MasukSeorang wanita yang terluka parah terbaring di kubangan berlumpur dan punggung tangannya ditindih oleh kaki seorang wanita. Hidupnya sudah berada di ujung tanduk. Dia yang telah berlumuran darah, namun matanya masih bersinar, dipenuhi dengan kebencian. Pemandangan kini menjadi sangat menakutkan di malam yang hujan badai yang deras itu. Wanita itu ketakutan setengah mati, tetapi segera memulihkan semangat balas dendamnya. Mereka siap melemparkannya ke dalam lubang, seolah-olah dia hanyalah benda sekali pakai. Namun setiap inci tubuhnya menolak untuk menyerah kepada takdir. Saat dia mulai kehilangan kesadaran, seluruh hidupnya melintas di depan matanya. Dia tidak pernah membayangkan hal ini bisa terjadi, tetapi sekarang dia tahu dan semuanya sudah terlambat. Andai saja dia tidak jatuh cinta pada orang yang salah. Andai saja dia tidak menyia-nyiakan enam tahun hidupnya, dipermalukan di penjara, hanya karena seorang pria yang berjanji akan menikahinya dan membahagiakannya. Andai saja dia tidak memutuskan hubungan dengan keluarganya tanpa ragu-ragu. Jika dia tidak melakukan semua ini, mungkin ayahnya tidak akan pernah mengalami serangan jantung, mungkin ibunya tidak akan mengalami luka bakar. Dan saudaranya tidak akan diracuni, dinyatakan mati otak, dan dikutuk untuk tetap berada dalam kondisi cacat selama sisa hidupnya!
Lihat lebih banyak“Tidak! Tolong! Jangan! Jangan lukai dia! Tolong! Kumohon, kumohon, aku akan melakukan apapun juga!” teriak seorang pria dengan suara ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya berubah menjadi sangat pucat dan dia benar-benar menyedihkan.
Jeritannya semakin menjadi tatkala silaunya cahaya kilat dan guntur yang saling bersusulan menggelegar di angkasa malam ini. Hujan masih turun dengan deras di luar. Lisa segera menghampirinya dan mencoba untuk menenangkan pria itu. “Tenang, tenanglah, ada aku di sini,” ucap Lisa padanya dengan menepuk pelan punggungnya. Namun, tiba-tiba saja, pria itu membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Lisa lalu memeluknya dengan sangat erat. “Tolong, kumohon tolong aku!” Dia berkata lirih. Jantung Lisa berdetak cepat dan darahnya berdesir deras, pria ini memeluknya, dia bahkan belum pernah merasakan hal demikian dari pria yang bukan mahramnya, tetapi entah kenapa rasa empatinya saat ini sangat tinggi membuatnya sangat iba dengan pria ini. “Sabarlah, kamu aman sekarang.” Suara lembut Lisa membuatnya perlahan bisa mengatur ritme napasnya menandakan pria ini sekarang sudah jauh lebih tenang. Namun demikian, pelukannya pada Lisa masih kuat seolah tidak ingin dilepaskan. Tiba-tiba saja, seketika penerangan padam disusul dengan cahaya kilat yang memenuhi ruangan, semakin erat saja pria ini melakukannya, apalagi setelahnya suara petir seolah memecahkan tempat ini. Jantung Lisa kembali berdetak kencang, tubuhnya yang mulai tenang tadi menjadi bergetar hebat kembali, hanya saja kali ini mulut pria itu terkunci rapat. “Tenanglah dulu, aku akan mengambil lilin di belakang.” Lisa berkata menenangkannya. Pria itu menggeleng lalu bersuara lirih menyanyat. “Tolong jangan tinggalkan aku.” Baru saja Lisa ingin membujuknya lagi, kamar ini mendadak terang dengan sinar penerangan dari arah luar masuk melalui celah gorden yang masih terbuka. Banyak pasang mata melihat mereka dalam keadaan seperti ini, yang mana semua orang pasti akan sangat salah paham dengan posisi mereka. Berpelukan di dalam sebuah