MasukBeberapa minggu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari kebebasan Eran. Sebelum menjemput pria itu, Lana menyeret sahabat masa kecilnya, Arka, ke sebuah mal mewah.Arka kuliah di kampus kelas atas jurusan Manajemen, sementara Lana dan Eran satu kampus di jurusan yang sama—Manajemen Bisnis."Lana, please! Kita sudah keliling tiga lantai hanya untuk mencari satu benda mekanik ini!" Arka memprotes sambil membenahi tatanan rambutnya di pantulan kaca etalase. "Bisa nggak kita ke store parfum aja? Bau mal ini terlalu 'biasa' buat hidung gue hari ini.""Diem deh, Ka! Ini penting. Eran itu punya ambisi besar. Dia nggak mau cuma jadi orang biasa, dia mau sukses. Dan kamera ini... ini alat dia buat melihat dunia dari sudut pandang beda," sahut Lana sambil menunjuk sebuah kamera profesional seri terbaru.Arka mendekat, matanya menyipit kritis melihat harga yang tertera. "Lo mau beli barang seharga gaji manajer tingkat menengah untuk seorang cowok yang baru keluar rehab? Seriously, Lana? Lo
Berbulan-bulan lamanya, penolakan demi penolakan menjadi asupan harian bagi Lana. Namun, gadis itu memiliki keteguhan hati yang keras kepala. Hingga tiba di hari itu, di sebuah sore yang tenang di taman pusat rehabilitasi, pemandangan di depannya membuat napas Lana tertahan. Eran sedang duduk di bawah pohon besar, tangannya sibuk menggoreskan sketsa di atas kertas. Wajahnya tidak lagi sepucat mayat; ada rona kehidupan yang kembali menghiasi kulitnya. "Eran!" teriak Lana gembira, setengah berlari menghampiri pria itu. Eran mendongak. Matanya yang tajam kini terlihat lebih jernih dan fokus. Ia memperhatikan Lana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lana hari ini tampil berbeda; ia mengenakan gaun floral selutut yang manis, dan rambut panjangnya kini berwarna cokelat terang yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Jantung Lana berdetak tak keruan saat Eran terus menatapnya tanpa kedip. Apakah dia terpesona? batin
Begitu didalam mobil, yang hari itu ia ditemani ayah nya, Alana bersandar di pundak kokoh Elian. Pa..." suaranya serak karena terlalu banyak menangis di pusat rehabilitasi tadi. "Bagaimana kabar ayah Eran? Papa pasti tahu sesuatu, kan?" "Papa sudah menyelidiki sedikit latar belakang mereka. Ayahnya dulu pebisnis yang cukup terkenal, punya nama besar. Tapi menurut pengakuannya, semuanya hancur karena skandal dan kesalahan putranya sendiri, Eran. Itulah yang membuatnya menjadi monster." Jawab Elian tanpa menutupi apapun. Lana terdiam sejenak, membayangkan bagaimana Eran memikul beban sebagai penyebab kehancuran keluarganya setiap hari. "Tapi setelah semua siksaan itu? Apa ayahnya akan dibiarin gitu aja, Pa?" "Siapa bilang, Sayang? Ayahnya sudah dipenjarakan sekarang. Dia dijemput paksa pagi tadi." Lana tersentak, ia mengangkat kepalanya dari bahu Elian. "Dipenjara?" "Maaf kalau Papa mengambil keputusan ini tanpa bicara denganmu. Tapi dia memang sudah lama menjadi perusuh di
Lana menjalani hari-harinya di kampus dengan perasaan yang tidak menentu. Meski di ruang kelas, pikirannya sering kali terbang ke sebuah bangunan putih di pinggiran kota yang dijaga ketat. Begitu hari libur tiba, Lana tidak membuang waktu. Ia segera meminta supirnya mengantar ke pusat rehabilitasi tempat Eran berada. Begitu sampai di taman belakang, Lana melihat sosok yang ia cari. Eran sedang duduk di bangku kayu. "Eran!" seru Lana sambil melambaikan tangan dengan riang, mencoba mencairkan suasana. Namun, Eran tidak membalas senyuman itu. Ia justru menatap Lana dengan pandangan yang begitu dingin, seolah-olah Lana adalah musuh terbesarnya. Saat Lana mendekat, Eran berdiri dengan sentakan kasar. "Ngapain lo ke sini?" desis Eran, suaranya rendah namun penuh dengan kemarahan yang tertahan. "Gue cuma mau lihat keadaan lo, Eran. Dokter bilang lo mulai membaik, dan—"
"Di mana ini?" tanya Eran lirih. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Matanya yang sayu mengerjap berkali-kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang putih menusuk. Begitu menoleh, ia mendapati Lana duduk di sampingnya dengan mata yang masih sembap. "Rumah sakit," jawab Lana singkat. Suaranya bergetar, ada campuran antara lega dan sedih di sana. Eran melirik lengannya. Ada selang infus yang tertancap di kulitnya yang pucat. Ia mencoba bergerak, namun seluruh tubuhnya terasa seperti dihantam beton—kaku dan sakit luar biasa. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang dokter masuk membawa papan catatan medis, menatap Eran sejenak sebelum beralih kepada Lana yang langsung berdiri tegak. Dokter itu menjelaskan secara rinci kondisi Eran. Bukan hanya soal malnutrisi dan luka-luka fisik yang dideritanya, tapi juga tentang zat kimia yang mulai merusak sistem saraf Eran akibat penggunaan obat-obatan terlarang tersebut. Lana mendengarkan dengan napas tertahan. Ia
"Eran... lo gapapa?" tanya Lana saat mereka berpapasan di gerbang kampus keesokan harinya. Awalnya Lana sudah bertekad untuk mogok bicara. Ia marah, kecewa, dan takut setelah tahu uangnya dipakai untuk membeli barang haram. Namun, melihat Eran yang berjalan sempoyongan dengan wajah sepucat kertas dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Hatinya tetap saja terenyuh. Tanpa memedulikan tatapan mahasiswa lain, Lana menarik tangan Eran menuju area taman kampus yang sepi. Begitu sampai di sana, Lana langsung menarik lengan baju Eran lebih tinggi. "Eran, luka ini... kenapa makin banyak? Ini bukan cuma lebam, ini luka baru!" seru Lana ngeri melihat bekas sabetan yang masih memerah di kulit pria itu. Eran tidak menanggapi rasa khawatir Lana. Pikirannya sedang kalut. Tubuhnya terasa sakit luar biasa, saraf-sarafnya berteriak meminta "asupan" yang semalam ia habiskan dengan rakus. Di matanya saat ini, Lana bukan lagi teman sekelas atau gadis yang harus ia jauhi, melainkan satu-satu
"Duh, Nenek Lampir... lo ngapain sih? Sok-sokan jadi Ratu di gedung ini," buka Boy dengan nada bicara yang tajam. "Tuh, Pak Polisi dibuat semarah itu sama lo. Lo tuh ya, dari zaman bapak gue masih jadi supir keluarga lo sampai sekarang gue jadi lulusan ternama, otak lo isinya kotoran semua. Nggak
Suasana di ruangan pribadi Dian—sebuah ruangan semi-basement yang ia sulap menjadi markas komando rahasianya di gedung Baskara Group—tampak tenang namun mencekam. Hanya ada suara detak jam dinding mewah dan pendar cahaya dari deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham serta berita nasional
Sesampainya di lobi apartemen, Maya masih menyunggingkan senyuman kecil. Rasanya beban di pundaknya sedikit terangkat hanya karena mendengar ocehan tidak masuk akal dari pria di sampingnya ini. "Mau langsung pulang, Mas?" tanya Maya sambil membetulkan letak tasnya. "Kenapa? Lo mau ngajak gue ng
"Kalian kira bisa kabur gitu saja, hah?!" raung Adrian. Wajahnya yang basah kuyup tampak benar-benar gila.Dengan satu sentakan kuat, Adrian menarik kaki Rinjani hingga wanita itu tergelincir hebat. Kepalanya membentur lantai, dan sebelum ia sempat bereaksi, Adrian sudah berada di atasn







