LOGINSena melipat kedua kakinya di atas ranjang, bersila dalam posisi meditasi sempurna. Ia memejamkan mata rapat-rapt, mencoba memusatkan pikiran untuk mengamati sirkulasi Hawa Murni di dalam meridian tubuhnya.Biasanya, arus energinya terasa tenang dan stabil—terkunci rapat sejak ia mengikat ikrar batin dengan Ayu di desa. Namun malam ini, ada getaran asing yang bergejolak hebat di pusat dadanya.Pendar keemasan merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menerangi kamar rumah dinas yang remang. Sena dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana energi kehidupan milik Dokter Vera yang baru saja ia sentuh meninggalkan jejak halus, menyatu, dan membuka pilar energi baru di dalam dirinya."Kenapa bisa seperti ini...?" gumam Sena pelan. Solilokui itu bergetar di keheningan malam. "Energi yang seharusnya terkunci rapat bersama Ayu... tiba-tiba merekah kembali. Sensasi ini... persis saat pertama kali aku membantu Bidan Irma."Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Apakah penyembuhan yang
Desahan lega yang lolos dari bibir Dokter Vera tadi bukanlah sekadar reaksi atas hilangnya rasa pening. Saat Hawa Murni hangat dari telapak tangan Sena meresap menembus pangkal tengkoraknya, sensasi itu meletup lembut, mengalir terus ke bawah melintasi tulang belakangnya.Aliran hangat itu meluncur deras menuju area bawah perutnya, memicu denyut halus yang begitu nikmat hingga membuat otot-otot tubuhnya lemas seketika. Sebuah sensasi asing namun sangat membuai, membuat dadanya berdesir hebat.Sena menarik pelan kedua tangannya, memutus pendar keemasan yang samar-samar menyelimuti jemarinya. Ia melangkah ke samping, menatap wanita di hadapannya dengan raut tenang."Bagaimana, Dokter Vera? Sudah enakan?" tanya Sena seraya menyodorkan segelas air hangat.Dokter Vera menarik napas panjang, mencoba menguasai degup jantungnya yang masih berdebar kambar. Sensasi nikmat di bawah perutnya bertahap surut, menyisakan kebugaran luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Sudah.
Sena mengambil ponsel dinas dari nampan yang disodorkan Ina, lalu menggeser layar untuk menerima panggilan. Begitu mendekatkan ponsel ke telinganya, suara lembut bergetar yang sangat ia rindukan memecah keheningan ruang tengah."Sena...? Ini benar kamu, Sena?" bisik Ayu dari seberang telepon. Nada suaranya sarat akan rasa cemas yang bercampur dengan kebahagiaan luar biasa.Sena tersenyum hangat, tatapannya mendadak melunak seketika. "Iya, Ayu. Ini aku. Bagaimana kabarmu dan Ibu di desa?""Aku baik, Sena... Ibu juga baik," sahut Ayu seraya menghembuskan napas lega. Isak tangis haru terdengar tipis di balik sambungan telepon. "Tadi Mbak Irma dan Bidan Desa bantu menyambungkan telepon ini dari kantor puskesmas. Aku... aku rindu sekali padamu, Sena. Bagaimana keadaanmu di kota besar? Tugasmu lancar, kan?""Semua berjalan lancar, Yu," tutur Sena dengan nada suara yang begitu lembut dan menenangkan. "Pasien-pasien kritis sudah berhasil distabilkan hari ini. Kamu tidak perlu cemas, ya. A
Jasmin dan Mawar yang menyadari kehadiran Dokter Vera dan Sena di teras rumah dinas mendadak menghentikan aktivitas masing-masing. Dengan langkah anggun yang serasi, kedua wanita kelas atas itu melangkah beriringan memotong rumput hijau halaman rumah, menghampiri pagar rendah yang membatasi pekarangan Sena."Dokter Vera, ini tabib sakti yang baru saja mendarat dari desa itu?" sapa Jasmin dengan suara halus, berwibawa, namun sangat menyejukkan. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat ia menatap Sena.Sena tertegun di tempatnya. Cara Jasmin memiringkan kepala dan menautkan kedua tangannya di depan gaun sungguh persis dengan pembawaan Nyonya Widya ketika pertama kali menyambut Sena di kediamannya."Benar, Bu Jasmin," jawab Dokter Vera seraya membungkuk sopan. "Ini Sena. Beliau baru saja menyelesaikan tindakan pemurnian di ICU VIP."Mawar melangkah maju setengah tindak, mengibaskan rambut bergelombangnya yang terurai indah. Matanya yang tajam dan berbinar menatap Sena dari atas ke ba
Mobil dinas yang membawa Sena melaju membelah hiruk-pikuk lalu lintas ibu kota menuju Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Begitu pintu mobil dibuka, Sena tidak diberikan waktu untuk bernapas legah. Suasana lorong rumah sakit berdesing oleh sirine dan derap langkah tergesa-gesa para tenaga medis.Sesampainya di ruang perawatan VIP yang dijaga ketat, seorang wanita muda berseragam dokter putih melangkah cepat menghampiri Sena. Garis wajahnya tegas, tatapan matanya tajam namun memiliki kehangatan yang sangat familier."Kamu Sena, kan? Tabib dari desa yang direkomendasikan Pak Menteri?" tanya dokter muda itu tanpa basa-basi.Sena mengangguk tenang. "Iya, Dok. Saya Sena.""Saya Dokter Vera, spesialis penyakit dalam yang memegang tim di sini," ujarnya seraya mengulurkan tangan sejenak sebelum berbalik membimbing Sena masuk. "Kondisi di dalam sangat kritis, Sena. Pejabat tinggi dan beberapa pasien di ruang isolasi mengalami kejang saraf misterious. Dokter-dokter senior sudah angkat tangan. D
Hari-hari berlalu dengan cepat. Hubungan Sena dan Ayu tetap berjalan manis seperti biasa—hangat, penuh perhatian, dan dibalut ikatan batin yang begitu erat tanpa terburu-buru mengikatkan diri dalam tali pernikahan. Bagi Ayu, berada di dekat Sena dan membantunya setiap hari sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya penuh.Sementara itu, proyek pembangunan gedung baru puskesmas tiga lantai terus mengepulkan asap aktivitas. Suara deru alat berat dan ketukan palu para pekerja konstruksi menjadi musik harian di desa itu. Dinding-dinding kokoh calon pusat medis modern terpadu mulai berdiri megah, menjadi bukti nyata atas dedikasi dan pengaruh besar yang dimiliki Sena.Seiring berjalannya waktu, keajaiban tangan Sena dan keagungan Hawa Murni miliknya tak lagi hanya menjadi buah bibir warga desa. Nama Sena membumbung tinggi hingga ke pelosok negeri, menembus dinding-dinding istana dan kediaman para pejabat di ibu kota.Pagi itu, sebuah helikopter berlogo kementerian mendarat mulus di l







