LOGIN"Ke arah hutan!"Pesan singkat berpola sandi rahasia bergetar di layar ponsel Yoss, menandakan bahwa dua regu pasukan elit arahan langsung Diego telah tiba di titik kumpul luar kawasan hutan.Bayu yang mengintip dari balik semak belukar mengembus napas panjang dengan raut lega yang tak tertutupi."Bantuan dari Tuan Diego sudah sampai, Yoss," bisik Bayu penuh semangat."Ya, sudah terlihat." Yoss mengangguk kecil."Langkah Nyonya Freya benar-benar luar biasa. Sekarang kita punya kekuatan penuh untuk merangsek masuk.""Jangan jemawa dulu, Bay," tegur Yoss seraya mengokang senjatanya perlahan.Bayu menggerakkan kepalanya, menoleh ke belakang. "Semakin dekat," kekehnya senang."Kita harus menyusun strategi infiltrasi senyap. Target kita adalah menyelamatkan Nona Zhue dalam keadaan hidup, bukan memicu perang terbuka yang
"Percayalah Paman, Laura itu jahat. Dia dalang dari semua ini, dan kemungkinan ada yang membantunya memuluskan semua rencana busuknya itu. Juga tentang Jegar. Kita tidak pernah tahu dia anak siapa, bahkan Pak Bernad sekalipun."Ruang VIP rumah sakit itu seketika diliputi keheningan yang mencekam.Napas Diego memburu, urat-urat lehernya menonjol tajam seiring amarah yang mendidih di dalam dada.Pria tegap itu mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih, berniat membanting ponsel di genggaman."Laura ...." geram Diego dengan suara serak yang memancarkan aura membunuh. "Wanita iblis itu berani membohongiku! Aku akan menghancurkannya detik ini juga!"Diego bergerak hendak menyibak selimut dan bangkit dari ranjang, namun Freya dengan cepat menahan lengan suaminya."Paman, tenanglah!" bisik Freya tegas, menatap manik mata Diego lekat-lekat.
"Bagaimana Paman?""Hmm, apanya Baby?"Freya menghela napas dalam. Berusaha tenang dan tetap mengeluarkan jurus rayuan yang menjadi kelemahan sang suami."Kondisimu sudah lebih baik?" tanya Diego lembut. "Apa yang kamu rasakan sekarang? Selain merindukan aku."Ia menatap manik mata Freya yang memancarkan pendar kehangatan begitu memikat.Sorot mata yang sarat akan kepasrahan dan kelembutan itu seketika membakar habis seluruh sisa logika di kepala sang Naga.Gairah yang semula terpendam rapat kini meledak hebat, menguasai jalan pikirannya."Aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya ...." bisik Freya mendayu, jemari lentiknya mengusap rahang tegap Diego dengan gerakan sangat perlahan."Aku melihatnya seperti itu," kekeh Diego mesum."Paman ...." rengek Freya. "Jawab aku dulu ... maukah Paman mendengarkanku?"Bukannya menjawab dengan kata-kata, Diego justru merengkuh pinggang ramping Freya secara posesif, menarik tubuh molek itu hingga menempel tanpa jarak pada dada bidangnya."Aku tid
Jauh dari heningnya hutan. Yoss dan Bayu masih berjuang menemukan titik terang keberadaan Zhue."Rumahnya di sini, alamatnya sesuai dengan yang diberikan oleh tukang sapu itu .... " Yoss dan Bayu bergegas ke rumah pemilik toko.Setelah mendatangi kediaman pemilik toko kelontong tua tersebut dan memohon izin dengan sangat sopan, mereka berhasil mengakses serta menyalin rekaman CCTV yang mengarah ke lorong jalan pintas.Di dalam rekaman video berdurasi singkat dan sangat jelas itu, tampak sebuah mobil hitam menghentikan lajunya.Jelas bukan Zhue yang memasukkan racun, gadis muda itu justru menjadi korban penculikan dua orang pria asing berbadan tegap yang secara paksa menyeret tubuh Zhue yang sudah terkulai lemas akibat efek gas beracun dari dalam mobil Yenzing, lalu memindahkan ke mobil mereka.Video itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Zhue adalah korban penculikan, bukan pelaku sabotase."Kita punya buktinya, Yoss!" seru Bayu bersemangat langsung mencabut flashdisk dari komput
"Gadis lemah dan kelaparan seperti dia pasti akan mencari tempat aman untuk berlindung. Dia pasti ada di gubuk itu!" desis anak buah Kevin menatap ke arah gubuk tua di depannya."Ayo kita ke sana!"Buk! Buk! Buk!Suara gedoran keras bergema menghantam pintu kayu gubuk yang rapuh, diselingi umpatan-umpatan kasar yang membuat bulu kuduk berdiri."Dobrak saja pintunya!" teriak pria bernada garang.Sebelum kayu pintu itu hancur berantakan akibat hantaman sepatu laras, Nenek Diana dengan tenang menarik sel slot besi dan membuka pintu lebar-lebar.Angin malam yang dingin menusuk langsung menyapu ruangan, membawa serta aroma mesiu yang menyengat.Di ambang pintu, berdiri tiga orang anak buah Kevin berbadan kekar dengan senjata api di genggaman.Wajah-wajah brutal mereka dipenuhi peluh, menatap sengit ke arah wanita tua yang berdiri gemetar di hadapan mereka."Ada apa ini, Nak? Kenapa malam-malam begini berteriak dan membawa senjata di depan rumah Nenek?" tanya Nenek Diana dengan suara be
Sang nenek tersenyum menatap ke arah Zhue. Selama tinggal di hutan, untuk pertama kali ia didatangi seorang tamu, apalagi tamu ini gadis muda yang cantik. Meski kondisi Zhue sangat memprihatinkan seperti habis dikeroyok massa."Habiskan makanannya, kalau kurang, Nenek akan memasak pasta lagi. Kebetulan stok pasta di rumah ini cukup banyak."Zhue hanya mengangguk sedikit. Perutnya terasa sangat lapar hingga membuatnya tak sanggup berbicara."Uuh!"Seteguk air hangat dan beberapa suap pasta hangat itu perlahan mengembalikan tenaga Zhue yang sempat terkuras habis.Setelah menghabiskan sisa makanan di piring, Zhue meletakkan gelas kayu itu perlahan.Tangannya yang lecet masih terasa perih, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar.Gadis itu menatap nenek tua yang sedang merajut kain di sudut meja dengan tenang."Nenek .
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s







