Mag-log in
Lantai marmer itu terasa sedingin es, namun rasa sakit yang menghujam perutnya jauh lebih mematikan. Aurora Calista Wijaya terkapar dengan nafas tersengal, sementara darah merah kental mulai merembes, mengotori gaun putih yang ia kenakan. Di atas tangga, Selena Anindya berdiri dengan senyum kemenangan yang tipis, jari-jemarinya masih gemetar setelah mendorong saudara angkatnya.
"Mati saja kamu, Pembawa Sial," bisik Selena, suaranya nyaris tidak terdengar namun menusuk indra pendengaran Aurora yang mulai memudar. "Gavin dan bayi di rahimku lebih butuh posisi ini daripada wanita penyakitan sepertimu." Aurora ingin berteriak, ingin memaki, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Di saat kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, sebuah ledakan hebat seolah terjadi di dalam kepalanya. Di tempat lain, di saat yang bersamaan, Nayaka Seraphina… sang agen rahasia elit baru saja dikhianati oleh sahabatnya sendiri, Vania. Ledakan bom di markas rahasia itu seharusnya mengakhiri hidup Nayaka, namun takdir berkata lain. Seketika, mata Aurora yang tadinya sayu terbuka lebar. Pupil matanya yang berwarna cokelat gelap kini memancarkan kilatan tajam yang belum pernah terlihat sebelumnya. Nayaka kini berada di sana, di dalam tubuh yang rapuh dan sedang meregang nyawa ini. "Sial," batin Nayaka, mencoba menggerakkan ujung jarinya yang kaku. "Tubuh siapa ini? Kenapa rasanya seperti dihantam truk?" Langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat. Gavin Ardhani, suami Aurora, muncul dengan wajah panik yang dipaksakan. Namun, bukannya menghampiri Aurora yang bersimbah darah, pria itu justru langsung memeluk Selena yang tiba-tiba berpura-pura menangis histeris. "Mas Gavin! Tolong Kak Aurora! Dia... dia terpeleset!" tangis Selena pecah, tangannya menutupi wajahnya yang tidak mengeluarkan air mata sedikit pun. Gavin menatap Aurora dengan tatapan penuh kejengkelan. "Aurora! Bisa tidak sehari saja kamu jangan membuat keributan? Kamu jatuh karena ceroboh, jangan berani-berani menyalahkan Selena!" Nayaka, yang kini menguasai tubuh Aurora, merasakan amarah yang membara dari sisa-sisa perasaan pemilik tubuh aslinya. Ia memaksakan diri untuk duduk, meski rasa sakit di perutnya membuat dunianya seakan berputar. Dengan susah payah, ia menatap Gavin tepat di matanya. "Berhenti membentakku, Gavin," suara Aurora terdengar serak, namun ada nada dingin yang membuat Gavin terdiam seketika. Gavin mengernyitkan dahi. "Apa kamu bilang? Kamu sudah berani menjawab?" "Aku bilang, tutup mulutmu," desis Nayaka sambil mencengkeram pinggiran tangga untuk bangkit berdiri. "Darah ini mengalir karena wanita yang kamu peluk itu mendorongku. Dan kamu, sebagai suami, justru lebih memilih memeluk selingkuhanmu daripada menolong anakmu sendiri?" Wajah Gavin memucat. Ia tidak menyangka Aurora yang biasanya hanya bisa menangis diam-diam kini berani bicara sefrontal itu. "Jaga bicaramu, Aurora! Siapa yang selingkuh? Jangan mengada-ada hanya karena kamu iri pada Selena!" Selena semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Gavin. "Mas, Kak Aurora pasti sudah gila karena benturan di kepalanya. Bagaimana mungkin dia menuduh kita seperti itu?" Nayaka menyeringai tipis, sebuah seringaian yang terlihat sangat asing di wajah lembut Aurora. "Gila? Mungkin saja. Tapi setidaknya aku tidak sehina kalian berdua yang bermain api di dalam rumah ini." Darius Wijaya dan Ratna, orang tua Aurora, muncul dari arah luar rumah… karena mereka berdua baru akan pergi, setelah mendengar keributan. Alih-alih khawatir melihat darah di lantai, Ratna justru mendengus kasar. "Aurora! Lagi-lagi kamu membawa sial di rumah ini! Kakekmu meninggal karena menyelamatkanmu, dan sekarang kamu mau mencelakai Selena juga?" "Papa, lihatlah lantai rumah kotor karena darahnya," lanjut Ratna tanpa rasa iba sedikit pun. Nayaka menatap kedua orang tua di depannya dengan tatapan kosong. Jadi ini keluarga Aurora? Sebuah neraka yang berkedok rumah mewah. Ia merasakan denyut kehidupan di perutnya mulai melemah, dan ia tahu ia harus segera mendapatkan pertolongan medis jika ingin bayi ini selamat. "Nikmati saja sandiwara kalian untuk saat ini," kata Nayaka sambil mulai melangkah tertatih