Compartir

Bab 4

Autor: Anonima
Luka di tangan Regina terasa pedih dan panas membakar. Saking sakitnya, napas Regina sampai menjadi terengah-engah.

Regina menundukkan kepala. Dia melihat kain kasa yang membalut lukanya mulai rembes oleh darah merah segar.

Pandangan Regina mulai berkunang-kunang. Regina pun terduduk lemas di lantai. Kemudian, dengan sia-sia dia mengulurkan tangannya yang lain, yang tidak terluka, ke arah Rafael.

"Rafael, antar aku ke rumah sakit …."

Bu Linda berkata dengan nada meremehkan, "Cuma luka gores di tangan saja sampai harus ke rumah sakit. Berlebihan sekali."

Bu Linda lalu memerintah para pelayan, "Papah dia ke kamar. Cukup kasih obat luka saja."

Saat pelayan membuka kain kasa Regina, mereka semua langsung terperanjat.

Luka tersebut sudah membengkak merah dan bernanah, hingga bentuk aslinya sudah tidak bisa dikenali lagi.

Ketika dokter keluarga tiba, Regina sudah jatuh pingsan karena rasa sakit yang tidak tertahankan.

Di tengah kesadarannya yang samar, Regina mendengar suara gemuruh petir dari balik jendela, serta suara para pria yang begitu lirih di dalam ruangan.

"Salep di luka Bu Regina sudah tercampur dengan zat lain. Hal itulah yang menyebabkan lukanya membusuk."

Di sela-sela penjelasan itu, terdengar isak tangis Sherly yang begitu lirih.

"Ini semua salahku. Tadi aku sempat menyentuh beberapa jenis kosmetik. Mungkin tanganku belum bersih saat mengoleskan obat padanya …."

Regina teringat peringatan dokter akan pertaruhan karier profesionalnya. Entah dari mana datangnya kekuatan itu, Regina pun melompat turun dari tempat tidur dengan penuh amarah dan menerjang ke arah Sherly.

Akan tetapi, Rafael dengan sigap mendorong Regina menjauh.

"Rafael, tanganku jadi hancur begini gara-gara dia. Apa kamu masih mau melindunginya?"

Melihat Regina yang berteriak putus asa itu, Rafael tanpa sadar memasang badan untuk melindungi Sherly di belakangnya. Suaranya terdengar tidak sabar.

"Regina, jangan seperti ini. Hari itu, Sherly nggak sengaja melukaimu. Dia nggak bermaksud menyerangmu."

"Lalu yang barusan?"

Regina melayangkan tuduhan, "Dia mencampurkan sesuatu ke dalam salepku. Apa itu juga nggak sengaja?"

Sherly memalingkan pandangannya karena merasa bersalah. Akan tetapi, Rafael tetap saja keras kepala.

"Kamu salah dengar. Tadi dokter bilang itu karena masalah kondisi tubuhmu sendiri yang membuat lukanya sulit sembuh. Nggak ada hubungannya dengan Sherly."

Regina menatap pria yang dahulu paling dicintainya itu dengan rasa tidak percaya. Pria itu secara terang-terangan sudah menjungkirbalikkan fakta.

Rafael tampak muak dengan tatapan Regina. Tenggorokannya tercekat dan dia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Kamu sendiri tahu bagaimana kondisi tubuhmu. Kalau nggak, mana mungkin kita nggak punya anak selama bertahun-tahun ini."

Regina duduk mematung di lantai, air matanya jatuh mengalir tanpa peringatan.

Luka terdalam di hatinya bukanlah karena ditikam Sherly, melainkan karena Rafael.

Dahulu, Rafael pernah berkata jika dia bisa merelakan apa pun, termasuk anak. Hidup tanpa anak tidak masalah baginya, asalkan Regina bisa selalu menemaninya.

Namun, satu-satunya yang bisa menguji keaslian sebuah janji hanyalah waktu.

Jantung Regina seakan dicengkeram kuat oleh tanaman merambat dan rasa lelah yang baru dia sadari kini merayap memenuhi sanubarinya.

Dokter sudah pergi dan Rafael menemani Sherly naik ke lantai atas untuk istirahat.

Dengan tatapan kosong, Regina mengeluarkan koper dan menjejalinya dengan beberapa helai pakaian dalamnya.

Koper sudah siap, tetapi Regina tidak tahu harus pergi ke mana.

