Share

Bab 2

Author: Hiro Sayank
last update publish date: 2026-07-17 12:25:28

Savana tidak menjawab. Dia ikut melangkah maju dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu. Matanya bersibobrok dengan milik sang pria, menatapnya lekat.

Sang pria yang memahami pesan tersirat Savana, menarik sudut bibirnya lebih lebar. Sepasang lengan kekarnya menelusup ke pinggang Savana, menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam kamar.

Pintu langsung ditutup dengan satu hentakan kaki yang tegas, mengunci mereka berdua dalam keheningan kamar yang remang.

Tanpa membuang waktu, pria itu menundukkan kepala dan langsung mengklaim bibir Savana. Kecupan yang awalnya menuntut perlahan berubah menjadi lumatan yang intens dan panas di koridor kamar yang sempit.

Savana memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan rasa sakit hati akibat perbuatan Bara dilebur habis oleh kehangatan yang diberikan oleh pasangan simpanannya ini.

Hubungan terlarang mereka sudah berjalan selama beberapa bulan terakhir. Laki-laki misterius ini menjadi pelarian rahasia Savana sejak Bara mulai berani membawa Alex masuk ke dalam rumah mereka.

Di saat Bara mengabaikan eksistensinya dan memperlakukannya seolah-olah dia adalah makhluk tak kasat mata, pria muda di hadapannya ini justru selalu memujanya, memberikan kepuasan mutlak yang membuat Savana merasa benar-benar diinginkan sebagai seorang wanita.

Langkah kaki mereka yang saling bertautan menuntun tubuh mereka ke arah tempat tidur yang luas. 

Savana menyerahkan kendali sepenuhnya. Membiarkan dirinya ditenggelamkan dalam kehangatan malam yang penuh gairah, di bawah dominasi pria yang selalu berhasil membuatnya melupakan seluruh penderitaannya di rumah.

*

Satu jam telah berlalu ketika badai percintaan mereka akhirnya mereda. Savana bangkit dari ranjang, memungut pakaiannya yang sempat berserakan di atas lantai marmer dan memakainya kembali dengan tenang. 

Dulu, dia selalu merasa bersalah tiap habis melakukan perbuatan tercela ini. Tapi, ia sekarang justru tidak merasa apa pun. 

Toh, Bara juga tidak merasa bersalah tiap berhubungan dengan pacarnya. Jadi, untuk apa Savana merasakannya?

Di atas tempat tidur, pria bertubuh tegap itu mengubah posisinya menjadi bersandar pada headboard ranjang. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Savana yang membelakangi dirinya.

"Mulai besok aku sudah bekerja. Jadi, malam ini mungkin terakhir kali kita bisa bertemu," ujar Savana memecah keheningan dengan suara kecil, tanpa menatap pria di belakangnya.

Mendengar penuturan itu, pria di atas ranjang tidak langsung merespons. Ia justru mengerutkan alisnya dalam-dalam. Guratan tidak terima tercetak samar pada rahang tegasnya yang mendadak mengeras.

Tanpa aba-aba, pria itu bergerak turun dari tempat tidur dengan gerakan yang tenang namun penuh wibawa. Ia melangkah mendekati Savana dari belakang, lalu melingkarkan lengan kekarnya yang kokoh erat-erat di pinggang wanita itu. Punggung Savana seketika menempel sempurna pada dada bidangnya yang hangat.

"Kenapa harus disudahi?" bisik pria itu tepat di samping telinga Savana. Suaranya yang dalam terasa dingin, berat, dan mengikat kuat.

"Kita masih tetap bisa bertemu setelah kamu pulang kerja, Nyonya."

Savana terkekeh pelan. Ia menggeleng.

"Aku bakal sangat sibuk nanti, jadi sepertinya tidak akan sempat untuk mampir ke sini lagi."

Tadi siang ia sudah menyelesaikan sesi wawancara kerja sebagai petugas kebersihan dan dinyatakan diterima. Karena progres untuk hidup mandiri demi modal bercerai sudah dimulai, Savana merasa tidak membutuhkan pria simpanannya ini lagi. 

Hubungan ini harus segera diakhiri.

"Aku mau pulang sekarang. Lepaskan pelukanmu," ucap Savana pelan sambil berusaha melepaskan dirinya.

Bukannya terlepas, pria itu justru semakin mempererat pelukannya di pinggang Savana hingga wanita itu sulit bergerak. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman miring yang penuh rahasia dan mengintimidasi.

"Nyonya, kita akan tetap berhubungan setelah malam ini," bisik pria itu dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Savana merinding.

"Saya pastikan hal itu terjadi."

