Kediaman keluarga Zellon.
Sebagai kepala keluarga, Jazer duduk di kursi utama, Kieran sedang berlutut di hadapan Jazer, menundukkan kepalanya seolah sedang dihukum.
“Kepala keluarga, Nelson dari keluarga Calderon menutup mulutnya dengan erat, dia bahkan tidak mau mengatakan kemana perginya Nathan,” Kieran berkata dengan suara rendah.
Tidak menemukan Nathan, Kieran membawa bawahan keluarga Zellon pergi ke keluarga Calderon untuk mencari, karena saat itu Nathan dibawa pergi oleh Nelson, tapi kini Nelson juga tidak mengetahui keberadaan Nathan.
“Nelson pasti tahu kalau Nathan sudah menyerap batu mata Naga, kenapa dia melepaskannya begitu saja? Ini sedikit aneh,” Jazer menyipitkan matanya dan merasa ada yang tidak beres.
“Kepala keluarga, Nelson memang membiarkan Nathan pergi, tapi menurut Nelson, Nathan adalah teman putranya, Abel, jadi Abel memohon agar dia melepaskannya,” Kieran menjelaskan.
“Kesampingkan dulu Nelson berkata jujur atau tidak, kamu segera bawa para bawahan untuk menemukan Nathan, bawa dia kembali ke keluarga Zellon dalam keadaan hidup. Aku ingin melihat, apakah Nathan ini adalah keponakan tersayangku atau bukan!” Jazer terkejut saat mengetahui kalau putra dari adik perempuannya masih hidup.
Karena, dia sudah mengurung adik perempuannya selama dua puluh tahun lebih, dia ingin mendapatkan informasi dari mulut adiknya sendiri. Tapi sayangnya, adik perempuannya membungkam mulut dan tidak mengatakan apapun selama dua puluh tahun lebih. Sekarang mengetahui keponakannya masih hidup, mungkin ini adalah terobosan, di dunia ini, ibu mana yang akan melihat putranya mati begitu saja di hadapannya tanpa melakukan apapun?
Jazer ingin memulai dengan Nathan, kalau Nathan benar-benar adalah keponakannya, maka dia akan menggunakan nyawa Nathan untuk mengancam adik perempuannya sendiri.
Kieran menerima perintah itu dan segera pergi, sedangkan Jazer bangkit berdiri dan berjalan ke penjara bawah tanah yang ada di halaman belakang kediaman keluarga Zellon.
***
Dalam penjara bawah tanah, seorang wanita berusia empat puluh tahunan sedang dikurung di dalam, meskipun kondisi di dalam penjara ini sangat keras, tapi senyuman masih terlihat di wajah wanita itu. Wanita itu adalah ibu kandung Nathan, Brillie Zellon.
“Nona, saatnya makan,” saat itu, seorang pelayan datang membawakan makanan yang sudah ditata rapi di atas meja.
Pelayan itu melihat sekeliling lalu berkata dengan suara berbisik-bisik kepada Brillie. “Nona, Zephir sudah diam-diam mengirim pesan yang mengatakan kalau Tuan Muda sudah mendapatkan esensi batu mata Naga dan kekuatannya sudah meningkat drastis, mungkin tidak perlu lama lagi kalian bisa bertemu!”
Setelah Brillie mendengarnya, senyuman di wajahnya menjadi sedikit menegang dan dia tiba-tiba menghela nafasnya. “Aku malah tidak berharap dia pergi mengambil batu mata Naga atau apapun itu, selama dia bisa hidup dengan damai saja sudah cukup. Sekarang, keluarga Zellon sudah mengetahui berita tentangnya, mereka tidak akan membiarkannya begitu saja.”
“Nona, kamu jangan terlalu khawatir, dengan adanya Tuan Marcel dan Zephir yang melindungi Tuan Muda, dia akan baik-baik saja!” Pelayan itu menghiburnya.
“Ah ….” Brillie menghela nafasnya.
Saat pelayan itu masih ingin mengatakan sesuatu dia melihat Jazer yang tiba-tiba masuk, dia seketika meletakkan makanannya dan pergi dengan ketakutan.
