Home / Urban / Kembalinya Kaisar Abadi / Apapun demi putrinya

Share

Apapun demi putrinya

Author: Mr. Mystery
last update publish date: 2026-02-13 16:12:08

Siang hari.

Setelah Arya berhasil membuat kesepakatan awal dengan Evelyn, dan berbelanja beberapa bahan makanan dan hal-hal lainnya, dia kembali ke TK, bersiap-siap untuk menjemput putrinya pulang.

Pukul 11 siang, anak-anak akhirnya keluar dari ruang kelas, dan berjalan keluar.

Dari kejauhan, Arya melihat jika putrinya sedang berjalan dan bergandengan tangan dengan seorang gadis seusianya. Berjalan saling bahu-membahu, berbincang dan tertawa, tampak akrab sebagai seorang teman.

Arya cukup senang dan tersenyum saat melihat putrinya tampak tersenyum dan ceria daripada pagi hari tadi.

"Ayah!" Ketika Kiara melihat sosok Arya, dia segera berteriak dan berlari ke arahnya dengan senyum lebar.

Bersamaan dengan teman wanita kecilnya, dua mahkluk kecil itu tiba-tiba di depan Arya dengan Kiara mulai memperkenalkan teman serta dirinya.

"Ayah, ini Viona, temanku yang baru pindah sekolah pagi ini. Viona, ini ayahku yang aku ceritakan sebelumnya! Ayah yang kuat dan keren seperti pahlawan!"

"Benarkah?" Viona tampak tidak percaya, dan mulai menatap Arya dari atas ke bawah dengan mata yang tajam dan licik.

Gadis kecil ini, sekalipun dia baru berumur lima tahun, Arya menemukan bahwa tatapannya tampak lebih cerah dan cerdas daripada putrinya sendiri. Matanya penuh dengan kecurigaan dan skeptisisme—tidak seperti Kiara yang polos dan mudah percaya.

Menyaksikan sosok dan pakaian rapi yang Viona kenakan—rok dengan pita, sepatu yang bersih, serta aksesori rambut yang lucu—Arya akhirnya tahu apa penyebabnya.

Bukan hal lain, itu semua karena gadis kecil ini bukan gadis kecil biasa. Mungkin ada orang-orang penting dan berpengaruh yang selalu mendidiknya di rumah. Itu bisa dilihat dari cara dia menatap dirinya dengan mata curiga dan menilai—sesuatu yang jarang dimiliki anak seusia itu.

"Paman itu pahlawan beneran?" Tanya Viona dengan nada skeptis. "Masa sih?"

Arya berniat mengangguk dan mengiyakan, tapi kemudian dia mengingat semua kehidupannya, dan mulai terdiam.

Tidak.

Jika dia ingat dengan benar, sepertinya dia tidak pernah bertingkah seperti layaknya pahlawan sepanjang hidupnya—entah di bumi ataupun di dunia abadi. Jika ada, itu adalah sosok kejam, haus darah, dan tanpa ampun yang ditakuti semua orang.

Kaisar Abadi Giok yang membangun tahta di atas gunungan mayat dan lautan darah.

Mengatakan dirinya seorang pahlawan... itu agak...

"Tuan Arya?"

Untungnya saat itu Yuna datang ketika Arya tidak tahu harus menjawab apa. Mengangguk secara simbolis, dan mulai menatap kedua gadis kecil itu.

"Bu guru Yuna!"

Kedua gadis kecil itu juga mulai teralihkan, dan tidak lagi menunggu jawaban Arya. Menyelamatkannya dari rasa malu.

Yuna mengangguk kecil, dan menoleh ke arah keduanya, "Ingat apa yang ibu guru ajarkan sebelumnya di sekolah? Nanti saat pulang, jangan lupa untuk memberitahu orang tua kalian, oke?"

Kiara dan Viona mengangguk hampir bersamaan, membuat kedua orang di sana tidak bisa menahan senyumnya.

"Gasi pintar," Yuna mengangguk dan melihat ke arah Arya sebelum kembali berkata kepada keduanya, "segera pulang ke rumah bersama orang tua kalian, Bu Guru menunggu kalian besok pagi!"

"Sampai jumpa besok pagi Bu Guru!"

"Dadah Bu Guru Yuna!"

...

Kedua gadis itu berpamitan dan mulai berjalan keluar sekolah, dengan Kiara yang memegang tangan Arya. Tentu dengan Viona yang ikut bersama mereka keluar.

Pada saat itu, ketika mereka tiba di depan sekolah dan jalan umum, Arya melihat kerumunan massa yang tampak berkumpul tidak jauh dari gerbang sekolah, dan tampak terlihat panik. Arya juga melihat Yuna berada di kerumunan.