menuju pintu keluar rumah. "Mau ke mana kamu, Aurora? Aku belum selesai bicara!" teriak Darius berwibawa. Nayaka berhenti sebentar tanpa menoleh. "Aku mau menyelamatkan nyawa yang kalian abaikan. Dan mulai besok, jangan harap bisa melihat Aurora yang lemah lagi.” Gavin ingin mengejar, namun Selena menahannya. "Biarkan saja dia, Mas. Dia hanya ingin mencari perhatian." Nayaka berjalan dengan terseok-seok, tapi sebelum sampai pintu keluar… ia melihat sebuah kunci mobil tergeletak di atas meja. Tanpa berpikir panjang lagi, ia menyambar cepat kunci itu dan menuju satu mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Pandangannya mulai mengabur, namun ia tidak boleh menyerah. Dengan sisa-sisa tenaganya, Nayaka masuk mobil dan mengemudikannya sendiri menuju ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan dengan gemetar, sambil memeluk perutnya yang terasa sangat panas… ia bersumpah di dalam hati. Jika ia dan bayi ini selamat, ia akan merobek topeng suci Selena dan menghancurkan Gavin sampai ke akar-akarnya. Sesampainya di lobi instalasi gawat darurat, Nayaka turun dengan langkah gontai. Kesadarannya benar-benar berada di ambang batas. Saat suster berlarian membawakan brankar, Nayaka sempat melihat sebuah mobil hitam mewah melintas pelan di depan rumah sakit. Tatapan Nayaka sempat beradu dengan sepasang mata elang di balik kaca jendela mobil yang tertutup rapat. Sosok pria yang memancarkan aura es itu seolah menarik kembali ingatan Nayaka sebagai agen rahasia. "Mata itu..." bisik Nayaka sebelum dunianya menjadi gelap total.Pukul 06.00 pagi. Matahari Surabaya yang cerah menyinari gerbang kayu besar Menteng, membuat kayu tua itu terlihat lebih hangat dan hidup. Nayaka berdiri di sana, menyentuh permukaan kayu yang kini tidak lagi menyimpan kunci tersembunyi. Tidak ada lagi sensor yang mendeteksi setiap orang yang mendekat. Tidak ada lagi sistem Vanguard yang bekerja di bawah lantai rumah ini. Semuanya sudah mati, semuanya sudah kembali jadi rumah biasa. Di sampingnya, Lucien Ashford tidak lagi pakai jam tangan taktis atau baju khusus untuk bergerak cepat. Ia pakai kemeja katun biasa, menatap jalanan Menteng yang tenang. Mereka baru pulang dari Bandung dua hari lalu, dan kepulangan ini terasa berbeda. Ini bukan kembali ke markas, tapi pulang ke tempat di mana mereka bisa jadi diri sendiri tanpa memikirkan ancaman. "Auroran sudah sampai di penginapan terakhirnya di pesisir Selatan," kata Lucien pelan, memecah keheningan pagi. "Dia kirim foto terakhi
Pukul 05.00 pagi. Udara pegunungan Bandung terasa dingin dan segar, jauh dari asap kendaraan dan bau laut yang dulu selalu membawa rahasia pelabuhan. Di teras villa keluarga Rio, Nayaka mematikan dupa kecil. Ia tidak lagi memandangi cakrawala untuk mencari ancaman. Ia hanya melihat kabut yang perlahan turun, menutupi batang-batang kopi di kejauhan. Hidup yang dulu penuh hitungan risiko dan probabilitas, kini hanya berjalan mengikuti napas yang tenang. Lucien Ashford keluar dari pintu kayu dengan langkah ringan. Ia tidak lagi pakai kemeja dengan saku tersembunyi untuk senjata atau ponsel enkripsi. Ia pakai jaket wol tebal, dan di tangannya ada dua cangkir kopi Arabika hasil panen Rio minggu lalu. "Rio bilang panen kali ini yang terbaik dalam sepuluh tahun," kata Lucien pelan sambil menyerahkan kopi ke Nayaka. "Dia tidak takut lagi pada tengkulak yang dulu sering curang. Sepertinya stabilitas yang kita tinggalkan di pelabuhan mu
Pukul 06.00 pagi. Surabaya terasa lebih jernih dari biasanya. Di kediaman Menteng, pagi tidak lagi dimulai dengan suara radio atau perintah taktis yang harus dienkripsi. Nayaka berdiri di teras paviliun, memakai sweter rajut longgar yang hangat di tengah embun yang masih menempel di daun mawar. Ia menyesap teh melati pelan-pelan, membiarkan aromanya menenangkan saraf yang dulu selalu siaga. Di sampingnya, Lucien Ashford melipat koran biasa. Bukan laporan intelijen, tapi berita soal pembangunan ruang terbuka hijau di kota. Ia terlihat berbeda. Garis tegang di pelipisnya sudah hilang, diganti ekspresi yang lebih terbuka dan tenang. Rumah ini bukan lagi benteng yang terisolasi. Setelah setahun melewati masa sulit, rumah ini akhirnya jadi tempat mereka bisa berlabuh. "Auroran sudah sampai di puncak bukit area perkebunan," kata Lucien sambil menatap gerbang kayu Menteng yang terbuka lebar. "Dia kirim pesan singkat. Katanya tidak ad
