MasukHari pun berganti pagi, mereka pun berkutat pada aktifitas masing-masing. Langit yang mendung disertai bau hujan yang bercampur dengan tanah, tidak memudarkan semangat mereka untuk menjalani kehidupan.
Sesampainya di sekolah Vania dan para murid lainnya melaksanakan apel pagi sebelum memasuki kelas masing-masing. Sorot mata Vania tengah mencari Azkara. tatapannya menyusuri barisan para murid. namun ia tak menemukan azkara. "Kemana ya tuh bocah" Vania hanya mampu bergumam dalam hati. Raut wajahnya berganti menjadi datar seolah sedang kehilangan semangat hidupnya. "Van, liat tuh Kenzo kayaknya ngeliatin ke arah sini deh" Esty yang sedari tadi memperhatikan Kenzo merasa tertohok ketika Kenzo balik menatapnya. Sehingga ia menoel Vania karena salting. "Ngeliatin lu kali ty" Jawab Vania ngasal Esty pun tersipu malu. Karena ia memang naksir kepada Kenzo. "Tapi kenzo ganteng banget ya Van, mungkin gak kalau dia bisa jadi milik gue." "Ya mungkin aja Ty. Di dunia ini gak ada yang enggak mungkin. Secara lo pinter, cantik, tajir. Cowo mana yang enggak merasa beruntung kalau bisa jadian sama lo Ty" "Ah tapikan dia juga ganteng dan keren banget Van, ciwi ciwi pasti banyak yang naksir. Pasti banyak ya saingan gue" Vania tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Esty yang manyun dan putus asa. Lantas Vania menyenggol lengan Esty dan berniat memberikan semangat kepada sahabatnya. "Udah pesimis aja, belum juga di coba. yang semangat dong bestie" Esty pun tersenyum dan menganggukan kepala tanda setuju. Sementara Kenzo yang tengah memperhatikan Vania dari kejauhan membuatnya semakin penasaran. ia sangat mengagumi senyum tipis milik Vania. Senyum yang mampu membuat hati seorang Ken meleleh. "Vania kamu kok cantik banget si" "Hmm apa dia udah punya pacar ? "Apa coba tanyain ke temennya aja kali ya? buat mastiin dia udah punya pacar atau belum". Kalimat-kalimat tersebut hanya mampu terucap dalam hati. meskipun terkenal sebagai sosok yang cuek dan dingin, Kenzo tetap banyak pemujanya. Sayangnya tidak ada yang bisa membuatnya tertarik. Namun baginya Vania adalah sosok yang berbeda. Sosok yang anggun, cantik, dan tidak seperti gadis lainnya yang mengejar-ngejar cintanya. Kenzo suka tipe gadis yang kalem seperti ini. dan ia pun merasa tertantang untuk menakhlukkan hati gadis tersebut. === Bel masuk berbunyi. menyatakan bahwasannya proses belajar mengajar akan segera dimulai. para siswa dan siswi pun berhamburan menuju ruang kelas masing-masing. Saat ini kelas Vania belajar olah raga dengan pak gunawan. mereka pun segera berganti pakaian. tapi tidak dengan Vania. saat menuju koridor Vania melipir ke kelasnya Azkara. namun saat ia melihat-lihat, tetap saja tidak ada Azkara disana. Vania mendengus kesal "Kemana ya si ulat buku, udah jam segini dia masih gak ada di kelas. apa dia gak datang?" Dor..... Mutia dan Esty ngagetin Vania "Eh dar der dor matamu kendor" Vania reflek menyebutkan hal itu. dan mengusap dadanya yang kembang kempis karena kaget. sontak menyebabkan Esty dan Mutia tertawa. "Ahahahha" "wahahaha" "kalian ngapain sih, jantungan nih gue" "ye maaf Van, lu sih ngapain disini ngintip-ngintip kelas sebelah" "Ehehe anu. penasaran aja si" "Penasaran apa Van?" "hmm jangan jangan lu punya gebetan yaa disini?" "Engga kok. itu dekor kelasnya bagus" "kan belum mulai dekor mereka, masih yang lama kok" "Ah tau ah, gue mau ganti baju dulu bye bye" "dih. main tinggal aja" "tau tuh si vania" "Yaudah kita duluan ke lapangan aja yuk" "gas" Mutia dan Esty pun menuju lapangan. dimana