แชร์

Ketika Atasan Suamiku Mendekapku
Ketika Atasan Suamiku Mendekapku
ผู้แต่ง: Hiro Sayank

Bab 1

ผู้เขียน: Hiro Sayank
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-17 12:24:07

"Kamu lebih membuatku bergairah ketimbang istriku, Alex."

Suara bariton yang sangat familier itu mengalun dari balik pintu kayu ruang kerja pribadi yang sedikit terbuka. Savana mematung di lorong rumahnya yang remang. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan rasa sakit yang teramat sangat.

Melalui celah sempit itu, netranya menangkap siluet sang suami, Bara, yang sedang memeluk erat seorang pria muda berseragam perawat dari belakang. Tangan Bara bergerak berani di pinggang pria bernama Alex itu, menyalurkan hasrat yang tidak pernah sekalipun ditunjukkannya pada Savana selama tiga tahun pernikahan mereka.

Ini bukan kali pertama ia memergoki Bara membawa pacar pria sesama jenisnya itu ke rumah. Setiap kali Savana pulang larut atau berpura-pura tidur, rumah megah ini selalu berubah menjadi tempat persinggahan rahasia bagi suaminya.

Memang sejak awal, pernikahan ini hanyalah sebuah panggung sandiwara yang dipaksakan. 

Savana adalah seorang anak yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ketika kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis beberapa tahun lalu, orang tua Bara yang merupakan sahabat karib mendiang ayahnya, mengulurkan tangan dengan menjodohkannya bersama Bara.

Perjodohan itu murni didasari rasa sayang. Savana pun menerimanya dengan lapang dada, apalagi ia juga sudah berteman dengan Bara sejak kecil sehingga merasa tidak masalah untuk menikah dengannya.

Tapi, hal itu ternyata bermasalah bagi Bara. 

Di depan yang lain, Bara memang bertingkah menjadi suami yang manis dan penuh kasih sayang. Tapi, begitu pintu rumah ditutup dan mereka hanya berdua, Bara berubah menjadi asing, dingin, dan tidak pernah sudi menyentuh helai rambut Savana sekalipun.

Savana awalnya tidak mengetahui penyebab Bara sampai bersikap seperti itu. Hingga suatu hari, dia memergoki Bara bergumul dengan pacar lelakinya seperti sekarang.

Suaminya ternyata adalah penyuka sesama jenis. Karena itu, dia bersikap dingin ke Savana karena wanita itu dianggap sebagai pengganggu hubungannya.

Dan malam ini, menyaksikan Bara yang kembali bermain api di rumah mereka sendiri membuat tekad Savana semakin bulat. Ia harus menceraikan pria itu dan pergi sejauh mungkin dari sini.

Merasa tidak sanggup lagi berlama-lama di sana, Savana melangkah mundur dengan sangat perlahan. Ia membalikkan tubuh dan bergegas keluar dari rumah, membiarkan pintu utama tertutup rapat di belakangnya. Kakinya membawa Savana menyusuri trotoar jalanan malam yang begitu sepi.

Savana mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Jarinya yang masih bergetar membuka ruang obrolan dengan sebuah nomor tanpa nama yang sudah disimpannya sejak beberapa bulan lalu.

[Temui aku di hotel tempat biasa. Sekarang.] ketik Savana.

Hanya dalam hitungan detik, layar ponselnya berkedip menampilkan balasan singkat yang langsung membuat dadanya berdesir aneh.

[Baik, Nyonya.]

*

Taksi yang dipesan Savana tiba tidak lama kemudian. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit sebelum kendaraan itu berhenti di depan sebuah hotel butik yang tersembunyi dan bernuansa sangat privat.

Savana melangkah masuk, melewati lobi dengan kepala tertunduk, lalu menaiki lift menuju lantai empat. Langkah kakinya terasa berat sekaligus terburu-buru saat menyusuri lorong berkarpet tebal. 

Begitu sampai di depan pintu kamar 402, ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu mengetuk pintu kayu tebal itu dengan ritme yang pelan namun pasti.

Tok... Tok...

