Share

Bab 81

Author: Pipin
last update publish date: 2026-01-14 10:51:49

Siang itu, di sebuah butik kelas atas tempat para sosialita berkumpul, sebuah rekaman suara dan foto-foto Boy yang sengaja diambil dari sudut yang salah mulai tersebar di grup-grup WhatsApp.

​"Loh, itu si Boy kan? Desainer yang katanya 'main' sama laki? Kok bisa ya, dia jalan sama cewek cantik gitu? Maya kan itu sekretarisnya Elian?" bisik seorang wanita bermahkota berlian sambil menunjukkan ponselnya.

​"Apa jangan-jangan mereka main bertiga ya? Iiih, serem, gila ya! Wajar sih wajah kayak gini
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 226

    "Kita hadapi ini bersama, tapi tolong jangan pernah pergi dari aku. Itu saja mauku, Om..." bisik Sonya sembari menggenggam tangan pria itu.​Antonio menatap netra gadis di depannya, lalu menghela napas panjang. "Kamu benar-benar keras kepala, Sonya."​Saat Antonio mencoba berdiri untuk berpindah tempat ke area yang lebih privasi, ia tiba-tiba meringis pelan sembari memegangi pinggangnya. Gerakannya tertahan, dan wajahnya sedikit memucat.​"Luka baru lagi?" tanya Sonya dengan nada yang mendadak dingin namun sarat akan kekhawatiran. "Peluru?" sambungnya singkat.​Antonio hanya mengangguk tipis. Beruntung peluru itu hanya menyerempet bagian pinggang dan sudah berhasil dikeluarkan secara mandiri sebelum ia menemui Sonya. Luka-luka seperti ini sudah menjadi "makanan harian" yang ia santap sejak lama di dunia gelapnya.​Sonya mengembuskan napas panjang. "Sampai kapan calon suamiku ini bakal luka terus? Nanti yang membekas di badan Om cuma luka-luka ini, bukan aku," keluh Sonya, mencoba meny

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 225

    "Papa!" teriak Lana sembari menggebrak pintu. Elian yang tengah serius meninjau laporan di meja kerjanya sampai tersentak dan hampir menjatuhkan pena. ​"Ya ampun, Lana! Kamu mau bikin Papa masuk rumah sakit karena jantungan?" Elian mengurut dadanya, menatap putrinya yang sudah duduk dengan wajah ditekuk di depannya.​"Pa, kenapa Eran nggak kerja hari ini?" tanya Lana tanpa basa-basi.​Elian menghela napas, mencoba kembali tenang. "Ini hari Minggu, Lana. Dia masih mahasiswa dan butuh hari libur, bukan? Papa bukan mandor yang kejam."​"Terus kalau Eran bakal kena bully kalau diistimewakan ?​"Diistimewakan?" Elian menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir karena Eran kenalan kamu, Papa bakal kasih keistimewaan? Di kantor, dia bukan siapa-siapa bagi Papa. Paham?" tegas Elian.​Rinjani masuk ke ruangan sambil membawa camilan, tersenyum kecil melihat tingkah suami dan putrinya. Ia duduk di samping Lana dan mengusap bahunya. "Jadi benar, kamu beneran menyukai pria itu?" tanya Rinjani lembut.

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 224 - Nembak gue?

    Setelah dari ruangan ayahnya,Lana keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru,lorong tadi sudah sepi, membuat nya mencari Eran kesudut lain. ​"Di mana sih dia? Cepat banget hilangnya!" gumam Lana kesal. ​"Cari siapa, Tuan Putri?" ​Lana tersentak. Eran tiba-tiba muncul dari balik pilar besar sambil meletakkan ember pel di tangannya. Pria itu berdiri santai, menatap Lana dengan pandangan menyelidik yang khas. ​"Nyari lo lah!" jawab Lana jujur, napasnya masih sedikit terengah. ​"Gue? Buat apa? Lo ada masalah apa lagi sama gue?" tanya Eran sambil melipat tangan di dada. ​"Bukan masalah. Ini... gue ada hadiah buat lo, sekalian permintaan maaf," ujar Lana sembari menyodorkan kotak hitam yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tasnya. ​Eran mengernyitkan dahi, menatap kotak itu dengan ragu. "Ini apa? Minta maaf buat apa?" ​"Karena gue udah bikin lo tertahan di pusat rehabilitasi cukup lama." ​Eran terdiam sejenak. Ia menatap kotak mahal itu, lalu kembali menatap Lana. Ia sempat