Pukul 05.00 pagi. Langit timur di atas Menteng mulai oranye, memberi cahaya lembut pada mawar putih yang baru ditanam di bekas pos jaga lama. Nayaka berdiri di teras paviliun, menghirup udara pagi yang segar. Tidak ada lagi bau logam dari perangkat elektronik panas, tidak ada lagi rasa waspada. Ia tidak lagi mengecek ponsel enkripsinya, karena benda itu sudah lama tidak ada. Ia juga tidak lagi memikirkan faksi Kebayoran Baru. Bagi mereka, faksi itu sudah jadi masa lalu yang memudar. Lucien Ashford keluar dari paviliun dengan langkah tenang, membawa dua cangkir kopi yang masih mengepul. Ia pakai kemeja katun ringan, terlihat seperti orang biasa yang sedang libur panjang, bukan orang yang pernah mengendalikan arus komoditas maritim terpenting di Indonesia. Ia meletakkan kopi di meja marmer, lalu berdiri di samping Nayaka, membiarkan keheningan pagi menyatukan mereka. "Auroran telepon dari stasiun," bisik Lucien. "Dia bilang akan
Pukul 06.00 pagi, langit Surabaya cerah tanpa awan, membentang biru pucat di atas atap Menteng. Nayaka keluar ke beranda samping, merasakan embun tipis di daun mawar taman. Ia tidak lagi meraba saku kardigan untuk memastikan ponsel enkripsi ada di sana. Hidupnya sudah berubah. Tidak ada lagi alarm darurat tengah malam, tidak ada lagi deret angka terenkripsi yang harus dipecahkan cepat untuk memprediksi langkah faksi lawan. Lucien Ashford menyusul dari belakang, membawa nampan berisi kopi panas dan roti panggang. Ia tidak lagi berjalan waspada seperti orang yang memikul rahasia negara. Langkahnya ringan, seolah menikmati kebebasan yang setahun terakhir hanya jadi angan. "Auroran sudah bangun," bisik Lucien sambil meletakkan nampan di meja marmer. "Dia di perpustakaan, lagi mengemas kamera analognya. Katanya cahaya pagi ini paling bagus buat menangkap detail dedaunan di kebun kopi nanti."
Pukul lima pagi. Sisa kabut tipis masih menempel di pucuk-pucuk mahoni, membiarkan cahaya pertama hari ini membiaskan warna keemasan yang lembut di permukaan kolam air mancur Menteng. Nayaka berdiri di sana, membiarkan jemarinya menyentuh permukaan air yang tenang. Tidak ada lagi ritual pengecekan sistem keamanan sebelum matahari terbit, tidak ada lagi frekuensi radio yang harus dipindai untuk mendengarkan percakapan mencurigakan dari faksi lawan. Hening itu begitu murni, sehingga ia bisa mendengar suara langkah Lucien di kejauhan, pelan namun pasti, menapak di atas ubin teras. Ia tidak menoleh, karena ia tahu suaminya tidak sedang membawa beban berat di bahunya. Lucien berjalan dengan tubuh yang rileks, mengenakan sweter wol yang ia sukai saat pagi sedang dingin-dinginnya. Ia berdiri tepat di samping Nayaka, meletakkan secangkir kopi panas di atas meja marmer kecil yang mereka tempatkan di sana. "Auroran menelepon tadi malam," ujar Lucien setelah be
Lucien Ashford tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Matanya yang tajam mengawasi Aurora yang baru saja tersadar dari pingsan singkatnya di atas sofa mewah apartemennya. Pria itu masih memegang segelas air, namun auranya tetap tidak tersentuh, seperti gunung es yang tak tergoyahkan. "Kamu terla
Desingan peluru menghantam bodi mobil yang antipeluru itu dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Supir Lucien memutar setir dengan liar, membuat ban mobil berdecit di atas aspal basah. Nayaka mencengkeram pegangan pintu, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena adre
Nayaka menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Suara pria di seberang sana begitu tenang, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. Ia melirik ke arah jendela sekali lagi. Mobil hitam itu masih di sana, seperti predator yang sedang mengawasi mangsanya."Aku tidak menerima bantuan
Keheningan di kamar rawat itu terasa mencekam setelah kepergian Gavin dan Ratna. Auroran masih berdiri mematung di dekat pintu, menatap kembarannya dengan sorot mata yang campur aduk. Ia terbiasa melihat Aurora yang selalu menunduk dan meminta maaf meski tidak salah. Namun, wanita di depannya seka







