Share

71. Alasan yang Aneh

Author: CeliiCaaca
last update publish date: 2026-10-02 16:26:11

Dokter itu mengedipkan matanya canggung, merasa atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah menjadi amat aneh dan mencekam.

Enggan memperpanjang ketegangan, sang dokter akhirnya mengangguk paham dan mengalihkan pandangannya kembali pada pasiennya.

"Baiklah kalau begitu, Tuan Anderson," ujar dokter sembari menyiapkan jarum suntik.

"Saya akan menyuntikkan obat pereda nyeri dan sedatif ringan ke dalam selang infus Anda agar saraf kepala Anda bisa beristirahat total."

Steve tampak tidak memprotes.

P
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   96. Babak Baru dalam Hidup Mereka

    Steve melangkah amat perlahan keluar dari tenda selimut, memastikan napas Elea dan Leon telah sepenuhnya teratur dalam lelapnya tidur.Di bawah temaram cahaya lilin yang kian meredup, pria tegap itu melangkah kembali menyusuri koridor rumah menuju kamar utama.Klek.Pintu kamar terdorong pelan. Di atas ranjang king-size, Julia ternyata belum memejamkan mata.Wanita itu duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk selimut tebal rapat-rapat di dadanya seraya menatap ke arah pintu dengan pendar mata yang dipenuhi kecemasan dan rasa penasaran mendalam."Steve... bagaimana? Elea sudah tidur lagi?" bisik Julia lirih saat menangkap sosok Steve yang masuk.Steve tidak langsung menjawab.Pria itu menyusup kembali ke bawah selimut tebal, merengkuh tubuh molek Julia dari belakang dan menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang amat erat dan protektif.Steve menyandarkan dagunya di bahu mulus Julia, menghirup aroma harum vanila yang menyeruak dari ceruk leher wanita yang teramat dicintainya itu.

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   95. Pertanyaan Polos Elea

    Steve menatap Julia yang panik setengah mati. Dengan gerakan tenang, pria itu menarik kembali tubuh polos Julia ke dalam dekapannya di atas ranjang."Steve! Lepas! Itu Elea di luar! Dia bisa masuk ke sini!" bisik Julia setengah berdesis dengan napas terengah-engah, matanya melotot panik menatap pintu kamar yang sedikit terbuka."Ssst! Tenang, Julia," bisik Steve dengan suara bariton rendahnya yang begitu menenangkan.Pria itu mengusap lembut bahu polos Julia. "Biar aku saja yang keluar menemui Elea. Dia mungkin cuma haus atau terkejut karena terbangun."Julia menggeleng cepat, raut wajahnya dipenuhi keraguan mendalam. "Tidak bisa, Steve! Elea itu pasti mencariku! Kalau dia tidak melihatku, dia tidak akan mau kembali tidur—""Dengar, Julia," potong Steve mantap, menatap lurus tepat ke dalam iris mata Julia yang panik.Sebuah senyuman tipis nan jahil yang teramat puitis terulas di bibir pria itu. "Biarkan aku yang mengurus putri kita. Kamu sebaiknya istirahat di sini. Aku tahu kamu past

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   94. Panggilan yang Mendadak

    Gairah liar yang menggebu-gebu di dalam diri Steve meluap tanpa bisa dibendung lagi.Dalam satu hentakan mantap yang penuh kepemilikan, penyatuan mereka terjadi, menyengat seluruh saraf tubuh Julia dan menyalurkan arus panas yang membakar habis sisa-sisa kesadaran mereka berdua."Ah! Steve..." jerit Julia tertahan, dadanya naik turun dengan napas yang terengah-engah saat tubuhnya menyatu sempurna dengan pria itu.Steve tidak membiarkan jeda sedikit pun.Pria itu mengubah posisinya, duduk tegak di atas ranjang lalu mengangkat tubuh halus Julia untuk mendudukkannya tepat di atas paha kekarnya.Julia melingkarkan kedua lengan halusnya di leher Steve, mencengkeram helai rambut belakang sang pria seraya menerima gerakan naik turun yang semakin kencang dan ritmis.Bibir mereka kembali bertaut dalam ciuman panas yang menuntut, saling mengisap dan melumat tanpa memberi ruang untuk menghirup udara."Ngh... Steve, lebih kencang," bisik Julia pasrah di sela benturan bibir mereka, pendar matanya