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 223 - Seperti Gula

    Seminggu berlalu. Eran akhirnya berdiri di depan gedung pencakar langit milik keluarga Baskara. Ia terpaksa menerima tawaran itu, bukan karena ia tunduk pada kekuasaan Elian, melainkan karena realita hidup menghantamnya dengan keras. Belasan lamaran kerja paruh waktu yang ia sebar selama seminggu ini berakhir nihil; sebagian menolak karena status rehabilitasinya, sebagian lagi bahkan tidak memberinya kesempatan bicara. ​Demi bisa tetap kuliah pagi dan menyambung hidup, ia harus menelan harga dirinya bulat-bulat.​Di dalam ruang kerja yang luas dan aromanya tercium seperti kemewahan yang mengintimidasi, Eran duduk berhadapan langsung dengan pria yang menjadi alasan ayahnya di penjara.​"Siang, Pak Elian," sapa Eran. Suaranya rendah, tanpa nada berlebihan. "Saya tidak menyangka, orang sepenting Anda punya waktu luang untuk mewawancarai langsung orang seperti saya." ​Ucapannya sopan, namun ada sindiran tipis yang tersirat di sana. Ia tahu betul, untuk posisi Office Boy, seharusnya Elian

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 222 - Hari kepulangan Eran

    Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari kebebasan Eran. Sebelum menjemput pria itu, Lana menyeret sahabat masa kecilnya, Arka, ke sebuah mal mewah.Arka kuliah di kampus kelas atas jurusan Manajemen, sementara Lana dan Eran satu kampus di jurusan yang sama—Manajemen Bisnis.​"Lana, please! Kita sudah keliling tiga lantai hanya untuk mencari satu benda mekanik ini!" Arka memprotes sambil membenahi tatanan rambutnya di pantulan kaca etalase. "Bisa nggak kita ke store parfum aja? Bau mal ini terlalu 'biasa' buat hidung gue hari ini."​"Diem deh, Ka! Ini penting. Eran itu punya ambisi besar. Dia nggak mau cuma jadi orang biasa, dia mau sukses. Dan kamera ini... ini alat dia buat melihat dunia dari sudut pandang beda," sahut Lana sambil menunjuk sebuah kamera profesional seri terbaru.​Arka mendekat, matanya menyipit kritis melihat harga yang tertera. "Lo mau beli barang seharga gaji manajer tingkat menengah untuk seorang cowok yang baru keluar rehab? Seriously, Lana? Lo

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 221 - Sentuhan Tangan

    Berbulan-bulan lamanya, penolakan demi penolakan menjadi asupan harian bagi Lana. Namun, gadis itu memiliki keteguhan hati yang keras kepala. Hingga tiba di hari itu, di sebuah sore yang tenang di taman pusat rehabilitasi, pemandangan di depannya membuat napas Lana tertahan. ​Eran sedang duduk di bawah pohon besar, tangannya sibuk menggoreskan sketsa di atas kertas. Wajahnya tidak lagi sepucat mayat; ada rona kehidupan yang kembali menghiasi kulitnya. ​"Eran!" teriak Lana gembira, setengah berlari menghampiri pria itu. ​Eran mendongak. Matanya yang tajam kini terlihat lebih jernih dan fokus. Ia memperhatikan Lana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lana hari ini tampil berbeda; ia mengenakan gaun floral selutut yang manis, dan rambut panjangnya kini berwarna cokelat terang yang berkilau tertimpa cahaya matahari. ​Jantung Lana berdetak tak keruan saat Eran terus menatapnya tanpa kedip. Apakah dia terpesona? batin

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 102 - Putus Asa

    Sudah tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di taman itu, dan selama itu pula ponsel Boy tidak aktif. Pesan-pesan Maya hanya berakhir dengan centang satu yang membeku.​"Udah tiga hari, Mas Boy kenapa nggak bisa dihubungi ya?" gumam Maya gelisah.​"Maya..." Sebuah suara serak memecah keheninga

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 105 - Selamat Menempuh hidup baru, May!

    Suasana di masjid itu begitu kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Maya. Dekorasi bunga melati dan mawar putih premium menghiasi setiap sudut ruangan.Di kursi pesakitan—begitulah Maya menyebut kursi pengantin itu—ia duduk dengan kebaya putih yang sangat cantik, namun wajahnya tertutup kain

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 107 - Model Vs desainer Galak

    ​Sore itu di studio baru "Boy’s Touch", Boy sedang sibuk dengan kapur jahitnya di atas kain beludru. ​Tiba-tiba, pintu kaca studionya terbuka dengan denting lonceng yang kencang. Masuklah Nabila dengan gaya catwalk seolah-olah lantai studio itu adalah panggung Paris Fashion Week.​"Boy! Miss me?" s

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 97 - Berakhir nya Tahta Hendra Baskara

    ​"Bagaimana dengan pembelian saham tambahan itu? Kenapa laporannya belum masuk?!" bentak Hendra.​"M-maaf, Tuan Hendra. Ada kendala teknis dari bank koresponden di Kamboja," jawab sekretaris itu dengan suara bergetar. "Sistem mereka menolak otorisasi transaksi kita sejak pagi tadi."

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status