Share

Bab 3 Pertemuan Rahasia

Penulis: Yukari
last update Terakhir Diperbarui: 2023-11-24 00:11:32

Rani mengangkat tubuhnya. Rasa kaget membuatnya spontan berdiri hingga membuat kursi yang tenang jadi berderak jauh ke belakang. Tubuhnya oleng dan kehilangan keseimbangan hingga akhirnya ia jatuh dan duduk bersimpuh di lantai. Kalender yang tadinya ada di tangan pun ikut tergeletak.

“Rani! Apa kamu tidak apa-apa?” Sebuah tangan terulur ke hadapan Rani. Rekan kerja yang bicara dengan Rani sebelumnya menatap wanita itu dengan mata membulat dan alis mengerut.

Rani menyambut uluran tangan itu dengan satu tangan, sementara satu tangan lagi ia gunakan untuk memegang meja kerjanya sebagai penyanggah, agar ia bisa kembali berdiri.

“Terima kasih. Aku tidak apa-apa,” jawab Rani.

“Apa kamu yakin tidak apa-apa?” tanya rekan kerja Rani, sambil memungut kalender yang tidak bersalah dan meletakkannya kembali di atas meja.

Pertanyaan penuh keraguan itu sangat berdasar karena melihat wajah Rani yang melongo dengan tatapan kosong.

Rekan kerja Rani melanjutkan, “Kamu tidak perlu memaksakan dirimu, Rani. Aku paham kalau kamu memiliki banyak pikiran karena besok adalah hari pernikahanmu. Apakah aku perlu membicarakan ini dengan Pak CEO, agar memberikanmu cuti setengah hari?”

Rani menjawab, “Tidak. Aku tidak apa-apa, sungguh….”

Rekan kerja Rani menghela napas pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk melawan kekeraskepalaan wanita itu. “Baiklah. Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa memanggilku,” balasnya.

Rani mengangguk untuk memberikan persetujuan, dan rekan kerjanya pun pergi.

Setelah ia sendirian, Rani langsung mengambil kalender meja yang mengganggunya. Ia menatap barisan angka yang tampak di sana dengan lebih teliti untuk memastikan bahwa ia tidak melewatkan satu hal pun.

“Di sini benar-benar dituliskan tahun 2023. Bukankah sudah lama sejak perayaan tahun 2024 berlalu?” gumam Rani.

Tidak ada yang bisa menjelaskan keanehan itu. Ketika menatap sekelilingnya, semuanya terlihat normal. Hanya dirinya sendiri yang sedang dilanda kebingungan.

Ketika sedang mengamati, Rani menemukan keberadaan meja di hadapannya. Ya, barisan meja yang dua tempat di antaranya diisi oleh orang yang sangat ia kenal, Ivan dan Lidia.

“Ada satu cara yang bisa membantuku memastikan semua ini!” ucap Rani dalam hati.

Rani beranjak dari tempatnya. Dengan langkah yang tegas dan pasti, ia berjalan di lorong menuju ke sebuah tempat.

“Bu Rani, Ibu masih bekerja hari ini?”

“Kenapa Ibu tidak cuti?”

“Selamat untuk pernikahannya besok, Bu.”

“Apakah Ibu sedang mencari Pak Ivan?”

Sepanjang perjalanan, Rani terus saja mendapatkan ucapan-ucapan selamat yang berkaitan dengan pernikahannya. Topik yang kurang menyenangkan itu terpaksa ia jawab dengan senyuman palsu dan tawa yang kaku.

“Di sini tempatnya,” batin Rani.

Rani menatap sebuah pintu tertutup di depannya. Sebuah tempat yang menjadi lokasi strategis untuk sebuah pertemuan rahasia. Saat matanya memperhatikan, ingatan masa lalu terlintas ketika Rani pernah menemukan Ivan dan Lidia keluar melalui pintu itu dalam jarak waktu yang singkat. Ya, situasi yang aneh untuk disebut sebagai suatu kebetulan.

“Di masa lalu aku tidak memikirkannya, tapi bukankah itu adalah bukti yang sangat jelas kalau Ivan dan Lidia sedang berduaan saja di dalam sini?” pikir Rani.

Rani menarik napas panjang, sebelum ia akhirnya mendorong pintu itu.

“….”