"Ayah, apa yang terjadi di sana?" Kiara tampak penasaran dan bertanya kepadanya.

Tidak menjawab, Arya hanya memfokuskan pandangannya, dan menemukan jika ada seseorang pria tua tak sadarkan diri, gemetar dan tegang sudah tergeletak di antara kerumunan.

Melalui kesadarannya yang minim, Arya tahu bahwa sepertinya orang tua ini sedang mengalami gejala penyumbat pembuluh darah dan qi.

"Bukan apa-apa. Ayo pulang!" Tidak ingin putri kecilnya menyaksikan kejadian yang tidak seharusnya, Arya segera membawanya untuk pergi.

Tapi saat itu, Viona yang melihat dari kejauhan dan melihat wajah pria di kerumunan langsung berteriak, "Kakek!"

Sambil berteriak, gadis kecil itu juga mulai berlari ke arah kerumunan. Dan saat mengetahui bahwa orang yang tampaknya terkena serangan stroke mendadak itu memang kakeknya, gadis kecil itu mulai panik dan berlutut.

"Kakek! Kakek! Apa yang terjadi padamu! Cepat bangun!!"

Viona mulai menangis, dan mengguncang seluruh tubuh kakeknya, namun pria tua itu sudah tak sadarkan diri.

"Ini... Bukankah dia Tuan Hale?" Yuna yang mengetahui bahwa itu kakek Viona segera mengangkat teleponnya untuk memanggil ambulan.

Tapi Arya, yang berada di kejauhan hanya menggelengkan kepalanya. Sudah terlambat, jika tidak segera di tolong dalam setengah jam ke depan, penyumbatan dari pembuluh darah yang memasok oksigen ke otaknya akan pecah dan hancur. Mengakibatkan pendarahan hebat, dan merusak saraf-saraf penting di kepalanya.

Sekalipun pria tua ini bisa selamatkan, keadaannya akan menjadi vegetatif, lebih buruknya adalah kematian.

Tapi, apa hubungannya dengan Arya?

Dia bukan orang suci dan dia juga tidak ingin menjadi pahlawan yang kesiangan! Hidup dan matinya orang lain sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

"Ayah, ayah! Apakah kamu bisa membantu Viona?" Tapi saat itu, Kiara tiba-tiba bertanya dengan tatapan mata memohon, dan memerah.

Mungkin kasian saat melihat teman barunya menangis?

Arya mengangguk dan menjawab, "Ayah memang bisa membantu pria itu."

"Jika begitu, tolong bantu kakek tua itu! Ara tidak ingin melihat Viona menangis! Dia terlihat menyedihkan!" Pinta Kiara dengan cepat dan buru-buru mendesak ayahnya.

Membuat Arya sedikit terdiam, dan hanya bisa tersenyum menyetujuinya.

Bahkan jika dia tidak peduli dengan kehidupan dan kematian orang lain, Arya tidak tahan saat menyaksikan kesedihan di wajah putrinya. Selain itu, menghadapi permintaan putrinya bukanlah tugas yang sulit.

Jadi dia membawa Kiara berjalan ke arah kerumunan, dan langsung mengambil lengan pria tua itu dalam diam.

"Hei, apa yang kau lakukan?" Seseorang yang melihat tindakan Arya menjadi panik dan bertanya dengan gugup.

"Ayahku sedang mencoba untuk menyembuhkannya!" Jawab Kiara mewakili ayahnya dengan lantang dan penuh keyakinan.

Membuat siapapun yang mendengarnya terkejut dan kemudian menoleh ke arah Arya dengan rasa penasaran.

"Menyembuhkan? Apakah kau seorang dokter?"

Arya membuka matanya, melihat orang yang sedang bertanya, dan hanya menjawab, "Berhenti bicara, aku sedang berkonsentrasi."

"Tapi—" Orang itu hendak protes.

"Pak, biarkan dia coba dulu!" Yuna tiba-tiba melangkah maju dan memotongnya. Wajahnya tampak gelisah, tapi matanya menatap Arya dengan keyakinan yang aneh. "Ambulans masih sepuluh menit lagi... kondisi Tuan Hale sangat kritis. Daripada tidak ada yang bisa kita lakukan sama sekali..."

Seorang ayah di kerumunan mengangguk ragu. "Benar juga... daripada hanya menunggu..."

Kerumunan akhirnya diam, meskipun tatapan skeptis masih menyelimuti mereka. Beberapa orang berbisik-bisik, tapi tidak ada yang berani mengganggu Arya lagi.

