Share

Bab 55

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-08-05 23:09:15

​Kepanikan meluas cepat di seluruh penjuru Istana Belakang. Begitu plakat kepemimpinan berpindah tangan, Lian Xue tidak memiliki kemewahan waktu meski sekadar untuk merenungi nasib Selir Agung Wei yang kini berlutut di Aula Leluhur, ataupun memikirkan misteri di balik keguguran Selir Wu.

Baginya, satu-satunya hal yang berdiri di antara kehormatan kekaisaran dan bencana politik esok hari adalah sisa waktu kurang dari dua puluh empat jam.

​"Putri! Daftar bahan makanan dari klan selatan belum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 56 - Menebak Konspirasi Pei Zhen

    ​Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Matahari terbenam diiringi dentang lonceng kekaisaran yang bergema, menandai perayaan ulang tahun Sang Penguasa. Istana kini menjelma menjadi lautan kain sutra merah dan emas, dihiasi ribuan lampion yang berpendar megah, menyamarkan sepenuhnya ketegangan yang terjadi beberapa jam sebelumnya. ​Kaisar duduk di atas takhta naga dengan jubah kebesarannya yang paling megah. Meski garis-garis kelelahan dan muram masih tersirat samar di sudut matanya, Sang Pemimpin dengan lihai membungkus wajahnya dalam keagungan yang dingin. ​Tak ada satu pun utusan asing atau pejabat daerah yang menyadari bahwa sehari sebelumnya, amarah sang penguasa baru saja mengguncang Istana Belakang. Selir Agung Wei tetap berada di Aula Leluhur merenungi kesalahannya, sementara ketidakhadiran Selir Wu ditutupi rapat dengan alasan kesehatan yang mendadak menurun. ​Di samping kanan takhta naga, berdiri Lian Xue. ​Sang Putri mengenakan gaun kebesaran berwarna biru malam bersula

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 55

    ​Kepanikan meluas cepat di seluruh penjuru Istana Belakang. Begitu plakat kepemimpinan berpindah tangan, Lian Xue tidak memiliki kemewahan waktu meski sekadar untuk merenungi nasib Selir Agung Wei yang kini berlutut di Aula Leluhur, ataupun memikirkan misteri di balik keguguran Selir Wu. Baginya, satu-satunya hal yang berdiri di antara kehormatan kekaisaran dan bencana politik esok hari adalah sisa waktu kurang dari dua puluh empat jam. ​"Putri! Daftar bahan makanan dari klan selatan belum distempel oleh Balai Logistik!" seru seorang kasim senior seraya berlari kecil membawa tumpukan gulungan kertas. ​"Bawa ke meja kiri!" sahut Lian Xue cepat tanpa menghentikan gerak jemarinya yang sedang memeriksa denah tempat duduk para utusan asing. Suaranya serak, matanya menatap tajam lembaran peta Balai Agung. "A'Ning, minta Tabib Istana memeriksa ulang seluruh ramuan penawar arak yang akan disajikan besok malam. Jangan sampai ada satu cangkir pun yang tercemar!" ​"Baik, Putri!" A'Ning ber

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 54 - Beban di Pundak Lian Xue

    ​Di tengah keriuhan isak tangis yang masih memenuhi Paviliun Agung, langkah tergesa seorang kasim senior mendadak memotong suasana duka. Kasim Zhang berlari kecil menembus ambang pintu, wajahnya yang pucat bersimbah peluh dingin. ​"Hamba menghadap Selir Agung Wei dan para Selir Utama!" seru Kasim Zhang seraya berlutut terburu-buru, suaranya gemetar menahan panik. "Perintah mendadak dari Yang Mulia Kaisar! Seluruh penghuni Paviliun Agung diminta segera menghadap ke Aula Utama Istana sekarang juga!" ​Semua orang di dalam ruangan seketika terperanjat. Bisik-bisik kebingungan merayap cepat di antara para selir. ​"Ada apa ini? Apakah Baginda sudah mendengar kabar duka keguguran Selir Wu?" bisik salah satu selir utama seraya mengusap sisa air matanya. ​"Atau ini mengenai kelanjutan persiapan perjamuan esok malam?" sahut yang lain dengan wajah cemas. ​Lian Xue berdiri dalam keheningan, merapikan lengan jubah birunya. Otaknya berputar cepat. Jika Kaisar memanggil seluruh Istana Be