Jazer melirik pelayan yang keluar, lalu menoleh dan berkata pada Brillie. “Adik tersayangku, aku sudah mengirim orang untuk menyiapkan hidangan-hidangan ini, apakah kamu menyukainya?” Nada bicara Jazer penuh dengan perhatian, seolah-olah orang yang mengurung Brillie disini bukan dia.
Brillie melirik Jazer dengan tatapan tajam dan tidak mengatakan apapun, dia sudah lama terbiasa dengan sikap Jazer yang seperti ini. Beberapa tahun ini, Brillie tidak pernah mengatakan apapun pada Jazer, walau tubuhnya disiksa dia juga tidak akan membuka mulutnya.
Jazer juga tampaknya sudah terbiasa dengan raut wajah Brillie, dia duduk di depan meja sendirian lalu mulai mengangkat sumpitnya dan mencoba beberapa hidangan dengan lembut.
“Cumi ini dimasak menggunakan bumbu tomyam kesukaanmu, lalu, bukankah kau menyukai daging sapi fillet?” Jazer mencicipi hidangan tersebut sambil bicara dengan Brillie, hanya saja Brillie tidak mengatakan apapun, seolah Jazer sedang berbicara dengan dirinya sendiri.Setelah makan beberapa suap, Jazer menyeka mulutnya dan berdiri. “Adik, tidak disangka kamu masih mempunyai seorang putra di dunia ini, dan putramu mungkin sudah mendapatkan esensi batu mata Naga. Sepertinya, dia sudah mengetahui identitas aslinya dan sangat ingin menyelamatkan ibunya kesayangannya ini. Aku malah berharap dia akan datang ke keluarga Zellon lebih cepat, aku juga ingin saling berkenalan dengan keponakanku ini. Karena, sudah bertahun-tahun hidup di luar sana dia juga pasti sangat menderita!” Jazer mulai berkata-kata dengan tenang.Mendengar hal ini, kekhawatiran mulai muncul di wajah Brillie yang awalnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi itu hanya sekilas, meskipun begitu Jazer tetap melihatnya.“Hahahaha
“Apa yang terjadi?” Herold sedikit kaget saat melihat cahaya keemasan yang terpancar dari kamar Nathan.Beberapa Tetua lainnya menggelengkan kepala mereka, mereka juga tidak tahu apa yang terjadi, yang mereka tahu, Nathan sudah satu bulan ini tidak pernah keluar dari kamarnya.“Ayo, kita periksa!” Herold berkata dan membawa beberapa orang untuk pergi ke kamar Nathan.Saat ini Nathan perlahan-lahan bangkit berdiri, kekuatan spiritual dalam tubuhnya melonjak, lonjakan kekuatan itu belum pernah dia rasakan sebelumnya. Melihat sepasang tangannya yang bersinar keemasan, Nathan sangat ingin menggunakan kekuatan untuk melihat peningkatan yang dia dapatkan setelah melakukan kultibasi selama ini. Pada akhirnya dia tetap menahan diri, kalau dia menggunakan kekuatannya saat ini, maka seluruh rumah ini mungkin bisa runtuh, bahkan Saibu Care akan terdampak.“Tidak disangka, dalam waktu satu bulan, aku bisa mencapai puncak tahap Lentera, seiring berjalannya waktu, menembus tahap Lentera dan melangka
NOTED :Halo kakak-kakak semuanyaaaaa~Di penghujung tahun 2024 ini, saya Imgnmln, mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada kalian. Terima kasih atas supportnya, kesetiaannya, dan kesabarannya dalam menunggu update dari saya yang masih amatiran ini. Ahh~ pokoknya, gak bisa banyak berkata-kata, arigatoooo~~~~~ Love u moreee guysss —Kembalinya sang Dewa Perang—ini berhasil masuk dalam nominasi GoodNovel VAGANZA yang akan diadakan voting pada tanggal 10-12 Januari di I*******m~ dan akan diumumkan pada tanggal 17 Januari di I*******m GoodNovel. Jika berkenan, saya berharap, kakak semuanya bisa memberi bantuan untuk ikut berpartisipasi dalam acara GoodNovel VAGANZA untuk membantu voting buku ini yaa~~ Arigatooo sekali lagi
