Se connecterPagi yang cerah menyapa dengan hangat, menghadirkan semangat baru di wajah para siswa dan siswi. Tak tampak lagi kegelisahan yang kemarin sempat mengisi hati, kini berganti dengan tawa ringan dan langkah santai. Hari itu terasa berbeda, lebih bebas, lebih menyenangkan.Class meeting menjadi jeda yang dinanti, tanpa aturan yang mengekang. Mereka datang dengan ringan, tanpa beban buku maupun bayang-bayang pelajaran dan ujian. Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi, namun suasana sudah hidup oleh canda dan kebersamaan.Beragam perlombaan menjadi warna dalam kebahagiaan hari itu. Bukan sekadar ajang bersaing, tetapi juga ruang untuk mempererat tali persahabatan. Kegiatan ini menjadi penyegar setelah lelahnya ujian, menghadirkan kembali energi dan kekompakan dalam setiap kelas.Di bawah langit pagi yang cerah, mereka tak hanya merayakan kebebasan, tetapi juga kebersamaan yang semakin erat."Guys siapa aja yang mau ikutan tanding voly" Esty pun menanyakan kepada para gadis gadis di kelasnya."Gua
Di hari-hari pertama, pikiran terasa penuh.Rumus bercampur dengan hafalan, semuanya seperti berebut tempat di kepala. Sedikit saja lupa, rasa panik langsung datang.Tapi hari demi hari berlalu.Ujian demi ujian mulai terasa biasa saja.Bukan karena soalnya menjadi lebih mudah, tapi karena mereka mulai terbiasa dengan rasa tegang itu. Mereka belajar mengatur napas, fokus pada satu soal, dan tidak lagi terlalu takut jika menemukan pertanyaan yang sulit.Mereka mulai paham ujian bukan hanya tentang nilai, tapi tentang bagaimana tetap tenang saat dihadapkan pada tekanan.Kini, saat kertas soal dibagikan, mereka tidak lagi sekacau dulu. Masih ada rasa debaran di hati, tapi tidak lagi melumpuhkan.Mereka tersenyum kecil, lalu mulai mengerjakan.Karena mereka tahu,ini hanya satu langkah kecil dari perjalanan panjang yang sedang mereka tempuh.Awalnya tetap saja terasa menegangkan. Suara bel yang menandakan dimulainya ujian terdengar seperti alarm bahaya.Kertas soal dibagikan, dan jantung
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi para murid karena mereka akan mengikuti ujian. Di kelas yang berbeda dengan siswa yang berbeda, suasana terasa hampir sama hening, tegang, dan penuh harap. Vania pun ikut merasakan getaran di hatinya. apakah ia akan membanggakan papahnya, atau malah sebaliknya. Dengan langkah kaki yang getar Vania memasuki ruangan ujian yang telah disediakan oleh guru. namun betapa terkejutnya ia melihat ternyata ia satu kelas dengan Azkara. Namun Azkara duduk di pojok kiri paling depan. Sedangkan ia duduk di pojok kanan paling belakang, dan yang tak kalah mengejutkan kenzo berada di kelas yang sama. ia duduk di barisan nomor dua. dan letak mejanya juga berada di nomor dua. Sambil menunggu guru pengawas masuk. Para murid melanjutkan hafalan yang tidak selesai dirumah, bibir mereka bergerak pelan seolah membaca catatan yang tak terlihat. Di sudut lain, ada yang menatap kosong ke meja, mencoba menenangkan diri meski jantung berdebar lebih cepat dari bias
Akhir pekan terakhir sebelum ujian terasa berbeda. Suasana yang biasanya santai berubah menjadi penuh kesungguhan. Para murid duduk dengan buku-buku terbuka, mencatat, mengulang pelajaran, dan saling bertanya satu sama lain. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya, seakan mengingatkan bahwa hari penentuan sudah dekat.Di balik lelah dan tekanan, tersimpan harapan besar. Mereka berjuang bukan hanya untuk nilai, tetapi juga untuk membuktikan usaha yang telah dilakukan selama ini. Malam menjadi lebih panjang, pagi terasa lebih cepat datang. Namun semangat tidak surut—justru semakin kuat. Di akhir pekan itu, setiap halaman yang dibaca dan setiap soal yang dikerjakan menjadi langkah kecil menuju impian mereka meraih hasil terbaik.Vania merasa sudah agak jenuh belajar sendiri ia pun menghubungi Azkara agar bisa belajar bersama. "Lo gue jemput aja Van""Gapapa gue pergi sendiri aja. Ka""Udah gapapa, gue aja yang jemput" "Yaudah deh kalau gitu, gue siap-siap dulu ya" "Iya gue abi
Keyla selaku ibunya kenzo memang sibuk dengan pekerjaannya. Hal itulah yang membuat Kenzo sering ditinggal. Ia bercerai dengan suami pertamanya lantaran sudah merasa tidak ada kecocokan dalam rumah tangganya. Demi menghidupi Kenzo, Keyla kerja banting tulang. Meskipun ia dengan berat hati karena terus meninggalkan putra semata wayangnya. Namun tetap harus ia lakukan demi masa depan putranya. "Mamah, kok baru pulang sih ma""Aduh anak mamah. Kan mamah kerja, sayang." "Iya tapi emang harus selarut ini?""Yakan kamu tau sendiri, kadang jam meeting mama yang gak nentu. Dan juga kadang kejebak macet dijalan" "Kamu kapan ujiannya sayang?" "Senin mah" "Yaudah kamu yang semangat ya nak. Ntar selesai ujian mamah mau ngenalin kamu sama seseorang""Hadeh" Kenzo hanya memutar bola matanya dengan malas. Walapun ia sendiri belum tahu pasti maksud mamahnya. Ia hanya saja cukup lelah untuk menanyakan perihal tersebut. Lagipula baginya mamah Keyla sudah lama sendiri. Ia hanya tidak ingin menjad
Vania menghampiri Azkara. "Lu kemana aja, Kok gak dateng kemaren. inget loh bentar lagi kita ujian" "Iya kemaren gue izin, nemenin mamah gue" "Emangnya mamah lo kenapa?" "Mamah gue sakit" Vania terdiam. ia ingat betul saat mengikuti Azkara diam-diam ke RSJ, namun ia berpura-pura tidak tahu perihal mamanya Azkara. "Ooh, Mamah lo sakit apa ka?" "Udah lo gak perlu khawatir. Sekarang udah gapapa kok" "Syukurlah kalau gitu." "Oh iya bentar lagi kita ujian, lo udah siapin diri Van?" "Hmm udah si, Tapi mungkin gue sebisanya aja" "Mau belajar bareng gak?" "Mau-mau. kapan ka?" "Nanti sepulang sekolah juga boleh" "yeyy.." Vania kegirangan. karena ia merasa bosan kalau hanya belajar sendiri. ===== Setelah sepulang sekolah mereka belajar bareng. kali ini mereka belajar di halaman rumah Vania. Disana terdapat kursi dan meja serta taman mini yang ada pohon hiasnya. Azkara dan Vania berdiskusi tentang pelajaran mereka. Mereka membuat list apa saja bagian yang