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 53 - Papan Catur yang Bergeser

    Lian Xue melangkah tergesa dengan kain yang membalut tubuhnya. Napasnya masih memburu, terombang-ambing antara menahan hangatnya rasa malu yang merayap hingga ke ujung telinga dan kekesalan yang menggunung pada sang Jenderal kepala batu. ​"Pria arogan itu benar-benar ...!" gerutu Lian Xue tertahan di sepanjang koridor sepi menuju Paviliun Yue Hua. ​Namun, di balik celaan dan rona merah di pipinya, getar dada Lian Xue berdenyut jauh lebih kencang dari biasanya. Sentuhan tak sengaja di pagi buta tadi menyisakan jejak debar yang sulit ditepis. Untuk sesaat, seluruh benteng pertahanan dan intrik istana yang memenuhi benaknya seolah meluruh oleh kehangatan canggung di atas dipan sempit itu. ​Begitu ia menyeberangi ambang pintu kayu Paviliun Yue Hua, A'Ning yang mematung di sudut ruangan seketika menyambutnya dengan raut panik. ​"Putri! Astaga, dari mana saja?" cecar A'Ning seraya menghampiri Lian Xue dan meneliti kondisi majikannya dari ujung kepala hingga jemari kaki. "Hamba cemas set

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 52 - Ciuman Tak Sengaja

    Shen Yang bergerak pelan. Tanpa membuka mata, pria itu menarik tangan Lian Xue hingga tubuh wanita itu kehilangan keseimbangan. "Ah ...."Lian Xue jatuh terduduk lebih dekat ke sisi dipan. Belum sempat ia menegakkan tubuh, lengan Shen Yang secara refleks melingkar di pinggangnya. Tubuh Lian Xue menegang. Wajahnya memerah seketika. "Shen Yang ...." Ia mencoba melepaskan pelukan itu dengan hati-hati. Namun Shen Yang justru mengembuskan napas panjang, lalu tanpa sadar menyandarkan dahinya ke bahu Lian Xue. Pelukannya tidak kuat justru terasa hangat. Lian Xue memejamkan mata sejenak. "Aku menyerah ...." Ia berhenti berusaha melepaskan diri. Dengan hati-hati, ia menyandarkan punggungnya pada sisi dipan, membiarkan Shen Yang tetap memeluknya dalam tidur. Di luar paviliun, angin malam berembus perlahan menggoyangkan dedaunan bambu. Di dalam ruangan, keheningan kembali menyelimuti keduanya. Lian Xue menatap wajah Shen Yang yang kini tampak begitu damai. Entah mengapa, untuk pertama kalin

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 51- Rahasia di atas Dada

    Keheningan malam di Paviliun Tian Lang terasa begitu pekat, hanya dihiasi deru napas Shen Yang yang berat. Lian Xue masih mematung di tempatnya. Sepasang matanya menatap jemari Shen Yang yang gemetar namun begitu erat mencengkeram gaunnya.​"Shen Yang ...," bisik Lian Xue pelan, hampir tak terdengar.​Pria tegap itu tidak membalas panggilan tersebut. Kepalanya terkulai lemas ke samping dipan, matanya terpejam rapat akibat pengaruh arak yang begitu pekat. Namun, cengkeraman tangannya di ujung gaun Lian Xue sama sekali tidak mengendur. Ia seperti seorang anak kecil yang takut ditinggalkan di dalam kegelapan.​Lian Xue menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa lelah. Pergolakan hebat bertarung di dalam dadanya. Logikanya berteriak agar ia segera menarik kain gaunnya, melangkah keluar, dan membiarkan para pengawal yang mengurus Jenderal ini. Ini bukan urusanmu, bisik akal sehatnya. Kau berada di sini untuk bertahan hidup, bukan untuk mengobati luka emosional seorang Jenderal y

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 6 - Secangkir teh penekan Kasim

    Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. ​"

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 5 - Air Mata sang Selir

    Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 4 - Kilau Emas, Hati yang Panas

    Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.

  • Kembalinya Sang Puteri Phoenix   Bab 3 - Interogasi Malam Pertama

    "Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status