Share

BAB 57

Author: Avelynne
last update Last Updated: 2026-01-18 20:01:16

Cermin setinggi langit-langit di kamar villa memantulkan sosok perempuan yang tampak sempurna, namun rapuh.

Aku mengenakan gaun malam backless berbahan satin warna champagne yang jatuh memeluk tubuhku hingga menyapu lantai.

Potongan lehernya rendah, menampilkan tulang selangka, sementara bagian punggungnya terbuka lebar hingga pinggang bawah, mengekspos kulitku yang kini sedikit kecokelatan karena matahari Bali.

Rambutku disanggul rapi dengan menyisakan beberapa helai ikal yang membingkai wajah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 164

    DUM. DUM. DUM.Getaran bass dari musik EDM yang diputar dengan volume maksimal merambat melalui lantai marmer, menembus dinding, dan menggetarkan rangka tempat tidurku.Jam digital di nakas menunjukkan pukul sebelas malam.Seharusnya aku istirahat. Dokter bilang aku harus bedrest. Dokter bilang aku tidak boleh stres.Tapi bagaimana mungkin aku bisa istirahat jika rumahku sendiri berubah menjadi diskotik liar?Aku meringkuk di balik selimut tebal, mencoba menutupi telinga dengan bantal. Namun, bukan suara musik yang paling menyiksaku.Asap.Bau tembakau murah, ganja sintetik, dan uap vape yang manis-menjijikkan bercampur menjadi satu racun udara yang mematikan.Aku terbatuk pelan, perutku mual seketika."Nggak bisa dibiarin," desisku, menyingkap selimut dengan kasar.Naluri keibuan—yang baru kutemukan hari ini—mengalahkan rasa takutku pada Luna. Aku tidak peduli jika dia membenciku. Tapi aku tidak akan membiarkan dia meracuni anakku.Aku membuka pintu kamar.Suara musik langsung mengha

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 163

    Taksi online tua itu berhenti di depan sebuah ruko berlantai dua di pinggiran Jakarta Timur.Cat temboknya yang berwarna putih sudah mulai mengelupas, dan plang nama "Klinik Kandungan Sejahtera" terlihat kusam terkena debu jalanan.Ini jauh dari standar fasilitas kesehatan yang biasa didatangi keluarga Diwangsa. Tidak ada lobi marmer, no antrean VVIP, dan tidak ada aroma lemongrass.Tapi justru itu yang kucari.Aku mengeratkan masker medis yang menutupi separuh wajahku. Menarik topi baseball hitam lebih rendah hingga menutupi mata, lalu mengenakan kacamata hitam besar.Penyamaran yang klise, tapi efektif. Di sini, tidak akan ada yang mengenaliku sebagai Nyonya Diwangsa. Di sini, aku hanyalah pasien nomor antrean 15 yang bernama samaran "Lia".Aku turun dari taksi, melangkah cepat masuk ke dalam ruang tunggu yang sempit dan ramai.Ibu-ibu hamil dengan perut buncit duduk berjejer di kursi plastik, mengipas-ngipas diri karena AC yang kurang dingin. Suara tangisan bayi dan obrolan riuh me

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 162

    Pagi di Penthouse biasanya diawali dengan aroma kopi arabica yang kuat dan menenangkan.Dulu, aku menyukainya. Aroma itu identik dengan Arjuna, dengan kemewahan, dengan awal hari yang baru.Namun pagi ini, aroma itu terasa seperti racun.Aku duduk di kursi meja makan, tubuhku kaku. Keringat dingin mulai merembes di punggungku, membasahi daster katun tipis yang kupakai.Di ujung meja, Arjuna duduk dengan postur tegak yang biasa. Dia mengenakan kemeja biru muda yang licin, dasi navy terikat sempurna.Tangannya memegang tablet, matanya bergerak cepat membaca pergerakan saham gabungan pagi ini. Dia terlihat tenang, berwibawa, dan tidak terjangkau.Di seberangku, Luna duduk sambil memegang mangkuk sereal. Dia mengenakan piyama satin pink, rambutnya masih sedikit berantakan tapi make-up tipis sudah menutupi jejak mabuknya semalam.Dia mengunyah dengan suara kriuk yang entah kenapa terdengar sangat nyaring dan mengganggu di telingaku."Mbak Alea, ini sarapannya."Suara Mbok Nah membuatku ter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 161

