หน้าหลัก / Romansa / Keponakan Adalah Maut / ‘Masa Depan' Yang Hampir Patah

แชร์

‘Masa Depan' Yang Hampir Patah

ผู้เขียน: Puji Setyawan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-01 13:20:20

“Gila, Om Burhan kok bisa dapat istri cantik dan muda kayak gini. Pantesan betah tinggal di desa terpencil kayak gini.” batin Julian.

Ia tak menyangka jika om nya yang sudah berumur, memiliki istri seperti bidadari. Empat tahun lalu saat omnya melangsungkan pernikahan, dia tidak memiliki ongkos untuk pulang ke Indonesia.

Perlu di ketahui, Julian merupakan yatim piatu sejak duduk di bangku SMA. Dia bisa sekolah di kedokteran itu semua murni karena beasiswa. Dia pun juga bekerja paruh waktu untuk menambah biaya untuk kebutuhan hidupnya saat di Amerika.

Dulu omnya tinggal satu kontrakan bersama keluarganya saat bapak dan ibunya masih hidup.

Dan sudah cukup lama memang Om Burhan tidak pulang ke kota. Ya karena mungkin di kota dia sudah tidak memiliki siapa-siapa jadi lebih memilih hidup di desa terpencil.

Ia sampai saat ini juga heran kenapa omnya bisa menjadi kepala desa. Padahal ia tahu jika omnya bukan orang berpendidikan tinggi.

Namun ia tak mau tahu dan tak mau mencari tahu hal itu.

Yang terpenting adalah sekarang ia tahu, kenapa omnya lebih memilih di desa. Bagaimana tidak, bahkan Julian merasa jika pacarnya tidak lebih menarik dibanding dengan istri om nya.

“Oh iya.... Ehm.... Tante minta maaf ya mas, hampir saja tadi karena Tante kamu di pukuli orang.” kata Wati dengan nada sungkan.

“Panggil Julian aja tan, kan aku keponakan Tante." Kata Julian sambil mencium tangan Tantenya.

“Iya dong dek, panggil Julian aja. Masa' manggilnya mas.” sambung Burhan.

“Eh iya.... anu.... Ju-Julian.” kata Wati terbata-bata.

“Mimpi apa semalam, ini to yang di bilang maa Burhan kalau ponakannya mau tinggal di rumah. Aduhh gustiiii... Ngapain harus ganteng banget sih, semoga aja aku nggak tergoda.” batin Wati sambil pura-pura tersenyum ke arah Julian.

“Ya sudah dek, kamu antar Julian ke kamarnya sana. Biar bi Lastri istirahat dulu. Kasihan habis pingsan pasti semlengeren(terkejut)” ujar Burhan. “Oh anu dek, mas pamit mau ke balai desa lagi. Ada urusan soal renovasi poskesdes.”

“Hahh.... Terus pulang tadi mas mau ngapain, kok langsung berangkat lagi?” celetuk Wati.

“Cuman mastiin Julian udah datang atau belum.” jawab Burhan, “Ya udah ya Julian, om ke balai desa lagi. Kamu sama tantemu dulu, kalau perlu apa-apa bilang aja ke Tantemu!”

“Iya om” jawab Julian sambil nyengir kuda.

Setelah Burhan berangkat dengan mobilnya, Wati pun mengantar Julian menuju kamar yang akan di tempatinya.

Rumah Burhan memiliki total empat kamar. Satu kamar di tempati Burhan dan istrinya, dan sisa tiga kamar lainnya masih kosong.

“Nah ini kamar kamu Julian. Itu ada lemari sama meja. Kalau perlu apa-apa, bilang ke aku.... Eh Tante ya!" Kata Wati.

“Iya kak, eh Tante!” seru Julian. Yang hampir salah menyebut panggilan untuk tantenya.

Lagian, jika Julian memanggil kakak juga tidak masalah jika di tilik dari umur. Toh kelihatan jika umur mereka tak terlalu beda jauh.

Wati hanya tersenyum.

“Oh iya Julian, kok kamu tadi jalan kaki?” tanya Wati. Pasalnya dari arah kota menuju ke kampungnya ada mobil angkutan pick up. Tapi ia tadi tak melihat ada mobil pick up di jalan depan rumahnya.

Seharusnya jika Julian naik mobil pick up, ia tak perlu bertanya soal di mana rumah Kades. Karena seluruh Desa tahu rumah Kades ada di mana.

“Oalah, itu tadi mobil pick up nya terjebak jalan rusak yang dekat gerbang masuk desa Tan. Udah dua jam tapi nggak jalan-jalan, ya sudah aku jalan kaki aja, berbekal nanya arah rumah om di mana sama sopirnya!” Jawab Julian sambil menata bajunya di lemari.

“Sini Tante bantuin!” kata Wati sambil membantu Julian menyusun baju.

“Eh Tante, nggak usah tan, biar aku aja!” seru Julian.

Wati hanya memberikan senyuman sebagai jawaban dan terus membantu Julian menyusun baju.

Bagian tengah dan bawah rak lemari sudah penuh. Tinggal bagian atas. Wati menoleh sebentar ke arah Julian yang ternyata sibuk merakit stopkontak(terminal colokan). Karena segan untuk meminta Julian menyusun bajunya sendiri karena tinggal di lemari rak yang paling atas, akhirnya Wati berusaha sebisa mungkin menjangkaunya.

Hampir selesai, tinggal beberapa lipat baju lagi. Tapi itu semakin tinggi dan Wati semakin kesulitan.

Ia berjinjit, tapi keseimbangan kakinya goyah.

“Aaaaaa.” teriak Wati yang kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang.

Julian secara reflek langsung memeluk tantenya, meski akhirnya ia harus rela badannya menjadi tumpuan badan Tantenya dan keduanya jatuh di lantai.

Brakkk

Arghhhh

Julian cukup kesakitan. Kerena dirinya di bawah di tambah beban dari atas yaitu tubuh tantenya.

Keduanya saling terpaku saat sadar posisi mereka.

Bagaimana tidak. Keduanya sama-sama menghadap ke atas, dan di atas tubuh Julian ada bagian dari tantenya yang sangat bulat dan empuk, tepat menimpa ujung tombak Julian.

”Ehh... ” Wati terpaku kaku. Ia bisa merasakan yang di duduki adalah sebuah tombak pusaka yang tidak bisa di remehkan soal ukurannya, jika dari yang ia rasakan.

“Tant... Itu Tante, nimpa tombakku, sakittt!" Seru Julian yang merasakan linu di area itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Keponakan Adalah Maut   Cemburu

    “Tante cemburu ya!” Julian sedikit membungkuk, mencoba melihat wajah Wati dari bawah.Wati spontan menggeleng sambil terkekeh kecil. Ia memalingkan wajah agar rona wajah merah menahan malunya tak di lihat keponakannya. “Cemburu apanya? Tante ini cuma ngingetin.” “Ngapain diingetin segala?”“Ratih itu masih muda, cantik. Banyak yang ngejar dia, tapi dia juga gampang akrab sama orang baru. Tante takut nanti kamu jadi bahan omongan warga.”Julian menghela napas pelan.“Berarti Tante khawatir sama aku?” “Iya, jelaslah. Kamu kan baru datang ke desa ini. Belum tahu watak orang satu-satu.”Julian tersenyum tipis.“Siap, Bu Tante.”“Nah, gitu.”Mereka kembali melanjutkan perjalanan.Jalan desa mulai berubah menjadi tanjakan yang cukup curam. Tidak lagi berupa jalan berbatu, melainkan susunan batu kali yang ditata menyerupai anak tangga mengikuti kontur bukit. Julian mendongak. “Wah... tinggi juga.”Wati tertawa. “Baru segini sudah capek?” “Lumayan.”“Dulu lebih parah.”“Maksudnya?” Jul

  • Keponakan Adalah Maut   Berkunjung Ke rumah Orang Tua

    Wati baru bangun, ia memunguti pakaiannya. Tak lupa ia membangunkan Wawan yang masih tertidur di sampingnya, di sofa ruang keluarga. “Julian, Julian bangun!" Wati menggoyangkan kaki kalian dengan tangannya. Julian mengerjap sebentar, lalu duduk di sebelah Wati dengan wajah mengantuknya. Pertempuran tadi benar-benar membuatnya lemah. Wati benar-benar ganas kali ini. Meskipun tadi pagi mengeluh kakinya sakit untuk berjalan, ia tak menyangka jika Wati begitu liar ketika berada di atasnya. “Buruan mandi!" Wati bangkit terlebih dahulu menuju kamarnya, “Habis itu antar aku ke rumah orang tuaku!”“Katanya sakit kakinya?" Tanya Julian heran sambil menatap punggung tantenya tanpa penghalang sedikitpun. “Nggak apa-apa, toh aku bilang kakiku sakit, masih kau paksa juga." Wati tersenyum sebelum menutup pintu kamar. Tak lama kemudian ia keluar lagi dengan handuk melilit tubuhnya. “Jangan lama-lama!”Julian mengangguk, kemudian ia menuju kamar. Di sana ia mengambil handuk dan membakar s

