Share

Bab 1365

Author: Imgnmln
last update Huling Na-update: 2025-08-25 23:35:03

Namun, dari samping, Chelsea segera melambaikan tangannya. Sebuah gelombang energi yang lembut namun kuat mengintervensi, menghentikan tamparan Nathan di udara. Nathan melepaskan cengkeramannya, dan Fiel ambruk ke tanah.

Di matanya, terbersit ekspresi kegembiraan yang aneh. ‘Chelsea... dia menyelamatkanku! pikirnya. Itu artinya aku ada di dalam hatinya!’

"Dia sudah mendapat pelajaran darimu," kata Chelsea, menatap Nathan. "Untuk apa harus sampai membunuh seseorang?"

"Saat dia menyerangku dari belakang dengan niat membunuh tadi, mengapa kau tidak menghentikannya?" balas Nathan. "Sekarang kau maju untuk menjadi orang baik? Kau tidak merasa lucu?"

"Prinsipku masih sama. Jika orang lain tidak memprovokasiku, maka aku tidak akan memprovokasi mereka. Tapi jika ada yang memprovokasiku dengan niat membunuh, maka akan kubunuh!" Ia menatap Chelsea dengan tajam. "Aku tidak punya dendam apa pun dengannya, tapi ia ingin mengambil nyawaku. Jadi, dia pantas mati." Aura pembunuh di tubuh Nathan kemba
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
ککندا جهمن
banyakan bab lg bos.. jangan la 2 bab je sehari... letih nk menunggu.. hehe
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1603

    Sementara itu, Veyron bangkit dengan susah payah. Tubuhnya berlumuran darah. Di tangannya, sebuah katana merah darah kembali terbentuk, aura kelam berputar mengelilingi bilahnya. Jeritan lirih terdengar, roh-roh yang tak terhitung jumlahnya seakan menari di sekitar pedang itu.Cahaya merah menyelimuti tubuh Veyron. Kulitnya tampak seperti dicelupkan ke dalam darah segar.Aura kematian menyebar liar, berat dan menyesakkan, seolah medan itu berubah menjadi hamparan gunung mayat dan lautan darah.Di hadapannya, Pedang Aruna di tangan Nathan bergetar pelan. Cahaya samar memancar dari bilahnya, disertai dengungan rendah, seperti makhluk buas yang akhirnya mencium aroma mangsa.Entitas Gehenna di sekitar Veyron tampak gelisah. Beberapa bahkan menjauh, menjerit lirih seolah merasakan ancaman alami.Kening Veyron berkerut. Belum bertarung, senjatanya sudah menunjukkan ketakutan.“Bakar esensi darahmu,” ucap Seiji perlahan. Suaranya rendah, berat, seolah datang dari masa yang jauh. “Bangkitkan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1602

    Nathan melangkah ke depan, cahaya keemasan meledak dari tubuhnya. Tubuh Vajra Naga Emas bangkit sepenuhnya, auranya mengembang dan menahan tekanan darah yang menindih semua orang.Baru saat itu suasana sedikit longgar.“Hmm…” Veyron menatap ke bawah dari udara, matanya menyipit. “Hanya seekor semut,” katanya dingin, “Tapi masih bermimpi melawanku?”Kabut merah darah di sekelilingnya berputar, memadat, lalu membentuk siluet besar, seekor monster raksasa perlahan muncul di udara, tubuhnya dipenuhi pola darah dan tekanan kuno.Aura kematian menekan dari segala arah. Sosok monster yang disebut Leviathan Karapas keluarga Ryodan. Kepalanya terangkat tinggi, dan setiap tarikan napasnya menciptakan tekanan berat yang menghantam Nathan dan semua orang di bawah.Udara seakan runtuh.Elara menegang, wajahnya langsung berubah pucat. “Nathan! Itu Teknik kuno Terlarang, jangan biarkan dia menyelesaikan formasinya!”Teriakan itu menggema.Sorot mata Veyron berkilat tipis. Dia melirik Elara sekilas,

