LOGINShen Yang merengkuh pinggang Lian Xue, mendudukkan istrinya di atas pangkuannya dengan kelembutan yang teramat sangat. Pria tegap itu berusaha menenangkan hati Lian Xue yang kini sedang berkecamuk hebat. Air mata perlahan mulai menetes dari sudut manik bening sang Putri Kekaisaran, membasahi pipinya yang halus. Namun, di balik lelehan bening itu, matanya menatap tajam pada suaminya, seolah menuntut penjelasan mutlak atas seluruh teka-teki yang menyiksa jiwanya. "Kau ingin tahu siapa aku sebenarnya, bukan?" bisik Shen Yang serak, membelai lembut helai rambut Lian Xue yang terurai. "Kau pasti ingat cerita yang selama ini bergulir di istana ... tentang seorang bayi laki-laki yang ditemukan di tengah hutan oleh Ayahandamu saat perburuan musim semi. Lalu bayi itu dirawat, diasuh, dan dididik oleh Kaisar hingga tumbuh menjadi seorang petarung tangguh." Lian Xue tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan di dalam kungkungan dada tegap suaminya. Napasnya masih tersengal menahan gejola
Shen Yang membisu sejenak. Jemari kasarnya yang semula mengusap pelan punggung tangan Lian Xue mendadak mengendur. Ia menghembuskan napas berat yang sarat akan beban rahasia, lalu menarik perlahan tangannya dari lingkaran lengan sang Putri. Pria tegap itu bangkit dari tepi ranjang, membelakangi Lian Xue seraya menatap kegelapan di balik jendela ukir Penginapan Anggrek Merah."Aku akan memerintahkan Feng Lian dan pengawal terbaik untuk mengantarmu kembali ke istana pagi ini," ujar Shen Yang dingin, nada suaranya kembali datar dan kaku bagai dinding batu.Lian Xue terperanjat. Ia seketika menegakkan tubuhnya di atas ranjang, menarik kain selimut untuk menutupi dadanya seraya menatap punggung tegap suaminya dengan binar mata tak percaya."Apa maksudmu, Shen Yang?" pangkas Lian Xue cepat, suaranya meninggi menahan rasa terkejut yang teramat sangat. "Setelah apa yang terjadi di antara kita semalam ... kau ingin mengusirku kembali ke dinding istana yang dingin itu?""Ini bukan pengu
Desahan pasrah Lian Xue bergema membelah keheningan kamar Penginapan Anggrek Merah. Dinding-dinding kayu tua di lantai teratas menjadi saksi bisu bagaimana pertahanan dingin sang Putri Kekaisaran runtuh total di bawah kendali mutlak suaminya. Shen Yang merapatkan tubuh tegapnya, menatap lurus sepasang mata bening istrinya yang kini berselimut kabut gairah. Pria itu menyapu sisa peluh halus di dahi Lian Xue dengan usapan jemari kasarnya yang hangat, membimbing wanita itu memasuki pusaran rasa yang kian pekat. "Tatap aku, Lian Xue," perintah Shen Yang serak, nada suaranya mengalun bagai titah yang tak sanggup ditolak. "Jangan alihkan pandanganmu sedikit pun." Lian Xue mencengkeram bahu kekar Shen Yang yang menopang tubuh di sisi kepalanya. "Shen Yang ... kau ...." Kalimat sang Putri terputus kaku saat Shen Yang menyatukan kembali keintiman mereka secara utuh. Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Lian Xue, disusul kehangatan intens yang seketika menjalar merayapi seluruh p
Di balik kibasan selimut tebal yang ditarik cepat, Shen Yang melucuti gaun sutra tipis yang melekat pada tubuh istrinya dengan gerakan yang sangat tangkas. Hanya dalam hitungan detik, kain merah marun itu terlepas dari tubuh Lian Xue, menyisakan kehangatan kulit di balik temaram pendar lilin. Tanpa membuang waktu, Shen Yang menyentak hanfu hitamnya sendiri, membiarkan jubah itu terlempar ke sudut peraduan.Lian Xue tertawa pelan, suara manjanya terdengar bergetar di dalam keheningan kamar."Jenderal Shen ...," bisiknya seraya membelai bahu tegap suaminya, "aku tidak tahu kalau jemari pimpinan Biro Penyelidik begitu terlatih untuk melucuti pakaian dalam sekejap mata."Shen Yang menyunggingkan senyum miring. Sepasang mata elangnya menatap lurus paras ayu yang kini berpasrah penuh di bawah kungkungannya."Aku biasa melucuti senjata tawanan di medan perang dalam waktu cepat," kelakar Shen Yang dengan suara bariton yang serak dan rendah, "apalagi hanya melucuti pakaian istriku sendir
Shen Yang membatu seketika. Manik mata elangnya yang remang oleh pengaruh arak, menatap paras cantik yang kini terpampang nyata hanya sejengkal di hadapan wajahnya. Rona merah di pipi Lian Xue, binar mata beningnya yang hangat, serta helaan napas halus yang menyapu permukaan bibirnya bukanlah ilusi dari mimpi mabuknya. "Lian ... Xue?" bisik Shen Yang parau, suaranya bergetar antara percaya dan tidak. "Ya, ini aku, Suamiku," balas Lian Xue lembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling manis yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. Jemari tegap Shen Yang yang semula hendak menolak tubuh di pangkuannya perlahan mengendur. Kesadaran sang Jenderal berangsur pulih, digantikan oleh kehangatan pekat yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Tanpa ragu lagi, Shen Yang merangkulkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Lian Xue, menarik tubuh istrinya kian erat dan menempel rapat tanpa celah di atas pangkuannya. "Bagaimana bisa kau ...." Shen Yang tidak
Lian Xue terdiam membisu di balik cadarnya. Kata-kata Shen Yang bergetar pelan di udara malam, meruntuhkan keangkuhan yang membentang kaku di dadanya. Pria tegap ini tampak begitu rapuh dan letih hanya karena memikirkan pertengkaran mereka. Secara naluri, rasa hangat yang sempat membeku di dalam dada Lian Xue mendadak mencair. Sang Putri memiringkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka. Jemari lentiknya terangkat perlahan, mencoba membelai rahang tegap suaminya yang mengeras kaku. Namun, sebelum jemarinya sempat mengusap kulit hangat itu, Shen Yang dengan refleks menepis tangan Lian Xue secara halus namun tegas. Pria itu menggelengkan kepalanya tanpa memandang paras sang pemusik. "Hanya istriku yang boleh melakukannya," bisik Shen Yang serak, menengguk sisa arak di cawannya hingga tak berbekas. Dada Lian Xue berdesir hebat. Degup jantungnya berpacu liar di balik gaun sutra tipisnya. Ada rasa hangat yang membakar pipinya saat menyadari keteguhan hati suaminya. Dalam k
Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. "
Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan
Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.
"Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In