sudah banyak murid lainnya yang telah selesai berganti pakaian. dan mereka masih menunggu murid lainnya termasuk Vania. Vania pun berlari-lari kecil menuju lapangan, namun ia tidak selamat dari omelan pak gunawan. "aduh kamu ini saya tungguin dari tadi loh" Pak gunawan pun menggeleng-gelengkan kepalanya "hehe telat dikit gapapalah pak, kan bisa sekalian pemanasan sambil lari kesini" "aduh kamu ini bisa aja, yaudah sana cepet masuk barisan" mereka pun melakukan pemanasan yang di pandu oleh pak gunawan sebagai guru olah raga mereka. setelah itu mereka disuruh lari tujuh kali keliling, lalu mereka di bebaskan untuk melakukan olah raga yang mereka suka. ada yang bermain basket, bulu tangkis dan berbagai macam permainan lainnya. para siswa dan siswi tersebut sangat semangat dan antusias. terutama pemain basket. "Ram, oper kesini" "Ky, tangkep" namun sayangnya bolanya melesat. dan mengenai kepala seorang siswi yang tak lain adalah Esty plughhhhhh! "Aduh" seketika Esty kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. semua siswa yang bermain basket pun panik. atas perintah pak gunawan, Esty di bawa ke UKS. Rama menggotong Esty ia merasa cemas dan takut Esty kenapa-kenapa karena ulahnya. namun ia tak sengaja. Rasa bersalah terus menghantuinya. "Please ty, maafin gue. gue gak sengaja" Esty yang setengah sadar ia hanya bisa mendengar secara sayup-sayup saja yang dikatakan oleh Rama Sesampainya di UKS Rama membantu membaringkan Esty, dan mengambilkannya air putih dan meletakannya di nakas. Sementara Vania mengkipas-kipas esty, dan Mutia mendekatkan aroma minyak kayu putih agar Esty bisa segera sadar. "ahhh sakitttt" Esty mengusap usap kepalanya yang terbentur bola basket "Ty, lu udah sadar?" mata Rama berbinar melihat Esty yang sudah sadarkan diri" sementara Esty hanya mengangguk anggukan kepala tanda setuju. "Ah syukurlah kalau lu udah sadar, gue minta maaf ya ty. gue beneran gak sengaja. lu jangan marah ya nanti gue anterin ke dokter pas pulang sekolah" "Gausah gapapa ram, ini cuma pusing dikit kok, abis ini pasti mendingan. Yaudah kalian ke kelas aja ya. abis ini masih ada pelajaran kan. gue mau istirahat disini aja. izinin gue ya ke bu indang" "Enggak besok lu gue anter periksa. gue takut lu kenapa-kenapa. tar gue lagi yang di salahin" "hmm" Esty pun hanya pasrah. "Ty lu beneran gapapa sendiri? gue sama Mutia mau kok kalau harus nemenin lu disini" "Iya gapapa, kalian balik ke kelas aja gih. Tar kesini lagi, bangunin gue kalau udah pulang." "Hmm iya deh kalau gitu" Mutia akhirnya mengiyakan permintaan Esty. dan mereka balik ke kelasnya. ==== Sementara disisi lain, Kenzo yang duduk di meja paling depan di kelasnya memudahkannya bisa curi-curi pandang ke arah luar. sedari tadi ia memperhatikan Vania. ia pun kaget, ia melihat kerumunan orang dari kejauhan dan di gotong ke UKS. "Itu siapa ya yang di gotong ke UKS" Kenzo pun penasaran dan bertanya-tanya dalam hati" Setelah bel pertukaran jam pelajaran berbuyi, Kenzo pun dengan rasa penasaran nya menuju UKS. Sesampainya di UKS ia kaget ternyata yang terbaring itu adalah Esty. "Hai..kamu gapapa?" Kenzo pun menyapa Esty "Ken.." Esty yang tadinya baru saja memejamkan mata sontak kaget melihat kehadiran Kenzo. Kenzo dengan segala rasa penasarannya langsung menanyai kronologi kenapa esty bisa terbaring saat ini di UKS "kamu kok bisa begini?" "Hmm, aku gak perhatiin anak-anak yang main bakset tadi. jadinya kena bola nyasar deh. Btw kok kamu ada disini? bukannya sekarang masih ada kelas