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   93. Kepasrahan

    Malam kian melarut menuju puncaknya. Jarum jam dinding di ruang tengah telah melewati angka dua pagi, namun keheningan yang menyelimuti rumah itu terasa amat syahdu.Hujan di luar sana telah sepenuhnya reda, menyisakan gemericik sisa air yang menetes dari dedaunan ke atas tanah yang basah.Di dalam tenda selimut sederhana yang masih diterangi pendar hangat lilin aromaterapi, Elea dan Leon sudah tertidur lelap dengan napas yang teratur.Steve dan Julia bergerak amat perlahan keluar dari tenda, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa membangunkan kedua buah hati mereka.Mereka berdua kini duduk berdampingan di atas sofa empuk ruang tengah.Dua cangkir keramik berisi cokelat panas yang masih mengepulkan uap tipis berada di dalam genggaman jemari mereka.Steve menyesap cokelat panasnya pelan, lalu menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran sofa.Pria itu memutar cangkir di tangannya, menatap cairan cokelat pekat itu dengan pendar mata yang mendadak dipenuhi kerinduan ma

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   92. Tanggungjawab Steve

    Pukul delapan malam, Steve hendak pamit pulang dari rumah hangat milik Julia. Langkah tegap pria itu terhenti di ambang pintu utama, jemarinya baru saja menyentuh gagang pintu ketika sebuah kilatan cahaya putih membelah kegelapan langit di luar jendela. Detik berikutnya, suara gemuruh petir menyambar amat kencang, memancarkan dentuman menggema yang menggetarkan kaca-kaca jendela rumah.BZZZT!Dalam hitungan detik, seluruh penerangan di dalam rumah seketika padam total. Kegelapan pekat yang membakar ruang seketika menyelimuti seluruh sudut bangunan, menyisakan keheningan mencekam yang hanya diisi oleh suara curahan hujan deras yang menghantam atap dengan ganas."AAAAA! MAMA! OM STEVE!"Jeritan histeris nan heboh dari Elea dan Leon membumbung tinggi dari arah area lantai dua. Suara tangisan memilu dari si kembar yang ketakutan setengah mati dalam kegelapan seketika memecah keheningan malam."Elea! Leon!" teriak Julia panik dari arah dapur. Suara benturan halus terdengar saat paha wanita

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   91. Rasa Bahagia Steve

    Matahari mulai bergerak sedikit condong ke barat saat mobil sedan mewah milik Steve Anderson berhenti sempurna di depan pelataran butik Maison de Julia.Dari dalam kendaraan berkelas tersebut, Steve melangkah keluar dengan keanggunan yang alami.Pria tegap itu mengenakan kemeja putih yang lengan bagian bawahnya dilipat rapi hingga ke siku, memancarkan aura maskulin yang begitu tenang namun sangat dominan.Di sampingnya, Rian dan dua petugas katering restoran berbintang melangkah mengekor seraya membawakan beberapa kantong makanan beraroma harum serta buket bunga mawar putih berukuran raksasa.Elea dan Leon berlari kecil di depan sang ayah, tak sabar ingin memamerkan hasil buruan mainan mereka pada sang ibunda.Klek!Begitu pintu kaca berukir gold milik butik terdorong terbuka, bel di atas pintu berdenting halus. Elea dan Leon langsung menyeruak masuk dengan sorakan riang."Mama! Kami pulaaang! Om Steve bawakan makan siang banyak banget!" seru Elea nyaring, gema suaranya memantul di an

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status