LOGINSiang hari.
Setelah Arya berhasil membuat kesepakatan awal dengan Evelyn, dan berbelanja beberapa bahan makanan dan hal-hal lainnya, dia kembali ke TK, bersiap-siap untuk menjemput putrinya pulang. Pukul 11 siang, anak-anak akhirnya keluar dari ruang kelas, dan berjalan keluar. Dari kejauhan, Arya melihat jika putrinya sedang berjalan dan bergandengan tangan dengan seorang gadis seusianya. Berjalan saling bahu-membahu, berbincang dan tertawa, tampak akrab sebagai seorang teman. Arya cukup senang dan tersenyum saat melihat putrinya tampak tersenyum dan ceria daripada pagi hari tadi. "Ayah!" Ketika Kiara melihat sosok Arya, dia segera berteriak dan berlari ke arahnya dengan senyum lebar. Bersamaan dengan teman wanita kecilnya, dua mahkluk kecil itu tiba-tiba di depan Arya dengan Kiara mulai memperkenalkan teman serta dirinya. "Ayah, ini Viona, temanku yang baru pindah sekolah pagi ini. Viona, ini ayahku yang aku ceritakan sebelumnya! Ayah yang kuat dan keren seperti pahlawan!" "Benarkah?" Viona tampak tidak percaya, dan mulai menatap Arya dari atas ke bawah dengan mata yang tajam dan licik. Gadis kecil ini, sekalipun dia baru berumur lima tahun, Arya menemukan bahwa tatapannya tampak lebih cerah dan cerdas daripada putrinya sendiri. Matanya penuh dengan kecurigaan dan skeptisisme—tidak seperti Kiara yang polos dan mudah percaya. Menyaksikan sosok dan pakaian rapi yang Viona kenakan—rok dengan pita, sepatu yang bersih, serta aksesori rambut yang lucu—Arya akhirnya tahu apa penyebabnya. Bukan hal lain, itu semua karena gadis kecil ini bukan gadis kecil biasa. Mungkin ada orang-orang penting dan berpengaruh yang selalu mendidiknya di rumah. Itu bisa dilihat dari cara dia menatap dirinya dengan mata curiga dan menilai—sesuatu yang jarang dimiliki anak seusia itu. "Paman itu pahlawan beneran?" Tanya Viona dengan nada skeptis. "Masa sih?" Arya berniat mengangguk dan mengiyakan, tapi kemudian dia mengingat semua kehidupannya, dan mulai terdiam. Tidak. Jika dia ingat dengan benar, sepertinya dia tidak pernah bertingkah seperti layaknya pahlawan sepanjang hidupnya—entah di bumi ataupun di dunia abadi. Jika ada, itu adalah sosok kejam, haus darah, dan tanpa ampun yang ditakuti semua orang. Kaisar Abadi Giok yang membangun tahta di atas gunungan mayat dan lautan darah. Mengatakan dirinya seorang pahlawan... itu agak... "Tuan Arya?" Untungnya saat itu Yuna datang ketika Arya tidak tahu harus menjawab apa. Mengangguk secara simbolis, dan mulai menatap kedua gadis kecil itu. "Bu guru Yuna!" Kedua gadis kecil itu juga mulai teralihkan, dan tidak lagi menunggu jawaban Arya. Menyelamatkannya dari rasa malu. Yuna mengangguk kecil, dan menoleh ke arah keduanya, "Ingat apa yang ibu guru ajarkan sebelumnya di sekolah? Nanti saat pulang, jangan lupa untuk memberitahu orang tua kalian, oke?" Kiara dan Viona mengangguk hampir bersamaan, membuat kedua orang di sana tidak bisa menahan senyumnya. "Gasi pintar," Yuna mengangguk dan melihat ke arah Arya sebelum kembali berkata kepada keduanya, "segera pulang ke rumah bersama orang tua kalian, Bu Guru menunggu kalian besok pagi!" "Sampai jumpa besok pagi Bu Guru!" "Dadah Bu Guru Yuna!" ... Kedua gadis itu berpamitan dan mulai berjalan keluar sekolah, dengan Kiara yang memegang tangan Arya. Tentu dengan Viona yang ikut bersama mereka keluar. Pada saat itu, ketika mereka tiba di depan sekolah dan jalan umum, Arya melihat kerumunan massa yang tampak berkumpul tidak jauh dari gerbang sekolah, dan tampak terlihat panik. Arya juga melihat Yuna berada di kerumunan. "Ayah, apa yang terjadi di sana?" Kiara tampak penasaran dan bertanya kepadanya. Tidak menjawab, Arya hanya memfokuskan pandangannya, dan menemukan jika ada seseorang