Tidak ada apa-apa di sana. Yang ada hanya keheningan dengan barisan anak tangga yang tersusun rapi menuju lantai atas dan lantai bawah.

“Tidak ada apa-apa di sini. Apakah perkiraanku salah?” batin Rani. Sambil memikirkan bangku kosong milik kedua orang itu, Rani lanjut bergumam, “Kalau begitu kemana Ivan dan Lidia pergi?” 

Hasil kosong yang Rani dapatkan membuatnya ingin memikirkan cara lain. Akan tetapi, tepat sebelum ia keluar, ia mendengar suara.

“Mau bagaimana pun aku tidak rela.” 

Suara bisikan seorang wanita sedikit menggema hingga sampai ke telinga Rani. Tidak perlu menebak-nebak, suara yang khas itu adalah milik satu-satunya sahabat yang ia punya, Lidia.

“Tidak bisakah kamu membatalkan pernikahan itu?” tanya Lidia.

Seorang pria menjawab, “Bukankah kita sudah membicarakan ini, Lidia? Aku tahu ini sulit bagimu, tetapi aku harus melakukannya.”

Rani melangkah maju. Rasa penasaran membawa tubuhnya melangkah lebih dekat ke arah sumber suara. Ketika ia menuruni dua anak tangga, penampakan siluet dua insan yang berada di bawah, membuat Rani spontan menekuk kakinya dan berjongkok.

“Tapi bagaimana jika kamu malah jatuh cinta kepada Rani dan tidak mau bercerai?” rengek Lidia.  

“Jatuh cinta kepada Rani? Apakah kamu bercanda? Bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada wanita kaku itu?” sangkal Ivan. “Kamu tahu sendiri kalau aku menikahinya hanya untuk mendapatkan anak, bukan? Aku tidak ingin menyalahkanmu, namun jika saja kamu bisa hamil maka aku tidak akan perlu menikah dengannya.”

Bukannya membaik, suasana hati Lidia justru semakin runyam ketika mendengar pernyataan Ivan. Karena melihat ekspresi muka Lidia yang semakin gelap, Ivan pun kembali berbicara untuk membela diri. 

Pria itu menggunakan kemampuan bicaranya untuk meyakinkan Lidia. Ia berkata, “Kamu tahu ‘kan, kalau Rani mencintaiku? Selama kami menikah, aku akan membuatnya membeli banyak hal. Itu tidak akan sulit baginya karena ia memiliki gaji besar dengan posisinya itu.” 

Kalimat Ivan ditutup dengan senyuman licik yang membanggakan. “Jadi, ketika kami bercerai, aku akan mendapatkan bagian harta dan hak asuh anak. Setelah itu kita bisa menikah dan hidup lebih nyaman dan kaya.”

“Iya, aku tahu,” balas Lidia. “Kamu sudah pernah menjelaskan hal ini kepadaku. Meskipun begitu, tetap saja sulit rasanya untuk menghadiri pernikahan kalian/”

Ivan melebarkan tangannya dan mendekap erat Lidia di dalam pelukan. “Aku tahu. Itu sebabnya aku berterima kasih karena kamu sudah mau banyak mengalah padaku.”

“Kalau begitu, katakan kalau kamu mencintaiku,” pinta Lidia.

Ivan menjawab, “Itu bukan hal yang sulit. Aku akan mengucapkannya berapa kali pun kamu mau. Aku mencintaimu, Lidia.”

Setelah itu, dua insan itu melanjutkan suasana romantis mereka dengan saling mencumbu.

Rani mengernyit. Rasa sakit yang menusuk hatinya terasa sangat perih. Walau begitu, tidak boleh ada terlalu banyak waktu yang digunakan untuk tenggelam dalam rasa sakit. Rani harus memanfaatkan situasi itu dengan sebaik-baiknya.

“Hp! Aku perlu merekam pembicaraan mereka sebagai bukti!” batin Rani.

Rani merogoh-rogoh sekujur tubuhnya, namun ia tidak menemukan ponselnya di mana pun.

“Sial! Dari sekian banyak waktu, kenapa aku kembali ketika aku memakai pakaian ini?!” kesal Rani dalam hati.

