Beranda / Romansa / Kesandung Cinta Si Ulat Buku / 005 Rahasia kelam si ulat buku

Share

005 Rahasia kelam si ulat buku

Penulis: TISSA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-25 02:40:12

Vania terus menunggu di depan gerbang, dan benar saja Azkara melewatinya. Vania langsung tancap gas mengikuti Azkara diam-diam.

"Loh kok arahnya kesini"

"RSJ Harapan Jaya?"

Vania mengeja nama rumah sakit tersebut. Vania pun heran mengapa Azkara berhenti di RSJ. Ia pun bertanya-tanya di dalam hati.

"Siapa yang sakit jiwa?"

"Hah jangan-jangan bener dugaan gue, si ulet nih yang konslet akibat kebanyakan belajar hehe" Vania pun terkekeh sendiri.

Diam diam vania masih mengikuti Azkara. Karena ia masih sangat penasaran. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan. Ia mencoba menguping pembicaraan Azkara di samping ruangan tersebut.

"Huuuu huu hu hu" Tangis Vita

"Mah Azka datang, mamah please jangan sedih lagi."

"Kamu janji sama mamah, kalau kamu bisa dapetin nilai terbaik. Kalau perlu kamu harus jadi juara umum disekolah"

"Iya mah, Azka usahain yah. Tapi mamah janji jangan sedih lagi".

Azkara memeluk wanita paruh baya itu. Dalam hatinya ia sangat merasa terpuruk. Apakah ia bisa meraih nilai terbaik. Ia hanya memiliki mamah nya saja.

Sontak Vania pun kaget.

"Ternyata itu mamahnya Azkara ya. Kasian juga ya dia, ternyata dibalik sikap pendiamnya dia menyimpan kesedihan yang mendalam."

Melihat kondisi mamahnya Azkara, Vania merasa prihatin dan hanya mampu berbicara di dalam hatinya saja.

Setelah berhasil menenangkan mamahnya, Azkara pun pergi meninggalkan RSJ itu. Dan Vania bergegas mengikuti Azkara.

"Gue gak boleh kehilangan jejak nih"

Pov Azkara

"Hmm.. coba aja papah lebih peduli ke mamah, mungkin aja nasib kita gak akan seperti ini."

Azkara memukul stir motornya. Ia kesal sekali terhadap papahnya yang tidak bisa berbuat apa-apa saat mamahnya di hina.

Keluarga Azkara tidak menyukainya. Terlebih omahnya ia sangat pilih kasih terhadap cucunya.

Vita dan Bayu adalah kakak beradik, anaknya dari omah Eni. Tapi omah Eni sangat membenci Vita dan keluarga kecilnya, Dikarenakan Vita memang pernah mengecewakan omah Eni (Nenek nya Azkara).

Vita selalu berusaha mendekati ibu kandungnya, ia berharap hubungan keluarganya dapat membaik seperti dahulu kala. tapi tanpa ia sadari tekanan mental akibat dari perlakuan ibu kandungnya. Vita mengalami Depresi sedang. sehingga menjadikannya seperti ini.

Hal ini pula yang menyebabkan ia berambisi bahwa anaknya harus hebat. Agar dapat disayang seperti cucu omahnya yang lain. Seperti bayu dan anak-anaknya bayu (Paman Azka).

Tak lama Azkara pun pergi meninggalkan rumah sakit. Azkara pun pergi dengan perasaan yang sangat sedih. Ia melajukan motornya ngebut. Dan membuatnya hilang kendali, terjatuh dan tak sadarkan diri.

Pov Vania

"Buset dah, Nih anak ngapain kebut-kebutan. Udah gak sayang nyawa kali ya?"

Vania pun mengikuti Azkara, matanya tidak lengah dalam mengekori Azkara kemanapun ia pergi.

Jauh sebelum itu ada tukang bakso yang ingin melintas di seberang jalan. Sementara disisi lain Azkara mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia terpaksa harus banting stir ke kiri. Hingga membuatnya terjatuh dan tak sadarkan diri. Hingga akhirnya terdengar bunyi keras.

Brugh!!!

"Azkara!!"

Vania tampak panik dengan apa yang terjadi. Iapun segera memarkirkan mobilnya dan menolong Azkara agar segera di bawa kerumah sakit.