pria tua tak sadarkan diri, gemetar dan tegang sudah tergeletak di antara kerumunan. Melalui kesadarannya yang minim, Arya tahu bahwa sepertinya orang tua ini sedang mengalami gejala penyumbat pembuluh darah dan qi. "Bukan apa-apa. Ayo pulang!" Tidak ingin putri kecilnya menyaksikan kejadian yang tidak seharusnya, Arya segera membawanya untuk pergi. Tapi saat itu, Viona yang melihat dari kejauhan dan melihat wajah pria di kerumunan langsung berteriak, "Kakek!" Sambil berteriak, gadis kecil itu juga mulai berlari ke arah kerumunan. Dan saat mengetahui bahwa orang yang tampaknya terkena serangan stroke mendadak itu memang kakeknya, gadis kecil itu mulai panik dan berlutut. "Kakek! Kakek! Apa yang terjadi padamu! Cepat bangun!!" Viona mulai menangis, dan mengguncang seluruh tubuh kakeknya, namun pria tua itu sudah tak sadarkan diri. "Ini... Bukankah dia Tuan Hale?" Yuna yang mengetahui bahwa itu kakek Viona segera mengangkat teleponnya untuk memanggil ambulan. Tapi Arya, yang berada di kejauhan hanya menggelengkan kepalanya. Sudah terlambat, jika tidak segera di tolong dalam setengah jam ke depan, penyumbatan dari pembuluh darah yang memasok oksigen ke otaknya akan pecah dan hancur. Mengakibatkan pendarahan hebat, dan merusak saraf-saraf penting di kepalanya. Sekalipun pria tua ini bisa selamatkan, keadaannya akan menjadi vegetatif, lebih buruknya adalah kematian. Tapi, apa hubungannya dengan Arya? Dia bukan orang suci dan dia juga tidak ingin menjadi pahlawan yang kesiangan! Hidup dan matinya orang lain sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. "Ayah, ayah! Apakah kamu bisa membantu Viona?" Tapi saat itu, Kiara tiba-tiba bertanya dengan tatapan mata memohon, dan memerah. Mungkin kasian saat melihat teman barunya menangis? Arya mengangguk dan menjawab, "Ayah memang bisa membantu pria itu." "Jika begitu, tolong bantu kakek tua itu! Ara tidak ingin melihat Viona menangis! Dia terlihat menyedihkan!" Pinta Kiara dengan cepat dan buru-buru mendesak ayahnya. Membuat Arya sedikit terdiam, dan hanya bisa tersenyum menyetujuinya. Bahkan jika dia tidak peduli dengan kehidupan dan kematian orang lain, Arya tidak tahan saat menyaksikan kesedihan di wajah putrinya. Selain itu, menghadapi permintaan putrinya bukanlah tugas yang sulit. Jadi dia membawa Kiara berjalan ke arah kerumunan, dan langsung mengambil lengan pria tua itu dalam diam. "Hei, apa yang kau lakukan?" Seseorang yang melihat tindakan Arya menjadi panik dan bertanya dengan gugup. "Ayahku sedang mencoba untuk menyembuhkannya!" Jawab Kiara mewakili ayahnya dengan lantang dan penuh keyakinan. Membuat siapapun yang mendengarnya terkejut dan kemudian menoleh ke arah Arya dengan rasa penasaran. "Menyembuhkan? Apakah kau seorang dokter?" Arya membuka matanya, melihat orang yang sedang bertanya, dan hanya menjawab, "Berhenti bicara, aku sedang berkonsentrasi." "Tapi—" Orang itu hendak protes. "Pak, biarkan dia coba dulu!" Yuna tiba-tiba melangkah maju dan memotongnya. Wajahnya tampak gelisah, tapi matanya menatap Arya dengan keyakinan yang aneh. "Ambulans masih sepuluh menit lagi... kondisi Tuan Hale sangat kritis. Daripada tidak ada yang bisa kita lakukan sama sekali..." Seorang ayah di kerumunan mengangguk ragu. "Benar juga... daripada hanya menunggu..." Kerumunan akhirnya diam, meskipun tatapan skeptis masih menyelimuti mereka. Beberapa orang berbisik-bisik, tapi tidak ada yang berani mengganggu Arya lagi. Arya menutup matanya kembali, mengabaikan semua tatapan di sekelilingnya. Viona yang berdiri di samping kakeknya menatap Arya dengan mata penuh air mata. Kiara berjalan mendekat dan memegang tangannya dengan lembut. "Jangan khawatir, Viona," bisik Kiara dengan suara yang menenangkan. "Ayahku