“Ada apa?” Sienna yang ada di samping bertanya pada Nathan yang ekspresinya terlihat tidak beres.“Tidak apa-apa, ayo pergi!” Nathan membawa Sienna keluar dari bandara dan bersiap pulang dengan taksi. Namun saat Nathan mengulurkan tangannya untuk memanggil taksi, sebuah Lamborghini mewah berhenti di depan Nathan.“Tuan Nathan, naiklah,” Jendela mobil itu turun dan sosok Reus berada di kursi pengemudi.Nathan melihat Reus dan tampak kaget. ‘Mengapa dia ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi?’Saat Nathan hendak menanyakan apa yang sedang terjadi, Reus kembali berkata. “Tuan Nathan, naiklah dulu, kita bicarakan di mobil!” Reus terlihat sangat buru-buru.Nathan langsung duduk di kursi penumpang depan, dan Sienna duduk di kursi penumpang belakang, lalu Reus langsung menginjak pedal gas.“Kenapa kamu bisa datang ke Kota Vale?” Nathan bertanya pada Reus.“Tuan Nathan, tidak hanya aku yang berada di Kota Vale, Kakekku juga datang kemari, kamu tidak tahu akhir-akhir ini sangat banyak orang
“Nathan, bagaimana kalau kita kembali ke Saibu Care lagi?” Sienna akhirnya berbicara.Karena di dalam Saibu Care, Herold dan beberapa tetua lainnya sudah mencapai tahap puncak penguasa Ingras, akan lebih aman bagi Nathan untuk tetap tinggal di sana.Raut wajah Nathan menjadi muram, seolah-olah tidak mendengar perkataan Sienna dia berkata pada Reus dengan tenang. “Bawa aku pergi menjenguk Ryzen dan yang lainnya.”“Tuan Nathan?” Reus sedikit terkejut, pihak lawan adalah dua orang puncak penguasa Ingras, kenapa Nathan tidak bergegas kabur?“Nathan, kamu jangan terlalu gegabah!” Sienna juga membujuknya.Namun mereka berdua tidak tahu, dalam waktu satu bulan ini kekuatan Nathan sudah tidak seperti dulu lagi.“Aku bilang, antar aku untuk menjenguk Ryzen dan yang lainnya! Aku tidak mau mengulangi perkataanku lagi!” suara Nathan menjadi semakin dingin.Suhu di dalam mobil juga turun hingga titik beku, Reus tidak punya pilihan lain selain menyalakan penghangat. Setelah melirik Nathan, Reus men
Nathan maju dan memegang satu tangan Ryzen dan Nicole, sekumpulan energi spiritual mulai masuk ke dalam tubuh mereka berdua.Beberapa menit berlalu, raut wajah Nathan menjadi semakin kusam, tubuhnya mulai berkeringat. Sepertinya yang Reus katakan tidak salah, tulang-tulang di dalam tubuh mereka sudah patah, walau bisa disambung mereka juga akan menjadi lumpuh dan tidak mungkin bisa berlatih lagi.“Tuan Nathan, aku sudah menggunakan obat terbaik dari Unique Care, nyawa mereka berhasil dipertahankan, tapi kedepannya mereka hanya bisa duduk di kursi roda,” Steve melangkah maju dan berbisik.Nathan tidak mengatakan apapun, namun benaknya terus melintasi peninggalan sang Alkemis dan mencari tahu apakah ada obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan Ryzen dan yang lainnya.“Pil Vajra?”Segera, sebuah resep obat muncul di benak Nathan, Nathan melihatnya dan menemukan kalau bahan obat yang dibutuhkan untuk meramu obat ini tidaklah langka dan dapat ditemukan dengan sedikit usaha. Tapi, untuk
Nathan sudah membunuh muridnya yang paling berharga, dia sudah memperlakukan Fletch seperti putranya sendiri.“Benar, dia sudah membunuh putraku, membuat aku tidak bisa berkumpul dengannya saat acara festival bulan, kali ini aku pasti akan membuat hidupnya lebih buruk daripada kematian!” Vito berkata dengan menggertakkan giginya.Zayn dan Justin yang mendengar percakapan kedua pria itu dari samping seketika bergidik ngeri, mereka berharap saat ini Nathan berhasil kabur. Namun pada saat itu, terdengar suara langkah kaki di halaman luar rumah, dan kemudian sosok Nathan terlihat di ruang tamu.“Tuan Nathan?!” Zayn dan Justin tampak sangat kaget saat melihat Nathan.Hudson dan Vito yang melihat Nathan bergegas bangkit berdiri dan terlihat sedikit terkejut. Mereka tidak menyangka Nathan berani langsung mendatangi mereka di sini.“Nathan, kamu masih berani menunjukkan dirimu?!” Sekarang, Nathan tidak memiliki bantuan beberapa tetua dari Saibu Care, jadi Vito tidak takut padanya, apalagi H
“Aarrghhh!”Semua orang tercengang melihat adegan ini, mereka sama sekali tidak menyangka, lengan seorang puncak penguasa Ingras akan dipatahkan oleh Nathan dalam satu pukulan, ini jelas-jelas sulit dipercaya.Hudson juga mengerutkan kening, dengan tatapan tidak percaya di matanya, dia tidak menyangka dalam waktu satu bulan kekuatan Nathan akan meningkat dengan pesat. Meskipun Vito hanyalah puncak penguasa Ingras tingkat dua, tapi dia tetaplah seorang puncak penguasa Ingras, tapi sekarang dia bahkan tidak bisa menahan satu pukulan dari Nathan.Kreeek!Saat semua orang masih terkejut, suara tulang patah kembali terdengar. Nathan meraih lengan Vito yang satu lagi dan langsung mematahkannya dengan kekuatannya.“Aaarrrggghhh~”Rasa sakit yang dahsyat membuat Vito berteriak kesakitan, dia menatap Nathan dengan ngeri. ‘Bocah ini …. bagaimana mungkin?!’ Di hadapan Nathan, dia menjadi tidak memiliki kekuatan untuk melawan.“Kamu mematahkan semua tulang bawahanku, hari ini aku akan membuatmu m
Wajah Hones memucat, dia menggertakkan gigi, lalu menekan telapak tangannya ke kepala siluman. Mata monster itu membara, ekor panjangnya mencuat dari air, lalu menyapu ke arah Nathan.BANG!Serangan dahsyat itu menghantam Nathan, melemparkannya sejauh puluhan meter ke belakang. Tubuhnya melayang di atas air, lalu menghentak permukaan laut. Ombak menggulung, dan sejenak tiba-tiba terdiam.Tapi ketika kabut mengendap, Nathan sudah berdiri kembali. Tubuhnya tak bergeming. Darah mengalir di bibirnya, namun matanya tetap dingin dan penuh murka. Dia tahu makhluk ini bukan siluman biasa. Itu hewan spiritual kelas atas, kekuatannya setara dengan sosok penguasa ingras tingkat akhir. Namun, kelemahan monster seperti ini jelas, mereka tak punya pikiran, hanya kekuatan dan tanpa strategi.Di seberang, Hones mulai tertawa getir. “Kau hebat di darat, Nathan! Tapi ini bukan medanmu! Di laut, kekuatanmu berkurang! Dan siluman ini, dia adalah dewa laut. Kalau kau menyerah sekarang, aku akan—”“Kau aka
Mereka tiba di sebuah tempat sunyi, di mana bau tanah tercampur dengan aroma kematian. Tanah di situ pernah menjadi kuburan rahasia, berisi mayat dan tengkorak dari korban kekejaman mereka.Dengan tenang, Nathan mengangkat tangannya. Dua bajak laut seketika tersedot ke arahnya seperti diseret oleh kekuatan tak kasat mata. “Gali di sini,” katanya singkat.Kedua bajak laut itu saling berpandangan dengan bingung, lalu melirik ke arah Hones, menanti perintah. Namun keraguan mereka justru menjadi hukuman.PLAK!CRAACK!Dengan satu kibasan ringan dari Nathan, kepala mereka meledak, darah menyembur ke tanah seperti bunga merah berduri. Suasana seketika sunyi mencekam.“Kalian berdua! Giliran kalian, atau ….”Tanpa sepatah kata, dua bajak laut lainnya segera menggali dengan tubuh gemetar. Tak butuh waktu lama, mayat-mayat mulai bermunculan. Ada tulang belulang yang terkubur setengah, bahkan beberapa tengkorak kecil milik anak-anak. Udara mendadak membeku, seolah kematian menari di sekitar mer