Kemeja polos dengan rok span ketat, setelan pakaian formal yang menjadi ciri khasnya dalam bekerja tidak memiliki kantong sama sekali. Tidak ada tempat bagi Rani untuk meletakkan ponsel dalam setelan itu, dan ia teringat kalau ponsel yang paling ia butuhkan sedang berdiam santai di atas meja kerja.

Kekesalan ingin membuat Rani mengutuk. Dan saat tubuhnya grasak-grusuk untuk melakukan pencarian Hp, tangannya membentur pegangan tangga hingga membuat suara yang nyaring dan menggema.

“Suara apa itu?!” seru Lidia.

Rani terkesiap. Karena baru saja menguping rahasia besar, instingnya menyuruh agar ia segera kabur dari tempat itu agar tidak ketahuan. Rani pun mengikuti instingnya dan keluar dari sana dengan tergesa-gesa.

Mata Rani menatap lurus ke arah pintu yang menjadi tempatnya bisa menyelamatkan diri. Namun ada yang aneh! Pintu yang seharusnya tertutup rapat, kini malah memiliki celah yang cukup lebar. Dan ketika Rani mendorong pintu itu…!

Hap!

Rani ingin berteriak kaget ketika ia disambut oleh tubuh besar. Tapi sebelum itu terjadi, mulutnya sudah ditutup rapat oleh pria pemilik tubuh itu rapat-rapat.

“Jangan berteriak dan ikut saya,” bisik pria itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 21 Jejak Rekening

    Aku tidak menunggu matahari terbit untuk mulai bergerak, karena ketika Ivan akhirnya tertidur menjelang subuh dengan rahang yang masih terkatup tegang dan ponsel tergeletak di samping bantalnya seperti senjata yang gagal ia gunakan malam itu, aku sudah duduk tegak di ranjang kamar tamu sambil menatap layar ponselku yang dipenuhi salinan rekaman, pesan anonim, dan foto yang telah menjadi pemicu api di dadanya, lalu aku tersenyum pelan bukan karena bahagia, melainkan karena aku tahu pagi ini bukan tentang membela diri melainkan tentang membangun jebakan yang lebih rapi.“Aku tidak akan menunggu kamu menyerang lebih dulu,” bisikku dalam hati sambil merapikan rambut yang semalaman kusut karena berpura pura tidur. “Kalau kamu ingin bermain kotor, aku akan bermain lebih bersih, lebih tenang, dan lebih mematikan.”Ketika jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit, Ivan sudah berdiri di ruang makan dengan wajah yang terlalu tenang untuk disebut biasa, dan aku keluar dari kamar tamu dengan la

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 20 Pesan Tengah Malam

    Pada pukul 02.13, ketika udara di dalam apartemen terasa terlalu dingin untuk ukuran kota yang tak pernah benar benar tidur, sebuah getaran pendek memecah gelap di atas nakas sisi ranjang Ivan, dan dalam kegelapan itu aku yang terbaring di kamar tamu dengan ponsel terhubung pada perangkat kecil di langit langit kamar utama, mendengar suara notifikasi itu seperti dentang lonceng yang menandai babak baru permainan kami.Aku tidak sedang tertidur. Sejak ia mengganti pola kunci ponselnya dengan gerakan jari yang lebih panjang dan lebih hati hati, aku memilih untuk tidak lagi memejamkan mata tanpa kewaspadaan, dan malam itu aku berbaring dengan posisi yang sama seperti malam sebelumnya, ponsel di tangan, layar redup, aplikasi perekam menyala, dan napasku kuatur pelan agar tidak terdengar seperti orang yang menunggu sesuatu.Getaran kedua terdengar lebih lama. Lalu suara kasur berderit pelan ketika Ivan bergerak.“Apa lagi,” gumamnya lirih, suaranya serak karena baru terbangun.Aku memejamk

