공유

Kenikmatan Bertiga
Kenikmatan Bertiga
작가: Nando

Bab 1

작가: Nando
Namaku Andrew Loide, seorang mahasiswa.

Beberapa hari yang lalu, libur musim panas tiba. Karena tidak ada kegiatan di rumah, aku memutuskan pergi ke Kota Sentari untuk mengunjungi kakakku.

Baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, aku melihat kakak iparku, Kak Evelin, keluar dari kamar dengan mengenakan gaun tidur tipis bertali satu.

"Andrew sudah datang? Sini, biar Kakak peluk."

Seketika, aroma manis dan harum menyeruak menusuk hidung. Kak Evelin memelukku erat.

Aku bisa merasakan bahwa dia tidak memakai bra. Payudaranya yang kenyal dan bulat, hanya terhalang dua lapis kain tipis, menempel lekat di dadaku. Sensasi itu membuat sekujur tubuhku terasa kesemutan. Aku refleks sedikit membusungkan dada, menggeseknya pelan.

Setelah pelukan terlepas, Kak Evelin sama sekali tidak menyalahkan sikapku yang tidak sopan.

Dia justru mengerlingkan matanya padaku, seolah-olah sedang menertawakan fakta bahwa aku sudah dewasa dan mulai paham cara mencari kesempatan pada wanita.

Wajahnya yang cantik merona kemerahan, tampak sangat menawan.

Kak Evelin sudah berpacaran dengan kakakku sejak SMA, jadi hubungan kami sangat dekat. Dulu saat masih di kampung halaman, dia sering mengajakku saat mereka berkencan. Dia bahkan dengan bangga memperkenalkanku kepada teman-temannya, "Lihat, aku punya adik laki-laki yang ganteng!"

Kupikir, dia benar-benar menganggapku sebagai adiknya sendiri.

Namun celakanya, aku merasa terobsesi padanya. Bahkan saat bersenang-senang sendiri, dialah yang selalu menjadi objek fantasiku.

Yang lebih parah lagi, aku sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan hal itu, malah semakin menjadi-jadi.

Titik balik hubungan kami terjadi pada sore hari, setelah aku mengintipnya berhubungan intim dengan kakakku.

Hari itu, AC di kamar tamu rusak. Aku terbangun dengan kepala pening karena merasa gerah dan berniat keluar untuk mengambil air minum.

Namun baru saja sampai di ruang tamu, sebuah rintihan halus merambat keluar dari kamar utama. Suara itu meledak di telingaku, membuatku seketika terjaga sepenuhnya.

"Pelan ... pelan sedikit, dalam banget ...."

Mereka tidak menutup pintu dengan rapat. Dari sudut pandangku di sisi belakang tempat tidur, aku tidak bisa melihat wajah kakakku, hanya terlihat dua orang yang telanjang bulat.

Kak Evelin berbaring telentang di ranjang, kedua kakinya yang putih mulus diangkat tinggi dan bertumpu di bahu kakakku.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat bagian paling pribadi dari Kak Evelin.

Aku menjilat bibirku sendiri, memperhatikan tangan Kak Evelin mencengkeram seprei sambil mendesah manja. Jari-jari kaki kecilnya yang menggantung di udara, menekuk erat karena gemetar, menahan gempuran kasar dari suaminya sendiri.

"Enak?"

Suara berat Kakak terdengar dari dalam kamar.

"Ya ...."

Kak Evelin mengeluarkan suara-suara kecil yang menggoda layaknya hewan mungil, mendengking lembut mengikuti ritme Kakak.

Aku menontonnya dengan perasaan puas sekaligus cemburu.

Puas karena melihat Kak Evelin yang lembut dan cantik itu membuka lebar kedua kakinya, memperlihatkan sisi paling rapuh sekaligus paling erotisnya.

Cemburu karena terpikir, andai pria yang menindihnya itu adalah aku, betapa nikmatnya itu.

Kaki Kak Evelin masih gemetar, pinggulnya diangkat semakin tinggi hingga tubuhnya tampak terlipat.

"Bokong besar ini ... benar-benar menggoda."

Gerakan Kakak mulai semakin bertenaga. Punggungnya yang lebar dan bokongnya yang kekar terus bergerak tanpa henti, seperti banteng jantan yang tak kenal lelah.

Kaki mungil Kak Evelin menegang lurus, napasnya menderu berat. "Andrew, Andrew ...."

Jantungku seakan meledak, kukira dia menyadari keberadaanku. Aku bergegas menarik kepala kembali.

Namun, kemudian kudengar suara Kakak tertawa kecil. "Sebegitu sukanya kamu pada adik iparmu? Mau tidur dengannya?"