Savana mengernyitkan dahi. Ia bingung sekaligus heran mengapa pria di belakangnya ini bisa teramat yakin.

Namun, saat Savana baru saja membuka mulutnya untuk bertanya, pria itu dengan sigap membalikkan tubuh mungil Savana, menundukkan kepala, dan langsung membungkam bibirnya. 

Savana tidak diberi kesempatan untuk bersuara lagi karena pria itu kembali menariknya ke dalam cumbuan yang panas dan intens.

***

Suasana rumah sudah sangat sepi saat Savana melangkah masuk melalui pintu samping. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di ruang tengah yang luas, ia mendapati lampu ruangan menyala terang.

Di sana, Bara sudah berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada. Wajahnya tampak mengeras menahan amarah yang meluap-luap.

"Dari mana saja kamu baru pulang jam segini, Savana?!" bentak Bara dengan suara tertahan namun sarat akan penekanan yang tajam.

"Bisa-bisanya kamu membiarkan suamimu sendirian di rumah tanpa kabar! Kamu sebut dirimu istriku?!"

Tubuh Savana berdiri tegak, berusaha menepis getaran takut yang sempat merayap di dadanya saat mendengar bentakan Bara. Savana perlahan mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah mata Bara yang menajam dengan pandangan yang tenang dan terjaga.

"Maaf, Mas. Tadi aku ada urusan penting di luar," ujar Savana dengan suara yang terdengar jelas, lugas, namun tetap dengan nada yang santun dan elegan tanpa terkesan menantang.

Bara mendengus kasar, memutar tubuhnya dengan arogan dan hendak melangkah pergi meninggalkan ruang tengah menuju tangga.

Namun, sebelum dia melangkah lebih jauh, suara Savana yang tenang menghentikan langkah kakinya.

"Mas, besok aku mulai bekerja."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mawarr
berharap Savana patuh, sementara Bara nya menyimpang
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
itu pria simpanan nya apa dokter yg di rumah sakit tempat savana bekerja ea
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 88

    Tudingan tajam yang meluncur mulus dari bibir Bara seketika membuat pasokan udara di paru-paru Savana terasa tersumbat. Jantungnya berdegup brutal, namun ia memaksakan diri mempertahankan ekspresi wajah sejujur mungkin demi menyembunyikan kenyataan bahwasanya sosok yang dituduhkan Bara saat ini benar-benar sedang bersembunyi di bawah tempat tidurnya."Jangan asal bicara, Mas!" potong Savana dengan nada suara berpura-pura tersinggung dan tegar. "Mana mungkin aku berbuat serendah itu? Jangan menyamakan aku dengan kelakuan burukmu di luar sana!"Mendengar sanggahan tajam itu, raut wajah Bara mendadak berubah. Kilasan keputusan Savana yang ingin meninggalkannya, serta tekad kuatnya untuk berpura-pura menjadi suami yang baik seketika meredam emosinya. Bara tersadar bahwasanya ia tidak boleh memicu pertengkaran baru jika ingin memperbaiki hubungan mereka.Pria itu menghela napas panjang, lalu tersenyum kaku seraya menepuk dahi pelan. "Maaf, Savana. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku tahu ka

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 87

    Cahaya matahari pagi menyusup tipis melalui celah gorden, menyapa mata Savana yang perlahan terbuka. Sensasi hangat dan napas teratur yang berembus di ceruk lehernya membuat Savana tersadar. Di sampingnya, Hanggara masih tertidur pulas dalam posisi menyamping, melingkarkan lengan kokohnya erat-erat di pinggang Savana yang bertelanjang polos sejak semalam.Perlahan, ingatan Savana pulih sepenuhnya. Matanya membelalak lebar sewaktu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi."Dokter... Dokter Hanggara, bangun..." bisik Savana panik, menepuk-nepuk pelan lengan tegap yang melingkari tubuhnya. "Dokter, bangun... Hari sudah pagi, Dokter harus segera pergi dari sini!"Bukannya bergeming, Hanggara justru menggeram rendah, makin membenamkan wajahnya di leher hangat Savana dan memperketat dekapan lengannya.Savana mulai sedikit memberontak, mencoba mengurai cengkeraman lengan itu. "Dokter, tolong. Nanti Mas Bara melihat Dokter di sini! Lagipula, apa Dokter tidak ke rumah sakit? Saya j