"Azka.. bangun Azka"

Vania tampak sangat panik dan berusaha meminta bantuan. Azka yang setengah sadar masih bisa mendengarkan suara Vania sebelum akhirnya ia benar-benar pingsan.

===

Sesampainya dirumah sakit. Vania memegang tangan Azka, ia berharap Azka bisa segera sadar. Hingga akhirnya Vania ketiduran menunggu Azka.

Setelah 2 jam di rawat, Azka pun sadar dan mendapati tangannya sudah di infuse. Dan memakai baju pasien. Dia melihat Vania berada disisinya memegang tangan kanannya.

"Hmm, ada dimana ini?"

Azkara nampak kebingungan karena lokasinya yang berbeda.

"Vania? Gue pikir tadi gue cuma halusinasi, ternyata beneran ada lo ya"

Azkara menatap Vania dalam dan bergumam

"Ternyata kalau tidur dia manis juga ya. Layaknya perempuan normal pada umumnya. Gak kayak dia bangun dan mode tengil, hehe."

Azkara terkekeh sendiri melihat vania, ada perasaan yang sulit di jelaskan.

"Vania, van.. bangun"

Vania pun mengerjapkan matanya, dan ia langsung memeluk Azkara.

"Gue pikir lo tadi mati, lo kenapa ceroboh banget si"

"Bentar-bentar. Lo khawatirin gue?"

Vania yang tidak sadar oleh refleknya itu pipinya langsung bersemu. Yang wajahhya pucat karena khawatir, berganti menjadi merona. Dan sekarang akibat ucapan Azkara ia langsung melepaskan pelukannya.

"Apaan si, gak usah Ge, er deh"

"Loh kok di lepas? lagi dong, nyaman soalnya hehe"

"Itu mah lu nya aja yang modus"

Vania reflek menepuk lengannya Azkara.

"Aduh-aduh sakit Vania"

"Ya maaf gak sengaja, lagian elu sih"

Vania pun cemberut. Namun ia kelihatan semakin cantik.

"Btw Lo lapar gak? Mau gue beliin makan apa?"

"Udah gausah repot-repot Van"

Azkara tersenyum membuatnya semakin tampan siapapun yang melihat tatapan matanya sekaligus senyumannya pasti akan terhanyut. Terlebih ia wajahnya sering sekali serius. Senyuman seperti ini adalah moment langka.

"Udah nurut aja gapapa"

"Yaudah deh kalo lo maksa"

Vania pun pergi membeli makanan, sesampainya dirumah sakit ia pun menyuapkannya kepada Azkara. Karena tangannya yang masih sakit.

"Van, makasih ya udah mau nolongin gue"

"Iyah santai aja kali, lo juga pernah baik ke gue. Waktu gue lagi sedih, lo ajakin jalan-jalan."

"Yaudah nih cepet abisin, biar bisa pulang"

"Hmm"

Setelah menghabiskan makanan, mereka pun menuju jalan pulang.

"Azka, lo pulangnya gue anter aja yah"

"Gausah van gue masih bisa sendiri kok"

"Udah gapapa, nanti motor lo minta tolong di urus sama bengkel langganan aja"

"Yaudah deh iyaa"

Waktu menunjukan pukul 18. 00 mereka bercanda dan tertawa lepas selama di perjalanan. Mereka juga karoukean dengan lagu thingkin out loud.

"Abis ini arahnya kemana ka?"

"abis ini lurus aja tapi di depan itu ada belokan nah abis itu ngikutin jalan itu aja lurus"

"Ini mah jalan kerumah gue, lo mau pulang kerumah gue"

"Hahah boleh juga tuh"

"Jangan ngaco!"

"Engga, rumah kita sebenernya emang deketan. Cuma beda gang aja"

Vania pun tersenyum, ia merasa visinya berhasil. Selama ini pertanyaan yang ada di benaknya cukup terjawab, meskipun belum mengungkap tabir yang seutuhnya.

Singkat cerita setelah mengikuti arahan Azkara mereka sudah sampai di depan rumahnya Azkara.

"Ka kita udah nyampe"

"Oh iya" Azkara tersadar dari lamunannya

"Van makasih ya, lo gak sekalian mampir dulu ?"

