Mag-log inWajah Onyx berubah. Tapi sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, ia merasakan rasa sakit tiba-tiba datang dari perutnya. "Bang!" Seolah-olah ada sebuah truk berkecepatan tinggi yang menabraknya, Onyx langsung terlempar dan terbang ke belakang. "Bang!" Menghancurkan dinding kayu ruang itu sampai berlubang, dan terus terlempar jauh ke belakangnya. "Bang!" "Bang!" Menghancurkan pepohonan dan apapun yang ia lalui sebelum akhirnya berhenti. "Ah!" "Ahh!" Sementara di dalam rumah, jeritan dari Lana dan Bu Mira segera menyadarkan semua orang, bahwa sesuatu baru saja terjadi. "Arya... Kau..." Tapi Lana, Thalya dan Bu Mira yang ada di sana masih terguncang dan terdiam saat menyaksikan sosok Arya yang masih berdiri di tempatnya. Sama sekali tak bisa berkata-kata selain menatap sosok pria yang menjadi satu-satunya di tempat itu. Selain tatapan penuh keterkejutan dan kebingungan, Lana bahkan juga mulai memandang Arya dengan pandangan baru. Meskipun mereka tidak tahu kenapa Onyx tiba
Dengan tubuh yang masih lemah dan gemetar, Lana buru-buru bangkit dari tempat tidur, lalu menghadap ke arah wanita yang baru saja berbicara itu sambil menundukkan kepalanya. "Nyonya... Mereka semua adalah orang asing yang tersesat dan secara kebetulan tiba di sini. Mereka tidak ada hubungannya denganku. Itu hanya karena rasa kasihan, jadi saya membawanya masuk untuk beristirahat..." Berbicara dengan nada pelan dan hati-hati, Lana yang menundukkan kepalanya dan melihat kakinya sendiri tampak sangat khawatir dan takut terhadap wanita itu. "Nyonya... Anda sudah kembali." Bu Mira juga sama, dan bahkan dia sampai berlutut dan menundukkan kepalanya di lantai, seolah-olah sedang memberikan salam dan sambutan kepada seorang Ratu. "Nyonya?" Ketika Thalya yang melihat reaksi keduanya, dan melihat ke arah wanita itu, dia langsung membelalakkan matanya. Karena wanita yang dipanggil "Nyonya" ini sebenarnya adalah wanita muda, yang bahkan usianya mungkin baru dua puluhan tahun. Jauh lebih m
"Jangan salahkan Bu Mira. Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua." Lana yang terbangun dan melihat Arya memarahi Bu Mira langsung mendengus, dan balik memarahinya. "Bu Mira adalah satu-satunya orang yang selama ini merawatku selama bertahun-tahun. Memenuhi setiap kebutuhan dan menemaniku hidup dalam kesepiannya! Bu Mira bukan jenis orang yang tidak tahu malu, yang tiba-tiba menghilang dan meninggalkanku begitu saja. Jangan coba-coba kau menyalahkannya!" "Uh..." Mendengar kata-kata penuh amarah dan sindiran yang jelas-jelas di arahkan pada dirinya itu, Arya langsung tersenyum kecut dan terdiam. Sepertinya dia harus lebih berusaha keras agar membuat wanita memanfaatkannya. Dengan nada tak berdaya, Arya berkata, "Aku tahu. Bu Mira memang bukan orang yang mencelakaimu. Aku hanya ingin bertanya kepadanya, siapa pelakunya? Jadi..." "Sekalipun kau tahu, apa yang bisa kau lakukan?" Lana mendengus dan menatap Arya dengan dingin. "Yah..." Arya kembali terdiam dan tersedak de
Berbalik dengan penuh ketakutan, dan harapan di kedua matanya, Lana yang sebenarnya memiliki tampang wajah lesu, dan bulatan hitam di kelopak matanya tampak gemetar saat menoleh ke Kiara. Menyaksikan sosok kecil di sana, sosok kecil yang selama ini ia pikirkan dan bayangkan, bagaimana jika ia bisa melihatnya lagi setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Lana seketika menjadi pucat. Dia tidak ingin mempercayainya. Tapi gadis kecil itu sangat mirip dengan bayangan putrinya yang ia tinggalkan lima tahun lalu. Berkali-kali ia membayangkan untuk bisa menemuinya lagi, tapi ketika sosok itu muncul di hadapannya, otaknya langsung mengingatkan bahwa ini hanya halusinasi! Tapi, jantungnya yang berdegup kencang dan napas yang tidak teratur menyuruhnya percaya, bahwa gadis ini memang putri kecilnya sendiri. Tapi bagaimana mungkin gadis kecil yang ia tinggalkan lima tahun bisa muncul di sini secara tiba-tiba? Pribahasa, "Darah lebih kental daripada air" memang cukup misterius dan
Sementara itu. Arya dan Thalya, orang yang bersangkutan kini sedang berada di dalam mobil menuju tempat Lana berada. Berkendara kurang dari dua jam sejak berada di Kinabalu, Kiara yang duduk di pangkuan Arya sambil menggendong Oyen, dan selalu melihat ke luar jendela mobil tampak cemberut. "Ayah, apakah benar kita sedang mencari mama?" "Ya, kita memang sedang dalam perjalanan untuk mencarinya," jawab Arya ringan dan tersenyum. "Ada apa? Apakah Ara senang dan gugup?" Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke luar jendela mobil. "Jika kita memang sedang menemui mama, kenapa kita pergi ke hutan? Lihat, semuanya pepohonan dan semak belukar. Tidak ada satupun rumah atau bangunan seperti sebelumnya. Jadi, dimana mama berada? Apa mama tinggal di tengah hutan?" Arya terdiam dan menoleh ke arah pepohonan dan semak belukar yang dilihatnya sepanjang jalan. Sejujurnya, Arya sudah siap mental saat mengetahui bahwa Lana diasingkan oleh keluarganya ke luar negeri. Namun d
"Hal-hal yang tak terlihat?" Bukan Robert yang berbicara, melainkan Wira yang berkata dengan sedikit kebingungan di wajahnya. Karena menurutnya, orang yang bisa melakukan hal semacam itu adalah Arya, bukan? Robert, Thomas dan yang lainnya juga memikirkan hal yang sama, dan tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat Aruna dengan tatapan tanda tanya. "Yah..." Mengetahui bahwa tampaknya orang-orang hebat ini tidak mengetahui apa yang ia katakan, Aruna mulai menunjuk ke arah Elena sebelum menjelaskan. "Sebelumnya Kak Karina dan Bibi Elena ini datang mencari bantuan kepada kakakku. Mengatakan bahwa Presiden Evelyn tampak sedang tidak baik-baik saja. Sering melamun, menjerit ketakutan dan linglung sepanjang waktu." "Mengakibatkannya kurang tidur, makan dan istirahat. Hari ke hari kondisinya juga semakin memburuk. Kupikir karena kalian adalah orang-orang penting dengan identitas luar biasa, kalian bisa mencoba untuk membantunya?" Selesai Aruna menjelaskan apa yang dimaksud, para pri







