Share

Gertakan

Author: DewaRa
last update publish date: 2026-07-26 23:05:43

​Sena memegang pisau bernoda tulisan itu dengan erat. Matanya yang tajam memindai kegelapan malam di sekitar teras rumah Ayu.

​"Sena... ada apa? Siapa yang melempar pisau itu?" tanya Nyonya Widya dengan melangkah mendekat bersama Nyonya Sarah dan Irma.

​"Tetap di dalam rumah. Kunci pintunya dari dalam," bisik Sena dingin tanpa menoleh.

​"Tapi Sena, kamu mau ke mana?!" seru Irma cemas.

​Tanpa menjawab, Sena memusatkan hawa murni Gowok ke bagian telinganya. Di antara desir angin malam dan su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Hangat Sekali

    Pagi harinya, Sena terbangun dengan kondisi tubuh yang jauh lebih bertenaga. Namun, getaran di dalam intinya memberi tahu satu hal pasti: energi Irma dan Elsa saja belum cukup untuk mengembalikan kekuatan jiwanya ke level puncak. ​Sena segera menghubungi Bidan Irma. "Irma, aku minta izin libur beberapa hari lagi. Biar Dokter Tirta dan tenaga medis lain yang menangani pasien biasa di puskesmas." ​"Baik, Sena. Kamu istirahat saja sampai pulih betul," sahut Irma penuh pengertian. ​Malam harinya, Sena memanggil Nyonya Sarah untuk datang ke gubugnya. Dulu, penyatuan pertamanya dengan Nyonya Sarah berhasil membuka dan membangkitkan ilmu Hawa Murni Segoro di dalam dirinya. Kali ini, Sena berharap keagungan serta kehangatan energi wanita berkharisma itu sanggup memulihkan kekuatannya hingga seratus persen. ​Pintu gubug terbuka pelan. Nyonya Sarah melangkah masuk dengan gaun malam berkatun halus yang anggun. Wajah cantiknya memancarkan rasa cemas sekaligus kerinduan yang dalam. ​"Sena..."

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Enak sekali Sena

    Irma menyunggingkan senyum hangat, menatap Sena dengan pendar kepasrahan dan ketulusan mendalam. Tanpa ragu sedikit pun, jemarinya bergerak perlahan melepas gaunnya, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai kayu. Ia lalu melangkah mendekati dipan dan merebahkan dirinya di sana.​"Ayo, Sena... aku sudah siap," bisik Irma lembut seraya meraih tangan Sena dan menariknya pelan.​Sena merayap naik ke atas dipan, menatap lekat paras dan lekuk tubuh wanita di bawahnya. Sorot matanya dipenuhi apresiasi yang jujur. "Tubuhmu indah sekali, Irma..."​Diiringi gemuruh petir dan deru hujan yang semakin lebat menimpa atap seng gubug, Sena merebahkan tubuhnya di atas Irma. Kehangatan kulit mereka yang bersentuhan mendadak menyalakan pusaran energi spiritual di dalam dada Sena. Inti jiwanya yang semula kosong perlahan menyerap energi kehidupan dari Irma.​Sena mengecup leher dan dada Irma dengan lembut, memicu erangan halus dari bibir bidan desa tersebut. Irma memejamkan mata, meremas bahu Sena erat-era

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Aku Butuh Tubuhmu

    Pak Imam menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan napas yang terasa luar biasa lega. Rasa sesak yang bertahun-tahun menyiksanya sirna sepenuhnya berkat energi pemurnian jiwa Sena yang disalurkan melalui uap Hawa Murni. Dengan mata berbinar penuh rasa haru dan takjub, Sang Menteri menggenggam jemari Sena erat-erat. ​"Sena, ini benar-benar keajaiban!" ujar Pak Imam dengan suara bulat bertenaga. "Rumah sakit terbaik di luar negeri pun sudah angkat tangan. Sebagai bentuk rasa terima kasih pribadi dan negara, saya akan mengucurkan dana hibah besar untuk desamu. Saya ingin puskesmas satu lantai ini segera dibangun lebih luas lagi pada tahap kedua, agar bisa menampung ribuan pasien dari seluruh penjuru negeri." ​Sena tersenyum tipis sembari mengangguk. "Terima kasih, Pak Menteri. Namun, prinsip kami sejak awal tidak berubah. Tarif pengobatan di puskesmas ini harus tetap murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat desa maupun warga miskin dari luar." ​Pak Imam terpana men

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Sudah Jadi

    Tiga minggu terasa bagai kilat. Bangunan tua klinik desa tempat Bidan Irma mengabdi dulu, yang semula hanyalah struktur kayu lapuk dan cat yang mengelupas, kini telah rata dengan tanah. Di atas fondasi yang sama, berdiri tegak tahap pertama Puskesmas Terpadu Taraf Nasional: sebuah bangunan modern satu lantai bernuansa hijau-putih yang memadukan teknologi medis mutakhir dengan keasrian alam.​Meski baru tahap satu dan nantinya akan disusul pembangunan lantai dua, kemegahan bangunan ini sudah cukup membuat siapa pun berdecak kagum.​Pagi ini, desa tidak lagi terlihat seperti pelosok biasa. Jalanan menuju puskesmas dijejali karangan bunga ucapan selamat dari berbagai menteri, perusahaan farmasi, hingga kepala daerah. Suasana riuh, penuh sesak oleh warga desa yang antusias, para pejabat yang berseragam necis, dan awak media nasional yang sibuk mengatur kamera.​Sena berdiri di depan panggung utama dengan kemeja putih formal yang pas di tubuhnya. Aura kepemimpinannya terasa begitu kuat, na

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Rukun

    Ayu merebahkan kepalanya agak ke belakang saat Sena menyalurkan Hawa Murni. "A-ah... Sena... hangat sekali."​"Tahan sebentar, Ayu," bisik Sena lembut sambil menekan titik meridian di bahunya.​Irma menyenggol lengan Elsa, matanya tak lepas dari dipan. "Lihat itu, Mbak. Manja sekali. Sentuhan Sena ke Ayu beda banget."​Elsa melipat tangan di dada, matanya memicing. "Bukan cuma kamu yang merasa begitu, Irma. Aku juga lihat. Sentuhannya jauh lebih lembut."​Nyonya Sarah berdehem canggung, mencoba menutupi rasa irinya. "Sudah, kalian berdua. Jangan memprovokasi suasana."​"Nah, selesai," pukas Sena sambil menarik tangannya. "Jangan tidur di sini, Ayu, nanti dingin."​Ayu berdiri merapikan baju dengan pipi merona. Ia menyentuh lengan Sena pelan. "Terima kasih banyak, Sena. Pegal di punggungku langsung hilang."​Nyonya Sarah melangkah mendekat. "Ehem... Baiklah. Kita sudah membuktikan sendiri kalau Hawa Murni milikmu murni pengobatan medis yang luar biasa."​"Iya," timpal Elsa mengibaskan

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Kagum Dengan Sena

    "Dimana-mana yang tua dulu, Bidan Irma," sahut Nyonya Sarah menaikkan dagunya.​"Baiklah Nyonya, silakan Anda dulu," balas Irma mengalah, meski matanya menatap sengit.​Nyonya Sarah berdehem pelan seraya merapikan gaun elegannya. "Sekarang, Sena," pukasnya menatap Sena lurus-lurus. "Buktikan kalau ucapanmu tadi bukan sekadar alasan untuk memegang janda itu."​"Silakan duduk membelakangi saya di atas dipan, Nyonya," ujar Sena tenang.​Nyonya Sarah melangkah anggun lalu duduk di tepi dipan bambu. Sena mendekat, mengoleskan sedikit minyak herbal beraroma terapi di telapak tangannya, lalu menempelkan kedua jemarinya tepat di pangkal leher Nyonya Sarah.​Zap...​"N-Ngh... hangat sekali," desah Nyonya Sarah tanpa sadar. Matanya terpejam rapat, sementara jemarinya meremas kain gaunnya sendiri saat rasa hangat menembus hingga ke tulang.​"Ini penekanan titik Jianjing," terang Sena lembut seraya memijat perlahan dengan dorongan Hawa Murni. "Rasa hangat ini yang melelehkan ketegangan syaraf leh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status