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1601

    “Tuan Seiji… tolong saya…” Veyron melihat kedatangan itu seperti melihat tali penyelamat.Namun Seiji bahkan tidak meliriknya. Pandangannya tertuju langsung pada Nathan.“Kamu Nathan, benar?” ucapnya tenang, disertai senyum tipis. “Kami adalah tim diplomatik dari Negara Partan. Veyron Rydan adalah bagian dari rombongan kami. Kamu tidak boleh membunuhnya.”Nathan mendengus, lalu meludah ke samping. “Orangmu bebas membunuh siapa pun,” katanya dingin. “Tapi aku tidak boleh membunuhnya? Kamu kira ini wilayahmu?” Ia menurunkan pandangan ke Veyron. “Hari ini, dia harus mati. Darah dibayar dengan darah!”Seiji masih berdiri tegak. “Aku sudah mengatakan, dia tidak boleh dibunuh.” Senyumnya menghilang, tatapannya menyempit.Nathan tertawa pendek. “Kau kira siapa dirimu?”Kakinya terangkat sedikit, tekanan bertambah. “Kau bilang tidak boleh, lalu aku harus patuh?” lanjutnya pelan. “Aku ingin lihat, bagaimana orang sepertimu menghentikanku.”Tekanannya semakin kuat perlahan, tanah di bawah tubuh

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1600

    Nathan menekan ringan, lalu melompat mundur dan mendarat tepat di depan Veyron. “Satu kesempatan terakhir.”Nada suaranya tenang dan tatapannya dingin.Veyron meraung, kedua tangannya mencengkeram gagang katana. Kali ini, seluruh tenaga dikerahkan. Aura pedang meledak, tajam dan berat, seolah mampu membelah gunung.Cahaya keemasan menyelimuti tubuh Nathan.Seekor naga emas berputar samar di sepanjang lengan kanannya.Nathan tidak menghindar. Ia melangkah maju dan menangkap bilah katana itu dengan tangan kosong.Suara benturan keras memecah udara.Kerumunan membeku.“Menahan pedang dengan tangan kosong?” seseorang berbisik, nyaris tak percaya.Veyron mengerahkan seluruh tenaganya, tapi katana itu berhenti total dan terkunci di genggaman Nathan. Otot lengannya menegang, uratnya bergetar, namun bilah itu tak bergerak satu inci pun.Nathan mengangkat pandangan, tatapannya lurus ke mata Veyron.Hentakan itu terasa seperti kendaraan melaju kencang lalu berhenti mendadak.Veyron membeku. Mat

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1599

    Kali ini Veyron menghunus katananya.Benturan senjata menghasilkan dentuman berat. Tongkat itu retak, namun dalam sekejap, strukturnya terurai, berubah menjadi cambuk hidup.Ujungnya membentuk kepala ular berbisa.Lidah baja menjulur.PLAK!Cambuk itu menghantam punggung Veyron. Membuat kulitnya robek dan darah tipis mengalir. Riven tersenyum puas, kesombongan kembali naik ke wajahnya.Namun Veyron hanya menunduk sedikit, matanya gelap. “Kau memaksaku,” ucapnya pelan, “untuk benar-benar membunuhmu.”“Coba saja,” balas Riven kasar. “Kau tidak akan mampu.”Cambuk kembali meluncur dan Veyron tidak menangkis, ia mengayun. Terdengar suara gemerincing tajam yang pendek dan bersih. Kilatan cahaya dingin menyambar pandangan semua orang. Saat mereka sadar kembali, katana Veyron sudah kembali ke dalam sarung.Cambuk Riven terpotong.Potongannya jatuh satu per satu, tak lagi berbentuk, tak lagi berguna.Hening~Napas orang-orang tertahan. Kecepatan itu bahkan mata mereka tak mampu mengikutinya.

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1598

    BRAK!Pintu aula meledak terbuka. Beberapa murid terlempar masuk, tubuh mereka menghantam lantai sebelum sempat berteriak.Kemudian langkah kaki terdengar tenang dan terukur.Seorang pria berseragam samurai berjalan masuk perlahan, katana tergantung di pinggangnya—Veyron Ryodan.Tatapannya dingin, menyapu aula tanpa gentar. “Yang bernama Nathan,” katanya datar. “Keluar!”“Aku Veyron Ryodan, dari Keluarga Ryodan. Datang untuk menantangmu.”Aura di aula langsung berubah tegang.“Kurang ajar!” seorang tamu berdiri sambil menunjuk. “Berani sekali orang Solara masuk dan—”Kilatan dingin melintas.Srrk.Tidak ada teriakan, hanya saja kepala tamu itu terpisah bersih. Tubuhnya roboh, darah menyebar di lantai marmer.Veyron berdiri di tempat semula. Katana masih tersarung.Keheningan mencekik seluruh ruangan.Tatapan Nathan mengeras, aura dingin mulai bangkit di tubuhnya. Namun sebelum ia bergerak, seseorang sudah melangkah ke depan.“Hanya algojo Ryodan,” suara Riven rendah dan menghina, “Ber

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status