Masuk"Aku mendengar semuanya!"Diego terhenyak kaget saat baru saja membuka pintu kamar perawatan putranya.Tiba-tiba saja Freya sudah berdiri tepat di belakang pintu sambil berkacak pinggang dengan tatapan mata sangar.Seketika itu, ekspresi dingin Diego melunak. Pria itu menyunggingkan senyum semanis mungkin untuk meluluhkan Wanita Kesayangan."Tentang apa, hmm? Kenapa berdiri di sini? Kamu menungguku, Baby?" Diego melangkah mendekat, hendak merangkul lengan Freya dengan lembut.Namun, Freya menepis kasar tangan itu sambil melotot tajam. "Aku mendengar semua percakapanmu dengan Yenzing di kamar tadi! Aku tahu kamu meminta Yenzing melupakan Zhue. Apa kamu sadar saat mengatakan itu? Apa kamu bisa melupakan wanita yang kamu cintai dengan semudah itu? Dan memaksa Yenzing mencari wanita lain yang lebih cantik? Memangnya cinta bisa datang hanya karena melihat wajah cantik? Kamu pikir Yenzing pria dangkal seperti itu?" cecar Freya tanpa jeda.Napas Freya memburu, wajahnya memerah menahan
"Sejauh apa hubunganmu dengan gadis bernama Zhue?"Baru saja membuka mata, Yenzing sudah dihujani pertanyaan dingin dari Diego Foster.Dengan mata bengkak parah yang sulit dibuka, Yenzing menatap Tuan Besar-nya itu. "Saya mengenal Zhue sejak beberapa bulan lalu, Tuan. Dan saya baru tahu kalau dia anak Zhang, musuh Anda. Saya berani bersumpah tidak tahu sama sekali tentang itu. Andai saja saya tahu dari awal, saya tidak mungkin mendekatinya."Yenzing menahan napas sejenak sebelum melanjutkan, "Awalnya, tujuan saya mendekati Zhue hanya untuk memanfaatkannya. Saya tahu dia tinggal di Hong Kong dan bekerja di rumah sakit tempat Nona Freya rutin memeriksakan kandungan. Saya berharap bisa menggali informasi tentang Nona Freya melalui dia. Rencana itu berhasil. Berkat dia, saya tahu Nona Freya dalam keadaan baik-baik saja, termasuk soal kelahiran Tuan Muda Dante.""Saya benar-benar bersumpah tidak tahu-menahu soal identitas aslinya. Dia tidak pernah menceritakan apa pun tentang ayahnya.
"Jangan melihat ke arah situ!""Kenapa? Apa yang salah?" balas Diego santai. "Bukannya kamu sendiri yang memulainya? Kamu memberikannya, dan akhirnya aku tahu rasanya seperti apa. Wajar 'kan kalau ternyata aku suka?""Ish! Menyebalkan! Kamu masih tetap mesum seperti dulu!"Diego tertawa renyah. Namun, tawa itu seketika terhenti saat Freya membekap mulut suaminya menggunakan telapak tangan."Dante baru saja tidur!" bisik Freya sambil melirik ke arah box bayi. "Jangan berisik!"Diego mengangguk pelan. Menggenggam pergelangan tangan istrinya, menatap lekat-lekat dengan tatapan yang selalu berhasil membuat dada Freya berdesir.Ditatap sedalam itu oleh pria yang amat dicintai, Freya refleks memalingkan wajah. Teringat masalah di antara mereka belum sepenuhnya selesai. Dengan cepat, Freya melepas genggaman Diego lalu menegakkan posisi duduknya.Sadar sang istri belum sepenuhnya membuka pintu maaf, Diego mengalah. Menerima sikap dingin itu, setidaknya Freya masih mengizinkannya berad
Kondisi Dante sudah sangat stabil. Bayi tampan itu kini dipindahkan ke ruang perawatan bayi.Freya dan Diego setia menemani putra mereka. Pagi harinya, Ibu Muda itu terbangun saat merasakan perutnya lapar.Ia membuka mata dan melihat Diego masih terlelap di atas sofa empuk. Perlahan, Freya beranjak turun dari ranjang yang sengaja disediakan rumah sakit di ruang VVIP demi kenyamanan ibu pasien.Freya melangkah mendekati pintu dan membukanya lebar.Melihat keberadaan Freya, anak buah Diego langsung mendekat. "Nona, Anda ingin ke mana?" tanya anak buah Diego yang berjaga di depan pintu.Freya tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada orang-orang yang berlalu-lalang di koridor rumah sakit, pria-pria berpakaian serba hitam, tetapi bukan anak buah Diego Foster.Keningnya berkerut dalam, penuh tanda tanya. Apalagi saat ia mendengar suara helikopter yang berlalu-lalang tepat di atas gedung rumah sakit entah sejak kapan."Carikan aku makanan," pinta Freya pada anak buah Diego."Baik, Nona
"Masuk!" titah Zhang pada seseorang yang mengetuk pintu ruang rahasianya.Tak lama pria bertubuh tinggi tegap membuka pintu dan menghentikan langkah kakinya, berdiri di hadapan Zhang."Saya baru saja mendapat kabar dari rumah sakit, Tuan," ujar pria itu dengan nada rendah sambil membungkuk, memberi hormat. "Bayi Diego yang sempat koma berhasil selamat. Kondisinya kini berangsur stabil dan sudah pulih dari masa kritisnya."Zhang tidak merespons dengan kata-kata. Hanya menatap cairan merah pekat di gelasnya."Bagaimana kelanjutannya, Tuan?" Pria itu memberanikan diri bertanya, suaranya sedikit bergetar. "Apa kita akan membuat Diego bertekuk lutut seperti di bandara waktu itu? Kita sudah terlanjur memancing emosinya, dia pasti akan membalas dendam. Apalagi saat ini, putri Anda sendiri ... Nona Zhue, dia terang-terangan berpihak pada Diego."Zhang menghela napas. Suaranya terdengar kasar memecah keheningan ruangan.Ia menyandarkan punggung pada kursi kebesaran, menatap bawahannya deng
"Anak kita selamat, Baby." Suara Diego terdengar parau menahan sisa tangisan.Ia melepas pelukan erat dengan Freya dan melangkah mendekati inkubator, menatap sosok mungil di balik kaca itu.Bayi Dante yang sebelumnya terkulai lemas, kini perlahan membuka mata. Tatapannya masih sayu, namun ada binar kehidupan yang kembali.Ajaibnya, Dante seolah merasakan kehadiran pria jangkung di sampingnya. Bayi itu menggerakkan bibir mungilnya, lalu membentuk lengkungan samar yang tampak seperti senyuman yang membuat hati Diego mencelos seketika."Dia tersenyum ... anakku tersenyum ...." ucap Diego lirih. Pria yang ditakuti itu kini tampak begitu rapuh, air mata kembali menggenang di kedua pelupuk.Freya mendekat, jemarinya yang masih gemetar menyentuh tangan mungil Dante yang melingkar erat di jari telunjuknya. "Sayang ... ini Daddy."Ia menatap Diego dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu pasti belum mengenal dia, kan? Dia memang seperti orang asing bagimu."Diego menoleh, tatapannya sed
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan







