Share

Bab 55

Author: Waterverri
last update Last Updated: 2025-09-07 09:04:46
Wajah Maya semakin memerah, bayangan dirinya klimaks di dapur sementara Irwan berada di ruang kerja membuatnya malu sekaligus... anehnya, sedikit terangsang. "Tapi itu beda!" protesnya, suaranya lebih tegas meski tubuhnya masih lemas. 'Tadi pagi kan di dapur... Irwan masih di rumah!"

"Tapi Bu Maya nikmatin, kan?" tanya Pak Karyo, matanya menatap tajam ke mata Maya. Jari-jarinya yang basah oleh cairan Maya dia angkat ke wajahnya sendiri, menghirup aroma intim Maya dengan nikmat sebelum menjilat jarinya sendiri dengan gerakan lambat yang vulgar.

Maya terkesiap melihat gerakan intim itu, pipinya terbakar malu. Jantungnya berdegup liar melihat Pak Karyo begitu menikmati rasanya di jari. Perutnya terasa mulas campuran gairah dan rasa bersalah yang tidak bisa dia jelaskan.

"I-iya, tapi... Maya tergagap, tangannya mencengkeram tepi meja lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Itu beda banget! Di dapur tadi... tanpa jadwal... tanpa kesepakatan... itu bukan program!"

Dia menelan l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 501

    Seminggu berlalu sejak kejadian di pagi subuh itu. Kehidupan di rumah perlahan menemukan ritme barunya, meski semua orang masih beradaptasi dengan kehadiran Karya. Di ruang keluarga yang terang benderang oleh sinar matahari pagi, Maya duduk di sofa besar dengan Karya di pangkuannya. Setelah sesi menyusui yang melelahkan, dia mencoba mengingat cara menggendong yang benar seperti yang Ratih tunjukkan sebelumnya."Kok rasanya tanganku selalu salah posisi ya," keluh Maya, tangannya terasa canggung menopang tubuh mungil putranya.Bayinya yang baru berusia seminggu itu menggeliat tidak nyaman. Meski wajah mungilnya belum sepenuhnya mengungkapkan ekspresi, kerutan di dahinya dan gerakan tubuhnya yang gelisah menunjukkan ketidaknyamanan. Maya merasa hatinya mencelos. Rasa frustrasi menyengat, seperti tusukan jarum-jarum kecil di harga dirinya. Insting ibu yang seharusnya secara alamiah muncul terasa begitu asing baginya."Sayang...

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 500

    Dari balik pintu kamar utama yang sedikit terbuka, Karyo menyaksikan seluruh adegan dalam diam. Dia telah bangun sejak tangisan pertama Karya terdengar, tapi memilih tidak menampakkan diri. Bukan tempatnya untuk ikut campur, terutama setelah "hukuman" yang dijatuhkan Irwan pasca-insiden jamu beberapa bulan lalu.Tangannya mengepal keras, matanya tak lepas dari pemandangan Karya dalam pelukan Maya, sementara Ratih dengan sabar memberikan instruksi. Ada sesuatu yang janggal dalam hatinya—campuran rasa bangga akan kemampuan Ratih dan rasa sakit melihat bayinya, darah dagingnya sendiri, dalam situasi di mana dia tidak bisa mengakui atau mendekat."Karya..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.Karyo mundur perlahan. Dia bergerak seperti bayangan di rumah itu, memastikan kehadirannya tidak terdeteksi. Beberapa saat kemudian, dia melangkah keluar dari kamar utama yang pintunya telah sengaj

