Share

7

Author: Mr. Mystery
last update publish date: 2026-02-13 16:11:49

Orang yang datang bukan orang lain, dia adalah Arya itu sendiri.

Memasuki ruang kantor dengan hanya mengenakan kaos dan celana panjang hitam, tampak biasa tanpa menggunakan aksesori apapun, Evelyn yang melihatnya langsung tahu bahwa pria yang berusia pertengahan dua puluhan tahun ini adalah orang aneh yang sedang bermain-main.

Tidak lagi melihat atau memperhatikannya, Evelyn juga segera berkata, "Segera keluar dari sini!"

Arya sama sekali tidak menghiraukan perintahnya. Dia hanya mulai berjalan ke arah sofa yang ada di sana, dan mulai duduk dengan ekspresi tenang dan santai. Tidak lupa juga menuangkan kopi yang telah di persiapkan, dan meminumnya untuk dirinya sendiri. Seolah-olah dia adalah pemilik kantor itu.

Ketika Evelyn melihatnya, dia benar-benar menjadi sangat marah. Diam-diam tangannya mulai membuka laci meja kantornya, dimana senjata api berupa pistol selalu tersimpan di dalamnya.

"Apakah kau pemilik perusahaan ini?" Arya tidak peduli dengan apa yang wanita itu pikirkan atau lakukan, dan langsung bertanya.

Evelyn tidak mengatakan apapun selain terus menatapnya dengan dingin, dan bersiap-siap dengan senjata api di tangan kanannya. Jika seandainya pria asing di sana melakukan gerakan aneh, dia tidak akan ragu untuk melubangi kepalanya.

Tersenyum ringan saat melirik ekspresi waspada Evelyn, Arya menggerakkan tangannya, dan mulai merogoh celananya.

"Jangan bergerak!" Saat itu juga, Evelyn sudah berdiri dan menodongkan sebuah pistol ke arahnya.

Tapi Arya masih tersenyum, sama sekali tidak melihatnya dan terus melakukan gerakannya, sebelum akhirnya dia mengeluarkan secarik kertas dan meletakkannya di meja.

"Sebelum kau menarik pelatuknya, sebaiknya kau melihat dulu apa yang ada di atas meja." Kata Arya ringan, dan tidak lagi memperhatikannya selain mulai menyesap kopinya.

"Hmm?" Evelyn mendengus, sama sekali tidak melepaskan pistol di tangannya, dan berjalan ke arah meja yang ada di depan Arya.

Masih menatap pria itu dengan mata dingin dan waspada tinggi, Evelyn perlahan-lahan mengambil kertas di atas meja sebelum membacanya.

Tanpa melihatnya, Arya yang sedang duduk di sofa dengan tenang bisa melihat perubahan ekspresi terkejut, senang, dan ragu-ragu dari wanita itu. Tapi dia tidak berniat menjelaskan, dan hanya berkata sambil berdiri, "Jika kau berminat bekerjasama denganku untuk mendapatkan resep penuhnya, kau bisa mencariku."

Tidak menunggu reaksi Evelyn, Arya juga mulai berjalan ke pintu keluar setelah berbicara. Tampaknya tidak berniat untuk berbicara lebih lanjut.

"Tunggu sebentar!" Tapi panggilan dari Evelyn ini membuat Arya sedikit tersenyum. Hanya saja dia tidak berbalik dan terus berjalan ke arah pintu keluar.

Melihat itu, ekspresi Evelyn menjadi sedikit panik, dan buru-buru berkata, "Tunggu sebentar! Kita bisa membicarakannya baik-baik!"

Arya akhirnya berhenti dan berbalik untuk melihatnya, tapi dia masih tidak meresponnya, dan malah mengatakan hal lain, "Apakah caramu berbicara harus menggunakan senjata berbahaya semacam itu?"

Arya mengalihkan pandangannya ke arah pistol di tangan Evelyn yang masih mengarah kepada dirinya. Maksudnya jelas, jika wanita ingin terus berbicara dan membahas apa yang ada di kertas, dia harus menyimpan pistolnya.

"Ini?"

Melihat apa yang Arya maksud, Evelyn ragu-ragu sebelum akhirnya kembali berjalan ke meja kantornya untuk mengembalikan pistol itu, dan duduk.

"Bisakah kita berbicara?" Tanya Evelyn sambil mempersilahkan Arya untuk kembali duduk, tentu duduk di sofa, sementara dia sendiri duduk di mejanya.

