로그인"Tidak! Menjauh!" Zhue berteriak kencang dan terus meronta ketakutan.Setiap kali ada yang membuka pintu kamar tempatnya beristirahat, Zhue langsung berlari dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.Wajah gadis itu tampak pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat dengan kedua tangan yang mencengkeram erat jemarinya sendiri.Tatapan matanya terlihat sangat tajam, mengamati sekitar dengan ketakutan luar biasa seolah seluruh ruangan itu dipenuhi oleh binatang buas yang siap menerkamnya kapan saja.Zhue terisak pilu. Air matanya mengalir kian deras diiringi suara napas yang memburu panik."Aku tidak mau! Menjauh! Tolong pergi," isak Zhue ketakutan.Perasaannya berkecamuk hebat. Ada luka batin dan rasa trauma yang begitu besar, merusak ketenangan jiwanya dan sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja."Nona Zhue, jangan takut ...." Pelayan wanita paruh baya itu mencoba melangkah mendekati ranjang dengan hati-hati. "Nona, saya di sini hanya ingin membantu Nona mengganti pakaian Nona. Sud
"Semuanya sudah berakhir! Aku sudah kehilangan segalanya!"DOR!Asap mesiu mengepul tipis, menguar memenuhi ruangan beton yang sempit dan pengap.Dentuman suara tembakan baru saja mereda, menyisakan denging panjang di telinga. Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru jauh di luar dugaan.Bukannya menembak Kevin, Laura justru menembak kepalanya sendiri.Sadar tidak ada lagi masa depan untuknya. Karier hancur, martabatnya telah diinjak-injak, dan pengampunan dari Diego maupun Freya adalah hal yang mustahil didapat.Neraka dunia yang diciptakan untuknya ini tidak akan pernah berakhir meski ia berhasil membunuh Kevin.Wanita itu tewas seketika di tempat, dengan mata terbuka lebar dan menatap kosong, tepat di hadapan mata kepala Kevin sendiri.Darah segar mengalir membasahi lantai, menciprati sekujur tubuh Kevin yang telanjang dan penuh luka.Pria itu terpaku kaku, matanya membelalak lebar menatap mayat Laura yang tergeletak mengenaskan di bawah kungkungannya. Otak Kevin mendadak ko
"Dia tidak mungkin lari jauh. Obat itu pasti sudah merusak saraf kesadarannya," seru pria bertopi hitam."Ikuti saja jejak ranting yang patah ini."Para pria itu berjalan santai mencari keberadaan Kevin. Mereka tahu, tidak ada jalan keluar di hutan, apalagi dengan kondisi ringkih begitu.Di tengah belantara, pelarian Kevin yang menyedihkan dengan langkah tertatih-tatih berakhir tragis.Pengaruh obat tidur yang kuat serta rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya membuat pria itu tersungkur tak berdaya di atas tanah basah.Tanpa perlawanan berarti, para pengawal elit Diego menyeret tubuh Kevin kembali ke dalam vila terisolasi, melemparnya tanpa ampun ke dalam sebuah ruangan beton yang lembap dan berbau tengik.Di dalam ruangan tersebut, Laura sudah terkulai lemas di sudut dinding.Kondisinya tak kalah mengenaskan, tubuhnya penuh luka memar, rambutnya berantakan, dan jiwanya hancur total usai dijadikan objek pemuas nafsu oleh tunawisma kumuh."K-Kevin .... " Laura menatap orang yang baru s
"Hap!"Kevin mendadak membuka mata. Melihat langit-langit kamar. Ia melirik ke kiri dan kanan, tidak ada siapapun, ia masih sendiri di ruang penyiksaan itu."Ssttt! Ah! Sial!" desah Kevin meringis sakit.Rasa panas yang membakar seluruh permukaan kulit akibat ribuan sengatan serangga membuat napas Kevin memburu kian parau.Namun, di tengah penderitaan yang melumpuhkan itu, naluri bertahannya mendadak melonjak tajam saat ia menyadari ... engsel penutup di bagian atas kotak kaca itu longgar akibat dentuman tubuhnya yang berguncang hebat.Dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul dari keputusasaan, Kevin mendorong bagian atas akuarium menggunakan dadanya.Brak!Penutup kaca itu bergeser sedikit. Mengingat bagaimana Zhue dulu meloloskan diri dari tempat penyekapan, Kevin nekat memanjat dinding kaca yang licin dengan jemarinya yang membengkak dan berdarah.Ia meraih celah besi di plafon gantung ruangan tersebut. Dengan tubuh gemetar dan rintihan kesakitan yang ditahan mati-matian, Kevin men
"Arghh! Sial! Aku di mana?"Sementara Laura terpuruk dalam trauma tak bertepi di kamar sebelah, suara teriakan penuh penderitaan mulai menggema dari balik dinding beton ruangan khusus lainnya.Di sana, Kevin terbangun dalam kondisi yang tak kalah mengenaskan. Kedua tangannya terikat rapat di atas kepala, sementara tubuh polosnya dikurung di dalam sebuah kotak kaca tebal berukuran raksasa, serupa akuarium manusia yang menyisakan sedikit ruang untuk bernapas.Pria yang semula begitu jemawa dan merasa tak tersentuh itu kini merayap panik saat menyadari posisinya yang terkunci total tanpa busana."S-siapa di sana? Lepaskan aku! Diego, aku tahu ini perbuatanmu! Keluar dari persembunyianmu! Penakut!" teriak Kevin dengan napas memburu, menggedor-gedor dinding kaca tebal di hadapannya.Namun, tidak ada sahutan yang membalas semua panggilan Kevin.Deg!Lampu sorot di atas akuarium mendadak menyala terang, menyilaukan pandangan Kevin.Dari celah katup di bagian atas kotak kaca, suara desisan
"Tubuh ini sangat indah. Ohhh, aku sangat suka. Terima kasih Tuhan, akhirnya aku mendapatkan kesenangan di dunia."Tawa pria tunawisma itu pecah, menatap tubuh polos Laura dari ujung kaki sampai kepala.Sangat indah dan memesona. Meski kulit putih mulus itu terdapat noda muntahan dan bau makanan basi yang menyengat.Ditatap seperti ingin ditelan hidup-hidup, membuat Laura semakin histeris.Rasa jijik tak mampu lagi ia ungkapkan dengan kata. Isi lambungnya tumpah, dan tak bisa lagi dikeluarkan."Tuan Diego! Tolong ampuni aku! Kevin! Di mana kamu? Tolong aku! Tolong!"Suara jerit histeris dan raungan memohon ampun dari mulut Laura bergema memenuhi seluruh sudut ruangan berdinding beton yang dingin itu.Namun, tidak ada rasa iba sedikit pun di mata pria tunawisma yang sengaja disewa untuk memberikan pembalasan setimpal."Gadisku Sayang, kita mulai saja sekarang ya. Aku sudah tidak sabar."Pria itu menurunkan resleting celananya dengan terburu-buru sambil terus memeta lekuk tubuh Laura ya
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat







