Masuk
“Tuan, jangan bilang Anda … terangsang?”
Napas pria itu terdengar lebih berat, membuat Reina merasa puas. Dilingkarkannya lengan ke leher si pria sebelum bibirnya menangkup milik pria itu dan berciuman panas. Sosok dingin yang mati-matian digodanya sejak tadi akhirnya luluh juga.
Puas karena sudah sukses, Reina menarik diri.
Namun—
Belum sempat mengambil satu langkah pun, pergelangan tangan Reina tiba-tiba ditangkap dengan kuat. Tubuhnya ditarik keras hingga punggungnya menghantam dinding di belakangnya.
“Akh!” Reina meringis. Matanya terpejam sejenak, menahan sakit.
Saat membuka mata, ia menyadari tubuhnya kembali terkurung di bawah naungan pria itu. Hawa panas dari tubuhnya membungkusnya rapat, menutup semua celah untuk kabur.
“Kamu mau ke mana, Gadis Nakal?” Suara desisan rendah yang disertai desahan panas dari pria itu tiba-tiba menggema di telinganya. “Apa kamu tidak pernah diajarkan untuk memadamkan api setelah menyalakannya?”
***
Beberapa jam sebelumnya ….
Hari Valentine seharusnya menjadi hari penuh cinta untuk pasangan di seluruh belahan dunia.
Namun, tidak bagi Reina Wynn. Pagi itu justru menjadi titik paling pahit sekaligus titik balik dalam hidupnya.
Alih-alih mendapatkan kejutan manis dari sang kekasih, Kelvin Rowen justru mengirimkan pesan undangan ke grup angkatan sekolahnya.
Undangan pertunangan dengan Freya, musuh bebuyutan Reina semasa sekolah.
“Kenapa … Freya?” gumam Reina, tak habis pikir. Dibacanya undangan itu sekali lagi dengan dada yang makin sesak.
[Malam ini jam 7 di The Grand Veldric Hotel, kalian semua harus hadir di acara pertunanganku ya!]
Jari-jari Reina bergetar. Ia menggigit bibirnya dengan kuat, memaksa otaknya mencari alasan, apa pun yang bisa menyelamatkan hatinya.
“Lelucon,” pikir Reina. “Semua ini pasti hanya lelucon.”
Mungkin Kelvin sedang mengerjainya. Siapa tahu pria itu sedang merencanakan kejutan besar.
Bukankah mereka masih sepasang kekasih? Beberapa hari lalu, pria itu masih memanggilnya sayang.
Namun, semua harapan dan berbagai kemungkinan yang muncul segera lenyap ketika ia membaca pesan ucapan terima kasih yang dikirimkan Freya atas doa restu yang ditujukan kepadanya dan Kelvin.
Pesan demi pesan terus berdatangan, seolah tidak ada satu pun dari mereka yang mengingat kehadirannya di grup itu atau mungkin … mereka memang tidak peduli..
Reina tersenyum getir. Diremasnya ponsel di tangan dengan erat, sementara tangannya yang lain menyeka air mata yang telah mengaburkan pandangannya, lalu mencoba menghubungi Kelvin untuk menuntut penjelasan darinya.
Namun, nomor pria itu sama sekali tidak dapat dihubungi dan pesan yang ia kirimkan gagal terkirim berulang kali.
Tenggorokan Reina seketika terasa perih saat ia menelan salivanya. ‘Dia … memblokirku?’
Padahal dua hari lalu, Kelvin masih mengirim pesan manis, mengabarkan bahwa ia akan pulang dan mengajak Reina merayakan Valentine bersama. Bahkan pria itu juga sempat menyelipkan kalimat kerinduannya yang masih terpampang di layar ponselnya saat ini.
Bagaimana bisa pria itu tiba-tiba bertunangan dengan wanita lain!?
Akan tetapi, berapa kali pun disangkal, pesta pertunangan itu benar-benar ada.
Reina memandang deretan papan ucapan selamat di samping pintu aula. Semuanya mengucapkan selamat pada Kelvin Rowen dan Freya Nolan–pasangan yang berbahagia.
“Eh, bukankah itu Reina? Mantan Kelvin? Untuk apa dia di sini?”
“Memang dia diundang?”
“Diundang atau tidak, kalau aku sih tidak akan datang. Setidaknya aku masih punya malu.”
Mengabaikan tatapan dan ucapan penuh cemooh itu, Reina melangkah masuk. Lurus ke arah Kelvin di pelaminan depan.
Pria itu berdiri bersama Freya yang menggelayut manja lengan pria itu, seolah sengaja memamerkan kemesraannya. Keduanya tampak serasi dalam balutan busana pasangan yang senada.
Mata Reina terasa sangat panas, tetapi ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak merembes di hadapan mereka.
“Reina, ternyata kamu datang. Terima kasih sudah meluangkan waktumu,” ucap Freya dengan senyum manis yang terasa menusuk mata Reina.
Namun, Reina tidak menanggapi. Mata hazelnya hanya tertuju pada Kelvin.
“Kenapa?” Satu kata itu meluncur dari bibir Reina.
Kelvin mengangkat alis, lalu mendengus pendek. “Apanya yang kenapa?” balasnya dengan suara yang terdengar dingin. “Anggap saja aku bosan.”
Reina terperangah. Tepat di saat ia ingin membalasnya, Rebecca Curtiz, ibu Kelvin muncul di hadapannya.
