LOGINKetika Irwan pulang sore itu dan mendapati Maya segar dan bahkan sedang memasak di dapur, dia tampak takjub.
"Lho? Bukannya tadi pagi kamu sakit banget?" tanyanya heran.
"Minuman Pak Karyo ampuh banget," Maya tersenyum, mengaduk sup ayam di panci. "Terus pijatannya juga ngebantu, Yang. Aku langsung seger lagi."
Irwan melingkarkan tangannya di pinggang Maya dari belakang, mencium pipinya. "Syukurlah. Aku khawatir banget tadi."
"Kamu lebay deh," Maya tertawa kecil, menyandarkan kepalanya ke bahu Irwan. "Cuma morning sickness biasa kok."
"Biasa gimana? Kamu muntah-muntah kayak kesurupan gitu," Irwan menggeleng. "Untung ada Pak Karyo."
Maya terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam cara Irwan menyebut nama Pak Karyo yang membuatnya menoleh. "Kenapa? Kamu... nggak nyaman Pak Karyo bantuin aku?"
"Bukan gitu," Irwan
Ratih meletakkan pisaunya, jari-jarinya gemetar saat narik napas panjang. Dia natap potongan kentang di depannya seolah benda itu paling menarik sedunia."Itu..." Ratih menelan ludah, suaranya pelan. "Pak Karyo lagi... nyobain jamunya. Nyari dosis yang pas."Maya mengernyitkan kening, sedikit condong ke depan. "Jamu?"Ratih mengangguk, jari-jarinya saling bertaut di pangkuannya. "Jamu kuat, Bu. Yang... yang bikin Pak Karyo hampir... sama Bu Maya waktu itu." Kalimat terakhir hampir nggak kedengeran."Oh..." Pemahaman nyapu wajah Maya kayak ombak. Dia duduk tegak, tangannya refleks meluk perutnya yang besar. "Kenapa dia masih minum jamu itu? Bukannya udah jelas bahaya?"Ratih ngangkat wajahnya, matanya ketemu Maya untuk pertama kali sejak topik ini dimulai. Ada keteguhan di sana yang bikin kaget."Dosis yang waktu itu kebanyakan, Bu. Kita... lagi nyari dosis yang pas. Yang bikin dia... bisa ngo
Satu bulan telah berlalu. Kehamilan Maya kini memasuki bulan terakhir, tubuhnya semakin berat dan sering terasa tidak nyaman. Sore itu, Maya menangkap sosok Ratih sendirian di beranda belakang, duduk dengan sekeranjang kentang yang sedang dikupas.Dorongan untuk bergabung dengannya muncul secara tidak terduga. Mungkin karena kesepian, mungkin karena penasaran, atau mungkin karena intuisi wanita yang menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan Ratih."Boleh aku duduk di sini?" tanya Maya, mengejutkan Ratih yang tampak tenggelam dalam pikirannya."Bu Maya! Silakan, Bu," Ratih buru-buru bergeser, memberi tempat. Tangannya yang memegang pisau pengupas terlihat gemetar sedikit.Maya duduk perlahan, menghela napas lega saat berat tubuhnya berpindah dari kaki ke kursi. "Lega banget bisa duduk. Pinggang aku sakit banget akhir-akhir ini."Ratih tersenyum kecil, "Memang gitu, Bu. Bulan terakhir paling berat. Ta
Irwan membungkuk, mengecup leher Maya, menggigitnya pelan. Maya merasakan darahnya berdesir, sensasi yang hampir terlupa. "Hmmmh... lagi dong," pintanya, tangannya mencengkeram rambut Irwan, mendorongnya lebih dekat.Tangan Irwan bergerak naik, menemukan payudara Maya yang kini lebih besar karena kehamilan. "Kamu cantik banget," bisiknya, "lebih cantik dari sebelumnya."Maya merintih saat Irwan meremas dadanya, ibu jarinya menggosok puting yang mengeras. Kehamilan membuatnya jauh lebih sensitif. "Aduh, Wan... pelan-pelan dong," pintanya, tapi tangannya justru mendorong tangan Irwan lebih kuat ke dadanya.Irwan menyeringai, menurunkan bibirnya ke dada Maya, menggantikan jarinya dengan lidahnya. Maya melengkungkan punggungnya, merasakan lidah Irwan melingkari putingnya yang menghitam dan membesar akibat kehamilan."Ahh... aduh... enak banget..." Maya memejamkan mata, kepalanya terlempar ke belakang. Irwan menggerakk
Ketika Irwan pulang malam itu, dia menemukan Maya duduk melamun di beranda belakang, wajahnya basah oleh air mata yang tak lagi dia coba sembunyikan."Sayang? Kenapa?" Irwan berlutut di depannya, wajahnya penuh kekhawatiran.Maya menatapnya lama, menimbang-nimbang apa yang harus dikatakan. Akhirnya, dia memutuskan untuk jujur."Aku... aku mendengar mereka, Wan," bisiknya. "Pak Karyo dan Ratih. Di kamar mereka."Irwan terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Apa mereka... terlalu berisik? Mengganggu istirahatmu?"Maya menggeleng pelan. "Bukan itu masalahnya.""Lalu?""Aku..." Maya menelan ludah, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga ingin, Wan. Tapi... aku masih takut."Irwan menggenggam kedua tangan istrinya, matanya menatap lembut. Ini bukan reaksi yang Maya perkirakan—tidak ada kemarahan, tidak ada kecemburuan."Apa kamu..." Irwan memil
Beberapa hari berikutnya, Maya kembali mendengar suara-suara itu.Kali ini berbeda. Dosis jamu yang Karyo konsumsi tampaknya sudah jauh lebih tepat. Dari balik dinding, desahan Ratih terdengar murni kenikmatan, bukan lagi jeritan kesakitan bercampur nikmat seperti sebelumnya."Ahhh... Mas... enak..." Suara Ratih mengalun, lembut namun penuh gairah. "Di situ... ya... terus..."Maya berdiri mematung di koridor, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang membesar. Seharusnya dia beranjak pergi, kembali ke kamarnya di lantai atas. Tapi kakinya seperti terpaku, telinganya menangkap setiap detail."Mas... Mas Karyo... aduh!" Ratih meracau di balik pintu. Derit ranjang semakin cepat dan berirama. "Ahhhh! Lagi... lagi..."Tubuh Maya bereaksi tanpa bisa ditahan. Kehangatan menjalar dari dadanya, turun ke perut, lalu semakin ke bawah. Tangannya bergerak naik, tanpa sadar meremas payudaranya sendiri yang sensiti
Seiring Maya yang semakin sering beristirahat di rumah—dokter menyarankan mengurangi aktivitas di trimester ketiga—dia mulai menyadari suara-suara aneh dari kamar tamu. Pertama kali dia mendengarnya, itu hanyalah suara samar—derit ranjang dan bisikan rendah yang hampir tak terdengar.Maya sedang berbaring di kamarnya, mencoba tidur siang untuk mengurangi lelah, ketika suara pertama tertangkap telinganya. Awalnya dia mengira itu hanya suara angin atau jendela yang tidak tertutup rapat. Tapi kemudian, suara itu muncul lagi—erangan tertahan yang sangat familiar.Maya baru saja kembali dari kontrol kandungan sendirian—Irwan ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal. Rumah tampak sepi saat dia membuka pintu depan, pukul 11 siang. Biasanya Ratih menyambutnya dengan teh hangat, tapi hari ini tidak ada tanda-tanda aktivitas."Ratih?" Maya memanggil pelan sambil melepas sepatunya.