Arya tidak keberatan, dan setelah meliriknya, dia kembali duduk di sofa, dan sekali lagi mengangkat gelas kopinya dalam diam.

Ketika Evelyn melihatnya, entah kenapa kemarahan yang sebelumnya telah meredah di hatinya kembali menyala. Barusan, ketika dia melihat apa yang Arya tawarkan, dia cukup senang, dan kemarahan serta sakit kepalanya saat berbicara dengan Karina tampak sedikit mereda.

Tapi sekarang, saat melihat Arya hanya duduk di sana tanpa mengatakan sepatah katapun, seolah-olah orang yang membutuhkan negosiasi bukanlah orang lain melainkan dirinya sendiri, Evelyn menjadi semakin marah.

Tapi dia tidak bisa marah, dan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai berbicara, "Maaf atas kesalahpahaman sebelumnya. Namaku Evelyn Vale, presiden dan pemilik perusahaan farmasi Valen Beauty. Jika aku boleh tahu, siapa namamu, tuan?"

"Arya Ananta, kau bisa memanggilku Arya saja." Jawab Arya sambil tersenyum aneh saat melirik wanita itu.

Evelyn pura-pura tidak melihatnya, dan terus berbicara dengan nada profesional, "Sebelumnya aku telah melihat resep yang tuan Arya berikan. Aku tidak tahu, apakah itu sungguhan atau hanya sekedar fantasi belaka? Sebuah krim kecantikan yang bisa membuat pemakainya menjadi lebih muda sepuluh tahun dari umurnya, bahkan ada yang sangat di lebih-lebihkan sampai dua puluh tahun. Tampa efek samping, dan khasiatnya bisa bertahan selama pemakaiannya tidak berhenti."

"Ini seperti krim kecantikan fantasi di siang bolong. Jika kami boleh tahu, apa yang membuat tuan Arya sangat yakin jika apa yang anda tawarkan adalah kepastian? Apa buktinya? Dan bagaimana jika seandainya khasiatnya tidak sesuai dengan apa yang anda sebutkan?"

"Ada juga pembagian keuntungan 40% yang anda inginkan sebagai hasil bersih dari penjualan. Itu terlalu besar, mengingat tuan Arya hanya memberikan resepnya belaka. Sedangkan perusahaan kami menyediakan sumberdaya, tenaga kerja, pendanaan dan pemasaran. Ini seperti kami---"

Tak menunggu Evelyn selesai berbicara panjang lebar, Arya kembali bangkit dan pergi tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.

"Kau!!!"

Evelyn menjadi sangat marah saat melihat pria itu tidak mendengarkannya, tapi malah pergi begitu saja. Sejujurnya, jika bukan karena dia sangat tertarik dengan formula yang Arya berikan, dia tidak akan pernah mau melihat atau berbicara dengannya.

"Berhenti!"

Sayangnya, meskipun Evelyn berteriak dan mencoba untuk menghentikannya pergi, Arya sama sekali tidak menghiraukannya. Seolah-olah dia menjadi tuli untuk sesaat.

Bajingan ini!!!

Evelyn menjadi sangat marah, dan akhirnya dia hanya bisa berkata dengan perasaan tidak rela, "Sebutkan, apa syaratmu!"

Arya akhirnya berhenti dan berbalik dengan senyum lucu di wajahnya.

Menatap wanita cantik yang tampak marah tapi juga tidak berdaya di sana, Arya dengan tatapan menggoda menjawab, "Semuanya sudah aku sebutkan di awal. Aku hanya ingin bekerjasama dengan perusahaanmu, dan mengambil keuntungan 40%--"

"Terlalu banyak!" Evelyn menghentikannya, dan langsung menawar, "Paling banyak dua puluh persen!"

"Sepertinya kau memang tidak berniat untuk bekerjasama."

"25%!"

Arya menggelengkan kepalanya. "30% adalah batasku! Lebih dari itu, aku akan mencari perusahaan lain. Bagaimanapun, meski kau melihat formulanya, jika aku tidak memberikan sentuhan akhir, formula yang aku berikan sama sekali tidak berguna berapa kali pun kau mencobanya."

Evelyn terdiam, mencoba untuk menganalisis dan memikirkan untung ruginya selama beberapa waktu sebelum akhirnya mengangguk setuju.

"Baiklah. Itu akan menjadi tiga puluh persen. Tapi ingat, jika formula yang kau berikan tidak sesuai--"

"Jika formula yang aku berikan memang tidak sesuai, aku akan menggantikannya dengan formula jauh yang lebih baik."

Evelyn langsung mencibir saat mendengar kata-kata Arya. Sama sekali tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Karena resep yang Arya berikan sebelumnya sudah merupakan resep impian yang selama ini ia dambakan. Bisa dikatakan itu adalah sebuah keajaiban.

Sedangkan untuk resep yang jauh lebih baik daripada resep semacam itu? Evelyn tidak akan mempercayainya sama sekali!

Arya tidak lagi bicara atau berniat menjelaskan saat melihat ketidakpercayaan di wajahnya. Dia hanya mengulurkan tangannya, dan berkata, "Syarat terakhir. Berikan aku uang muka setidaknya sepuluh juta."

Kali ini Evelyn tidak banyak bicara, dan memberikan sebuah kartu rekening kepadanya dengan ekspresi santai.

"Kartu sandinya adalah enam angka enol. Nanti aku akan meminta asistenku untuk mengirimkan uang muka sepuluh juta ke rekening itu."

Untuk kali ini, Arya sedikit terdiam, dan melihat wanita yang sedang tersenyum kepadanya itu dengan sedikit menyesal!

Sepuluh juta. Dia kira itu sudah banyak, tapi saat melihat ekspresi jijik di wajah tersenyum Evelyn, dia sadar bahwa seharusnya dia bisa meminta jauh lebih banyak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Pemandangan yang selama ribuan tahun ia rindukan

    "Mama.. mama jahat!" Merasa dirugikan, Kiara tidak lagi tinggal diam, dan kedua tangan kecilnya mulai bergerak dengan lincah. "Aduuuh... Ara nakal!" Lana tampak marah dan menatap putrinya itu dengan tajam, tapi senyum tulus dan tatapan penuh kelembutan tidak bisa menghilangkan kebahagiaan di wajahnya. Tanpa sadar, dia juga mulai menghilangkan semua pikiran yang mengganggunya selama ini. Ketika melihat gadis kecil yang tampak seperti malaikat ini, dia juga mulai tersenyum dan berkata dengan nada bercanda, "Baiklah... Baiklah! Karena Ara ingin bermain-main dengan mama, aku akan terus mencubit dan menggelitikmu seharian..." "Ahaha... Tidak! Geli... Geli!" "Mama! Ampun... Aduh..." "Hahaha!" ... Tawa lepas dari pemandangan ibu dan anak perempuan yang bermain dan tertawa seketika membuat rumah kumuh, dan penuh dengan kesuraman itu menjadi lebih hangat dan berwarna. Bu Mira, yang selama lima tahun ini selalu merawat Lana, dan menyaksikan betapa kosong, dan tak bernyaw

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Nyirong

    Karena selain melihat guntur dan kilat yang terus menyambar di angkasa, Onyx juga mulai merasakan perasaan krisis, dan tekanan luar biasa tanpa sebab yang jelas. Seolah-olah ada sesuatu yang sangat mengerikan sedang dipersiapkan untuk menghancurkan keberadaannya. "Kau..?" Menatap Arya di sana, tubuhnya juga mulai gemetar ketakutan saat mengetahui bahwa sebenarnya pria ini bisa menciptakan guntur dan petir. "Apakah kau manusia?" Bukan hanya Onyx, tapi Thalya, Lana, Bu Mira, dan bahkan Oyen sendiri merasa ngeri, dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Memanggil petir?" "Tidak!" "Apakah Arya benar-benar bisa memanggil dan mengendalikan guntur!" "Dia... Siapa sebenarnya dia?" "Menakutkan! Orang dewasa ini benar-benar menakutkan! Untungnya aku tidak mencoba melawannya di masa lalu. Jika tidak, aku akan menjadi harimau panggang!" ... Dari semua, mungkin hanya Kiara yang tampak bersemangat dan penuh kekaguman saat melihat apa yang dilakukan oleh ayahnya. Tanpa sedikitpun

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Apakah kau layak?