ya?" "Iya, aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja" Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia hanya sedikit berbohong karena malu jika alasannya hanya kepo. "Hmm" seketika setelah itu suasana berubah hening. dan Esty pun merasa kurang nyaman karena merasa deg deg an karena cogan yang ia taksir ada disisnya. Sampai akhirnya hening itu pecah kembali karena perut Esty yang Keroncongan. Kenzo yang mendengar hal tersebut sontak menanyai Esty "Kamu Laper?" "Hehe iya, Soalnya aku belum sempet makan" Kenzo pun keluar tanpa sepatah katapun. Esty yang di tinggal begitu saja membuat wajahnya cemberut. "Dih, main tinggal aja. Gak jelas banget jadi orang" Kenzo pun datang kembali dengan membawa kresek di tangannya. "Aku tau kamu lapar, tapi gak usah cemberut juga kali. nih makan dulu" Esty pun sumringan di bawakan jajan oleh cowok yang dia suka. Bibirnya yang mengkerucut mendadak mengukir senyum diwajahnya. "Wah, makasih ya udah bawain makanan buat aku" Ia menerima jajanan yang di bawakan oleh Kenzo, dan sorot matanyapun berbinar. "Yaudah, dimakan ya" Esty pun mengangguk dan melahap semua jajanan itu. Sementara kenzo kembali ke kelasnya.Hari pun berganti pagi, mereka pun berkutat pada aktifitas masing-masing. Langit yang mendung disertai bau hujan yang bercampur dengan tanah, tidak memudarkan semangat mereka untuk menjalani kehidupan. Sesampainya di sekolah Vania dan para murid lainnya melaksanakan apel pagi sebelum memasuki kelas masing-masing. Sorot mata Vania tengah mencari Azkara. tatapannya menyusuri barisan para murid. namun ia tak menemukan azkara. "Kemana ya tuh bocah" Vania hanya mampu bergumam dalam hati. Raut wajahnya berganti menjadi datar seolah sedang kehilangan semangat hidupnya. "Van, liat tuh Kenzo kayaknya ngeliatin ke arah sini deh" Esty yang sedari tadi memperhatikan Kenzo merasa tertohok ketika Kenzo balik menatapnya. Sehingga ia menoel Vania karena salting. "Ngeliatin lu kali ty" Jawab Vania ngasal Esty pun tersipu malu. Karena ia memang naksir kepada Kenzo. "Tapi kenzo ganteng banget ya Van, mungkin gak kalau dia bisa jadi milik gue." "Ya mungkin aja Ty. Di dunia ini gak ad
Vania terus menunggu di depan gerbang, dan benar saja Azkara melewatinya. Vania langsung tancap gas mengikuti Azkara diam-diam. "Loh kok arahnya kesini" "RSJ Harapan Jaya?" Vania mengeja nama rumah sakit tersebut. Vania pun heran mengapa Azkara berhenti di RSJ. Ia pun bertanya-tanya di dalam hati. "Siapa yang sakit jiwa?" "Hah jangan-jangan bener dugaan gue, si ulet nih yang konslet akibat kebanyakan belajar hehe" Vania pun terkekeh sendiri. Diam diam vania masih mengikuti Azkara. Karena ia masih sangat penasaran. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan. Ia mencoba menguping pembicaraan Azkara di samping ruangan tersebut. "Huuuu huu hu hu" Tangis Vita "Mah Azka datang, mamah please jangan sedih lagi." "Kamu janji sama mamah, kalau kamu bisa dapetin nilai terbaik. Kalau perlu kamu harus jadi juara umum disekolah" "Iya mah, Azka usahain yah. Tapi mamah janji jangan sedih lagi". Azkara memeluk wanita paruh baya itu. Dalam hatinya ia sangat merasa