Arya menutup matanya kembali, mengabaikan semua tatapan di sekelilingnya.

Viona yang berdiri di samping kakeknya menatap Arya dengan mata penuh air mata. Kiara berjalan mendekat dan memegang tangannya dengan lembut.

"Jangan khawatir, Viona," bisik Kiara dengan suara yang menenangkan. "Ayahku adalah seorang pahlawan! Ayah pasti akan menyembuhkan kakekmu!"

Viona hanya bisa mengangguk sambil terisak, dan melihat Arya sedang menutup matanya sambil menyentuh denyut nadi pergelangan tangannya.

Pada saat ini, menggunakan sisa energi spiritual yang masih tersimpan di dantiannya, Arya mulai memeriksa meridian di seluruh tubuh pria tua itu, dan akhirnya menemukan letak permasalahannya.

Itu memang penyumbatan pembuluh darah dan qi dari meridian jantung yang mengalir ke otaknya. Keadaannya cukup kritis, dan jika tidak segera di tangani, pembuluh darah itu akan pecah, dan akhirnya menyebabkan pendarahan di otaknya.

Hal ini bukan masalah baginya. Menggunakan kesadaran jiwanya yang minim, Arya dapat dengan mudah mengendalikan energi spiritualnya untuk membersihkan meridian yang tersumbat.

Lima menit kemudian, Arya melepaskan tangannya, dan menoleh ke arah Viona yang sedang menatapnya dengan gugup.

"Kakekmu sudah baik-baik saja. Dia akan segera bangun."

"Benarkah?" Viona tampak senang sekaligus terkejut.

Bahkan orang-orang di sana juga mulai menatap Arya dengan kejutan dan keraguan di wajahnya. Bagaimanapun mereka hanya melihat Arya memegang pergelangan tangan pria tua itu sambil memejamkan mata selama beberapa menit, dan kemudian membuka matanya lagi tanpa melakukan apa-apa.

Pengobatan macam apa itu?

Tidak ada suntikan, tidak ada jarum, tidak ada obat-obatan. Bahkan tidak ada gerakan CPR atau apa pun yang mereka kenal!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Penghinaan

    Membunuh mahkluk hidup semudah memotong sayuran. Arya ini pasti bukan seniman beladiri biasa! Bahkan mungkin seorang Grandmaster! Memprovokasi seorang Grandmaster seperti dia, betapa bodohnya dia!? Danu akhirnya tahu, kenapa Marta, adik laki-lakinya sama sekali tidak diketahui keberadaannya. Tapi jelas, dia pasti sudah mati. Dan kali ini, bahkan jika dirinya adalah seorang seniman beladiri Gang Qi, bisakah dia memiliki nasib yang berbeda daripada Marta? Jawabannya jelas mustahil! Lihat saja teknik aneh yang Arya gunakan!Tanpa susah payah dan hanya dengan lambaian tangannya, dia bisa membunuh puluhan orang layaknya menginjak semut! Belum lagi teknik ilusi yang membuatnya muncul di dunia aneh ini! Ada juga bola api yang bisa membakar apapun tanpa meninggalkan residu! Bisakah manusia melakukan itu semua? Bahkan jika itu adalah grandmaster, apakah itu semua bisa dilakukan oleh seorang manusia? Bahkan jika Danu belum melihat seorang Grandmaster, dia tahu bahwa seorang Grandmaster

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Teror

    Arya, satu-satunya orang yang masih belum tidur dan sedang berlatih saat itu tiba-tiba membuka matanya. Menoleh ke arah luar villa, dan melihat beberapa orang muncul di dengan senjata api dan pengepungan dari segala arah, wajahnya menjadi sangat dingin. "Lima puluh orang dengan senjata api yang mungkin tentara bayaran, dan lima seniman beladiri energi gelap sebagai pemimpinnya..." Tiba-tiba ekspresi Arya menjadi sedikit santai, dan bahkan mulai terkekeh. "Tampaknya kali ini mereka datang lebih banyak daripada sebelumnya. Bahkan juga ada seorang seniman beladiri Gang Qi." Kesadaran Arya jatuh pada Danu yang berjalan bersama dengan Bramasta di barisan belakang. Merasakan energi internalnya yang tampak berkali-kali lipat lebih kuat daripada Marta sebelumnya, Arya tampak sedikit tertarik sebelum akhirnya menyeringai. "Ini waktu yang tepat untuk mencoba Formasi Lima Elemen Agung." Dengan tenang dan bahkan sedikit antispasi, Arya mengambil pelat formasi dan mulai mengendalikan selur