"Next yah ka, gue takut Bi Asih khawatir, nanti jadi repot lagi kalau ngadu ke papah"

"Yaudah lo hati-hati yah"

"Iya, bye"

Vania pun pergi meninggalkan senyuman yang membekas di hati Azkara. Hanya butuh waktu 10 menit dan berapa kali belokan untuk sampai di rumahnya Vania.

Sesampainya dirumah Vania senyum berseri-seri. Seperti ada kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Ternyata dia covernya aja yang cuek, kalem. Aslinya dia juga sama kyak gue kok."

"Hmmm.. na. Nana. Nana. Nna na." Vania berlari seperti anak kecil saat masuk kerumahnya"

Bi Asih pun yang melihat tingkah majikannya ikut merasakan bahagia. Ia juga tak tenang melihat majikannya murung.

Sementara Azkara sesampainya dirumah ia langsung bersih-bersih lalu belajar. Ia merasa seperti kejenuhannya dalam belajar telah hilang karena sosok Vania.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   006 Salah Sasaran

    Hari pun berganti pagi, mereka pun berkutat pada aktifitas masing-masing. Langit yang mendung disertai bau hujan yang bercampur dengan tanah, tidak memudarkan semangat mereka untuk menjalani kehidupan. Sesampainya di sekolah Vania dan para murid lainnya melaksanakan apel pagi sebelum memasuki kelas masing-masing. Sorot mata Vania tengah mencari Azkara. tatapannya menyusuri barisan para murid. namun ia tak menemukan azkara. "Kemana ya tuh bocah" Vania hanya mampu bergumam dalam hati. Raut wajahnya berganti menjadi datar seolah sedang kehilangan semangat hidupnya. "Van, liat tuh Kenzo kayaknya ngeliatin ke arah sini deh" Esty yang sedari tadi memperhatikan Kenzo merasa tertohok ketika Kenzo balik menatapnya. Sehingga ia menoel Vania karena salting. "Ngeliatin lu kali ty" Jawab Vania ngasal Esty pun tersipu malu. Karena ia memang naksir kepada Kenzo. "Tapi kenzo ganteng banget ya Van, mungkin gak kalau dia bisa jadi milik gue." "Ya mungkin aja Ty. Di dunia ini gak ad

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   005 Rahasia kelam si ulat buku

    Vania terus menunggu di depan gerbang, dan benar saja Azkara melewatinya. Vania langsung tancap gas mengikuti Azkara diam-diam. "Loh kok arahnya kesini" "RSJ Harapan Jaya?" Vania mengeja nama rumah sakit tersebut. Vania pun heran mengapa Azkara berhenti di RSJ. Ia pun bertanya-tanya di dalam hati. "Siapa yang sakit jiwa?" "Hah jangan-jangan bener dugaan gue, si ulet nih yang konslet akibat kebanyakan belajar hehe" Vania pun terkekeh sendiri. Diam diam vania masih mengikuti Azkara. Karena ia masih sangat penasaran. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan. Ia mencoba menguping pembicaraan Azkara di samping ruangan tersebut. "Huuuu huu hu hu" Tangis Vita "Mah Azka datang, mamah please jangan sedih lagi." "Kamu janji sama mamah, kalau kamu bisa dapetin nilai terbaik. Kalau perlu kamu harus jadi juara umum disekolah" "Iya mah, Azka usahain yah. Tapi mamah janji jangan sedih lagi". Azkara memeluk wanita paruh baya itu. Dalam hatinya ia sangat merasa

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   004 Tiba-tiba keliling Kota

    Vania terus terusan merasa sedih karena perkataan papahnya tadi. Ia pun memutuskan untuk pergi ke TPU tempat dimana mamahnya di makamkan. Ia bercerita banyak sekali ia mencurhkan isi hatinya di makam mamahnya. "Mah aku kangen banget sama mamah. Mamah tau gak, aku sekarang udah SMA. Aku sekarang udah berubah mah. Aku gak pernah berantem lagi, aku berusaha jadi lebih baik. Walapun belum seperti keinginan papah." Vania hanya getir menahan tangis, tapi air mata itu tetap saja tumpah. Ia terus menangis sampai tidak terasa waktu menunjukan pukul 18.00 Wib. Vania meninggalkan makam mamahnya dengan lunglai. Ia pun duduk sebentar di taman kota. Tanpa sengaja Azkara melihatnya "Itu Vania bukan ya? Tumben dia sendirian, mana mukanya kusut banget lagi. kayak kanebo kering." "Woi" Azkara menepuk pundak Vania berharap dia kaget "Ulet, ngapain lo disini, lo ngikutin gue ya?" "Ulet.. ulet. Siapa yang lo bilang ulet" "Ya, elo lah. Siapa lagi?" "Kalau gue ulet, berarti lu tai nya" "Ih nyeb