Dahulu, ketika Rafael sedang perang dingin dengan keluarganya dan diputus sumber keuangannya, Regina hanya memiliki sebuah apartemen seluas satu lantai dan satu unit apartemen kecil peninggalan orang tuanya yang sudah meninggal dunia.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Regina menjual kedua apartemen itu demi menemani Rafael mengembangkan satu-satunya hotel yang dimiliki pria itu hingga menjadi sukses.

Sekarang, Regina sudah tidak punya jalan keluar lagi.

Suasana di dalam vila terasa begitu sunyi. Saat teringat ucapan Bu Linda tadi, jantung Regina langsung mencelos.

Dia bergegas lari ke lantai dua, "Rafael, mana anjingku?"

Rafael sedang membantu Sherly untuk meminum air hangat.

Sherly menjawab dengan suara yang pelan dan lembut, "Tadi sudah dibawa pergi sama Bibi."

Regina mencengkeram lengan Rafael dengan panik.

"Bagaimana bisa kamu biarkan ibumu membawa pergi anjingku?"

Sherly berkata dengan sangat hati-hati, "Bibi bilang … dia punya teman yang suka makan daging anjing …."

Mendengar kata "daging anjing", bibir Regina gemetar hebat. Namun, tak sepatah kata pun sanggup keluar dari mulutnya.

Regina pun mengayunkan tangannya dan mendaratkan tamparan keras di wajah Sherly.

Sherly menjerit ketakutan dan berusaha sekuat tenaga untuk bersembunyi di balik punggung Rafael.

Regina yang sudah hancur ditarik paksa untuk berdiri oleh Rafael.

Rafael yang sejak tadi hanya diam membisu itu tiba-tiba mengangkat tangannya, lalu mendaratkan tamparan keras di wajah Regina.

"Cuma seekor anjing saja, kamu ini nggak ada habisnya ya?"

Suara Rafael yang sarat akan amarah berpadu dengan deru hujan yang menghantam jendela, bagaikan sabetan cambuk yang berkali-kali mencambuk ulu hati Regina.

Rafael tidak suka, saat Regina mengungkit kembali kenangan masa lalu satu demi satu di hadapannya. Seakan-akan, Regina adalah sosok yang begitu menghargai kenangan, sementara dirinya adalah orang yang lupa diri dan tidak tahu balas budi.
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 21

    Sekembalinya ke tanah air, Rafael tidak menjalani kehidupan yang tenang, seperti yang dibayangkan Bu Linda.Demi menyelamatkan dirinya dan ibunya saat itu, sebagian besar aset keluarga sudah dijual. Bahkan, vila tempat Rafael tinggal bersama Regina juga ikut dilelang.Akibatnya, Rafael terpaksa pindah ke sebuah apartemen kecil bersama ibunya.Pemegang saham hotel lainnya yang mengetahui jika Rafael sedang mengalami kesulitan arus kas, mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka sengaja membeli saham miliknya dengan harga rendah dan mengucilkannya dari jajaran manajemen.Tanpa kehadiran Regina yang memegang kendali, para koki utama di hotel tersebut mulai berkhianat. Perintah yang dikeluarkan Rafael juga sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas tanpa arti.Kehidupan dan pekerjaan benar-benar membuat Rafael kewalahan.Rafael menjadi pemarah, menderita insomnia, bahkan mulai kecanduan alkohol.Bu Linda sama sekali tidak bisa membantu. Setiap hari, yang dia lakukan hanyal

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 20

    Seminggu kemudian, Bu Linda menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mencapai negara tersebut. Dengan bantuan pengacara, Bu Linda akhirnya berhasil menemui putranya yang kini tampak berjanggut dan kurus kering hingga pipinya cekung itu.Setelah memahami duduk perkaranya, Bu Linda pun mengamuk di kantor polisi."Regina itu benar-benar pembawa sial! Bertahun-tahun dia nggak bisa memberimu anak laki-laki, malah membuatmu berurusan dengan perempuan jalang seperti Sherly! Dasar wanita mandul, beraninya sekarang dia pilih-pilih padamu. Benar-benar nggak tahu diri!"Rafael membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Matanya dipenuhi penyesalan dan duka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain."Bu, berhentilah bicara."Bu Linda dan pengacara sibuk berdiskusi sendiri, seakan tidak mendengar perkataan putranya."Pak Pengacara, kalau kita minta Regina mengeluarkan surat pernyataan pengampunan untuk Rafael, apa dia bisa bebas dari masalah ini?"Pengacara itu mengangguk. "Itu juga tergantung

