Mag-log inKening Freya berkerut saat melihat balasan pesan yang masuk dari Diego. Bukan kata-kata manis atau balasan mesra, layar ponselnya justru menampilkan sebuah gambar seekor Naga Betina yang tengah mengenakan gaun pengantin mewah.
"Apa maksudnya ini?" gumam Freya heran. Namun, ia segera menepis rasa penasaran itu dan memilih untuk tidak memperpanjang obrolan.
Setidaknya, ia bisa bernapas lega karena Diego tidak mengirim emoji tertawa atau pesan ledekan
Suasana di dalam ruang rawat VIP perlahan kembali hening setelah kepergian Diego dan Freya.Yoss melirik sekilas ke arah ZingZing yang masih berdiri termangu menatap pintu, sebelum akhirnya ia berpamitan untuk mengurus beberapa urusan logistik rumah sakit.Tak lama berselang, Ruth melangkah masuk ke dalam kamar. Pria berpenampilan tegas itu menghampiri ZingZing yang tampak bosan dan kebingungan di sudut ruangan.Sebagai bagian dari kesepakatan Diego untuk membawa pemuda itu ke kota, Ruth diberi tugas khusus untuk meninjau adaptasi ZingZing di dunia luar."Heh, anak pulau," panggil Ruth dengan nada datar khasnya. "Jangan berdiri terus di situ seperti patung selamat datang. Ikut aku keluar."ZingZing mengerutkan keningnya bingung. "Mau ke mana?""Tuan Diego menyuruhku membuatmu terbiasa dengan kehidupan kota. Kalau kamu terus-menerus di sini, kamu hanya akan jadi penonton setia di rumah sakit," jawab Ruth sambil melangkah keluar, memberi isyarat agar ZingZing mengekor."Iya tapi kit
"Baby, ada kabar bahagia untukmu."Di sudut ruang VIP Diego menghubungi sang istri sambil menatap ke arah Zhue yang tertidur pulas."Kabar baik apa Paman? Apa Zhue dan Yenzing sudah ditemukan?" tanya Freya. Suaranya terdengar gemetar. "Katakan Paman!""Ya, Zhue sudah ditemukan, tapi Yenzing belum. Saat ini Zhue berada di rumah sakit dalam keadaan baik-baik saja setelah mendapat penanganan dari dokter. Kemungkinan Yenzing juga bisa ditemukan dalam keadaan hidup.""Ya Tuhan, syukurlah," ucap Freya. "Apa aku boleh ke sana Paman?""Ya, tentu saja. Kamu akan dijemput supir. Kamu tunggu saja di sana ya.""Baik Paman, terima kasih."Keduanya mengakhiri pembicaraan di dalam telepon.Tak berapa lama pintu ruangan tiba-tiba terbuka dari luar. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.Freya, dengan ekspresi wajah yang masih menyisakan kekhawatiran mendalam dan mata sembab, langsung menerobos masuk ke dalam kamar rawat.Setelah melihat adiknya terbaring lemah di atas ranjang, pertahanan Frey
"Jangan terpancing! Jangan dengarkan omongan dia. Dia hanya ingin menjebakmu. Orang-orang kota hanya bisa menghina dan merendahkan orang pesisir seperti kita!" cegah Gama panik, memukul bahu anaknya. "Dia hanya ingin menipu kita!""Ayah ... tapi ...." ZingZing tampak bimbang luar biasa. Keinginan terpendamnya sejak kecil untuk melihat dunia luar mendadak mendesak naik ke permukaan. "Di pulau ini kita miskin, Ayah ... kalau aku ikut dengan Tuan ini, aku bisa mengubah hidup kita ....""ZingZing!" bentak Gama marah besar. "Kamu bukan anak yang bodoh! Kamu pasti tahu apa yang mereka inginkan! Mereka hanya akan menipumu. Jangan terpancing!""Tapi Ayah .... ""Cukup!" Suara bariton Diego menggelegar menghentikan perdebatan ayah dan anak itu.Diego menatap Gama dengan dingin. "Bagaimana, Tua Bangka? Uang ini milikmu, dan anakmu ikut denganku ke kota untuk memulai hidup baru. Atau ... kalau kalian menolak, dan aku ratakan pulau ini malam ini juga bersama seluruh penduduknya?""Tuan Diego F
