Share

A2. Toko Gadai

Author: Cheezyweeze
last update Last Updated: 2025-08-02 22:18:16

Delapan Tahun Kemudian.

Sorot mata tajam dengan wajah datar tanpa ekspresi menatap seorang wanita. Wanita yang umurnya sekitar 55 tahun itu tampak terlihat takut pada sosok pria dengan potongan rambut sedikit gondrong.

Pria itu menundukkan kepalanya dan menatap deretan roti yang ada di depannya. Dia berdiri di sana sudah lama, kurang lebih 15 menitan.

Entah apa yang dicari pria itu. Padahal di sana banyak pilihan cemilan. Pria tampan itu bernama Alex. Dia tidak memperlihatkan ekspresi ramahnya, hanya sesekali melirik wanita si pemilik toko.

"Jika kau tidak ingin membeli daganganku. Silakan kau pergi dari tokoku. Kau membuat pelanggan ku ketakutan dan tidak ada yang berani datang kemari," keluh wanita itu.

Alex mengangkat kepalanya dan menatap wanita tersebut, lalu Alex kembali menundukkan kepalanya.

"Aku beli dan membayarnya!" Alex mengangkat sebuah roti berbentuk panjang, lalu dia meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.

Saat Alex berlalu dari sana, ada dua orang pemuda yang datang ke toko itu lalu mengobrak-abrik dagangan yang ada di sana. Si pemilik toko ketakutan dan menjerit histeris.

Alex menghentikan langkahnya dan segera membalikkan badannya. Pria itu memperhatikan dua pemuda yang sedang melancarkan aksinya.

"Kau lihat apa, huh!" teriak pemuda itu sambil mengacungkan senjata tajam yang dia genggam pada Alex. "Pergi dari sini sebelum aku congkel kedua matamu!" lanjutnya membentak Alex. Sedikit pun Alex tidak bergeming. Justru dia terlihat santai dan tenang.

Melihat Alex tidak takut, pemuda itu menjadi geram. "Hei, kau lihat pria tolol yang berdiri di sana itu?"

Rekan si pemuda itu yang masih merampas uang di dalam toko. Dia berhasil merampas sekantung uang dan menghampiri rekannya.

Kedua pemuda itu saling pandang, lalu kembali menatap Alex dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah keduanya saling memberi isyarat, mereka berdua melangkah cepat ke arah Alex untuk menyerang.

Tanpa diduga-duga oleh dua pemuda itu, Alex mampu menangkis serangan mereka dan membuat keduanya tergeletak di jalan sambil merintih kesakitan serta memohon-mohon.

Alex meraih kantung yang berisi uang dan mengembalikannya pada si wanita pemilik toko. Sebelumya si wanita itu ketakutan, tapi saat Alex menyodorkan sebuah kantung, wanita itu lalu mengucapkan terima kasih.

"Tunggu, tuan." Wanita itu memanggil Alex saat melihat barang belanjaannya tercecer di jalan termasuk roti yang tadi dibeli di toko. "Ini sebagai ganti roti tuan yang jatuh berserakan," lanjut wanita itu sambil memasukkan beberapa roti yang masih aman di atas meja.

Alex hanya diam sambil terus memperhatikan wanita setengah baya yang sedang sibuk memasukkan beberapa item tambahan.

Wanita itu berjalan mendekati Alex tanpa ada rasa takut lagi. "Dan ini sebagai ucapan terima kasih karena tuan telah membantuku."

Alex diam menatap kantung yang disodorkan padanya, lalu tatapannya beralih pada wanita tua itu. Kepala wanita itu mengangguk. Alex pun menerimanya, lalu bergegas pergi dari sana karena tidak ingin masalah yang baru terjadi itu berbuntut panjang.

Namun, sebelum pergi Alex sempat menyodorkan beberapa lembar uang kertas pada wanita tersebut, akan tetapi wanita itu menolaknya.

Selang beberapa menit Alex berlalu dari sana, beberapa polisi datang ke TKP dan membawa dua pemuda itu pastinya.

Polisi-polisi itu sempat heran dengan dua pelaku itu. Tangan kiri kedua pelaku itu patah, tetapi tangan itu sudah dililit sebuah boneka untuk menyangga dan terdapat pesan tulisan di sana.

Sementara itu Alex sudah sampai di rusun tempat tinggalnya dan ternyata di sana sudah ada dua orang yang menunggu Alex. Mereka ingin menggadaikan barang yang mereka bawa pada Alex.

"Tuan, aku ingin menggadaikan barang ini," ujarnya sambil menyodorkan sesuatu.