Rintihan Kak Evelin tak henti-hentinya keluar dari bibirnya, sulit dibedakan apakah dia sedang menikmati atau justru tersiksa.

"Ah! Kamu ... main dengan wanita jalang di luar sana ... kenapa aku ... nggak boleh tidur dengan Andrew?"

"Sekarang ... siapa yang membuatmu lebih puas? Aku ... atau Andrew?"

Ranjang itu berderit hebat beberapa kali lagi. Embusan angin dari lorong perlahan meniup pintu kayu kamar utama hingga terbuka lebih lebar.

Wajah cantik Kak Evelin yang penuh gairah itu, terpampang nyata di depan mataku. Kami saling beradu pandang dengan cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Jantungku berdegup kencang. Perasaan yang terasa tidak nyata, menjalar ke seluruh tubuhku seperti sengatan listrik. Padahal jelas-jelas udara sedang lembap dan panas, tapi aku merasakan sensasi dingin yang merambat masuk melalui pori-pori kulitku yang terbuka.

Sorot matanya sangat aneh. Itu adalah tatapan kosong yang belum pernah kulihat sebelumnya. Seolah dia melihatku, namun juga seolah menembus tubuhku. Mulutnya ternganga tapi tak mampu mengeluarkan suara, bibirnya gemetar tak terkendali.

Hingga akhirnya, pria di atasnya mempercepat gerakannya dengan ganas. Fokus di matanya yang sempat terkumpul kembali buyar seolah menyerah, bagian putih matanya berputar ke atas.

Ekspresi yang mencampurkan rasa nikmat, birahi, dan pergulatan batin, muncul bersamaan di wajah cantik yang sangat kukenal itu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kenikmatan Bertiga   Bab 7

    Mendengar keributan di dalam, Kakak berlari masuk. Dia langsung pasang badan di depanku, menghentikan amukan Ayah."Ayah, jangan pukul Andrew! Ini bukan idenya, aku yang menyuruhnya melakukan ini!"Belum pernah aku melihat Ayah semarah ini. Matanya berkilat penuh murka, seolah bisa membakar udara di sekitar. Napasnya memburu tidak teratur."Kalau begitu, kupukul kalian berdua sekalian!"Ibu merangkul Kak Evelin dalam pelukannya. Air mata mereka berdua bercampur jadi satu. Suara Ibu bergetar saat mencoba menenangkan, "Nak, Ibu sudah dengar semuanya. Kamu sudah sangat menderita. Tapi hal seperti ini ... sama sekali nggak boleh kita lakukan. Ini melanggar norma dan garis keturunan, ini adalah prinsip dasar manusia!"Wajah Ayah masih pucat pasi karena marah. Beliau mengatur napasnya yang menderu, berdeham pelan, lalu berkata dengan suara menggelegar, "Kenapa nggak bilang saja pada kami dari awal? Kenapa harus melakukan hal yang menyalahi kodrat dan etika begini?"Aku dan Kakak hanya bisa m

  • Kenikmatan Bertiga   Bab 6

    "Kalau kamu mau, itu yang terbaik. Tapi kalau memang nggak mau, nggak apa-apa. Nanti kalau kamu menikah, seluruh harta milikku akan kuwariskan untuk anak-anakmu."Aku menatap Kakak. Pria yang sejak kecil selalu melindungi dan menjagaku itu, kini menunjukkan kerapuhan dan ketidakberdayaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata di matanya.Aku mengerti perasaannya. Sebagai seorang pria, fakta bahwa dia tidak bisa membuat istrinya hamil adalah pukulan yang sangat berat dan menghancurkan harga dirinya.Aku bisa merasakan keputusasaan dan kepasrahan Kakak. Melihat sorot matanya yang penuh harap dan permohonan, aku sama sekali tidak bisa mengucapkan kata "tidak".Aku pun menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Kak, aku akan mencobanya."Secercah senyum lega akhirnya muncul di wajah Kakak, meski di balik senyum itu terselip kepedihan yang tak kasat mata.Dia tampak sangat senang, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. "Hari ini adalah masa subur Evelin. Pergilah ke sana."Su

