تسجيل الدخولDalam sekejap, monster-monster terbang dari berbagai penjuru langit mulai berdatangan. Kawanan itu memenuhi udara hingga langit tampak gelap, seolah tertutup awan hitam yang turun menekan dari atas.Zayne menatap pemandangan tersebut dengan wajah tercengang. Dengan jumlah sebanyak itu, bahkan jika semua monster hanya diam dan membiarkannya menyerang, Zayne mungkin akan kehabisan tenaga sebelum berhasil membunuh semuanya.Melihat Zayne masih terpaku, Nathan langsung melompat ke udara. Ujung jarinya memancarkan cahaya keemasan. Sinar-sinar tajam melesat keluar seperti rentetan anak panah, menghantam kawanan monster yang memenuhi langit.Monster-monster terbang berjatuhan sambil mengeluarkan jeritan. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Meskipun Nathan terus melepaskan serangan, ia tetap tidak mampu menghentikan seluruh kawanan.“Kenapa kau masih berdiri di sana?” Nathan berteriak kepada Zayne.Zayne akhirnya tersadar. Ia segera merentangkan kedua tangannya, dan pisau-pisau lempar yang t
Sementara itu, Nathan mengamati kawanan monster yang telah mundur lebih dari seratus meter. Mereka tidak benar-benar pergi. Kawanan itu hanya berhenti dan menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan berikutnya.Di atas sebuah batu besar yang menonjol dari tanah, Beruang Bara berdiri dengan tubuh gagah. Tatapannya yang buas tertuju langsung kepada Nathan dan yang lainnya.Nathan menyipitkan mata. “Sepertinya untuk menangkap segerombolan monster itu, kita harus menangkap rajanya terlebih dahulu.”Tatapannya terkunci pada Beruang Bara. Dia sudah memahami situasinya. Selama Beruang Bara itu dibunuh, kawanan monster yang berada di bawah kendalinya kemungkinan besar akan kehilangan pemimpin dan bubar dengan sendirinya.Namun, membunuh Beruang Bara jelas bukan perkara mudah. Seluruh daratan di antara mereka dipenuhi kawanan monster. Mendekatinya dari darat hampir sama saja dengan menerobos lautan monster. Satu-satunya cara adalah menyerang dari udara.ROOAAARRR—!Seolah memahami niat Nath
Monster yang berada di depan sebenarnya ingin berhenti, tetapi tekanan dari kawanan di belakang membuat mereka tidak punya pilihan selain terus maju. Tak lama kemudian, bangkai monster mulai menumpuk di sekitar formasi. Namun, jumlah mereka seolah tidak pernah berkurang. Dari balik hutan, gelombang baru terus berdatangan dan menggantikan monster-monster yang telah mati.Semua orang menahan napas. Senjata telah berada di tangan, dan tatapan mereka terkunci pada monster-monster yang kini berada tepat di hadapan mereka. Cahaya yang menyelimuti formasi perlahan meredup. Mereka semua tahu bahwa pertahanan itu tidak akan mampu bertahan lebih lama. Runtuhnya formasi hanya tinggal menunggu waktu.BAAAANG!Ledakan dahsyat kembali mengguncang udara. Cahaya yang menyelimuti formasi tiba-tiba berubah menjadi serpihan cahaya bintang yang berhamburan ke segala arah, lalu lenyap di atas tanah.Formasi pertahanan yang dibuat Nathan akhirnya hancur sepenuhnya.“SERAAAANG!”Nathan menggenggam Pedang Ar
Nathan perlahan mengangkat tangannya. Beberapa pancaran cahaya langsung melesat ke langit di sekeliling mereka, kemudian energi yang terkumpul di udara turun dan menyebar ke segala arah.Formasi yang menyelimuti mereka seketika memancarkan aura dahsyat, membentuk pertahanan kokoh yang terasa seperti benteng tak tertembus.“Formasi ini benar-benar kuat. Sepertinya butuh waktu lama bagi gelombang monster untuk menghancurkannya.” Rudeus menatap cahaya spiritual yang memenuhi formasi dengan kagum.Ia semakin terkejut melihat perkembangan Nathan. Ketika mereka berada di Benua Monarch, kekuatan Nathan masih jauh dari sekarang. Namun, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kekuatannya telah meningkat pesat.“Formasi ini memang kuat, tapi kalau cuma bisa menahan satu gelombang monster, apa gunanya?” Zayne mendengus pelan. “Menurutku, tidak sehebat yang dibayangkan.”Beberapa orang langsung meliriknya dengan tatapan tajam. Jelas sekali Zayne sedang berlindung di balik formasi buatan Nathan untuk