Alex melirik benda itu, lalu dia merogoh sesuatu di dalam sakunya untuk membuka pintu. Alex segera masuk ke dalam toko gadainya yang memang tidak begitu lebar mengingat itu adalah rumah susun yang berukuran tidak terlalu luas.

Lantas Alex duduk di depan sebuah kaca yang tepat di depannya terdapat sebuah lubang untuk komunikasi antara Alex dan pelanggannya.

"Aku periksa dulu. Apakah layak untuk digadaikan atau tidak," tukas Alex.

Orang itu mengulurkan sebuah handycam yang sudah lumayan jelek. Pria tampan itu memeriksa dengan teliti sebelum mengembalikan benda itu pada sang pemilik.

"Maaf, barang ini tidak bisa digadaikan. Aku tidak ingin rugi karena benda itu sudah rusak," tegas Alex.

"Tapi tuan———"

"Selanjutnya!" potong Alex.

Satu orang lagi melangkah maju dan sedikit mengusir si pemilik handycam itu. "Pulanglah. Barangmu itu sudah tidak laku digadaikan, apalagi dijual," ejeknya. "Tuan, ini barangku." Pria itu mengeluarkan sebuah ponsel buntut.

Alex tidak menerima uluran ponsel tersebut. Dia hanya menatap orang yang membawa ponsel itu. "Simpan saja. Barangmu itu juga tidak layak digadaikan apalagi dijual." Alex membalikkan omongan pria tersebut.

Si pemilik ponsel buntut itu mengumpat habis-habisan. Dia tidak terima dengan perkataan Alex.

BRAAKK!!

Alex menggebrak mejanya dan berdiri dengan tatapan sengit. Dia menatap dua orang itu dengan tatapan datar, dingin, dan menakutkan.

Tanpa sepatah kata apapun, dua orang itu segera mengambil langkah seribu. Alex kembali duduk dan menatap sebuah cermin bulat kecil yang berdiri di antara tanaman hias kaktus mini kecil di atas meja.

Alex menarik napas panjang saat menatap wajahnya sendiri. Terlalu aneh baginya, tapi itulah diri Alex yang sekarang.

Alex meraih jaket tebalnya, mendadak dia ingat sesuatu. Lantas dia berniat untuk keluar lagi. Namun, saat Alex sudah mencapai bibir pintu. Dia menghentikan langkahnya dan buru-buru balik kanan untuk menghindar.

"Hei, tuan. Tunggu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A108. Menjadi Pion Penyerang

    Rolland menatap layar ponsel itu terlalu lama. Foto buram dengan sudut miring. Cahaya malam memantul di rahang tegas seorang pria yang berdiri sendirian di tepi jalan. "Foto ini ...." Rolland menatap dalam-dalam. Orang yang ada di dalam foto itu adalah orang yang paling sulit untuk diajak kerjasama.Bukan foto baru dan justru itu yang membuatnya berbahaya. Foto lama, arsip, atau hasil pengawasan jarak jauh yang disimpan rapi, dikeluarkan pada saat yang tepat. Konsorsium tidak butuh alamat. Mereka hanya perlu satu bukti.[Bagaimana kau bisa mengenalnya?][Kau tidak perlu tahu soal itu.]"Apa cara ini akan berhasil?" pikir Rolland.Rolland baru tahu jika julukan Alex adalah pembunuh brutal dan hantu Pegadaian. Ia juga paham jika Alex tidak mudah dirayu."Ini yang ku janjikan," kata suara di seberang sambungan, dingin dan tanpa aksen. "Kebenaran dan kemenangan itu bernilai mahal."Rolland mengusap wajahnya. "Aku t

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A107. Kekuatan Baru

    Rolland berdiri di depan cermin retak, membalut luka di bahunya dengan tangan gemetar. Bukan karena sakit ... bagi Rolland rasa sakit sudah lama menjadi teman. Melainkan karena kemarahan yang tidak menemukan jalan keluar. Setiap balutan adalah pengingat_ bahwa ia kalah lagi. Benigno. Nama itu seperti racun yang menempel di lidahnya. Di markas sementara. Sebuah gedung kosong yang disamarkan sebagai gudang logistik, anak buah Rolland bergerak dengan langkah ragu. Tidak ada teriakan dan tidak ada tawa. Mereka tahu ritmenya berubah. Mereka tahu keberanian tanpa kekuatan hanyalah bunuh diri yang ditunda. "Laporan," kata Rolland dingin. Seorang pria maju, menunduk. "Upaya kedua kita gagal. Jalur distribusi yang kita sentuh sudah bersih dan mereka sedang menunggu." Rolland menahan napas. "Menunggu kita." "Ya." Ia mengingat malam itu, sergapan cepat, senyap, presisi.