  • Kenikmatan Bertiga   Bab 5

    Gerakan Kak Evelin mendadak terhenti. Wajahnya makin pucat, bahunya mulai gemetar. Jelas sekali dia sedang berusaha sekuat tenaga menahan emosinya. Dia membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.Aku ketakutan sampai otakku mendadak kosong. Tidak tahu harus bicara apa, aku hanya bisa ikut berjongkok dengan kikuk di depannya. " Kak Evelin, maafkan aku ...."Tiba-tiba dia mendongak. Matanya merah dan sembab, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Bukan ... bukan karena pekerjaan ...."Dia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian.Melihat wajahnya yang begitu merana, aku yang tidak pandai merangkai kata-kata penghibur, hanya bisa mengikuti alur pembicaraannya."Lalu kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama ...."Dia mengedipkan matanya yang indah dan berair, menatapku dengan tatapan memelas. Air matanya akhirnya jatuh tak terbendung, suaranya rendah dan gemetar. "Sebenarnya ... kami sudah tahu sejak lama kalau kami nggak akan pernah bi

  • Kenikmatan Bertiga   Bab 4

    "Ayah, urusan kami biar kami selesaikan sendiri. Ayah nggak perlu ikut campur."Suasana seketika menjadi tegang. Tidak ada yang mau mengalah. Aku dan Kak Evelin bahkan tidak berani bernapas keras-keras, takut menjadi sasaran amarah mereka.Tapi kalau dipikir-pikir memang aneh. Biasanya Kakak emosinya stabil, kenapa hari ini dia tiba-tiba begitu gampang marah?Ibu mencoba meredakan suasana, dia berkata dengan penuh perhatian, "Nak, kami ‘kan cuma khawatir dengan kesehatan kalian. Lebih cepat diperiksa, lebih cepat tenang."Kakak mengerutkan kening, menatap Ayah dengan tatapan menantang. "Bu, sudah kubilang, kami baik-baik saja. Kami punya rencana sendiri, nggak perlu bantuan Ayah dan Ibu."Wajah Ayah mulai memerah menahan amarah yang meledak. Dia menggebrak gelas ke atas meja dengan keras sambil bertanya penuh tuntutan, "Punya rencana sendiri? Kalau begitu, beri tahu kami! Kalau begini terus, bagaimana kami bisa tenang?"Emosi Kakak mulai lepas kendali. Dia berdiri, suaranya terdengar s

  • Kenikmatan Bertiga   Bab 3

    Jantungku berdegup kencang seketika, bicaraku pun jadi gagap. "Ka-Kakak ... kamu ... sudah pulang ...?" Kakak duduk di tepi ranjang, lalu terkekeh. "Bagaimana? Payudara kakak iparmu empuk nggak?""A-aku ... itu ... empuk ...." jawabku ngawur, benar-benar mati kutu.Melihatku yang tampak sangat kikuk sampai sulit bicara, Kak Evelin menjulurkan kakinya dan menendang Kakak pelan. "Jangan goda Andrew terus!"Baru saat itulah Kakak menoleh, menarik Kak Evelin ke dalam pelukannya, dan mulai meremas payudaranya. "Kamu ini, sayang sekali ya pada adik iparmu? Apa kamu mau kami berdua tidur denganmu?""Andrew sudah menahannya sampai tegang begitu, kasihan ‘kan kalau dipendam."Menikmati belaian itu, Kak Evelin membalikkan tubuhnya menjadi telentang, pinggulnya bergerak-gerak kecil mendekat ke arahku, napasnya kembali menderu cepat. "Lagi pula ... bukannya kamu sendiri yang bilang mau coba tidur bertiga?"Selesai bicara, dia menunggingkan bokongnya yang bulat dan putih mulus ke arahku. "Kemari,

  • Kenikmatan Bertiga   Bab 2

    Hatiku kalang kabut. Aku tidak sanggup menonton mereka lebih lama lagi. Dengan kepala yang pening, aku kembali ke kamarku, melemparkan celana dalamku jauh-jauh, dan jatuh tertidur dalam keadaan linglung. Entah berapa lama berlalu, aku tersentak bangun karena mendengar suara dari luar pintu. Itu adalah suara Kakak."Aku pergi sebentar karena ada urusan pekerjaan, satu jam lagi aku pulang." Lalu pintu depan terdengar berdentum tertutup dan terkunci. Apakah dia sedang bicara padaku?Aku terbangun dengan tenggorokan kering kerontang. Baru teringat kalau sore tadi aku terlalu sibuk mengintip sampai lupa minum. Aku pun segera memakai celana dalam, lalu berjalan ke ruang tamu untuk meminum segelas air es. Pikiranku mulai jernih kembali. Perhatianku kini terpusat pada bagian bawah tubuhku yang sudah menegang sempurna. Itu adalah jenis hasrat yang sudah di ujung tanduk. Hanya butuh sentuhan kecil untuk membuatnya meledak.Aku menjulurkan kepala mengintip ke kamar utama, lalu memanggil pelan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status