LOGINKata-kata Ratih menghantam Karyo seperti air dingin yang menyadarkan. Dia menatap Dani, putranya yang polos, yang tidak tahu bahwa masa depannya kini bergantung pada kepatuhan ayahnya sebagai pemuas nafsu orang lain. Pipinya terasa panas, airmata yang mendesak keluar ditahannya mati-matian.Berapa harga seorang ayah? Berapa harga sebuah beasiswa? Berapa harga harga diri?"Kabeh lamunanku... racun," (Semua lamunanku... racun,) bisik Karyo, mengakui kebenaran pahit itu akhirnya.Matanya bergerak dari Dani ke Ratih, melihat istrinya dalam cahaya baru. Di tengah kehancurannya, di antara serpihan mimpi-mimpinya yang berhamburan, Ratih masih berdiri tegak—menawarkan kekuatan yang tak pernah ia sadari sebelumnya."Tapi kowe..." (Tapi kamu...) Suara Karyo tercekat, tertahan oleh gumpalan emosi di kerongkongannya. "Kowe isih nyoto, Tih. Kowe dudu lamunan." (Kamu masih nyata, Tih. Kamu bukan lamunan.)Karyo
Hari telah beranjak malam. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh, dan rumah mewah itu telah hening. Maya dan Irwan sudah beristirahat di kamar utama bersama Karya yang baru saja tertidur pulas setelah sesi menyusui terakhir. Hanya lampu-lampu remang yang menyala di beberapa sudut, memberikan penerangan minim yang menciptakan bayangan-bayangan panjang di sepanjang lorong.Di kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal keluarga Karyo, Ratih duduk di tepi ranjang dengan punggung bersandar pada bantal. Daster tidurnya yang sederhana sedikit tersingkap di bagian paha, tapi dia tidak ambil pusing—fokusnya terpaku pada layar ponsel yang ia scroll dengan ibu jari. Sesekali bibirnya mengulas senyum tipis, mungkin melihat foto-foto teman dari kampung yang menghiasi timeline media sosialnya.Di sampingnya, Dani tertidur pulas. Bocah berusia empat tahun itu berbaring menyamping dengan tangan kecilnya mengepal di dekat wajah. Napasnya teratur
Di teras belakang yang dibatasi pintu kaca besar, Karyo mengepel lantai keramik dengan gerakan monoton. Kain pel di tangannya bergerak maju-mundur dengan ritme teratur, tapi matanya tak sekalipun meninggalkan pemandangan di balik kaca itu.Istrinya, Ratih, sedang mengajari Maya cara memegang Karya—anaknya sendiri, darah dagingnya, yang tidak bisa ia akui di depan umum.Karyo menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Matahari Jakarta semakin terik, tapi bukan panas yang membuatnya berkeringat. Ada rasa panas lain yang menjalar dari dalam—campuran rasa rindu, cemburu, dan kemarahan yang tertahan.Tangannya berhenti bergerak. Kain pel terabaikan di lantai saat matanya terpaku pada adegan di balik kaca. Dua perempuan dan seorang bayi. Istrinya, wanita yang pernah ia cumbui, dan anak biologisnya sendiri. Sebuah keluarga yang nyata sekaligus tidak nyata.Pikirannya mulai melayang.Dalam peng
Seminggu berlalu sejak kejadian di pagi subuh itu. Kehidupan di rumah perlahan menemukan ritme barunya, meski semua orang masih beradaptasi dengan kehadiran Karya. Di ruang keluarga yang terang benderang oleh sinar matahari pagi, Maya duduk di sofa besar dengan Karya di pangkuannya. Setelah sesi menyusui yang melelahkan, dia mencoba mengingat cara menggendong yang benar seperti yang Ratih tunjukkan sebelumnya."Kok rasanya tanganku selalu salah posisi ya," keluh Maya, tangannya terasa canggung menopang tubuh mungil putranya.Bayinya yang baru berusia seminggu itu menggeliat tidak nyaman. Meski wajah mungilnya belum sepenuhnya mengungkapkan ekspresi, kerutan di dahinya dan gerakan tubuhnya yang gelisah menunjukkan ketidaknyamanan. Maya merasa hatinya mencelos. Rasa frustrasi menyengat, seperti tusukan jarum-jarum kecil di harga dirinya. Insting ibu yang seharusnya secara alamiah muncul terasa begitu asing baginya."Sayang...
Dari balik pintu kamar utama yang sedikit terbuka, Karyo menyaksikan seluruh adegan dalam diam. Dia telah bangun sejak tangisan pertama Karya terdengar, tapi memilih tidak menampakkan diri. Bukan tempatnya untuk ikut campur, terutama setelah "hukuman" yang dijatuhkan Irwan pasca-insiden jamu beberapa bulan lalu.Tangannya mengepal keras, matanya tak lepas dari pemandangan Karya dalam pelukan Maya, sementara Ratih dengan sabar memberikan instruksi. Ada sesuatu yang janggal dalam hatinya—campuran rasa bangga akan kemampuan Ratih dan rasa sakit melihat bayinya, darah dagingnya sendiri, dalam situasi di mana dia tidak bisa mengakui atau mendekat."Karya..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.Karyo mundur perlahan. Dia bergerak seperti bayangan di rumah itu, memastikan kehadirannya tidak terdeteksi. Beberapa saat kemudian, dia melangkah keluar dari kamar utama yang pintunya telah sengaj
Di minggu pertama setelah kepulangan pasca bersalin, sebuah tangisan memecah keheningan subuh. Tangisan itu seperti sirine darurat. Tajam, mendesak, menuntut perhatian segera.Maya tersentak bangun dari tidurnya yang dangkal, kesadarannya langsung penuh meski matanya masih berat. Tiga hari di rumah dengan Karya terasa seperti tiga minggu tanpa tidur nyenyak. Setiap saat tubuhnya hampir menyerah pada kelelahan, tangisan putranya kembali menariknya ke permukaan realitas yang keras."Karya... sayang..." Maya berbisik, berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Rasa sakit tajam dari jahitan episiotomi langsung menyengatnya. "Aduh!"Di sampingnya, Irwan sudah terduduk, matanya terbuka lebar seperti baru tersengat listrik. Tangannya refleks meraih tablet di nakas. "Ini aneh," gumamnya, jari-jarinya cepat menggeser layar yang menampilkan grafik berwarna dengan garis-garis naik turun. "Lihat, checklistnya udah semua, nyusu, ganti






