LOGINSinar matahari siang memantul silau di atas genteng keemasan Paviliun Utama. Udara hangat tak mampu mengusir ketegangan yang mendadak membeku di dalam ruangan raksasa itu. Lian Xue berjalan berdampingan dengan Shen Yang memenuhi panggilan mendadak dari sang Ayahanda.Namun, langkah Lian Xue seketika terhenti sejenak di dekat pintu ukir. Binar matanya membelalak pelan menyaksikan pemandangan di hadapannya.Di atas kursi tahta, sang Kaisar duduk bersanding dengan Selir Agung Wei. Wajah Ayahandanya tak lagi suram seperti kemarin; garis-garis kelelahan di parasnya telah memudar, berganti pendar hangat yang merekah kembali. Sang Bibi tersenyum manis seraya menuangkan teh hijau ke cawan Kaisar dengan gerakan gemulai.gApakah berita pengasingan Selir Wu yang disampaikan Shen Yang kemarin memberi dampak sebesar ini pada Ayahanda? batin Lian Xue penuh tanda tanya. Apakah tersingkirnya persaingannya membuat Bibi begitu cepat merebut kembali hati Ayahanda?"Hamba menghadap Baginda Kaisar,"
Malam kian merambat ketika Lian Xue menyelinap masuk ke Paviliun Tian Lang. Dadanya berdebar liar, sementara jemari lentiknya mencengkeram erat Plakat Komando Militer asli milik Shen Yang di balik lipatan jubahnya. Suasana paviliun sang Jenderal begitu lengang, hanya diterangi pendar temaram lilin dinding.Dengan gerakan seringan kapas, Lian Xue melangkah menuju ruang kerja Shen Yang. Ia mendekati dinding kayu berukir naga, mengusap tonjolan halus di samping papan pedang hingga mekanisme rahasia berbunyi klik sangat tipis. Rongga dinding terbuka. Lian Xue bergegas meletakkan kotak besi beserta plakat asli ke dalamnya, lalu mendorong ukiran kayu itu kembali rapat.Napas lega baru saja hendak terhembus dari bibirnya ketika langkah kaki tergesa dari luar mengejutkannya. Pintu kayu ruang kerja seketika terdorong terbuka!Lian Xue terperanjat hebat. Kepanikan menyergap seluruh kesadarannya. Dengan rasa tegang yang membuncah, ia berbalik cepat dan melangkah terburu-buru, ingin segera p
Kedai teh terpencil di pinggiran selatan ibukota terselimuti aroma pahit dedaunan kering yang dibakar di atas tungku tanah liat. Hujan gerimis yang mengguyur ibu kota sejak fajar menyamarkan jejak langkah Lian Xue saat menyelinap ke lantai dua, memasuki ruangan khusus berbilik bambu yang telah dipesan. Di belakang meja teh, Pei Zhen duduk menunggunya. Pria itu mengapit cangkir porselen hangat dengan kedua tangannya, berbalut jubah kain polos tanpa lambang kebangsawanan. Begitu tirai bambu tersingkap dan memperlihatkan sosok Lian Xue, binar mata cokelat terang milik Pei Zhen seketika memercikkan ketegangan yang bercampur kerinduan mendalam. "Kau datang, Xue'er," desis Pei Zhen pelan seraya berdiri menatapnya. Lian Xue tak membalas sapaan hangat itu dengan keramahan. Wajahnya tertutup cadar hitam tipis. Ia melangkah mendekati meja, membiarkan jubahnya tersapu angin yang menerobos dari celah jendela. "Aku tidak punya banyak waktu, Pei Zhen," ujar Lian Xue dengan suara rendah nam
Bilah pedang yang mengilap diterpa cahaya bulan mengarah tepat ke dada Lian Xue. Pria bertopeng hitam itu melangkah mendekat dengan tawa dingin yang mengancam. Namun, sebelum ujung pedangnya sempat menyentuh gaun Lian Xue, sebuah desingan halus memecah kegelapan malam. Sebuah pisau lempar berukuran kecil menghantam bilah pedang penyamun itu hingga terpental keras. Belasan pria bertopeng seketika berbalik, siap memasang kuda-kuda bertarung. Dari balik bayangan dinding batu yang tinggi, sesosok tubuh berbalut jubah serba hitam melompat turun tanpa bersuara. Topeng perak yang menutupi setengah wajahnya berpendar dingin di bawah naungan rembulan. Aroma khas herbal yang teramat pekat dan segar seketika menyeruak di udara, aroma mint. "Zhao Tian ..., " desis Lian Xue dari dalam kereta, menahan napas seraya merapatkan tangannya di balik dada. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zhao Tian bergerak bagai badai malam. Pedang tipis di tangannya menari dengan kelajuan yang tak sanggup di
Keputusan telah diambil dengan bulat. Lian Xue tahu betul bahwa menyerahkan sobekan dokumen itu secara langsung kepada Ayahandanya hanya akan memancing badai kecurigaan yang tak perlu. Maka, sasaran utamanya sore ini adalah meja kerja Shen Yang di Paviliun Tian Lang.Memanfaatkan celah waktu saat para perwira Biro Penyelidik sedang berganti jam jaga, Lian Xue menyelinap masuk ke ruang kerja suaminya yang sepi. Dengup jantung Lian Xue berpacu kencang di balik dada, namun jemarinya tetap bergerak tenang dan teratur.Ia menarik sobekan halaman arsip kunjungan Kaisar ke Paviliun Selir Wu, dokumen yang diberikan Zhao Tian, lalu menyelipkannya secara hati-hati di bawah tumpukan berkas penting di tengah meja."Dengan begini, Shen Yang akan menemukannya sendiri," bisik Lian Xue sangat lirih pada dirinya sendiri. "Ia akan menganggapnya sebagai petunjuk krusial tanpa perlu mempertanyakan asalnya."Namun, urusannya dengan masa lalu belum usai. Lian Xue sama sekali tak berniat menyerahkan
Hening seketika terasa di dalam ruangan besar itu. Genggaman tangan Kaisar pada jemari Lian Xue mendadak membeku, dingin dan tanpa ketegangan seraya pandangannya terkunci lurus pada paras sang Putri.Lian Xue menahan napas. Ia siap menerima ledakan amarah, guncangan ketidakpercayaan, atau bahkan sanggahan keras dari Ayahandanya. Namun, reaksi yang terjadi justru jauh dari dugaannya.Perlahan, genggaman Kaisar terlepas. Sang Penguasa menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran, menghembuskan napas panjang yang terdengar bukan sebagai bentuk kemurkaan, melainkan sebuah keluhan berat yang teramat lelah."Ayah ... sudah menduganya," bisik Kaisar lirih.Lian Xue membelalakkan matanya, terperanjat hebat. "Ayahanda ... sudah tahu?"Kaisar memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya dengan jemari yang gemetar. "Ayah bukan pria bodoh, Xue'er. Malam ketika Wu Jian mengaku dirinya sedang mengandung, Ayah tahu betul bahwa Ayah tidak pernah memerintahkan Kasim untuk membiarkan beni
Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. "
Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan
Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.
"Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In