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 19

    "Sherly memang bodoh, dungu dan gila hormat. Tapi, kalau kamu nggak membiarkannya, apa mungkin dia bisa menyakitiku berkali-kali?""Sosok yang aku benci selama ini bukanlah dia, melainkan dirimu.""Kamu sendiri yang mengubur hubungan kita selama delapan tahun. Kamu bahkan begitu mudah memercayai orang lain hingga mengirim anak tunggal kita ke liang lahat."Regina tidak sanggup membiarkan dirinya dan anaknya menanggung noda kehinaan seperti itu. Dia juga tidak bisa memaafkan Rafael."Kamu membenciku?"Rafael berdiri mematung di tempatnya, merasa linglung dan kehilangan arah.Menyadari emosi Regina yang makin meluap, Dylan pun dengan tenang mengusap punggung Regina dengan lembut.Regina tampak seperti baru tersadar, lalu merendahkan suaranya, "Lama-kelamaan, tiap kali memikirkanmu, aku merasa mual, sampai-sampai aku merasa terlalu malas untuk kembali membencimu."Kata-kata Regina bagaikan anak panah tajam yang terus-menerus menghujam jantung Rafael."Regina, jangan seperti ini. Aku tahu

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 18

    Pria muda itu sangatlah peka. Tak lama kemudian, dia menyadari keberadaan Rafael.Dylan pun menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan lembut, "Ada toko teh susu lokal yang baru buka di sebelah. Kamu mau? Biar aku belikan untukmu."Regina yang sedang asyik menyantap daging panggang, mengangguk dengan gembira."Boleh, aku mau taro boba."Dylan tersenyum sambil bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia tak lupa mengacak pelan rambut Regina yang halus dengan penuh kasih sayang.Setelah keluar, Dylan terlihat seperti tidak sengaja berjalan melewati Rafael."Mari bicara di sana."Rafael sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Regina. Namun, melihat gadis itu sedang makan dengan lahap, dia pun akhirnya tidak tega untuk mengganggu Regina.Kedua pria itu berdiri diam di sudut jalan.Rafael lalu bertanya dengan suara rendah, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Dylan mengedikkan bahu. "Kamu pernah menemani Bu Sherly untuk periksa di rumah sakit. Waktu itu, aku adalah dokter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 17

    Setelah menerima dua tamparan dari Bu Linda, Sherly akhirnya kembali ke sikapnya yang penurut seperti sebelumnya.Tepat di saat Sherly mengira sikap mengalahnya akan membawanya ke kehidupan tenang yang sudah lama dia nantikan, telepon dari asisten Rafael menghancurkan harapan terakhir Sherly tersebut."Pak Rafael, kami sudah menemukan keberadaan Nyonya."Asisten itu mengirimkan sebuah artikel ulasan kuliner kepada Rafael, yang ditulis atas nama Regina."Artikel ini mengulas sebuah restoran di Kota Zoram. Nyonya harusnya sekarang berada di Negara Solano."Hati Rafael diliputi secercah rasa sukacita yang sudah lama tidak dia rasakan."Pesan tiket pesawat, aku akan segera pergi ke Negara Solano."Dia berutang permintaan maaf pada Regina, juga berutang seluruh sisa hidupnya kepada wanita itu.Saat Rafael hendak melangkah keluar sambil membawa kopernya, dia melihat ibunya masuk dengan penuh amarah."Sherly, keluar kamu sekarang!"Rafael memijat pangkal hidungnya karena sakit kepala."Ibu, a

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 16

    Bu Linda merasa Regina sejak awal memang tidak cocok dengan putranya.Regina sudah bertahun-tahun berada di sisi Rafael, tetapi tetap tidak bisa melahirkan anak, hingga memaksa putranya untuk mencari wanita dari keluarga biasa untuk mengandung anaknya.Sekarang, Regina sudah pergi begitu saja dan Rafael sudah memiliki seorang putra. Wanita dari keluarga terpandang mana yang mau menikah dengan pria seperti itu?Setelah dipikir-pikir, daripada mencari orang lain, lebih baik membiarkan Regina kembali untuk menjadi ibu tiri bagi anak tersebut. Setidaknya, karena dia sendiri tidak bisa melahirkan, Regina hanya perlu mengurus anak yang ada di depan matanya itu.Namun, Bu Linda tidak menyangka jika semua perkataannya itu terdengar jelas oleh Sherly yang kebetulan mengikuti hingga ke depan pintu ruang kerja.Sherly dengan penuh amarah menerjang maju untuk merebut kembali anaknya dari Bu Linda."Kalian benar-benar komplotan orang jahat, kembalikan anakku!"Bu Linda memaki-maki dan menyuruh pemb

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status