"Tidak ada di sekitar sini. Kita sudah melewatinya dua kali dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Yenzing," ujar Ruth nyaris putus asa.Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika Diego, Ruth, dan Yoss kembali menyusuri garis pantai pulau terpencil itu dengan langkah penuh kewaspadaan.Setelah berjam-jam menyisir area sekitar hutan dan perkampungan nelayan semalaman tanpa hasil untuk mencari keberadaan Yenzing, Diego mengambil keputusan tegas.Mencari Yenzing di tengah pulau yang luas ini bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, dan keselamatan Zhue yang sedang sakit serta terancam oleh obsesi keluarga Gama harus diprioritaskan lebih dulu."Kita tidak bisa terus-menerus membuang waktu dengan cara kucing-kucingan seperti ini, Tuan," bisik Yoss saat mereka berjalan di balik semak-semak lebat menuju rumah panggung Gama. "Warga desa mulai curiga pada gerak-gerik kita."Diego menghentikan langkah, menatap lurus ke arah rumah panggung kayu di hadapan mereka dengan tatapan dingin."Aku tah
"Kalau Zhue ditemukan di lautan yang tidak jauh dari pantai ini, ada kemungkinan Yenzing juga berada di sekitar sana," ucap Diego sambil menatap hamparan laut lepas di depannya."Saya sudah memerintah pengawal yang lain untuk menyusuri lautan itu Tuan."Diego mengangguk. "Kalau begitu, kita cari Yenzing di daratan.""Baik Tuan."Ketiga orang itu langsung menyusuri jalan setapak di tepi pantai, menjauh dari kawasan rumah Gama agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut dari warga desa.Di dalam hati Diego, bara kemurkaan dan kekhawatiran bercampur aduk menjadi satu.Memikirkan bagaimana caranya agar Zhue bisa keluar dari cengkeraman keluarga nelayan yang berniat memaksa gadis itu menikah, tetapi ia juga harus memastikan keberadaan Yenzing.Jika Zhue terdampar di pulau ini, bukan hal yang tidak mungkin suaminya juga berhasil menyelamatkan diri ke daratan yang sama, meski hingga kini belum ada jejak yang ditemukan."Kita cari di sebelah sana! Berpencar!" titah Diego."Baik Tuan!"**
"Ini rumahnya."Langkah kaki Diego, Ruth, dan Yoss terhenti tepat di depan rumah panggung kayu sederhana yang berdiri tidak jauh dari pantai.Suasana di sekitar rumah itu tampak sepi, hanya terdengar suara deburan ombak dan desau angin pesisir yang menerpa dedaunan.Diego, yang masih mengenakan caping bambu dan kemeja nelayan usang, mengetuk pintu kayu rumah tersebut dengan pelan.Tok! Tok! Tok!"Permisi!" seru Yoss.Ruth mendekat, ikut mengetuk pintu bersama Tuan Besar-nya."Permisi. Ada orang di dalam?"Tak lama berselang, pintu berderit pelan. Seorang pria paruh baya berwajah ramah, yang kemungkinan Gama membuka pintu hanya setengah.Ia menatap ketiga tamu asing itu dengan kening berkerut. "Kalian siapa? Mau apa pagi-pagi begini ke rumah saya?" tanya Gama dengan nada curiga, memperhatikan penampilan Diego dan dua pria di samping kiri dari atas sampai bawah.Diego membuka caping bambunya sedikit, menampakkan sorot mata tajam yang langsung memancarkan wibawa luar biasa. "Maaf me
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan







