LOGINSol sepatu asics-ku menghantam permukaan aspal kompleks perumahan.Satu. Dua. Satu. Dua.Pukul lima pagi. Udara masih tajam dan dingin. Belum ada matahari. Lampu jalanan menyorotkan cahaya kekuningan pada kabut tipis yang mengambang di atas tanah.Aku berjalan cepat. Otot betisku menegang dan meregang dalam ritme konstan. Keringat tipis mulai merembes di garis rambutku.Ponsel di saku celana training-ku bergetar hebat.Aku menariknya keluar. Nama Laras tertera di layar. Tanpa menghentikan langkah, aku menekan tombol hijau dan memasang earphone nirkabel di telinga kanan."Kau bernapas terlalu keras," sapa Laras tanpa basa-basi."Aku sedang jalan cepat," balasku lugas."Di jam lima pagi? Arjuna mengusirmu dari ranjang?""Aku yang mengusir diriku sendiri. Kepalaku berisik.""Memikirkan draf buku ketigamu?""Tentu saja."Aku berbelok tajam di tikungan blok kedua. Hembusan angin pagi menabrak wajahku."Apa yang membuatmu buntu?" tuntut Laras, langsung masuk ke mode editor. "Beri aku data f
Suara gesekan kayu beradu dengan rumput memecah udara sore.Elang menarik sebuah kursi jati panjang melintasi halaman belakang. Keringat tipis membekas di pelipis anak berusia sembilan tahun itu. Dia menolak tawaran bantuan dari staf rumah tangga.Aku duduk di kursi teras. Segelas air es berembun berada di genggamanku."Dia menggeser meja itu tiga sentimeter ke kiri," komentar Arjuna.Suamiku berdiri tepat di sebelah kursiku. Tangannya bersarang di dalam saku celana. Matanya mengawasi presisi kerja putra kami."Biar saja," jawabku datar. "Ini acaranya."Arjuna mendengus pelan. "Dia menolak mentah-mentah ideku untuk menyewa katering dan mengadakan acara di ruang makan dalam.""Ruang makan utama terlalu kaku. Elang tidak butuh meja panjang dengan urutan kursi hierarki perusahaan.""Dia butuh ruang terbuka," Arjuna menyetujui logikaku. "Ruang di mana semua orang bisa bergerak bebas tanpa protokol."Elang akhirnya berhenti menggeser meja kayu itu. Anak itu mundur dua langkah. Matanya memi
Pukul sebelas malam.Lorong lantai dua rumah kami sepenuhnya senyap. Suara mesin pendingin ruangan berdengung konstan, mengisi kekosongan udara.Aku memutar kenop pintu kamar Elang perlahan. Pintu kayu itu terbuka tanpa suara derit.Ruangan di dalam gelap. Lampu utama sudah dimatikan. Namun, sebuah pendar cahaya kuning terang menyorot dari arah sudut kamar. Lampu meja belajar masih menyala.Elang duduk di sana.Punggung anak berusia sembilan tahun itu tegak lurus. Kepalanya menunduk. Tangan kanannya menggenggam sebatang pena bertinta hitam. Dia sedang menggoreskan pena itu ke atas kertas buku catatan bersampul biru. Gerakannya cepat dan sangat ritmis.Aku melangkah masuk. Telapak kaki telanjangku tidak menghasilkan bunyi pada permukaan karpet tebal."Sedang nulis apa?" tanyaku datar.Suara gesekan pena langsung berhenti.Elang menutup buku catatannya dengan satu bantingan pelan. Suara sampul karton beradu dengan meja terdengar tajam. Tangannya langsung menutupi permukaan buku itu, mem
Daging panggang medium-rare dan saus jamur mendominasi aroma ruang tengah.Ini adalah malam perayaan ulang tahun Arjuna. Tidak ada penyewaan ballroom hotel bintang lima. Tidak ada ratusan tamu kolega bisnis yang datang untuk menjilat CEO Diwangsa Corp.Hanya ada meja makan panjang berlapis marmer di rumah kami.Suara denting porselen dan obrolan pelan mengalir konstan. Arjuna duduk di ujung meja, kemeja hitamnya digulung hingga siku. Pria itu tampak sangat membumi di tengah keluarganya.Tiba-tiba, suara derit engsel pintu depan memecah ritme makan malam.Langkah kaki dengan hak tinggi beradu tajam dengan lantai kayu. Ritmenya cepat dan sarat akan otoritas.Dewi melangkah masuk ke ruang makan.Mantan istri suamiku itu mengenakan gaun malam biru gelap yang pas di badan. Dia melepaskan mantelnya tanpa menunggu pelayan rumah mengambilkannya. Dia menggantungnya sendiri di rak sudut.Tidak ada kecanggungan dalam gerakannya. Tidak ada keraguan saat dia melintasi area foyer menuju meja makan
Cahaya matahari fajar menembus kaca jendela dapur.Aku duduk di kursi meja makan pulau. Permukaan marmernya terasa dingin di bawah sikuku. Suara mesin pembuat kopi mendengung pelan di latar belakang.Arjuna berbalik dari arah konter. Dia membawa sebuah cangkir keramik hitam pekat."Kopimu," ucap Arjuna. Dia meletakkan cangkir itu tepat di depanku."Jam enam pagi tepat," balasku."Ritual ini tidak pernah meleset satu menit pun."Aku membungkus cangkir itu dengan kedua telapak tanganku. Suhunya meresap ke kulit. Aku menoleh ke arah ambang jendela."Tanaman monstera Elang butuh pot baru," tunjukku pada dedaunan hijau yang kini menutupi separuh kaca.Arjuna mengikuti arah pandanganku. "Ukurannya sudah dua kali lipat dari bulan lalu.""Akarnya mulai keluar dari tanah.""Biar dia yang menggantinya nanti sore," putus Arjuna datar. "Itu tanggung jawabnya.""Kau tidak mau membantunya?""Aku akan mengawasinya dari teras. Dia harus tahu cara memindahkan akar tanpa merusaknya."Aku menyesap kopik
Suara tepuk tangan menggema keras di dalam ballroom hotel bintang lima ini.Ratusan tamu undangan berpakaian formal duduk mengelilingi meja bundar. Lampu kristal raksasa di langit-langit membiaskan cahaya kekuningan. Denting garpu dan pisau beradu dengan piring porselen telah berhenti sejak lima menit lalu.Aku duduk di barisan tengah. Fokusku terkunci pada panggung utama."Ini acara penghargaan ketiga yang kita datangi bulan ini." Suara bariton Arjuna terdengar di sebelah telingaku."Ini yang paling penting," balasku tanpa menoleh."Penting karena sektor non-profit?""Penting karena siapa yang akan naik ke atas panggung itu sekarang."Seorang pemuda melangkah naik ke atas mimbar kayu. Jas hitamnya pas di badan. Dia menerima sebuah plakat kaca tebal dari pembawa acara. Kilat blitz kamera menyambar dari area wartawan.Itu Dani. Mantan mahasiswa Arjuna di angkatan pertama program bridge.Dulu, Dani adalah mahasiswa yang selalu menundukkan kepala saat berjalan.Dia menghindari kontak mat