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 499

    Di minggu pertama setelah kepulangan pasca bersalin, sebuah tangisan memecah keheningan subuh. Tangisan itu seperti sirine darurat. Tajam, mendesak, menuntut perhatian segera.Maya tersentak bangun dari tidurnya yang dangkal, kesadarannya langsung penuh meski matanya masih berat. Tiga hari di rumah dengan Karya terasa seperti tiga minggu tanpa tidur nyenyak. Setiap saat tubuhnya hampir menyerah pada kelelahan, tangisan putranya kembali menariknya ke permukaan realitas yang keras."Karya... sayang..." Maya berbisik, berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Rasa sakit tajam dari jahitan episiotomi langsung menyengatnya. "Aduh!"Di sampingnya, Irwan sudah terduduk, matanya terbuka lebar seperti baru tersengat listrik. Tangannya refleks meraih tablet di nakas. "Ini aneh," gumamnya, jari-jarinya cepat menggeser layar yang menampilkan grafik berwarna dengan garis-garis naik turun. "Lihat, checklistnya udah semua, nyusu, ganti

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 498

    Sementara keluarga besar sibuk mengerumuni box bayi, Ratih dengan efisien mengatur semua keperluan—mengganti bunga yang mulai layu, mengemas makanan yang dibawa pengunjung, memastikan Maya cukup minum. Dani bermain di sudut ruangan dengan mobil-mobilan yang dibawakan oleh adik Maya."Ratih, kamu dan keluargamu benar-benar luar biasa," ibu Maya berkomentar, tangannya menepuk pundak Ratih. "Selalu siap membantu kapan pun. Maya beruntung punya kalian."Ratih menunduk sopan. "Sudah kewajiban kami, Bu." Tangannya meraih Dani, mengajaknya kembali bermain di sudut ruangan.Malam menjelang dan pengunjung mulai berpamitan. Hanya tinggal Irwan, Maya, dan Karya di kamar itu, dengan Ratih dan Dani yang sesekali masuk untuk mengecek kebutuhan mereka. Perawat masuk membawa troli berisi perlengkapan bayi, tersenyum ramah."Waktunya ganti popok dan pemeriksaan rutin, Bu," ujarnya. "Mau saya bantu atau Ibu mau mencoba sendir

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 497

    Enam jam berlalu dalam ketegangan. Di ruang bersalin, Maya berjuang dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya lepek menempel di dahi dan leher. Teriakan dan erangan kesakitannya bergema di ruangan itu, sesekali diselingi instruksi tegas dari dokter dan bidan."Sedikit lagi, Bu Maya. Kepalanya sudah mulai terlihat," dokter memberikan semangat.Di sampingnya, Irwan menggenggam tangannya erat, membisikkan kata-kata dukungan di antara napas Maya yang terengah. "Kamu kuat, sayang. Kamu bisa."Maya mengerahkan seluruh tenaganya untuk satu dorongan terakhir yang panjang dan menyakitkan. Suara tangisan bayi yang pertama kali memecah keheningan adalah melodi terindah yang pernah mereka dengar."Selamat, Pak, Bu. Bayi laki-laki, sehat sempurna," dokter mengumumkan dengan senyum lebar.Air mata Maya mengalir deras melihat sosok mungil berlumuran darah yang diangkat ke udar

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 496

    Sakit itu datang di tengah malam, menusuk dan menghantam hingga Maya tersentak dari tidurnya. Satu tangan meremas seprai, yang lain mencengkeram perutnya. Nafasnya terputus-putus, keringat dingin mengalir di dahi."Wan... Irwan..." Maya berbisik, suaranya tercekat. Sentuhan lembutnya di bahu Irwan begitu kontras dengan kerasnya kontraksi yang melanda tubuhnya.Irwan terbangun seketika, matanya melebar saat melihat ekspresi kesakitan Maya. Bertahun-tahun menanti momen ini membuat mereka telah mempersiapkan segalanya—tas sudah disiapkan di depan pintu, rute tercepat ke rumah sakit sudah dipelajari, semua dokumen tersusun rapi dalam map transparan."Sudah waktunya?" tanya Irwan, suaranya bergetar antara panik dan antisipasi.Maya mengangguk, giginya mengatup menahan gelombang kontraksi berikutnya.Rumah langsung berubah riuh. Irwan berteriak memanggil Ratih yang segera muncul dengan jubah tidur terka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status