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 19 Tatapan Curiga

    Notifikasi kecil itu belum benar benar hilang dari pelupuk mataku ketika fajar menyusup melalui sela gorden kamar tamu, mengiris tipis ruangan yang pengap dengan cahaya pucat yang tidak membawa kehangatan apa pun, dan aku masih terjaga, masih memeluk ponselku seolah benda kecil itu satu satunya saksi bahwa aku tidak sedang kehilangan akal.Aku tidak pernah menyangka bahwa yang akan membuatku gemetar bukan suara Lidia, bukan pengakuan setengah hati Ivan, melainkan satu kalimat dingin di layar yang berbunyi aktivitas login tidak dikenal terdeteksi, seolah ada mata lain yang ikut membaca, ikut mengendus, ikut menunggu aku lengah.“Tenang,” bisikku pada diriku sendiri sambil menatap langit langit yang retaknya membentuk garis samar. “Kamu sudah memperhitungkan risiko. Kamu tidak bodoh.”Tetapi jantungku tidak peduli pada logika. Ia berdegup terlalu keras untuk ukuran subuh yang seharusnya sunyi.Suara pintu kamar utama terbuka memecah keheningan, diikuti langkah kaki yang berat menyusuri

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 18 Aku Tidak Akan Memberikan Anakku Padamu

    Aku tidak memindahkan tubuhku dari ranjang, tetapi sejak noda merah muda itu menatapku dari atas sarung bantal, aku tahu aku tidak akan pernah tidur di sisi yang sama lagi.Sore itu ketika Ivan pulang, suara kunci yang berputar di pintu terdengar lebih berat dari biasanya, seolah logamnya pun tahu ada sesuatu yang berubah di dalam rumah ini. Aku duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan, wajahku diterangi cahaya layar yang sengaja kubiarkan menyala agar ia melihatku sibuk, normal, tak tersentuh apa pun.Ia masuk tanpa menyapaku lebih dulu, melepas jas, menggantungnya, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Punggungnya terlihat tegang bahkan dari kejauhan.“Kamu tidak tanya bagaimana presentasiku?” tanyanya tanpa menoleh.Aku mengangkat wajah perlahan. “Bagaimana presentasimu?”“Berjalan baik,” jawabnya singkat. “Klien setuju lanjut ke tahap berikutnya.”“Bagus,” kataku tenang, lalu kembali menatap layar seolah berita itu hanya kabar biasa.Ia berdiri beberapa detik, m

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 17 Ivan Hanya Ingin Buat Anak

    Aku tidak pernah berniat menjadikan bulan madu sebagai medan perang, tetapi sejak Ivan memaksakan ide villa di Bali dengan suara penuh keyakinan yang terdengar seperti keputusan sepihak, aku tahu perjalanan itu bukan tentang cinta, melainkan tentang citra yang ingin ia pertahankan di depan dunia.“Semua orang tahu kita ke Bali,” katanya malam itu di apartemen, berdiri di depan meja makan dengan ponsel di tangan, memperlihatkan layar yang menampilkan foto villa dengan kolam renang menghadap laut. “Tempatnya privat, romantis, jauh dari gangguan. Ini sempurna.”Aku menatap gambar itu tanpa benar-benar melihatnya. Air biru, tirai tipis yang tertiup angin, tempat tidur putih besar dengan kelambu yang tampak seperti adegan iklan. Aku bisa membayangkan bagaimana ia akan memotret kami, bagaimana ia akan mengunggahnya, bagaimana komentar akan mengalir dengan ucapan iri dan doa bahagia.“Aku tidak mau ke Bali,” jawabku pelan.Ia tertawa kecil, seolah aku baru saja melontarkan candaan yang tidak

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 16 Sentuhan yang Ditolak

    Undangan itu menyebutnya sebagai makan siang sederhana bersama keluarga dan sahabat terdekat, tetapi ruangan privat di lantai dua restoran itu jauh dari kesan sederhana. Meja-meja bundar ditata rapi dengan taplak putih gading, vas-vas kecil berisi bunga segar, dan lilin aromatik yang menguarkan wangi lembut. Tawa dan suara kursi yang bergeser saling bertabrakan, membentuk riuh yang hangat, atau setidaknya terlihat hangat dari luar.Rani berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum masuk. Gaunnya jatuh lembut hingga betis, warna krem pucat yang membuat kulitnya tampak lebih terang. Rambutnya dibiarkan terurai sederhana, hanya disematkan satu jepit kecil di belakang telinga. Ia tampak seperti pengantin baru yang tenang dan anggun.Hanya saja, ketenangan itu bukan milik seorang perempuan yang sedang berbunga-bunga.Ivan menyusul dari belakang, langkahnya mantap, senyum terpasang rapi seperti jas yang dikenakannya. Begitu mereka masuk, beberapa sepupu jauh yang jarang ditemui, teman-tema

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status