Detik berikutnya, pintu langsung terbuka dari dalam.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap kini berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi cahaya lampu kamar yang tak terlalu terang.

Rahangnya tegas menawan dengan pahatan wajah yang begitu sempurna, ditambah dengan sepasang mata elang yang menatap tajam, langsung memberikan kesan intimidasi yang kuat. Dua kancing teratas kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan cetakan dada bidang yang kokoh.

Laki-laki itu menurunkan pandangannya, menatap lekat tepat pada manik mata Savana yang sedikit berembun. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman miring yang begitu misterius namun sarat akan daya pikat. 

Ia memajukan tubuhnya satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin yang pekat dan mahal langsung mengurung indra penciuman Savana, membuatnya mendadak sulit bernapas.

"Apa suami Anda berbuat ulah lagi hingga membuat Anda mendatangi saya malam-malam begini, Nyonya?" bisik laki-laki itu dengan suara dalam yang berat dan serak.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
vii
wah ,sama sama punya pelarian
goodnovel comment avatar
Mawarr
ada pelarian ya savana
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
sapa tu yg di telpon savana
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 105

    Beberapa menit sebelum panggilan menegangkan itu terjadi.Di dalam ruangan kerja eksekutif lantai atas, Hanggara tampak fokus memeriksa tumpukan berkas dokumen rumah sakit yang menumpuk di atas meja mahoninya. Keheningan ruangan yang tenang itu mendadak terpecah oleh denting getaran ponsel yang cukup kencang.Hanggara menaikkan sebelah alisnya, menghentikan ketukan pulpennya. Ia meraih ponsel pribadinya yang tergeletak di samping laptop, namun layarnya gelap gulita. Getaran itu bukan berasal dari ponsel miliknya.Sambil mengecap bibirnya kaku, Hanggara beranjak berdiri. Manik mata tajamnya mengedar menyapu setiap sudut ruangan hingga pandangannya jatuh ke area karpet di bawah meja kerja. Di sana, sebuah ponsel berpelindung merah muda tergeletak pasrah.Ponsel milik Savana. Benda itu pasti terlepas dan terjatuh sewaktu ia memangku dan mencumbui wanita itu dengan beringas tadi pagi.Hanggara membungkuk, menyambar benda pipih tersebut. Saat layarnya menyala, sebuah notifikasi pesan masuk

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 104

    "Maksudmu Savana si cleaning service itu?!"Karin membelalakkan matanya lebar-lebar sebelum akhirnya tawa renyah yang sarat akan nada hinaan pecah memenuhan isi ruangan kerjanya. Dokter cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi berputar, tertawa geli hingga membungkuk seolah baru saja mendengar lelucon konyol paling bodoh sepanjang hidupnya."Astaga, kamu ini membuang-buang waktuku saja!" kekeh Karin seraya menyapu air mata fiktif di sudut matanya. "Mana mungkin Hanggara sudi menyentuh wanita rendahan, norak, dan miskin seperti Savana?! Selera Hanggara itu kelas atas, bukan sampah seperti dia! Kamu pikir aku bisa kamu bodohi begitu saja?"Petugas cleaning service itu panik, melangkah lebih dekat dengan wajah memerah. "Saya tidak bohong, Dokter Karin! Saya mendengar sendiri pengakuan Savana di dalam ruangan kami! Dia cerita bagaimana awal mula mereka bertemu di hotel berbintang, salah masuk kamar, sampai hubungan gelap mereka berlanjut di ruangan Pak Direktur selama ini!"Raut wajah

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 103

    Setelah menumpahkan seluruh rahasia tergelap yang selama ini menghimpit dadanya, Savana menarik napas panjang seraya menyapu sisa-sisa kegugupan di wajahnya. Ia mengusap sudut matanya pelan, membetulkan letak seragam birunya yang sedikit kusut, lalu menatap Valerie."Aku harus lanjut bekerja sekarang, Valerie," tutur Savana dengan suara yang masih agak parau. "Aku mau mengecek area lobi depan dulu, memastikan anak-anak mengerjakan tugasnya dengan benar."Valerie menatap sahabatnya dengan tatapan campur aduk, antara cemas, kasihan, dan masih terperangah. Namun, ia akhirnya hanya mampu mengangguk pelan. "Iya, Savana, hati-hati. Ingat, jaga sikapmu di luar."Savana melangkah beranjak, mendorong pintu ruangan cleaning service dan melangkah keluar menuju lorong utama. Tanpa ia ketahui, begitu pintu luar berderit tertutup, pintu bilik toilet paling ujung perlahan terbuka dengan engsel yang berbunyi halus.***Menyusuri koridor rumah sakit yang serba putih dan beraroma antiseptik tajam, Sava

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 102

    Valerie menutup mulutnya erat-erat, matanya membelalak lebar seolah irisnya hendak melompat keluar. "J-jadi tebakanku benar?! Kamu wanita yang selama ini dekat dengan Pak Hanggara?!"Savana menarik napas panjang yang terasa menyiksa. Kepalanya tertunduk makin dalam, meremas jemarinya yang dingin di atas pangkuan sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Iya, Valerie... itu aku."Valerie menggeleng-gelengkan kepala dengan raut tak percaya. Ia memajukan duduknya, mencengkeram kedua bahu Savana dengan gemetar. "Tapi bagaimana bisa, Savana?! Kamu kan sudah menikah, kamu kan istrinya Dokter Bara! Bagaimana mungkin kamu bisa menjalin hubungan terlarang dan sesat seperti ini sama Pak Direktur?"Mendengar nama suaminya disebut, raut wajah Savana seketika mengeras. Kepedihan, kebencian, dan rasa terhina yang selama bertahun-tahun ia pendam mendadak meluap mendidih di dadanya. "Mas Bara yang lebih dulu mengkhianatiku dan membunuh harga diriku, Valerie," desis Savana dengan suara bergetar menahan ama

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 101

    Tangan kekar Hanggara terus menyusup bebas di balik seragam biru tipis yang kini makin berantakan. Jemarinya meremas pinggang payudara dan seluruh lekuk tubuh Savana dengan dominasi tanpa ampun, menuntut kepatuhan mutlak dari wanita di pangkuannya. Desah napas memburu dan sentuhan intens pria itu memacu detak jantung Savana hingga terasa kencang di balik dada."D-Dokter... hentikan, saya mohon..." cicit Savana serak, berusaha memegang kedua pergelangan tangan Hanggara yang terus menggerayangi tubuhnya.Hanggara justru makin gila, menenggelamkan wajahnya di leher halus Savana, memberi gigitan-gigitan kecil yang menyesakkan. "Tidak akan," bisik Hanggara parau, intonasinya kaku namun penuh dengan gairah yang membakar. "Selama kamu masih meragukanku, selama kamu belum mempercayaiku sepenuh hati, saya akan terus menghukummu seperti ini, Savana."Savana memejamkan mata erat-erat. Himpitan tubuh tegap Hanggara di atas meja kerja dan serangannya yang tiada henti membuat pertahanan dirinya run

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 100

    Tok... Tok... Tok...Ketukan pintu kayu kamar memecah keheningan yang menyesakkan. Suara Bara terdengar dari luar, membawa nada kebingungan. "Savana? Kamu sedang bicara dengan siapa di dalam? Buka pintunya, Savana."Savana tersentak pelan di atas kasur. Isak tangisnya mendadak tertahan sewaktu mendengar panggilan suaminya. Dengan jemari yang gemetar, ia buru-buru menyapu air mata yang mengalir di pipinya, merapikan gaun merahnya seadanya, lalu beranjak memutar knop pintu.Saat pintu terbuka, berdiri sosok Bara yang tampak sangat lelah. Pria itu menyipitkan mata, mengulangi pertanyaannya. "Kamu bicara sama siapa tadi__"Kalimat Bara terhenti seketika. Matanya menatap lekat wajah istrinya. Sisa air mata yang menggenang dan kelopak mata yang membengkak kemerahan tidak bisa dibohongi. Bara menaikkan alisnya, rasa cemas merayap kaku di dadanya. "Savana? Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis seperti ini?""T-tidak apa-apa, Mas..." sahut Savana pelan, berusaha mengulas senyum namun justru bibirn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status