    "Puncak gunung es?" Arya tiba-tiba menatap wanita itu dengan aneh. "Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa?" "Bukankah sudah jelas!" Saat itu juga, Arya hampir tertawa terbahak-bahak. Sungguh! Setelah kembali ke bumi, Arya tidak menyangka bahwa orang-orang lemah, dan tidak lebih daripada semut di depan matanya ini akan menganggap dirinya bodoh dan lemah. Hal ini sangat menggelikan sekaligus lucu baginya. Karena entah sudah berapa tahun dia tidak pernah mendengar atau mengalami penghinaan seperti ini. "Ketidaktahuan, ya?" Arya mendesah dan perlahan mengangkat tangannya ke atas. Menciptakan sebuah bola api raksasa sebesar rumah, berwarna kekuningan, dan menyinari kegelapan di sekitarnya, layaknya matahari buatan. "Hm?" Onyx agak terkejut saat melihatnya, tapi dia tidak benar-benar terkejut dan hanya menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Bukankah aku sudah bilang bahwa peliharaanku kebal terhadap serangan fisik?" Dengan jijik, Onyx segera memerintahk

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Puncak gunung es

    Karena saat ini, pepohonan dan hutan yang sebelumnya tumbuh subur di sana sudah tumbang, dan berserakan di tanah. Seolah-olah ada badai dahsyat yang baru saja datang, hutan dalam radius satu hektar itu tidak hanya hancur berkeping-keping, tapi juga rata dengan tanah. Bahkan Lana sempat melihat adanya asap dan api yang masih menyala dan membakar batang kayu di beberapa tempat. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini!?" Tapi yang benar-benar membuatnya terkejut dan tak bisa berkata-kata adalah Arya dan Onyx yang kini berdiri di atas puncak pohon dengan mantap, kokoh dan seimbang layaknya sedang berdiri di atas tanah. "Benarkah yang dikatakan putriku, jika Arya sangat kuat?" Lana merasa sangat sulit untuk mempercayai apa yang dilihatnya. "Mama!" Saat itu, Kiara dan yang lainnya sudah keluar dan buru-buru mendatanginya. Tentu dengan Bu Mira yang sambil memegang pisau dapur di tangannya, tapi sama seperti Lana, dia juga langsung berseru saat melihat apa yang terjadi. "Astaga... Apa

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Jangan khawatir! Ayah sangat kuat!

    Wajah Onyx berubah. Tapi sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, ia merasakan rasa sakit tiba-tiba datang dari perutnya. "Bang!" Seolah-olah ada sebuah truk berkecepatan tinggi yang menabraknya, Onyx langsung terlempar dan terbang ke belakang. "Bang!" Menghancurkan dinding kayu ruang itu sampai berlubang, dan terus terlempar jauh ke belakangnya. "Bang!" "Bang!" Menghancurkan pepohonan dan apapun yang ia lalui sebelum akhirnya berhenti. "Ah!" "Ahh!" Sementara di dalam rumah, jeritan dari Lana dan Bu Mira segera menyadarkan semua orang, bahwa sesuatu baru saja terjadi. "Arya... Kau..." Tapi Lana, Thalya dan Bu Mira yang ada di sana masih terguncang dan terdiam saat menyaksikan sosok Arya yang masih berdiri di tempatnya. Sama sekali tak bisa berkata-kata selain menatap sosok pria yang menjadi satu-satunya di tempat itu. Selain tatapan penuh keterkejutan dan kebingungan, Lana bahkan juga mulai memandang Arya dengan pandangan baru. Meskipun mereka tidak tahu kenapa Onyx tiba

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Nyonya Onyx

    Dengan tubuh yang masih lemah dan gemetar, Lana buru-buru bangkit dari tempat tidur, lalu menghadap ke arah wanita yang baru saja berbicara itu sambil menundukkan kepalanya. "Nyonya... Mereka semua adalah orang asing yang tersesat dan secara kebetulan tiba di sini. Mereka tidak ada hubungannya denganku. Itu hanya karena rasa kasihan, jadi saya membawanya masuk untuk beristirahat..." Berbicara dengan nada pelan dan hati-hati, Lana yang menundukkan kepalanya dan melihat kakinya sendiri tampak sangat khawatir dan takut terhadap wanita itu. "Nyonya... Anda sudah kembali." Bu Mira juga sama, dan bahkan dia sampai berlutut dan menundukkan kepalanya di lantai, seolah-olah sedang memberikan salam dan sambutan kepada seorang Ratu. "Nyonya?" Ketika Thalya yang melihat reaksi keduanya, dan melihat ke arah wanita itu, dia langsung membelalakkan matanya. Karena wanita yang dipanggil "Nyonya" ini sebenarnya adalah wanita muda, yang bahkan usianya mungkin baru dua puluhan tahun. Jauh lebih m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status