaan apa pun."

Kecupan singkat di bibir Thalia menjadi tanda bahwa perbincangan ini selesai. Suara pintu yang dikunci dari luar adalah teguran kecil yang Henry lakukan. Di dalam kamar, Thalia hanya menutup mata dengan rasa lelah yang terus tumbuh.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kembalilah, Eve   Bab 6

    Denting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku. Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo mem

  • Kembalilah, Eve   Bab 5

    Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya. Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling. "Eve, kamu di mana?" Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan. "Eve di luar." "Eve di luar." "Eve di luar!" Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya. Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi. "Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar. Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kem

  • Kembalilah, Eve   Bab 4

    Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu. Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar. Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya. "Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo." Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik. "Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti." "Baik, Tuan Theo." "Bawa Gerbil kembali

  • Kembalilah, Eve   Bab 3

    Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot. Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry. Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya. Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya. "Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku." Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya. --- Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan. Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang

  • Kembalilah, Eve   Bab 2

    Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih. Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka. Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang. "Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka." "Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?" Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi. "Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana." Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu. Petugas mengambil walkie-t

  • Kembalilah, Eve   Bab 1

    Rintik hujan membasahi sebuah makam yang berada di halaman rumah seorang pria bernama Hans. Makam yang terpahat nama Eve, yang merupakan istri tercintanya. Makam semakin basah bersamaan dengan tubuh Hans yang masih mematung di samping makam kecil istrinya. "Sayang, aku pergi dulu ke dalam. Besok pagi—tidak, nanti malam aku ke sini lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku." Hans bangkit dari sana, berlalu masuk ke rumahnya dengan membawa sisa-sisa tanah makam di sekujur pakaiannya. *** "Jane, kamu mau ke mana lagi sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya. "Aku ada kerja paruh waktu seperti biasa." "Oh ya, tapi bukannya hari ini kau libur kerja paruh waktu? Jane, kau tidak menjual barang haram itu lagi, kan?" "Tentu saja tidak, Bu. Aku sudah bilang, kan, tidak akan menjual barang haram itu lagi." Jane yang kesal segera pergi meninggalkan ibunya seorang diri di meja makan. Jane membawa mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri jalanan. Asap rokok mengebul di dalam mobil seolah m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status