kamar yang gelap dan hanya berdua saja. “Lisa! Keluar kamu!” Teriak suara dari luar. Lisa benar-benar terkejut, dia ingin segera melepaskan pelukannya, tetapi suara dari luar itu terdengar seperti langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan membuat kegaduhan “Pak Duha! Lihat, ini kelakuan putrimu!” serunya dengan lantang. Lisa terlihat panik, dia berusaha untuk menjelaskan. “Tidak-tidak, ini salah paham ini–” “Kita harus menikahkan mereka!” timpal yang lain lagi. Lisa sangat terkejut dengan pernyataan barusan. Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bermaksud untuk menjelaskan pada ayahnya, tetapi ayahnya memandang dirinya dengan tatapan kecewa. “Tidak, kejadiannya tidak seperti yang bapak-bapak pikirkan ini. Ayah ini semua–” “Jangan berkilah kamu! Untungnya kita cepat datang, kalau tidak kalian pasti sudah melakukan hal diluar norma agama!” Seseorang dengan janggut tebal yang berseru pertama kali tadi bicara dengan nada tinggi pada Lisa. “Pak Duha, Bapak salah satu orang yang terhormat di kampung kita ini, jadi lebih baik kita nikahkan mereka saja malam ini!” Mata Lisa mulai berkaca-kaca, bagaimana mungkin dia menikah dengan pria ini?! “Pak, benar seperti yang Bapak ini bilang, kalau tidak mau Lisa mencoreng nama keluarga kita, kita harus menikahkan mereka.” Suara itu sangat dikenal oleh Lisa, dia adalah Ibu Ida, ibu sambungnya. Lisa menjadi sangat terpojok karena hal ini, tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan pada mereka. Lisa lalu melihat pria itu, jelas makin tidak ada harapan. Pria itu seolah-olah hidup di dunianya sendiri di saat yang segenting ini, pandangannya kosong ke arah depan dan wajahnya terlihat jelas seperti orang bodoh. “Bener, Pak! Perbuatan Mbak Lisa ini tidak dibenarkan, lagipula, takutnya kita juga kena imbasnya! Jadi, mending Mbak Lisa dinikahkan saja sama orang itu!” Kali ini suara Yasmin, adik tiri Lisa, ikut menggema di ruangan ini. Lisa benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan, ada rasa sesal yang dalam atas perbuatannya sendiri pada pria itu, tetapi dia tahu, segala sesuatu yang sudah digariskan jelas tidak bisa diubah begitu saja. “Ayah, Lisa tidak begitu, Yah, Lisa tahu batasan–” “Halah batasan! Jangan sok suci kamu! Kalau tahu batasan ngapain kamu berduan di kamar dengan dia? Pake peluk-peluk segala. Pak, kita harus menikahkan Lisa malam ini juga, kalau tidak nama baik keluarga kita menjadi taruhannya.” Ida mendesak Duha yang masih diam melihat anaknya. Lisa melihat ke arah Duha dengan tatapan memohon, tetapi sepertinya sang ayah tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah, saya akan menikahkan anak saya malam ini juga dengannya,” putus Duha. Hal ini membuat Lisa tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia tahu betul ayahnya ketika memutuskan sesuatu, sulit untuk ditarik kembali. “Ayah …,” lirih Lisa pada Duha, matanya menatap sendu, tetapi pria itu seolah menulikan telinganya. Saat ini yang ada dalam kepalanya adalah menikah dengan pria ini. Pria asing yang bahkan namanya sendiri saja dia tidak ingat! Duha masih tetap tinggal di kamar ini, dia melihat ke arah Lisa dengan tatapan kecewanya, matanya juga melihat tajam ke arah Lisa. “Lisa, ayah tahu kamu tidak akan melakukan apapun, tapi keadaannya cukup berbeda, semua orang bisa dengan jelas melihat kalau kamu dan dia memiliki hubungan tak biasa.” Duha berkata pada putrinya dengan suara yang berat. “Tapi