    Tanganku gemetar hebat, nyaris menjatuhkan benda plastik putih kecil yang kini memegang vonis masa depanku.Dua garis merah itu masih menyala terang di bawah lampu kamar mandi, seolah mengejek kepanikanku.Aku tidak boleh membiarkan benda ini ditemukan. Jika pelayan menemukannya di tempat sampah kamar mandi, beritanya akan sampai ke telinga Arjuna. Jika Arjuna menemukannya, aku akan dikurung selamanya.Dan jika Luna menemukannya...Imajinasiku langsung melompat ke skenario terburuk. Luna yang histeris.Luna yang merasa terancam. Luna yang menyadari bahwa posisinya sebagai pewaris tunggal kerajaan Diwangsa sedang ditantang oleh benih yang tumbuh di rahim musuhnya.Darah lebih kental dari sperma, katanya. Tapi bagaimana jika sperma itu tumbuh menjadi darah daging baru?"Sembunyikan... harus sembunyi..." gumamku pada diri sendiri, napasku pendek-pendek.Aku menyambar gulungan tisu toilet. Aku melilitkan tisu tebal itu berlapis-lapis ke batang test pack, membungkusnya hingga bentuk asliny

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 160

    Pintu kamar mandi masih terkunci rapat.Aku duduk di lantai dingin, memeluk lututku yang gemetar sisa pertengkaran hebat dengan Arjuna tadi.Suara pintu yang dibanting Arjuna masih terngiang di telinga, tapi kini suara itu tertutup oleh dengungan lain di kepalaku.Dengungan pening yang membuat pandanganku berputar.Aku mencoba berdiri, berpegangan pada pinggiran wastafel marmer.Aroma reed diffuser berwangi ylang-ylang dan sandalwood yang biasanya menenangkan, tiba-tiba menusuk hidungku. Baunya terasa tajam, manis, dan... menjijikkan.Rasanya seperti mencium parfum yang disemprotkan ke daging busuk."Huek!"Perutku berkontraksi hebat. Tanpa peringatan, isi lambungku mendesak naik.Aku membungkuk di atas wastafel, memuntahkan cairan bening dan sisa makan malam yang sedikit. Tenggorokanku perih terbakar asam lambung."Hah... hah..."Aku menyalakan keran air, membasuh wajah dan mulutku dengan kasar.Apa ini? Masuk angin? Stres?Atau mungkin efek samping dari ketegangan konstan menghadapi

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 159

    Air dingin dari shower mengguyur tubuhku, membasuh sisa-sisa lengket jus jeruk dan alkohol yang tadi disiramkan Luna.Aku berdiri di bawah pancuran, membiarkan air bercampur dengan air mata yang mengalir deras di pipiku. Aroma vodka yang menyengat masih tercium samar, menempel di rambutku meski sudah kusamphoo dua kali.Rasanya perih. Bukan di mata, tapi di harga diri.Aku menatap ubin marmer di bawah kaki.Aku terjepit. Benar-benar terjepit di antara dua monster.Di satu sisi, ada Luna. Anak kandung yang terluka, yang menggunakan hak darahnya untuk menyiksaku. Jika aku melawannya, aku akan menyakiti Arjuna. Aku akan menjadi ibu tiri jahat yang memecah belah keluarga.Di sisi lain, ada Arjuna. Suamiku. Pemilikku. Pria yang seharusnya melindungiku, tapi justru lumpuh tak berdaya di hadapan putrinya sendiri. Jika aku diam saja, aku akan terus diinjak-injak sampai hancur."Apa gunanya jadi Nyonya Diwangsa kalau aku nggak punya harga diri di rumah sendiri?" bisikku pada dinding kamar mand

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status