تسجيل الدخولJulia menghentikan mobilnya secara mendadak di tepi jalan depan sekolah si kembar, suara derit ban yang bergesekan kaku dengan aspal menggema tajam di udara.Tanpa mematikan mesin atau memedulikan penampilannya yang berantakan, Julia tergesa-gesa mendorong pintu mobil dan berlari kencang menerobos gerbang sekolah yang terbuka lebar.Napasnya tersengal-sengal pendek, dadanya berdenyut perih dihantam kepanikan luar biasa.Bayangan terburuk bahwa Steve sedang menginterogasi atau mengusik si kembar menari-nari liar di dalam kepalanya.Di tengah halaman bermain dekat trotoar samping sekolah, Julia menangkap presensi tinggi menjulang milik Steve yang berdiri kaku.Di hadapannya, Leon dan Elea berdiri bersisian di dampingi Sarah yang tampak gemetar ketakutan."Steve!" jerit Julia dengan suara bergetar dipenuhi amarah yang membakar.Langkah kaki Julia yang
Justin menghela napas panjang. Pria itu menyadari betul bahwa memaksakan keberadaannya di sana hanya akan makin memperburuk kondisi kesehatan Julia yang belum sepenuhnya pulih.Dengan langkah berat, Justin berdiri dari kursinya.Ia menatap Julia lembut penuh kecemasan sebelum akhirnya melirik Steve dengan tatapan dingin, lalu berjalan memutar melewati mereka menuju pintu depan.Steve, di sisi lain, masih menyandarkan tubuhnya dengan tenang.Namun, saat matanya beradu langsung dengan iris mata Julia yang tampak berkaca-kaca menahan emosi dan rasa lelah yang luar biasa, pertahanan arogan sang CEO perlahan melunak.Pria itu menghembuskan napas tipis, lalu berdiri anggun lalu mengancingkan jas mewahnya."Aku akan pergi, Julia," bisik Steve rendah. "Tapi ingat... ini belum selesai."Steve melangkah pergi melewati ambang pintu.Di luar gerbang, Rian sudah setia menunggu di samping mobil seraya membukakan pintu untuk atasannya.Steve melangkah masuk tanpa menguapkan sepatah kata pun, meningg
Steve tidak langsung meruntuhkan skenario kebohongan yang dirangkai Julia di depan putranya.Sebagai pria yang pandai membaca situasi, ia justru melipat kedua tangannya di atas meja, menyandarkan tubuh tegapnya dengan gestur penuh ketenangan yang mengintimidasi."Pizza hangat, huh?" bisik Steve sangat pelan dari balik celah bibirnya, menatap lekat-lekat manik mata Julia yang berusaha keras menghindar dari intriknya.Sebuah senyum miring yang sarat akan kemenangan perlahan terukir di paras tampan sang CEO. Steve lalu mengalihkan pandangannya pada Leon dan Elea yang masih berdiri ragu di dekat mamanya."Pizzanya mungkin sudah habis semalam, Bocah," ujar Steve dengan intonasi bariton yang dibuat sehalus mungkin, walau kesan dingin itu tidak sepenuhnya menguap."Tapi kalau kamu dan saudara kembar mu mau, sore ini Om bisa menyuruh orang untuk membawakan sepuluh kotak pizza paling enak di kota ini. Lengkap dengan mainan apa pun yang kalian inginkan."Elea—yang dasarnya memiliki sifat lebih
Steve melipat kedua tangannya kaku di depan dada, menyandarkan tubuh tingginya pada bingkai pintu kamar tidur.Sorot matanya yang tajam menatap lurus ke arah Justin yang masih berdiri mematung di ujung koridor dengan raut wajah serba salah.Kehadiran Justin yang datang membawakan kantong plastik sarapan pagi di rumah wanita lain makin menguatkan spekulasi dalam benak sang CEO.Alih-alih merasa canggung atau bersalah karena kedapatan berada di kamar pribadi Julia dengan kemeja kusut, Steve justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi.Pria itu memutar sedikit kepalanya, menatap Julia yang masih berdiri membeku dengan paras pucat pasi."Kamu mandi saja dulu, Julia," ujar Steve santai, nada suaranya dibuat sengaja lebih lembut namun penuh penegasan. "Aku akan menunggu di luar."Tanpa menunggu balasan dari Julia, Steve mengayunkan langkah kakinya yang tegap menerobos koridor, berjalan mendekati Justin.Tinggi tubuhnya yang menjulang dan aura intrik yang terpancar darinya se
Julia mendadak memerah padam, campur aduk antara amarah yang membakar dan rasa malu yang menjalar hingga ke ujung telinganya.Ia lalu bersedakap kaku di atas kasur, menatap pria yang masih terduduk linglung di lantai itu dengan kilatan mata penuh permusuhan."Kamu benar-benar gila kalau sudah mabuk, Steve!" sembur Julia dengan napas yang mulai tak teratur."Kamu bahkan tidak ingat sama sekali apa yang sudah kamu perbuat semalam, kan?"Steve menaikkan sebelah alisnya kaku. Efek pusing di kepalanya perlahan memudar, berganti dengan rasa penasaran yang menggelitik batinnya saat melihat reaksi berlebihan dari wanita di hadapannya itu."Apa?" tanya Steve dengan suara bariton serak khas bangun tidur, lalu menyunggingkan senyum yang amat tipis."Apa yang terjadi pada kita semalam, Julia? Aku menyentuhmu? Seperti... seperti saat kita di Belanda lima tahun lalu?"Kata 'Belanda' yang terlempar santai dari bibir Steve seketika menghantam ingatan manis sekaligus menyakitkan di benak Julia.Tanpa
Ciuman yang semula berupa lumatan lembut itu perlahan berubah makin dalam dan menuntut.Steve menyesap bibir bawah Julia dengan ritme yang lambat namun begitu mengikat, menyalurkan kerinduan serta keputusasaan yang telah mengendap selama lima tahun.Sentuhan basah dan hawa hangat yang membakar dari napas Steve seketika menyengat seluruh kesadaran Julia.Rasa syok yang menghantamnya berangsur bertransformasi menjadi gelombang kepanikan luar biasa saat menyadari benteng pertahanannya terancam runtuh.Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Julia memusatkan seluruh dorongan pada dada bidang Steve.Ia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga hingga pangutan mereka terlepas secara mendadak."Brengsek kamu, Steve!" maki Julia dengan napas tersengal-sengal dan raut wajah memerah padam.Ia bergegas mengusir bekas sentuhan itu dengan mengusap bibirnya menggunakan punggung tangan, menatap pria di hadapannya dengan binar mata yang memancarkan kejengkelan bercampur amarah.Namun, pria yang dimakinya i