Tanah terus bergetar semakin keras. Aura mengerikan yang memenuhi udara pun semakin dekat, membuat semua orang merasakan tekanan yang sulit dijelaskan.“Kalau kita tidak bisa melarikan diri, lalu apa yang harus kita lakukan?” Zayne mulai panik. Dalam hati, ia menyesali keputusannya datang terlalu jauh ke Pegunungan Monster.Rudeus pun mengalihkan pandangannya kepada Nathan. Meskipun Nathan bukan orang terkuat di antara mereka, dalam situasi hidup dan mati seperti ini, Rudeus tahu mereka membutuhkan seseorang yang mampu menemukan jalan keluar.“Semua tetap bersama, dan jangan ada yang berpencar!” Setelah memberikan perintah, Nathan segera berjongkok dan mengambil sebatang ranting. Ia mulai menggambar pola-pola khusus di tanah di sekeliling mereka.“Formasi?” Zayne sedikit terkejut ketika melihat apa yang dilakukan Nathan. “Aku tidak menyangka dia juga menguasai formasi.”Tak lama kemudian, pola yang digambar Nathan mulai memancarkan cahaya samar. Namun, Nathan tidak berhenti. Ia terus
Rudeus bahkan tidak sempat memeriksa keadaan anak buahnya. Ia langsung mengerahkan kekuatan dan menusukkan pedang panjang ke arah leher Beruang Bara.Pada saat yang sama, Zayne mengangkat tangannya dan melemparkan beberapa pisau terbang yang berkilauan, mengarah tepat ke tubuh monster tersebut.Beruang Bara seolah merasakan bahaya. Cakarnya yang panjang tiba-tiba menyapu dengan kekuatan luar biasa dan menghantam Rudeus hingga tubuhnya terpental.Sementara itu, semua pisau terbang milik Zayne berhasil mengenai tubuh Beruang Bara.KLANG!Percikan api berhamburan saat pisau-pisau itu membentur kulitnya sebelum terpental kembali. Meski tidak mampu menembus pertahanannya, serangan tersebut tetap membuat Beruang Bara kesakitan dan terus mengaum marah.Kedua Cakarnya kemudian bergerak liar seperti cambuk baja, menghantam siapa pun yang berani mendekat. Bahkan, serangan kedua lebih mengerikan. Satu gerakan saja sudah cukup untuk menghancurkan kepala seorang kultivator.Dalam waktu singkat, be
Ancaman itu berhasil. Roh jahat itu seakan terdiam. Cengkeraman di leher Jazer terlepas. Ryuki terhuyung mundur, terbatuk-batuk hebat, keringat membasahi dahinya. Dia menatap ayahnya dengan matanya sendiri, mata yang kini dipenuhi rasa ngeri dan bersalah. "Ayah... kau tidak apa-apa?"Jazer memegang
Melihat Nathan kini berada di dalam jangkauannya, kraken itu menghantamkan tentakelnya ke bawah dengan sekuat tenaga.BOOM!Tentakel raksasa itu menghantam air dengan keras, menciptakan ledakan air raksasa yang mengirimkan ombak besar ke arah kapal pesiar. Kapal kembali bergoyang-goyang. Semua oran
"Tentu saja, Malvin! Jika kau yang turun tangan, Nathan pasti akan mati!" sanjung Sancho."Aku berkultivasi dengan intens selama puluhan tahun di Benua Monarch ini hanya untuk mencapai tingkat ini," kata Malvin dengan dingin. "Dan bocah itu, hanya dengan mengandalkan batu mata naga, bisa mencapainy
Dengan Inti Naga Sejati milik Malvin yang terasa dingin di dalam sakunya, Nathan berjalan dengan cepat meninggalkan pinggiran kota. Tujuannya kini hanya satu: Lembah Iblis. Ia harus menemukan tempat yang aman untuk memurnikan harta karun barunya ini. Proses itu tidak bisa dilakukan dalam semalam, d