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Formasi Lima Elemen Agung

    Karena Arya sudah mengajari gadis kecil itu kultivasi, bukan hal yang mustahil dia bisa melihat apa yang terjadi. Dan dengan bakatnya, melihat dan membedakan energi spiritual di langit dan bumi adalah hal yang mudah.Oleh karena itu, dia tampak bersemangat saat menyaksikan gelembung udara itu mulai bermunculan dan menumpuk di seluruh villa.Dia juga mulai membuka mulutnya untuk menelan gelembung-gelembung yang sebenarnya adalah energi spiritual."Gelembung-gelembung udara?""Berwarna-warni seperti pelangi?"Tapi Aruna dan Selina yang menyaksikan gadis kecil itu tampak bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang Kiara katakan.Ketika keduanya melihat Kiara mulai membuka dan menutup mulutnya seolah-olah sedang memakan sesuatu, mereka berdua tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Arya.Arya hanya tersenyum tipis tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.Formasi Lima Elemen Agung.Bukan hanya sekadar formasi pengumpulan qi, tapi juga sejenis formasi pertahanan, pengalihan, da

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Burung kecil

    "Woow!" Saat Kiara melihatnya, dia tidak bisa untuk tidak berseru kagum. "Burung kecil biru yang sangat cantik!!" Arya mengangguk dan tampak puas dengan apa yang ia ukir. Phoenix Biru. Burung yang melambangkan kesucian dan kehormatan, itulah yang sedang Arya buat untuk putrinya. Dan ini bukan sekedar kalung ukiran burung Phoenix biasa. "Apakah Ara suka?" "Suka!" Gadis kecil itu segera menganggukkan kepalanya. "Ara sangat menyukainya. Burung kecil ini terlihat sangat cantik dan lucu!" "Lucu?" Arya tersenyum tipis saat mendengar kata-kata itu, tapi dia tidak menjelaskan lebih jauh, dan hanya berkata, "Burung ini namanya Phoenix, bukan burung kecil." "Tapi itu terlihat kecil dan berwarna biru." Kata Kiara bingung. "Lupakan saja!" Tidak ingin lagi mengatakan lebih jauh, karena masih belum waktunya, Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut. Lalu menggigit jarinya sendiri, dan meneteskan darahnya ke arah ukiran burung Phoenix itu. Saat itu juga, ketika darah

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Ancaman lain

    "Uhm..." Adhiguna sedikit terdiam sebelum buru-buru mengangguk. "Benar sekali! Dengan adanya tuan Danu di sini, semuanya akan segera berakhir!" Bramasta juga setuju dan menambahkan. "Hehe..." Danu tiba-tiba terkekeh dengan suara dingin dan menatap kedua orang di depannya itu dengan jijik. "Kalian berdua memang orang yang tidak tahu malu saat mencoba untuk menjilat seseorang." Adhiguna dan Bramasta segera tersenyum canggung saat mendengar kata-kata sinis itu. Tapi mereka juga tidak bisa membantah, karena kenyataannya, mereka memang bergantung pada keluarga Wijaya agar bisa sampai ke posisi. Tanpa sedikitpun merasa malu, Adhiguna juga mulai berkata, "Tuan Danu pasti tahu sendiri, kan? Ini semua adalah tugas yang diberikan oleh Keluarga Wijaya, jadi kami hanya bisa menurutinya. Tapi siapa yang tahu, bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Bahkan Tuan Raka mengatakan bahwa ini adalah kesempatan terakhir sebelum beliau akan mengambil tindakan sendiri. Jika seandainya kali ini akan gag

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Riskan

    Arya tidak menunggu jawaban mereka.Dia berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan nada ringan, "Aku tidak memaksa kalian untuk memberikan jawaban sekarang. Yang jelas, jika kalian menemukan informasi apa pun, kalian bisa memberitahuku."Arya berbalik untuk pergi, tapi Thomas tiba-tiba berdiri dan berkata, "Tuan Arya, tunggu sebentar."Thomas berjalan keluar sebentar sebelum kembali dengan sebuah kunci mobil di tangannya."Tuan Arya," kata Thomas sambil mengulurkan kunci itu, "ini adalah kunci mobil Audi R8. Ini adalah sedikit kebaikan dari keluarga kami. Semoga Tuan Arya berkenan menerimanya."Arya melirik kunci mobil itu selama beberapa saat.Audi R8, mobil sport mewah dengan harga miliaran.Bukan hadiah yang kecil.Tapi Arya tidak menolak. Dia mengambil kunci itu dan mengangguk ringan. "Terima kasih."Setelah Arya pergi, suasana di ruang tamu menjadi sangat tegang.Thomas adalah orang pertama yang membuka suara dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran."Ayah," katanya dengan n

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status