LOGINSetelah suasana berhasil ditenangkan sejenak—dengan bantuan tim keamanan yang akhirnya mampu menggiring orang-orang Hendra keluar dari area lobi utama—Elian kembali ke ruangannya.
Ya, Elian sadar betul. Ia tidak boleh menunjukkan kemarahan berlebihan. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali menjadi 'monster' mengerikan yang meledak-ledak seperti dulu. Amarah hanya akan membutakan logika, dan itu adalah hal yang sangat diinginkan oleh pamannya."Berpikir,Sepulang dari kampus, Lana tidak langsung pulang ke rumah. Gadis itu justru mengarahkan mobilnya menuju kantor pusat Baskara Group. Jelas sekali, tujuan utamanya sore ini adalah menemui sang Office Boy paruh waktu yang merangkap sebagai pria incarannya.Eran.Lana melangkah keluar dari lift di lantai dasar, matanya langsung menyapu area lobi yang luas dan mengkilap. Kosong. Hanya ada beberapa resepsionis dan satpam yang menyapanya dengan hormat. Lana mendengus kesal, lalu naik ke lantai berikutnya."Di mana sih, tuh anak? Kenapa nggak kelihatan ya dari tadi?" gumam Lana dengan wajah merengut, celingukan ke kanan dan ke kiri sembari memegang tali tasnya erat-erat.Ia berjalan menyusuri koridor kaca dengan langkah menghentak. Rasa kesalnya pada Bagas di kafe tadi mendadak menguap, berganti dengan rasa rindu bercampur gemas karena pesannya sejak siang hanya dibalas Eran dengan satu huruf: "Y"."Kenapa juga punya Papa harus punya gedung setinggi dan sekeren ini sih? Lantainya banyak
Beberapa bulan kemudian, dinamika kampus mulai terasa semakin sibuk. Lana melangkah masuk ke sebuah kafe di dekat kampus dengan wajah yang ditekuk habis-habis. Matanya langsung menangkap sosok familiar di sudut ruangan."Sonya!" teriak Lana, suaranya sukses membuat beberapa pengunjung menoleh.Sonya yang tengah menikmati minumannya sedikit tersentak. "Lana..."Tanpa menunggu izin, Lana langsung mengempaskan dirinya di kursi samping Sonya. Ia sedang dalam fase "BT akut". Eran baru saja menolaknya lagi—kali ini lebih tegas, lebih logis, dan itu yang membuatnya semakin kesal. Lana butuh asupan gula dosis tinggi untuk melampiaskan emosinya."Kamu ada masalah? Wajahmu sudah seperti benang kusut," tanya Sonya heran.Lana mengembuskan napas kasar, lalu menirukan gaya bicara Eran dengan nada mengejek. "'Gue harus fokus kuliah, bukan pacaran! Kita bisa jumpa tiap hari di kampus, satu jurusan, satu kelas, kenapa juga harus pacaran?'... Begitu katanya, Son! Dia terus saja menggantung hubung
"Kita hadapi ini bersama, tapi tolong jangan pernah pergi dari aku. Itu saja mauku, Om..." bisik Sonya sembari menggenggam tangan pria itu.Antonio menatap netra gadis di depannya, lalu menghela napas panjang. "Kamu benar-benar keras kepala, Sonya."Saat Antonio mencoba berdiri untuk berpindah tempat ke area yang lebih privasi, ia tiba-tiba meringis pelan sembari memegangi pinggangnya. Gerakannya tertahan, dan wajahnya sedikit memucat."Luka baru lagi?" tanya Sonya dengan nada yang mendadak dingin namun sarat akan kekhawatiran. "Peluru?" sambungnya singkat.Antonio hanya mengangguk tipis. Beruntung peluru itu hanya menyerempet bagian pinggang dan sudah berhasil dikeluarkan secara mandiri sebelum ia menemui Sonya. Luka-luka seperti ini sudah menjadi "makanan harian" yang ia santap sejak lama di dunia gelapnya.Sonya mengembuskan napas panjang. "Sampai kapan calon suamiku ini bakal luka terus? Nanti yang membekas di badan Om cuma luka-luka ini, bukan aku," keluh Sonya, mencoba meny
"Papa!" teriak Lana sembari menggebrak pintu. Elian yang tengah serius meninjau laporan di meja kerjanya sampai tersentak dan hampir menjatuhkan pena. "Ya ampun, Lana! Kamu mau bikin Papa masuk rumah sakit karena jantungan?" Elian mengurut dadanya, menatap putrinya yang sudah duduk dengan wajah ditekuk di depannya."Pa, kenapa Eran nggak kerja hari ini?" tanya Lana tanpa basa-basi.Elian menghela napas, mencoba kembali tenang. "Ini hari Minggu, Lana. Dia masih mahasiswa dan butuh hari libur, bukan? Papa bukan mandor yang kejam.""Terus kalau Eran bakal kena bully kalau diistimewakan ?"Diistimewakan?" Elian menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir karena Eran kenalan kamu, Papa bakal kasih keistimewaan? Di kantor, dia bukan siapa-siapa bagi Papa. Paham?" tegas Elian.Rinjani masuk ke ruangan sambil membawa camilan, tersenyum kecil melihat tingkah suami dan putrinya. Ia duduk di samping Lana dan mengusap bahunya. "Jadi benar, kamu beneran menyukai pria itu?" tanya Rinjani lembut.
Setelah dari ruangan ayahnya,Lana keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru,lorong tadi sudah sepi, membuat nya mencari Eran kesudut lain. "Di mana sih dia? Cepat banget hilangnya!" gumam Lana kesal. "Cari siapa, Tuan Putri?" Lana tersentak. Eran tiba-tiba muncul dari balik pilar besar sambil meletakkan ember pel di tangannya. Pria itu berdiri santai, menatap Lana dengan pandangan menyelidik yang khas. "Nyari lo lah!" jawab Lana jujur, napasnya masih sedikit terengah. "Gue? Buat apa? Lo ada masalah apa lagi sama gue?" tanya Eran sambil melipat tangan di dada. "Bukan masalah. Ini... gue ada hadiah buat lo, sekalian permintaan maaf," ujar Lana sembari menyodorkan kotak hitam yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tasnya. Eran mengernyitkan dahi, menatap kotak itu dengan ragu. "Ini apa? Minta maaf buat apa?" "Karena gue udah bikin lo tertahan di pusat rehabilitasi cukup lama." Eran terdiam sejenak. Ia menatap kotak mahal itu, lalu kembali menatap Lana. Ia sempat
Seminggu berlalu. Eran akhirnya berdiri di depan gedung pencakar langit milik keluarga Baskara. Ia terpaksa menerima tawaran itu, bukan karena ia tunduk pada kekuasaan Elian, melainkan karena realita hidup menghantamnya dengan keras. Belasan lamaran kerja paruh waktu yang ia sebar selama seminggu ini berakhir nihil; sebagian menolak karena status rehabilitasinya, sebagian lagi bahkan tidak memberinya kesempatan bicara. Demi bisa tetap kuliah pagi dan menyambung hidup, ia harus menelan harga dirinya bulat-bulat.Di dalam ruang kerja yang luas dan aromanya tercium seperti kemewahan yang mengintimidasi, Eran duduk berhadapan langsung dengan pria yang menjadi alasan ayahnya di penjara."Siang, Pak Elian," sapa Eran. Suaranya rendah, tanpa nada berlebihan. "Saya tidak menyangka, orang sepenting Anda punya waktu luang untuk mewawancarai langsung orang seperti saya." Ucapannya sopan, namun ada sindiran tipis yang tersirat di sana. Ia tahu betul, untuk posisi Office Boy, seharusnya Elian
"Tuan Elian. Tuan tidak membeli saya. Tuan meminjam saya. Dan sebagai imbalannya, saya akan menjadi yang paling jujur pada Tuan.""Nyonya Kirana sudah pergi, Tuan. Sekarang waktunya Tuan memilih. Maukah Tuan memberi ruang untuk diri Tuan sendiri, atau Tuan akan tetap menjadi tawanan dari
Rinjani mengangguk cepat. "Mengerti, Tuan."Ia segera berbalik dan pergi, sebelum Elian berubah pikiran.Rinjani berhasil meminjam motor matic dari hotel. Dengan rasa lega yang luar biasa, ia meluncur ke pasar tradisional. Begitu tiba di pasar, Rinjani seperti anak kecil yang baru di
Rinjani terbangun di pagi hari dengan suara ketukan di pintu kamar. Ia segera melihat jam dinding, baru pukul 8 pagi. Rinjani bergegas membuka pintu, menerima sarapan yang diantarkan staf hotel. Ia kembali ke kamar. Elian masih terbaring di kasurnya, tampak jauh lebih tenang,
Setelah sesi pengobatan dan fashion show yang canggung, Rinjani membereskan barang Elian. Ia menaruh pakaian Elian di lemari dan meletakkan koper di sudut ruangan."Tuan, kamar saya di mana?" tanya Rinjani setelah selesai membereskan barang. Ia berasumsi, di suite penthouse ini, pasti ad