Yah, ayah tahu sendiri dia ini bagaimana, kita tidak tahu asal-usulnya, bahkan hal paling kecil saja tentang namanya dia tidak tahu. ” tunjuk Lisa dengan suara tercekat pada pria itu. Duha hanya mengangguk dan menarik napas berat. “Menikahlah dengannya.” Kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya bagai sebuah godam yang memukul hatinya dengan paksa. “Tapi ….” “Ini yang terbaik saat ini.” Ayahnya mengelus pelan pucuk kepala Lisa sebelum akhirnya keluar dari kamar ini, meninggalkan Lisa dan pria asing itu dalam kamar ini. Lisa hanya diam, dia tetap tak kuasa untuk meneteskan air matanya saat Ayahnya keluar dari tempat ini. Sebelum berpesan padanya agar segera bersiap-siap untuk merapikan diri. Tiba-tiba, pria itu menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi Lisa. “Jangan menangis,” ucapnya dengan suara husky-nya membuat Lisa terkejut mendengarnya. “Kamu …?” Lisa tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tatapan pria itu sungguh dalam. “Gandha, namaku Gandha,” ujarnya. Lisa mengerutkan keningnya. Pria ini mengatakan siapa namanya? Apa dia tidak salah dengar? Belum sempat dia mendekati pria itu dan bertanya lebih jauh, suara Ida kembali terdengar nyaring di kamar ini. “Lisa! Kamu harus memakai pakaian yang rapi, biar tidak memalukan keluarga kita! Cukup kamu yang berdua-duaan dengan orang gila ini saja yang membuat keluarga kita malu!” hardik Ida. Lisa mematung, otaknya masih mencoba untuk berpikir cepat dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, dia kembali disadarkan saat tangan Ida menariknya paksa keluar dari tempat itu.Dwight sedikit terkejut.Sebelum Miranda masuk, dia sempat mengulurkan tangannya untuk menghentikannya agar tetap diam.Namun sekarang, atasannya malah terjebak. Haruskah dia ikut campur demi menunjukkan kesetiaannya?Melihat situasi itu, Matthew berkata kepada Sherry, "Di mana talinya sekarang? Cepat ambil. Kita harus menyelamatkannya!"Seolah baru tersadar dari mimpi, Sherry segera berjongkok dan mulai menggeledah ranselnya.Namun saat mencari tali itu, dia begitu panik hingga mulai berkeringat. "Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu di mana aku meletakkannya. Aku tidak bisa menemukannya!"Untungnya, pasir itu berhenti tenggelam.Meski begitu, pasir masih mencapai pinggang Miranda.Melihat nyawanya tidak dalam bahaya, gadis-gadis itu malah tertawa dan berkata, "Huh, siapa tadi yang begitu percaya diri? Kalau memang tidak mampu, sebaiknya jangan asal berjanji.""Ini hanya akan memperlambat kita. Kita bakal membuang banyak waktu hanya untuk menyelamatkannya. Ck ck ck, kenapa kita h
Dengan tujuan itu dalam pikirannya, Miranda mulai berjalan lebih lambat.Tim terus bergerak maju dan semua orang bekerja sama. Tidak ada seorang pun yang berpikir untuk menyerah.Matthew cukup puas, tetapi begitu dia berbalik, dia melihat Miranda berdiri di ujung barisan dengan ekspresi santai. Di sampingnya ada Dwight, yang selalu bersikap baik kepada semua orang dan mengikuti Miranda seperti seorang pengikut.Mereka tampak seperti sedang berlibur.Matthew sangat marah hingga ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya dia menahan emosinya dan tetap diam.Dia meninggalkannya begitu saja.Sepertinya dia merasa cemburu.Melihat pemandangan itu, Sherry menjadi kesal.Dia bisa merasakan dengan jelas bahwa sejak hari itu, Miranda marah kepada Matthew. Meskipun tidak satu pun dari mereka memenangkan perdebatan, hubungan mereka justru menjadi lebih buruk daripada sebelumnya.Namun, Sherry mengenal Matthew dengan sangat baik. Melihat sikapnya yang ragu-ragu, dia tahu Matthew menyimpan kebencia