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   003 Putus

    Setibanya di kelas Vania hanya banyak melamun. Sesekali ia hanya membuang nafas berat. Mutia dan Esti yang memahami sikap Vania langsung bertanya "Lu kenapa Van" "Iya, gak biasanya lu ngelamun begini, lagi ada masalah ya?" Vania pun cerita apa yang ia alami kemarin. perihal pacarnya tidak membalas pesannya, dan kejadian tadi pagi. "Gak biasanya dia gak bales chat gue, dulu dia gak pernah bersikap dingin ke gue." "Yaudah lu yang sabar ya Van. Gimana kalau hari ini kita nge mall aja, Siapa tau bisa nenangin pikiran lo" "Iya bener tuh kata Esti" Vania pun tersenyum "Makasih ya, kalian udah baik banget ke gue" Setelah bel pulang sekolah berbunyi, para murid pun berhamburan keluar gerbang. Tak terkecuali dengan Vania dan Cs. Vania dan teman nya mereka langsung menuju mall. Sesampainya di mall mereka makan ramen, Beli ice cream, dan main capit di team zone. Sampai akhirnya Vania memeregoki pacarnya jalan dengan cewe lain. Vania pun sempat foto pacarnya dengan wanita it

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   002 Hari yang melelahkan

    Setelah selesai berkenalan dengan wali kelas, dan teman-teman sekelasnya. Mereka pun berhamburan pulang setelah bunyi bel. "Bye Van, Bye ti. gue pulang duluan ya udah di jemput" Mutia melambaikan tangannya kepada Vania dan Hesti. Tak lama kemudian Hesti juga di jemput. "Gue duluan ya Van" "Iya hati-hati" "Lo juga" "Bye" "Bye" Vania pun ke parkiran menuju mobilnya. Tanpa disengaja saat hendak membuka pintu ia menyenggol motor seseorang, yang tak lain itu adalah Azkara. Dan menyebabkan helemnya jatuh berguling-guling. "Duh maaf gue gak sengaja" "Mangkanya pake mata" Vania pun kesal dan bete karena dari tadi azkara selalu ketus. Azkara pun meletakkan buku yang ia baca di atas jok motor miliknya, dan mengambil helemnya yang sudah jatuh berguling guling itu. Saat ia hendak mengambil helemnya Vania mendesak agar ia mau menggeser motornya. "Aduh, ini motor butut bisa di pinggirin dulu gak?" "Apa lu bilang tadi? Motor butut? Lu gak tau apa ni motor kesayangan gue" "Bodo amat, s

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   001 Murid kelas 1

    Mentari pagi sudah mulai bersinar, menembus celah celah tirai kamar Vania. Hari begitu cerah seakan merestui lembar baru anak kelas 1Tuk tuk tuk.. suara ketukan pintu terdengar begitu cepat"non.. bangun non.."Wanita paruh baya itu pun membangunkan Vania dari tidurnya. Ia pun meletakan sarapan di samping nakas sambil mengetuk pintu kamar vaniaIa adalah Bi Asih, pembantu kepercayaan keluarga vania. Sejak Vania lahir ia sudah di asuh oleh Bi Asih.Hoammmmh....Iya biiiiVania pun beranjak dari tempat tidur dan membiarkan Bi Asih masuk mengantarkan sarapan.Makasih ya bi, bibi emang yg terbaik.Vania memeluk Bi Asih. Walapun Bi Asih adalah pembantunya ia sangat menyayangi Bi Asih layaknya Mama kandungnya sendiri."Hmm non mah bisa aja. Yaudah kalau gitu saya kebawah dulu ya non, mau siapin yang lain""Iya bi" Vania tersenyum dan segera siap siap dan memakan sarapan yang telah di antarkan Bi Asih.Pagi ini menunjukan Pukul 07.05, Vania berpamitan dengan Bi Asih. Sementara papa nya sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status