  • Keponakan Adalah Maut   Bercocok Tanam Lagi

    "Asshhh...."Julian melenguh pelan. Sensasi ketika Wati yang mengambil inisiatif terasa jauh lebih intens.Wati tidak berhenti. Ia memberikan tekanan lebih pada punggung Julian, lalu membuka sedikit bibirnya untuk memberikan gigitan kecil yang nakal pada tonjolan tersebut. Reaksi Julian instan; pusakanya semakin mengeras, berdenyut di bawah sentuhan bibir Wati.Tangan Wati bergerak turun, meraba permukaan kain celana Julian, memastikan letak kepala pusaka keponakannya itu. Ia adalah wanita muda yang selama ini terabaikan. Suaminya memiliki segalanya—kekayaan dan kekuasaan—namun gagal memberikan kepuasan di ranjang. Kehadiran Julian adalah jawaban atas segala dahaga yang selama ini ia pendam.Sementara itu, Julian sudah kehilangan akal sehatnya. Ia meloloskan kancing celana lalu menurunkan celana dan bungkus pundaknya ke bawah. Membuat pusakanya mengacung bebas di depan wajah Wati. Pusaka Julian membusung, urat-uratnya menonjol seperti akar pohon, merah padam dan sedikit bergetar. Wa

  • Keponakan Adalah Maut   Julian Mancing

    "Ke ruang keluarga aja yuk ngobrolnya, kurang enak kalau di dapur kayak gini!" “Kamu jangan aneh-aneh ya!” Wati menaruh telapak tangannya di depan Julian untuk menahan. “Ya nggak lah Tante, lagian Tante masih sakit kan!” Julian mengulurkan tangan, telapaknya terbuka lebar menanti sambutan. Wati mengangguk, merasakan panas menjalar ke pipinya. Ia meraih tangan keponakannya itu, jemarinya gemetar saat bertumpu pada pinggiran meja makan untuk mengangkat tubuh. Setiap inci pergerakannya terasa berat. Ada rasa nyeri yang berdenyut di antara pangkal pahanya, sebuah pengingat tajam tentang apa yang terjadi semalam. Saat ia mencoba melebarkan langkah, wajahnya meringis kecil. Julian menangkap ekspresi itu. Tatapannya berubah redup, dipenuhi rasa bersalah yang bercampur dengan sisa-sisa gairah. Ia tahu persis mengapa langkah wanita itu tertatih. "Maafin aku ya, Tante!" Bisikan itu datang bersamaan dengan tubuh Julian yang merapat, memapah pinggang Wati agar tidak limbung. Wati membuang

  • Keponakan Adalah Maut   akal cerdik Julian

    Dering telepon menghentikan Wati dan Wawan yang sedang makan. Wati meraih ponsel di kantong bajunya, panggilan telepon dari suaminya. “Dek, mas belum bisa pulang sekarang.. menurut info jalan ke desa rusak parah karena hujan semalam. Mungkin seminggu mas baru pulang soalnya sekalian belanja bahan bangunan buat poskesdes. Terus pak camat tiba-tiba ngajak rapat penting." Suara Burhan pelan menjelaskan. “Lama banget ya mas? Mas sama siapa aja di situ?" Tanya Wati cemas. Mau bagaimanapun Burhan adalah suaminya yang sudah beberapa tahun ini hidup bersama. Perasaan khawatir merayapi hati Maya. Di tambah juga rasa bersalah mengingat kejadian tadi malam. “Oh, kalau perangkat desa yang ikut itu Ratih sama Pak Darto. Tapi Ratih ikut pembinaan dari kabupaten, beda tempat sama mas. Kalau mas sama pak Darto ada di kecamatan." Burhan meyakinkan istrinya. “Yang penting mas hati-hati ya!" Ratih berkata dengan nada khawatir. “Iya sayangku, udah dulu ya!” Burhan menutup telepon. “Om mu pul

  • Keponakan Adalah Maut   kesusahan berjalan

    Pagi harinya, bi Lastri sudah datang saat masih subuh. Ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah saat matahari mulai tampak. Wajan berisi gulai telur masih menguap saat bi Lastri menuangnya ke dalam wadah kaca dan meletakkannya di meja makan. Saat bi Lastri menata meja makan, terlihat Wati berjalan dengan aneh. Sedikit melebarkan kakinya dan melangkah pelan sembari tangannya mencari pegangan. Bi Lastri menaikan satu alisnya. Tak pernah ia lihat bosnya seperti itu sebelumnya. Ia mengira jika Wati baru jatuh dengan posisi duduk. “Nyonya kenapa?" Bi Lastri memberikan bahunya sebagian pegangan Wati. “Ehm... Ja-jatuh bi!” Wati memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum simpul mengingat kejadian semalam yang ia lakukan dengan Julian. Ia tak pernah merasa senikmat itu dengan Burhan. Tapi semalam, meskipun tidak membuatnya mencapai puncak, tapi benar-benar terasa nikmat. “Sudah sampai sini aja bi, makasih!” Maya dengan tertatih menutup kamar mandi. Bi Lastri melanjutkan menyeduh ko

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status