“Reina?” Rebecca menatapnya dengan sinis. “Kamu masih punya muka datang ke sini?”
Reina tidak menjawab. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan seperti ini dari wanita itu, tetapi biasanya Kelvin akan membelanya. Akan tetapi, kali ini … pria itu hanya berdiam diri.
Seolah tidak melihat ataupun mendengar apa pun, Kelvin mengajak Freya untuk menyapa para tamu mereka.
Melihat Reina yang terpaku menatap kepergian keduanya, Rebecca mendengus sinis. “Simpan niat busukmu untuk mendekati putraku, Reina. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menyamai Freya. Anak dari keluarga miskin sepertimu sama sekali tidak pantas menjadi menantu keluarga Rowen,” desisnya dengan sinis, lalu pergi dari hadapannya.
Reina masih mematung seperti seseorang yang kehilangan jiwa hingga akhirnya tangannya menyambar segelas whiskey dari baki pelayan yang lewat. Ia langsung meneguknya hingga tandas.
Ternyata satu gelas tetap tidak cukup menghapus rasa perih yang berdenyut di dadanya. Reina kembali meneguk beberapa gelas lain yang tersaji di atas stan minuman.
“Cukup minumnya, Na. Kamu sudah mabuk.” Sahabatnya, Cinthia Willow menegurnya.
Namun, Reina tidak peduli.
Cinthia pun berdecak. “Percuma juga kamu menangisinya, Na. Lebih baik kamu cari pria lajang di sini. Masih banyak yang kaya dan lebih baik dari si Kelvin sialan itu.”
Reina tersenyum mencibir. "Kamu punya calon?"
Cinthia menggeleng. "Tapi, adiknya Tante Rebecca itu mungkin punya."
Cinthia menunjuk ke arah sekumpulan pria. "Aku dengar dia masih lajang dan lebih kaya daripada keluarga Rowen. Kenapa kamu tidak coba mendekatinya saja? Mana tahu dia membantumu dan kamu bisa memanfaatkannya untuk membalas Kelvin."
Pandangan Reina mengikuti arah telunjuk Cinthia. Ia menyipitkan mata, berusaha fokus di tengah pandangan yang mulai buram. “Yang pakai jas abu-abu gelap itu?” gumamnya.
Alih-alih menjawab, Cinthia malah menepuk pundaknya. “Kamu tunggu di sini ya, Na. Aku pergi sebentar,” ujarnya karena melihat salah seorang kenalannya di tengah aula tersebut.
Reina mendengus. Namun, saat melihat pria yang dimaksudnya tadi keluar dari kerumunan, bibirnya menyungging tipis.
Dengan langkah sempoyongan, ia berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di depan pria itu. Gadis itu harus mendongakkan kepalanya karena perbedaan tinggi mereka yang sangat mencolok.
Melihat senyuman bodoh khas orang mabuk yang terukir di bibir Reina, pria pemilik mata elang itu mengernyit. Satu alisnya menukik naik. “Nona─”
Belum sempat sang pria menyelesaikan kalimat, Reina─dengan sengaja─menyiram whiskey ke jas mahalnya!
“Ma-maaf … aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bukan Tuan Curtiz,” cicit Reina dengan bersusah payah. Napasnya terasa sesak karena jarak pria itu yang begitu dekat membuat pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.“Aku … aku sudah salah mengenali orang. Kalau aku tahu kamu bukan Tuan Curtiz, aku pasti tidak akan menidurimu,” tutur Reina, berusaha menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanya kesalahan fatal yang tidak disengaja.Namun, kejujurannya itu justru menjadi bumerang baginya.Wajah Hugo tampak semakin menggelap, lalu dengan suara rendah yang berbahaya, pria itu bergumam, “Maksudmu … kemampuanku di ranjang tidak lebih baik dari si bandot tua Curtiz itu hingga kamu menyesal tidur denganku?”“Iya,” jawab Reina tanpa berpikir panjang. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari jawaban bodohnya itu, lalu meralatnya dengan cepat, “Tidak, bukan begitu maksudku! Tentu saja kamu yang lebih hebat! Ah, tidak … maksudku … semua ini bukan masalah siapa yang lebih ahli. Tapi—”Ucapan Reina sek
Seringai kecil tersungging di bibir Hugo Veldric. Pria itu seakan menikmati binar ketakutan di wajah Reina.Wanita itu masih berdiri mematung tanpa kata hingga akhirnya suara berat Hugo memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Kenapa diam, Nona Wynn? Di mana perginya keberanianmu semalam? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?”Nada menggoda yang terkesan mengejek itu membuat wajah Reina terasa memanas. Namun, wanita itu menampik dengan cepat, “Sa-saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan.”Satu alis Hugo sontak terangkat. “Tidak mengerti?” gumamnya dengan nada mengejek.Reina memejamkan matanya dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak mengakui perbuatannya. Bukan hanya karena merasa khawatir ia kehilangan kesempatan diterima bekerja, tetapi ia ingin mempertahankan harga dirinya yang masih tersisa.Mana mungkin ia mengaku jika dirinyalah adalah gadis penggoda nakal yang telah menantangnya, lalu menghilang setelah menidurinya? Mau ditaruh di mana mukanya?Akan tetapi,
“Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.Sejak awal mengirim
Reina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya
Esok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.‘Ini … ini di mana?’Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─Deg!Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.Tiba-tiba kilasan bayangan perg
“Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum y