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 86

    Napas Hanggara berembus makin panas saat bibirnya meluncur turun dari bibir Savana, menyusuri garis rahang lalu menyesap leher jenjang wanita itu dengan lapar. Jemarinya yang kekar bergerak sigap, menyusup ke balik daster yang baru saja dikenakan Savana dan melucutinya tanpa ampun hingga kain itu terperosok jatuh ke lantai."Siapa yang menyuruhmu memakai baju ini kembali, hm?" bisik Hanggara parau di ceruk leher Savana, diiringi hisapan menuntut yang meninggalkan bekas keunguan yang kontras di kulit mulus wanita itu.Savana hanya bisa melenguh pasrah sewaktu jemari Hanggara beralih meluncur ke bawah, meremas kuat bokong mulusnya. Sementara itu, bibir sang direktur terus melahap kelembutan dadanya, menyapu dan melumat pucuk payudara Savana yang menegang."D-Dokter... hhh... pelan-pelan..." bisik Savana panik, menahan desahannya agar tak menembus dinding kamar, khawatir Bara yang berada di ruangan lain mendengar ketukan gairah mereka.Namun, Hanggara seolah pekak oleh kebuasan gairahnya

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 85

    Di tempat lain di dalam rumah yang sama, keheningan melingkupi kamar tidur utama yang dihuni oleh Bara. Pria itu bersandar santai di kepala ranjang, memegang ponsel pintarnya dengan tatapan fokus. Jemarinya bergerak lincah menelusuri menu pengaturan, lalu membuka sebuah folder rahasia bermateri terkunci yang ia sembunyikan rapat-rapat dari siapa pun.Di dalam folder tersembunyi itu, tersimpan puluhan koleksi foto kebersamaannya dengan Alex. Bara menggeser layar satu per satu, memperhatikan jepretan kenangan mereka, mulai dari momen kemesraan biasa saat berlibur, hingga foto-foto vulgar dan adegan hubungan intim yang pernah mereka lakukan bersama secara tersembunyi.Bara menatap layar itu dengan dalam, mencoba memancing kembali gairah dan hasrat yang belakangan ini mendadak padam. Ia berharap rekaman visual kenangan liarnya bersama Alex bisa membakar kembali gairahnya yang kian mendingin. Namun, sebanyak apa pun foto syur Alex yang ia pandangi, tubuhnya tetap bergeming. Tidak ada senga

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 84

    Perintah dingin yang dilontarkan Hanggara dengan tatapan penuh intensitas itu membuat dada Savana berdebar tak karuan. Keraguan mendalam menahannya untuk bergerak. Bibirnya menyunggingkan senyum canggung, bermaksud mencari celah untuk menghindar."D-Dokter... aku takut. Bagaimana kalau nanti ada yang melihat?" bisik Savana pelan, jemarinya meremas selimut erat-erat."Aku tidak menerima penolakan, Savana. Lepas pakaianmu sekarang," titah Hanggara tanpa memberi ruang untuk negosiasi, suaranya berat dan mengikat.Savana menggigit bibir bawahnya, akhirnya meluluh pada dominasi pria yang amat dicintainya itu. "B-baiklah... tapi aku melepaskan pakaianku di kamar ganti saja ya, Dokter.""Tidak. Jangan coba-coba bersembunyi. Lepas di depanku, di depan kamera ponselmu," potong Hanggara tegas, mengunci fokus pandangannya pada layar.Tak punya pilihan lain, Savana akhirnya patuh. Dengan tangan sedikit gemetar, ia beranjak dari ranjang dan berjalan pelan menuju meja rias. Ia menyandarkan ponselny

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 83

    "Maaf, Mas. Jangan membicarakan hal itu," bisik Savana parau di sela-sela batuknya.Bara dengan sigap menggeser duduknya mendekat, menepuk-nepuk pelan punggung Savana seraya menyodorkan gelas air. Dahinya berkerut dalam, memancarkan rasa heran sekaligus kebingungan. "Kenapa, Savana? Kenapa aku tidak boleh membicarakan hal ini? Bukankah wajar jika sepasang suami istri merencanakan kehadiran seorang anak? Lagipula, Mama dan Papaku menginginkannya."Savana meneguk air putihnya hingga tandas, berusaha membasuh rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia menepis pelan tangan Bara dari punggungnya, lalu menatap pria itu dengan pandangan dingin."Sejak kamu menolakku berkali-kali, aku sama sekali sudah tidak memiliki rencana seperti itu, Mas," tegas Savana, suaranya terdengar begitu berjarak. "Tidak untuk saat ini, dan tidak juga di masa depan."Bara terbelalak kaget. "Savana, dengar dulu__""Aku sudah kenyang, Mas. Permisi, aku mau ke kamar," potong Savana cepat.Tanpa menunggu balasan ata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status