adalah seorang pahlawan! Ayah pasti akan menyembuhkan kakekmu!" Viona hanya bisa mengangguk sambil terisak, dan melihat Arya sedang menutup matanya sambil menyentuh denyut nadi pergelangan tangannya. Pada saat ini, menggunakan sisa energi spiritual yang masih tersimpan di dantiannya, Arya mulai memeriksa meridian di seluruh tubuh pria tua itu, dan akhirnya menemukan letak permasalahannya. Itu memang penyumbatan pembuluh darah dan qi dari meridian jantung yang mengalir ke otaknya. Keadaannya cukup kritis, dan jika tidak segera di tangani, pembuluh darah itu akan pecah, dan akhirnya menyebabkan pendarahan di otaknya. Hal ini bukan masalah baginya. Menggunakan kesadaran jiwanya yang minim, Arya dapat dengan mudah mengendalikan energi spiritualnya untuk membersihkan meridian yang tersumbat. Lima menit kemudian, Arya melepaskan tangannya, dan menoleh ke arah Viona yang sedang menatapnya dengan gugup. "Kakekmu sudah baik-baik saja. Dia akan segera bangun." "Benarkah?" Viona tampak senang sekaligus terkejut. Bahkan orang-orang di sana juga mulai menatap Arya dengan kejutan dan keraguan di wajahnya. Bagaimanapun mereka hanya melihat Arya memegang pergelangan tangan pria tua itu sambil memejamkan mata selama beberapa menit, dan kemudian membuka matanya lagi tanpa melakukan apa-apa. Pengobatan macam apa itu? Tidak ada suntikan, tidak ada jarum, tidak ada obat-obatan. Bahkan tidak ada gerakan CPR atau apa pun yang mereka kenal!"Mama.. mama jahat!" Merasa dirugikan, Kiara tidak lagi tinggal diam, dan kedua tangan kecilnya mulai bergerak dengan lincah. "Aduuuh... Ara nakal!" Lana tampak marah dan menatap putrinya itu dengan tajam, tapi senyum tulus dan tatapan penuh kelembutan tidak bisa menghilangkan kebahagiaan di wajahnya. Tanpa sadar, dia juga mulai menghilangkan semua pikiran yang mengganggunya selama ini. Ketika melihat gadis kecil yang tampak seperti malaikat ini, dia juga mulai tersenyum dan berkata dengan nada bercanda, "Baiklah... Baiklah! Karena Ara ingin bermain-main dengan mama, aku akan terus mencubit dan menggelitikmu seharian..." "Ahaha... Tidak! Geli... Geli!" "Mama! Ampun... Aduh..." "Hahaha!" ... Tawa lepas dari pemandangan ibu dan anak perempuan yang bermain dan tertawa seketika membuat rumah kumuh, dan penuh dengan kesuraman itu menjadi lebih hangat dan berwarna. Bu Mira, yang selama lima tahun ini selalu merawat Lana, dan menyaksikan betapa kosong, dan tak bernyaw
Karena selain melihat guntur dan kilat yang terus menyambar di angkasa, Onyx juga mulai merasakan perasaan krisis, dan tekanan luar biasa tanpa sebab yang jelas. Seolah-olah ada sesuatu yang sangat mengerikan sedang dipersiapkan untuk menghancurkan keberadaannya. "Kau..?" Menatap Arya di sana, tubuhnya juga mulai gemetar ketakutan saat mengetahui bahwa sebenarnya pria ini bisa menciptakan guntur dan petir. "Apakah kau manusia?" Bukan hanya Onyx, tapi Thalya, Lana, Bu Mira, dan bahkan Oyen sendiri merasa ngeri, dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Memanggil petir?" "Tidak!" "Apakah Arya benar-benar bisa memanggil dan mengendalikan guntur!" "Dia... Siapa sebenarnya dia?" "Menakutkan! Orang dewasa ini benar-benar menakutkan! Untungnya aku tidak mencoba melawannya di masa lalu. Jika tidak, aku akan menjadi harimau panggang!" ... Dari semua, mungkin hanya Kiara yang tampak bersemangat dan penuh kekaguman saat melihat apa yang dilakukan oleh ayahnya. Tanpa sedikitpun