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A106. Harga Sebuah Nama

    Alex tidak tidur malam itu. Ia duduk di ruang tamu dengan lampu mati, hanya cahaya kota yang menyelinap lewat celah tirai. Ponsel tergeletak di meja—layarnya gelap, tapi terasa seperti mata yang terus mengawasi. Pesan tanpa nama itu masih terbayang. -Jika kau kembali, akan ada yang jatuh.- Siapa? Pertanyaan itu berputar, menggigit pelan. Ia tahu jawaban paling jujur ad adalah siapa saja. Di pasukan elite, keseimbangan rapuh. Kembalinya satu nama besar bisa menggeser segalanya. Jabatan, kepercayaan, bahkan nyawa. Dari kamar, Zea terbatuk kecil. Alex bangkit refleks, memastikan anak itu tidur kembali. Ia berdiri di ambang pintu, menatap wajah Zea yang tenang. Dunia ini ... rumah kecil, napas anak yang teratur terasa nyata. Terlalu nyata untuk dipertaruhkan. Pagi datang dengan ketukan yang tidak ia harapkan.

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A105. keputusan Alex

    Sehari setelahnya. Alex berdiri di dapur dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menyesapnya. Pikirannya terlalu bising—lebih bising dari dentuman senjata atau teriakan perintah di medan tempur. Kembali ke pasukan elite. Kalimat itu terus berputar, menabrak dinding kepalanya. Sebagian dirinya yang terlatih, disiplin, dan tahu arti komando ingin mengangguk dan berkata ya. Namun bagian lain, yang lebih sunyi dan lelah, mengingatkan satu hal yang tidak pernah tercatat di laporan misi—harga dari sebuah keputusan. Ia menoleh ke ruang tamu. Zea tertidur di sofa, memeluk bantal, cat kuku warna-warni masih menempel di jemarinya—jejak kecil dari permainan yang tidak berbahaya. Pemandangan itu menahan Alex di tempatnya. Jika ia kembali, dunia yang ia tinggalkan tidak akan menunggunya tetap utuh. Teleponnya bergetar. Pesan dari Jo

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A104. Memanggil Alex

    Ledakan pertama terdengar seperti guntur yang tersesat. Di markas pasukan elite, getaran itu merambat lewat lantai beton, membuat gelas kopi bergetar tipis. Monitor-monitor taktis menyala, menampilkan gelombang aktivitas tidak wajar di wilayah pelabuhan. Suara tembakan ... terpotong, teredam jarak tapi tetap cukup jelas bagi telinga yang terlatih. TJ berdiri di tengah ruang komando, rahangnya mengeras. Rambutnya yang tersisir rapi tidak menyembunyikan ketajaman tatapannya. Ia tidak perlu laporan lengkap untuk tahu apa yang sedang terjadi. "Perang mafia," gumamnya. "Dan bukan perang kecil.' Seorang operator mendekat. "Sumber suara konsisten dengan senjata otomatis. Intensitas menurun ... lalu naik lagi. Sepertinya salah satu pihak terdesak." TJ menatap peta digital. Dua nama berkelip di kepalanya. Nama lama yang tidak pernah benar-benar mati-Benigno ... Rolland. Ia menghela napas pelan, lalu berbalik. "Panggil

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A103. Hari Penentuan

    Malam yang menentukan. Malam pecah sebelum tembakan pertama dilepaskan. Gudang di pinggir pelabuhan tampak tenang dari kejauhan—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan dua raja kotoran. Lampu-lampu kapal berkelip, memantul di air hitam. Di balik kontainer baja, orang-orang Benigno sudah mengambil posisi. Mereka tidak banyak bicara. Benigno berdiri di tengah, mantel gelapnya jatuh lurus, wajahnya tanpa emosi. Ia tidak membawa senjata. Kepercayaan diri adalah pelindung terbaiknya. Ya, karena dijaga oleh para anak buahnya. "Biarkan mereka masuk," katanya singkat. "Dan tutup pintu belakang." Di sisi lain, Rolland datang dengan senyum tipis yang dipaksakan. Anak buahnya menyebar, mata waspada, jari dekat pelatuk. Ia tahu Benigno berbahaya, tapi ia juga tahu mundur terlalu cepat berarti mati perlahan "Kita bisa bicara," kata Rolland keras, melangkah ke dalam gudang. "Tidak perlu ada per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status