Vania terus terusan merasa sedih karena perkataan papahnya tadi. Ia pun memutuskan untuk pergi ke TPU tempat dimana mamahnya di makamkan. Ia bercerita banyak sekali ia mencurhkan isi hatinya di makam mamahnya. "Mah aku kangen banget sama mamah. Mamah tau gak, aku sekarang udah SMA. Aku sekarang udah berubah mah. Aku gak pernah berantem lagi, aku berusaha jadi lebih baik. Walapun belum seperti keinginan papah." Vania hanya getir menahan tangis, tapi air mata itu tetap saja tumpah. Ia terus menangis sampai tidak terasa waktu menunjukan pukul 18.00 Wib. Vania meninggalkan makam mamahnya dengan lunglai. Ia pun duduk sebentar di taman kota. Tanpa sengaja Azkara melihatnya "Itu Vania bukan ya? Tumben dia sendirian, mana mukanya kusut banget lagi. kayak kanebo kering." "Woi" Azkara menepuk pundak Vania berharap dia kaget "Ulet, ngapain lo disini, lo ngikutin gue ya?" "Ulet.. ulet. Siapa yang lo bilang ulet" "Ya, elo lah. Siapa lagi?" "Kalau gue ulet, berarti lu tai nya" "Ih nyeb
Setibanya di kelas Vania hanya banyak melamun. Sesekali ia hanya membuang nafas berat. Mutia dan Esti yang memahami sikap Vania langsung bertanya "Lu kenapa Van" "Iya, gak biasanya lu ngelamun begini, lagi ada masalah ya?" Vania pun cerita apa yang ia alami kemarin. perihal pacarnya tidak membalas pesannya, dan kejadian tadi pagi. "Gak biasanya dia gak bales chat gue, dulu dia gak pernah bersikap dingin ke gue." "Yaudah lu yang sabar ya Van. Gimana kalau hari ini kita nge mall aja, Siapa tau bisa nenangin pikiran lo" "Iya bener tuh kata Esti" Vania pun tersenyum "Makasih ya, kalian udah baik banget ke gue" Setelah bel pulang sekolah berbunyi, para murid pun berhamburan keluar gerbang. Tak terkecuali dengan Vania dan Cs. Vania dan teman nya mereka langsung menuju mall. Sesampainya di mall mereka makan ramen, Beli ice cream, dan main capit di team zone. Sampai akhirnya Vania memeregoki pacarnya jalan dengan cewe lain. Vania pun sempat foto pacarnya dengan wanita it
Setelah selesai berkenalan dengan wali kelas, dan teman-teman sekelasnya. Mereka pun berhamburan pulang setelah bunyi bel. "Bye Van, Bye ti. gue pulang duluan ya udah di jemput" Mutia melambaikan tangannya kepada Vania dan Hesti. Tak lama kemudian Hesti juga di jemput. "Gue duluan ya Van" "Iya hati-hati" "Lo juga" "Bye" "Bye" Vania pun ke parkiran menuju mobilnya. Tanpa disengaja saat hendak membuka pintu ia menyenggol motor seseorang, yang tak lain itu adalah Azkara. Dan menyebabkan helemnya jatuh berguling-guling. "Duh maaf gue gak sengaja" "Mangkanya pake mata" Vania pun kesal dan bete karena dari tadi azkara selalu ketus. Azkara pun meletakkan buku yang ia baca di atas jok motor miliknya, dan mengambil helemnya yang sudah jatuh berguling guling itu. Saat ia hendak mengambil helemnya Vania mendesak agar ia mau menggeser motornya. "Aduh, ini motor butut bisa di pinggirin dulu gak?" "Apa lu bilang tadi? Motor butut? Lu gak tau apa ni motor kesayangan gue" "Bodo amat, s
Mentari pagi sudah mulai bersinar, menembus celah celah tirai kamar Vania. Hari begitu cerah seakan merestui lembar baru anak kelas 1Tuk tuk tuk.. suara ketukan pintu terdengar begitu cepat"non.. bangun non.."Wanita paruh baya itu pun membangunkan Vania dari tidurnya. Ia pun meletakan sarapan di samping nakas sambil mengetuk pintu kamar vaniaIa adalah Bi Asih, pembantu kepercayaan keluarga vania. Sejak Vania lahir ia sudah di asuh oleh Bi Asih.Hoammmmh....Iya biiiiVania pun beranjak dari tempat tidur dan membiarkan Bi Asih masuk mengantarkan sarapan.Makasih ya bi, bibi emang yg terbaik.Vania memeluk Bi Asih. Walapun Bi Asih adalah pembantunya ia sangat menyayangi Bi Asih layaknya Mama kandungnya sendiri."Hmm non mah bisa aja. Yaudah kalau gitu saya kebawah dulu ya non, mau siapin yang lain""Iya bi" Vania tersenyum dan segera siap siap dan memakan sarapan yang telah di antarkan Bi Asih.Pagi ini menunjukan Pukul 07.05, Vania berpamitan dengan Bi Asih. Sementara papa nya sudah