"Puncak gunung es?" Arya tiba-tiba menatap wanita itu dengan aneh. "Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa?" "Bukankah sudah jelas!" Saat itu juga, Arya hampir tertawa terbahak-bahak. Sungguh! Setelah kembali ke bumi, Arya tidak menyangka bahwa orang-orang lemah, dan tidak lebih daripada semut di depan matanya ini akan menganggap dirinya bodoh dan lemah. Hal ini sangat menggelikan sekaligus lucu baginya. Karena entah sudah berapa tahun dia tidak pernah mendengar atau mengalami penghinaan seperti ini. "Ketidaktahuan, ya?" Arya mendesah dan perlahan mengangkat tangannya ke atas. Menciptakan sebuah bola api raksasa sebesar rumah, berwarna kekuningan, dan menyinari kegelapan di sekitarnya, layaknya matahari buatan. "Hm?" Onyx agak terkejut saat melihatnya, tapi dia tidak benar-benar terkejut dan hanya menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Bukankah aku sudah bilang bahwa peliharaanku kebal terhadap serangan fisik?" Dengan jijik, Onyx segera memerintahk
Karena saat ini, pepohonan dan hutan yang sebelumnya tumbuh subur di sana sudah tumbang, dan berserakan di tanah. Seolah-olah ada badai dahsyat yang baru saja datang, hutan dalam radius satu hektar itu tidak hanya hancur berkeping-keping, tapi juga rata dengan tanah. Bahkan Lana sempat melihat adanya asap dan api yang masih menyala dan membakar batang kayu di beberapa tempat. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini!?" Tapi yang benar-benar membuatnya terkejut dan tak bisa berkata-kata adalah Arya dan Onyx yang kini berdiri di atas puncak pohon dengan mantap, kokoh dan seimbang layaknya sedang berdiri di atas tanah. "Benarkah yang dikatakan putriku, jika Arya sangat kuat?" Lana merasa sangat sulit untuk mempercayai apa yang dilihatnya. "Mama!" Saat itu, Kiara dan yang lainnya sudah keluar dan buru-buru mendatanginya. Tentu dengan Bu Mira yang sambil memegang pisau dapur di tangannya, tapi sama seperti Lana, dia juga langsung berseru saat melihat apa yang terjadi. "Astaga... Apa
Wajah Onyx berubah. Tapi sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, ia merasakan rasa sakit tiba-tiba datang dari perutnya. "Bang!" Seolah-olah ada sebuah truk berkecepatan tinggi yang menabraknya, Onyx langsung terlempar dan terbang ke belakang. "Bang!" Menghancurkan dinding kayu ruang itu sampai berlubang, dan terus terlempar jauh ke belakangnya. "Bang!" "Bang!" Menghancurkan pepohonan dan apapun yang ia lalui sebelum akhirnya berhenti. "Ah!" "Ahh!" Sementara di dalam rumah, jeritan dari Lana dan Bu Mira segera menyadarkan semua orang, bahwa sesuatu baru saja terjadi. "Arya... Kau..." Tapi Lana, Thalya dan Bu Mira yang ada di sana masih terguncang dan terdiam saat menyaksikan sosok Arya yang masih berdiri di tempatnya. Sama sekali tak bisa berkata-kata selain menatap sosok pria yang menjadi satu-satunya di tempat itu. Selain tatapan penuh keterkejutan dan kebingungan, Lana bahkan juga mulai memandang Arya dengan pandangan baru. Meskipun mereka tidak tahu kenapa Onyx tiba
Dengan tubuh yang masih lemah dan gemetar, Lana buru-buru bangkit dari tempat tidur, lalu menghadap ke arah wanita yang baru saja berbicara itu sambil menundukkan kepalanya. "Nyonya... Mereka semua adalah orang asing yang tersesat dan secara kebetulan tiba di sini. Mereka tidak ada hubungannya denganku. Itu hanya karena rasa kasihan, jadi saya membawanya masuk untuk beristirahat..." Berbicara dengan nada pelan dan hati-hati, Lana yang menundukkan kepalanya dan melihat kakinya sendiri tampak sangat khawatir dan takut terhadap wanita itu. "Nyonya... Anda sudah kembali." Bu Mira juga sama, dan bahkan dia sampai berlutut dan menundukkan kepalanya di lantai, seolah-olah sedang memberikan salam dan sambutan kepada seorang Ratu. "Nyonya?" Ketika Thalya yang melihat reaksi keduanya, dan melihat ke arah wanita itu, dia langsung membelalakkan matanya. Karena wanita yang dipanggil "Nyonya" ini sebenarnya adalah wanita muda, yang bahkan usianya mungkin baru dua puluhan tahun. Jauh lebih m