"Berhenti di situ," kata Nathan tenang, mengangkat satu tangan. "Kalau kamu tidak bisa membuat orang mati karena takut, kamu bisa saja membuat mereka mati karena bau."Suasana hening sesaat dan Hones membeku. Seumur hidupnya, belum pernah ada orang yang berani berbicara padanya seperti itu. Terlebih lagi soal bau tubuhnya."Dasar bajingan! Kau ingin mati rupanya!" Vriss meraung, melangkah cepat dengan niat menghajar Nathan.Namun baru setengah langkah mendekat, tubuh Vriss tersentak. Aura luar biasa yang memancar dari Nathan menabraknya seperti gelombang tak kasatmata. Tanpa sempat bereaksi, tubuhnya terangkat dari tanah dan menghantam dinding batu. Darah menyembur dari mulutnya, meninggalkan cipratan merah di permukaan batu yang retak.Semua terdiam. Wajah Hones memucat. Vriss bukan sembarangan, kekuatannya hampir setara dengan Hones, seorang puncak. Tapi kini, bahkan menyentuh lawannya pun tidak sempat.Nathan berdiri tak bergeming. Cahaya keemasan mulai merayap dari kulitnya, meman
Kapal pesiar itu mulai berlayar ke arah yang tidak jelas, menuju sebuah pulau kecil yang terlihat dari kejauhan. Pulau itu tampak terisolasi, dengan bebatuan gundul yang tersebar, seakan tak ada kehidupan di sana. Namun saat mereka mendekat, bau darah yang menyengat mulai tercium, mengingatkan Nathan pada sesuatu yang sangat buruk.Di atas perahu motor cepat yang membawa mereka ke pulau itu, Nathan merasa ada sesuatu yang salah. Dengan tatapan gelap, dia melihat sekitar, kerangka tulang yang tersebar di tanah, dan yang paling mencurigakan, banyak tengkorak manusia yang tergeletak di sana, tengkorak yang hilang bagian kepalanya. Bau busuk yang menusuk membuat perutnya mual.Langit mendung menggantung di atas Pulau Berlian, pulau yang namanya indah namun menyimpan kengerian yang tak terperi.Nathan berdiri terpaku di depan tumpukan tengkorak yang menggunung. Kaki para awak kapal gemetar hebat, tubuh mereka nyaris roboh, dan hanya bisa disangga oleh rekan-rekannya yang juga gemetaran. Pe
Bajak laut itu mengedipkan matanya kepada yang lain, memberi isyarat untuk memeriksa. Beberapa bajak laut bergegas pergi, melangkah cepat menuju bagian dalam kapal untuk memastikan kebenaran kata-kata awak kapal itu.Setelah beberapa saat, mereka kembali, wajah mereka tidak menunjukkan ekspresi apapun, hanya kebosanan yang samar."Memang benar hanya ada satu penumpang di sini," salah satu bajak laut itu melapor, suara datar tanpa emosi.Namun, ketegangan yang ada tak kunjung surut. "Ketua," salah satu bajak laut bertanya dengan cemas. "Apakah kita hanya akan membiarkan mereka hidup begitu saja? Apa yang harus kita lakukan setelah ini?"Bajak laut dengan tengkorak merah di dadanya mengerutkan kening, wajahnya menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam. "Sial, hanya sedikit orang. Tapi, ini masih lebih baik daripada tak mendapatkan apapun."Dia memutar tubuhnya dengan tidak sabar, menyapu tangan ke udara seperti menepis gangguan kecil. "Bawa mereka semua kembali. Dan soal apa yang akan ter