Orang tuanya tidak pernah peduli dengan keselamatannya, apalagi keselamatan orang lain.Ketika ia diculik secara tidak sengaja dan nyaris tidak berhasil kembali ke rumah, ia berpikir akhirnya akan merasakan kasih sayang. Namun, ayahnya terlalu sibuk di meja judi, dan ibunya di rumah mengurus adik laki-lakinya.Keluarganya bahkan tidak menyadari bahwa dia telah hilang selama dua hari.Bukankah ini mengecewakan?Faktanya, sejak kecil, dia selalu kecewa dengan keluarganya.Allison berpikir bahwa jika dia dengan marah mengusir Max, Max akan pergi begitu saja.Namun, Max masih berada di tempat yang sama. Dia bahkan bercanda dengannya sambil berkata, "Apakah kamu bertengkar dengan keluargamu?"Dia menyebutkan hal-hal yang ingin dilupakan Allison. Allison menjadi sangat marah hingga kehilangan kendali dan melakukan sesuatu yang akan membuatnya merasa bodoh saat mengingatnya di masa depan.Dia memanjat pagar dan mengancam dengan dingin, "Pergi sana! Kalau tidak, aku akan melompat!"Sungai itu
“Allison!”Max refleks menangkap pergelangan tangannya sebelum gadis itu pergi lebih jauh. Namun begitu disentuh, Allison langsung berontak seperti hewan kecil yang terluka.“Lepaskan aku!”Matanya memerah. Dadanya naik turun karena emosi yang selama ini ia tahan akhirnya pecah begitu saja.“Apa hakmu mengatur hidupku?!” teriaknya. “Kau pikir karena pernah menolongku sekali maka kau bisa ikut campur dalam semuanya?!”Max terdiam sesaat.Dia belum pernah melihat Allison seperti ini sebelumnya.Biasanya gadis itu selalu tajam, sarkastik, dan penuh semangat. Bahkan ketika marah, dia tetap tampak hidup. Namun sekarang, wajah Allison pucat dan rapuh seolah sedikit dorongan saja bisa membuatnya hancur berkeping-keping.Perlahan Max melepaskan tangannya.“Oke,” katanya pelan. “Aku tidak akan memaksamu.”Allison menggigit bibirnya dan kembali berjalan ke depan.Namun langkahnya terasa goyah.Dia benar-benar lelah.Kakinya sakit karena berjalan terlalu lama, kepalanya pening akibat menangis di
Daisy kewalahan.Melihat berbeda dengan yang dia dengar, Meskipun dia telah mendengar tentang cara efektif dan tegas dari kepala keluarga Hogan, termasuk segala macam legenda yang aneh, dia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri.Dia mempunyai reputasi sebagai orang yang sangat berbahaya.Miran
"Serius?"Sebastian sedang menulis sesuatu, tapi tiba-tiba berhenti. Ada nada kegembiraan yang tertahan dalam suaranya saat berkata, "Jadi, apakah masih ada harapan untuk Willy Rahman?"Willy adalah seorang anak berusia sepuluh tahun, putra dari kakak perempuan Sebastian.Namun, saudari ini meninggal d
Namun kredibilitas pernyataan tersebut dipertanyakan. Sayangnya, Miranda tidak percaya sepatah kata pun.Namun, Sherry berkata pada dirinya sendiri, "Sudah lama sekali. Seharusnya aku memikirkan hal itu. Kak, aku salah. Seharusnya aku tidak bersaing denganmu demi Matt. Seharusnya aku tidak memilihmu
"Mengapa?"Mendengar ini, Fredrick dan Helen terkejut mendengar Miranda terengah-engah di ujung telepon dan memegang hati mereka di tangan. Lalu mereka bertanya, "Miranda, apa terjadi sesuatu padamu? Apakah kamu ingin kami mencarimu?""Tidak, aku akan datang."Miranda menutup telepon begitu dia menyele






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak