LOGINVania terus terusan merasa sedih karena perkataan papahnya tadi. Ia pun memutuskan untuk pergi ke TPU tempat dimana mamahnya di makamkan.
Ia bercerita banyak sekali ia mencurhkan isi hatinya di makam mamahnya. "Mah aku kangen banget sama mamah. Mamah tau gak, aku sekarang udah SMA. Aku sekarang udah berubah mah. Aku gak pernah berantem lagi, aku berusaha jadi lebih baik. Walapun belum seperti keinginan papah." Vania hanya getir menahan tangis, tapi air mata itu tetap saja tumpah. Ia terus menangis sampai tidak terasa waktu menunjukan pukul 18.00 Wib. Vania meninggalkan makam mamahnya dengan lunglai. Ia pun duduk sebentar di taman kota. Tanpa sengaja Azkara melihatnya "Itu Vania bukan ya? Tumben dia sendirian, mana mukanya kusut banget lagi. kayak kanebo kering." "Woi" Azkara menepuk pundak Vania berharap dia kaget "Ulet, ngapain lo disini, lo ngikutin gue ya?" "Ulet.. ulet. Siapa yang lo bilang ulet" "Ya, elo lah. Siapa lagi?" "Kalau gue ulet, berarti lu tai nya" "Ih nyebelin banget, sana gak" "Engga..engga gue bercanda" "Cih, Bisa juga lo bercanda" "Btw lo ngapain disini sendirian, udah mau malem lagi" "Ya suka-suka gue lah" "Gue tebak, lu lagi gabut kan" "Gabut-gabut pala lu" "Padahal tadinya gue mau ngajak lo, tapi karena lo jutek gak jadi ah" "Nyebelin banget lo ulet. Ucap Vania lirih" Azkara yang masih bisa mendengarnya pun tanpa basa basi menarik tangan Vania. "Udah lo ikut aja, gue jamin lo ga bakalan sedih lagi" Azkara mengajak Vania makan ice cream. Dan mengajaknya jalan jalan di pasar malam. "Vania, gue kalau lagi sedih biasanya makan ice cream. Biar apapun masalah kita setidaknya hidup kita masih manis" "Hmm" Setelah berkeliling pasar malam, Vania mengajak Azkara untuk melukis di pasar malam. Yang bercanvas totebag jadi bisa di bawa pulang. "Ih azkara kok kamu gambarnya jelek, liat nih punya aku bagus" Merekapun tertawa melihat hasil karya yang begitu kontras. Pukul 20.00 Azkara pun mengantarkan Vania pulang. "Hmm, makasih ya udah ajakin gue jalan" "Slow, gue cuma kasian aja liat muka lo kayak kanebo kering" "Dasar ulet" === Sesampainya dirumah, Vania pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia tersenyum sendiri ia tak menyangka si ulat itu mau mengajak nya keliling kota. Sehingga mampu melupakan sedikit keperihan yang ia rasakan. "Ngomong-ngomong ngapain ya dia ada disitu juga, lupa nanya lagi gue" "Dan kesambet apa yah dia, tiba-tiba ngajak keliling Kota" "hmm Bisa juga ya dia perhatian" Vania menerka-nerka alasan di balik pertemuannya tadi. Sampai akhirnya ia ketiduran. === Vania terbangun pukul 04.00 dini hari. Sebelumnya Ia bermimpi bertemu dengan mantannya Zean, bersama perempuan itu. Ia masih merasakan sakit di hatinya. Dan ia pun stalking sosmed mantannya Pada pukul 04.00 dini hari itu. Ternyata benar saja. Ia melihat postingan mereka. berdua, begitu mesra, bagai sepasang pengantin muda. seperti lagu mantan dari band stand here alone. Vania menangis hatinya terasa sakit, tapi ia paksakan tidur kembali. Iapun bermimpi kembali. dalam mimpinya, Vania ia seperti mengulang kisahnya tadi malam. Bertemu Azkara, tetapi saat berjalan jalan di pasar malam. ia melihat mantannya. dan ia menangis, lalu Azkara memeluknya dan menenangkannya. Lalu mengantarkannya pulang dan ia tidur kembali. Pukul 06.00 Saat ia bangun posisi tidurnya sama seperti di dalam mimpi. "Ini kenyataan apa bukan ya?" Vania menepuk pipinya, memaksanya ingat kejadian semalam. Setelah ia mandi dan barulah ia sadar bahwa itu semua hanyalah mimpi. Seperti biasa ia berangkat sekolah, menyalami tangan bibi, dan masuk kelas seperti biasa. "Van minggu depan kita ujian mid loh" "Serius lu Ty" "Tau darimana" sambung Mutia "Tadi di kasitau bu murni. Katanya kita semua harus mempersiapkan diri" "Tapi lu tau gak lebih seremnya apa?" "Apa?" Jawab Mutia dan Vania berbarengan. "Kita kelasnya di acak. misalnya elu nih Mut, ujian di kelas IPA 5 tapi yang ada di kelas itu, ada dari kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Jadi orang-orang di kelas itu random. Dan lu gak bisa nyontek ataupun nanya-nanya jawaban." "Duh serem banget" imbuh Mutia "Hmm.. gue harus belajar extra nih biar gak ngecewain Papah" "Bener kita harus belajar, agar kita lebih PD melewati ujian ini" sambung Esty Bel istirahat berbunyi, para murid pun berhamburan keluar untuk mencari makanan. Sebagian ada yang mengerjakan tugas. Dan ada yang tiduran. Hanya beberapa saja yang pergi ke perpustakaan "Ty, Mut. Gue gak ke kantin. Kalian duluan aja yah." "Hmm okey deh" sahut Esty dan Mutia. "Tapi kalau nitip boleh ga? Hehe" "Boleh-boleh" "Okey deh, makasih ya. Kalian memang yang terbaik. === Sesampainya di perpustakaan Vania bertemu dengan Azkara. Ia melihat Azkara begitu serius membaca buku. "Serius banget si belajarnya" Vania mencoba menggoda Azkara agar dirinya terganggu. "Hmm" Jawab Azkara tanpa menghiraukan Vania "Ambis banget deh perasaan" Lagi-lagi Vania tidak di hiraukannya, karena ia asik belajar. "Awas ya lu ulet. Berani-beraninya cuekin gue. Tadi malem aja lu ngajakin jalan" Vania hanya mampu berbicara didalam hati. Vania memilih buku yang akan ia pinjam untuk belajar sebelum ujian. Ia pun berlalu. Sesampainya di kelas Vania pun makan jajanan yang ia titip kepada Esty dan Mutia. Tak lupa juga untuk membayarnya. "Thanks ya Mut, Ty" "Iyaa" Jawab esti dan mutia berbarengan "Ngomong-ngomong gercep banget lo Van udah start belajar dari sekarang" "Iya Mut, gue pengen nunjukin yang terbaik ke bokap gue, selama ini dia selalu menilai gue payah" Disisi lain Vania hanya ingin Papah nya sadar, bahwa tanpa kehadiran ibu tiri pun ia bisa berubah menjadi lebih baik, dan mempunyai prestasi. "Semangat-semangat, kita pasti bisa, Kita harus kerjasama, kita ber tiga harus megang 5 besar. Siapapun yang nilainya lebih tinggi, yang lain gak boleh iri-iri an" "Oke baby gurl" Bel pulang pun berbunyi, para murid berhamburan keluar kelas. Vania yang sampai di parkiran mobil melihat Azkara masih duduk di pelataran di depan kelas. "Hmm gue jadi punya ide nih. Mumpung lagi gabut. Apa diem-diem gue ikutin aja kali ya" "Sebenernya dia siapa sih, jadi penasaran gue, apalagi keseharian dia yang jarang bergaul, dan juga kayak ulet buku" Vania berniat untuk mengikuti Azkara pulang. Karena Vania penasaran rumahnya ada dimana, dan Vania juga ingin tahu bagaimana keseharian Azkara. Vania sengaja menunggu di depan gerbang agar tidak ketahuan sedang menguntit dan agar tidak susah keluar gerbang karena ia mengendarai mobil. Dan banyak pengendara lain.Hari pun berganti pagi, mereka pun berkutat pada aktifitas masing-masing. Langit yang mendung disertai bau hujan yang bercampur dengan tanah, tidak memudarkan semangat mereka untuk menjalani kehidupan. Sesampainya di sekolah Vania dan para murid lainnya melaksanakan apel pagi sebelum memasuki kelas masing-masing. Sorot mata Vania tengah mencari Azkara. tatapannya menyusuri barisan para murid. namun ia tak menemukan azkara. "Kemana ya tuh bocah" Vania hanya mampu bergumam dalam hati. Raut wajahnya berganti menjadi datar seolah sedang kehilangan semangat hidupnya. "Van, liat tuh Kenzo kayaknya ngeliatin ke arah sini deh" Esty yang sedari tadi memperhatikan Kenzo merasa tertohok ketika Kenzo balik menatapnya. Sehingga ia menoel Vania karena salting. "Ngeliatin lu kali ty" Jawab Vania ngasal Esty pun tersipu malu. Karena ia memang naksir kepada Kenzo. "Tapi kenzo ganteng banget ya Van, mungkin gak kalau dia bisa jadi milik gue." "Ya mungkin aja Ty. Di dunia ini gak ad
Vania terus menunggu di depan gerbang, dan benar saja Azkara melewatinya. Vania langsung tancap gas mengikuti Azkara diam-diam. "Loh kok arahnya kesini" "RSJ Harapan Jaya?" Vania mengeja nama rumah sakit tersebut. Vania pun heran mengapa Azkara berhenti di RSJ. Ia pun bertanya-tanya di dalam hati. "Siapa yang sakit jiwa?" "Hah jangan-jangan bener dugaan gue, si ulet nih yang konslet akibat kebanyakan belajar hehe" Vania pun terkekeh sendiri. Diam diam vania masih mengikuti Azkara. Karena ia masih sangat penasaran. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan. Ia mencoba menguping pembicaraan Azkara di samping ruangan tersebut. "Huuuu huu hu hu" Tangis Vita "Mah Azka datang, mamah please jangan sedih lagi." "Kamu janji sama mamah, kalau kamu bisa dapetin nilai terbaik. Kalau perlu kamu harus jadi juara umum disekolah" "Iya mah, Azka usahain yah. Tapi mamah janji jangan sedih lagi". Azkara memeluk wanita paruh baya itu. Dalam hatinya ia sangat merasa
Vania terus terusan merasa sedih karena perkataan papahnya tadi. Ia pun memutuskan untuk pergi ke TPU tempat dimana mamahnya di makamkan. Ia bercerita banyak sekali ia mencurhkan isi hatinya di makam mamahnya. "Mah aku kangen banget sama mamah. Mamah tau gak, aku sekarang udah SMA. Aku sekarang udah berubah mah. Aku gak pernah berantem lagi, aku berusaha jadi lebih baik. Walapun belum seperti keinginan papah." Vania hanya getir menahan tangis, tapi air mata itu tetap saja tumpah. Ia terus menangis sampai tidak terasa waktu menunjukan pukul 18.00 Wib. Vania meninggalkan makam mamahnya dengan lunglai. Ia pun duduk sebentar di taman kota. Tanpa sengaja Azkara melihatnya "Itu Vania bukan ya? Tumben dia sendirian, mana mukanya kusut banget lagi. kayak kanebo kering." "Woi" Azkara menepuk pundak Vania berharap dia kaget "Ulet, ngapain lo disini, lo ngikutin gue ya?" "Ulet.. ulet. Siapa yang lo bilang ulet" "Ya, elo lah. Siapa lagi?" "Kalau gue ulet, berarti lu tai nya" "Ih nyeb
Setibanya di kelas Vania hanya banyak melamun. Sesekali ia hanya membuang nafas berat. Mutia dan Esti yang memahami sikap Vania langsung bertanya "Lu kenapa Van" "Iya, gak biasanya lu ngelamun begini, lagi ada masalah ya?" Vania pun cerita apa yang ia alami kemarin. perihal pacarnya tidak membalas pesannya, dan kejadian tadi pagi. "Gak biasanya dia gak bales chat gue, dulu dia gak pernah bersikap dingin ke gue." "Yaudah lu yang sabar ya Van. Gimana kalau hari ini kita nge mall aja, Siapa tau bisa nenangin pikiran lo" "Iya bener tuh kata Esti" Vania pun tersenyum "Makasih ya, kalian udah baik banget ke gue" Setelah bel pulang sekolah berbunyi, para murid pun berhamburan keluar gerbang. Tak terkecuali dengan Vania dan Cs. Vania dan teman nya mereka langsung menuju mall. Sesampainya di mall mereka makan ramen, Beli ice cream, dan main capit di team zone. Sampai akhirnya Vania memeregoki pacarnya jalan dengan cewe lain. Vania pun sempat foto pacarnya dengan wanita it
Setelah selesai berkenalan dengan wali kelas, dan teman-teman sekelasnya. Mereka pun berhamburan pulang setelah bunyi bel. "Bye Van, Bye ti. gue pulang duluan ya udah di jemput" Mutia melambaikan tangannya kepada Vania dan Hesti. Tak lama kemudian Hesti juga di jemput. "Gue duluan ya Van" "Iya hati-hati" "Lo juga" "Bye" "Bye" Vania pun ke parkiran menuju mobilnya. Tanpa disengaja saat hendak membuka pintu ia menyenggol motor seseorang, yang tak lain itu adalah Azkara. Dan menyebabkan helemnya jatuh berguling-guling. "Duh maaf gue gak sengaja" "Mangkanya pake mata" Vania pun kesal dan bete karena dari tadi azkara selalu ketus. Azkara pun meletakkan buku yang ia baca di atas jok motor miliknya, dan mengambil helemnya yang sudah jatuh berguling guling itu. Saat ia hendak mengambil helemnya Vania mendesak agar ia mau menggeser motornya. "Aduh, ini motor butut bisa di pinggirin dulu gak?" "Apa lu bilang tadi? Motor butut? Lu gak tau apa ni motor kesayangan gue" "Bodo amat, s
Mentari pagi sudah mulai bersinar, menembus celah celah tirai kamar Vania. Hari begitu cerah seakan merestui lembar baru anak kelas 1Tuk tuk tuk.. suara ketukan pintu terdengar begitu cepat"non.. bangun non.."Wanita paruh baya itu pun membangunkan Vania dari tidurnya. Ia pun meletakan sarapan di samping nakas sambil mengetuk pintu kamar vaniaIa adalah Bi Asih, pembantu kepercayaan keluarga vania. Sejak Vania lahir ia sudah di asuh oleh Bi Asih.Hoammmmh....Iya biiiiVania pun beranjak dari tempat tidur dan membiarkan Bi Asih masuk mengantarkan sarapan.Makasih ya bi, bibi emang yg terbaik.Vania memeluk Bi Asih. Walapun Bi Asih adalah pembantunya ia sangat menyayangi Bi Asih layaknya Mama kandungnya sendiri."Hmm non mah bisa aja. Yaudah kalau gitu saya kebawah dulu ya non, mau siapin yang lain""Iya bi" Vania tersenyum dan segera siap siap dan memakan sarapan yang telah di antarkan Bi Asih.Pagi ini menunjukan Pukul 07.05, Vania berpamitan dengan Bi Asih. Sementara papa nya sudah