Di atas lautan yang luas dan sunyi, kapal pesiar mewah itu melayang di atas ombak yang tenang.Kapal itu terlihat seperti benda asing di tengah kebiruan, tak ada tujuan yang jelas selain mengambang. Di dalam, hanya ada Nathan, yang seakan mengasingkan diri dalam hening yang menyesakkan. Dalam kamar yang sederhana, tanpa hiasan berlebihan, dia duduk bersila.Setiap tarikan napasnya terasa berat, seolah seluruh tubuhnya menanggung beban yang jauh lebih besar dari sekadar fisik. “Jika aku bisa mencapai tahap Surga,” pikirnya, memejamkan mata dan merasakan aliran energi di dalam tubuhnya. "Mungkin aku bisa menyelamatkan ibuku dan Sarah. Jika bukan itu, setidaknya aku bisa menyelamatkan diri sendiri dari kejaran semua orang yang ingin menghabisiku.”Namun, perjalanan itu tidaklah mudah. Tahap Surga bukan hanya tentang kekuatan, tapi juga tentang kesetiaan terhadap diri sendiri. Setelah mencapai tahap ini, tubuhnya akan terasa abadi, seolah tidak terikat oleh hukum dunia. Namun, seperti sem
Raut wajahnya dingin dan penuh percaya diri. “Sekarang, sudah cukup alasan bagimu untuk tunduk?”Tubuh Darwin menegang, dan untuk sesaat, hanya ada keheningan. Lalu dia membungkuk dalam-dalam. “Perintah diterima.”Sancho melemparkan sebuah amplop ke atas meja, yang mendarat dengan suara tumpul. “Di dalamnya ada target, bunuh dia. Gagal atau berhasil, namaku tidak pernah disebut. Anggap saja aku tidak pernah ada.”“Siap laksanakan,” jawab Darwin tanpa ragu, meski ada jejak ketegangan di suaranya.Begitu Sancho menghilang ke balik bayangan, Darwin membuka amplop itu dengan hati-hati. Sebuah foto tergelincir keluar dan wajah yang muncul membuat darahnya berdesir.“Nathan?”“Tuan Ketua Martial Shrine. kau ternyata menyembunyikan lebih dari yang kutahu!”Sementara itu, dunia bela diri tengah bergolak.Di forum-forum rahasia, nama Nathan menjadi pusat badai. Harga kepalanya terus meroket. Tidak hanya uang dan ramuan, bahkan artefak langka ditawarkan untuk sekadar mendapatkan jejak keberadaa
Sancho menyapu pandangannya ke penjaga di sekitar ruangan, dan senyum tipis terukir di wajahnya. "Masalah yang ingin aku bicarakan bersifat rahasia. Aku tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya."Mendengar itu, Darwin langsung mengernyitkan keningnya. Dia tahu ini akan membawa masalah, namun dia tidak menyangka akan secepat ini.Sancho menyadari kegelisahan Darwin. "Ketua Darwin," katanya dengan nada dingin. "Jika aku ingin membunuhmu, walaupun seluruh penjaga di ruangan ini ada di sini, mereka tidak akan mampu menghentikanku," suaranya semakin keras, menggetarkan suasana.Tanpa menunggu tanggapan, Sancho mengibaskan tangannya dengan tegas. "Kalian semua, keluar!" Perintahnya menggema, dan para penjaga segera berlalu tanpa banyak bicara.Begitu hanya mereka berdua yang tersisa, Darwin menatap Sancho dengan tajam, menunggu penjelasan lebih lanjut. "Sekarang, kamu bisa bicara, Ketua Sancho," katanya.Sancho menatapnya dengan tatapan tajam. "Ketika aku datang kemari, tujuan utamaku a
Kota Wayoe, batas barat daya yang selalu basah oleh kabut pagi dan harum dedaunan liar. Dibelah oleh lembah dan pepohonan cemara tua, tempat ini adalah surga tersembunyi atau neraka yang menunggu bangkit.Di kedalaman gua purba, tersembunyilah Organisasi Fushi, kelompok kultivator hitam yang diburu di mana-mana. Tak punya sejarah panjang, namun ditakuti karena brutalitas dan teknik kultivasi terlarangnya.Di ruang kultivasi, Darwin duduk melayang, dikelilingi pusaran tulang dan aura kehitaman. Kerangka manusia melayang seperti angin musim gugur yang membawa kematian.Tiba-tiba, terdengar suara langkah diikuti suara tergesa.“Ketua! Gawat!” teriak seorang penjaga, menerobos masuk.Mata Darwin terbuka, merah menyala, tangan kirinya terulur cepat.Hwoosshh~Energi hisap menyedot penjaga itu ke hadapannya. Cakar gelap mencengkeram lehernya. “Sudah berapa kali kubilang?” desisnya. "Jangan ganggu saat aku berkultivasi.”Penjaga itu menggeliat dan wajahnya memerah. “Ma-maaf! Tapi .... a-ada